RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
TAK DATANG


__ADS_3

Rumi mencari-cari ponselnya di dalam saku celana demi mencari tahu keberadaan Arkan, namun pemuda itu tak menemukan ponselnya dimanapun. Rumi masih mencoba mengingat-ingat ponselnya, yang tadi ia letakkan serampangan di atas tempat tidur Vivian setelah mengangkat telepon dari Ethan. Lalu Rumi dan Vivian berpagutan.


"Sial!" Umpat Rumi saat menyadari kalau ponselnya tertinggal di kamar Vivian.


Ting!


Pintu lift sudah terbuka. Rumi keluar dari lift dan berjalan terseok menyusuri lorong hotel yang malam ini sepi. Rumi akan langsung ke kafe saja mencari Arkan.


Tepat saat Rumi hampir mencapai kafe, pemuda itu malah sudah melihat Arkan yang keluar dari kafe dan sepertinya hendak pulang.


"Arkan!" Panggil Rumi kencang dan Arkan yang kepalanya tertutup hoodie jaket langsung menoleh ke arah Rumi.


"Hai, Bro!"


"Apa yang terjadi? Kenapa kau berdarah?" Arkan terlihat kaget saat memindai kondisi Rumi.


"Kau memberikan apa pada minumanku dan Ruby!" Tanya Rumi penuh emosi.


"Apa maksudmu? Aku tak paham, Rumi!" Arkan sudah merangkul pundak Rumi, namun Rumi menyentaknya dengan cepat.


"Tidak usah berpura-pura!" Sentak Rumi kasar.


"Aku benar-benar tak paham! Aku hanya memberikanmu sirup tadi, dan aku tak tahu lagi," Arkan merapatkan hoodie jaketnya dan segera berbalik meninggalkan Rumi yang terseok mengejarnya.


"Keparat kamu Arkan!" Umpat Rumi yang masih terus mengejar Arkan yang entah kenapa malah memelankan langkahnya ssolah sedang mengejek Rumi.


Arkan juga tak menuju tempat parkir melainkan malah menuju ke taman samping hotel yang sepi dan remang-remang.


"Arkan!" Teriak Rumi yang masih terus mengejar Arkan, saat tiba-tiba sebuak balok kayu dihantamkan ke kepala belakang Rumi dan membuat pemuda itu tersungkur ke atas rerumputan taman.


Sepertinya Arkan tak sendirian!


Rumi masih setengah sadar saat tubuhnya di seret ke sudut taman, lalu Arkan menghampirinya dengan raut wajah pongah. Rumi masih bisa melihatnya dengan jelas meskipun cahaya di area itu hanya remang-remang.


"Apa Ethan yang sudah membuatmu berdarah seperti ini?" Tanya Arkan seraya menginjakkan kakimya di lutut Rumi yang tadi terkena pecahan kaca.


Rumi hampir berteriak saat mulutnya dibekap oleh seseorang yang tadi memukul kepala belakangnya.


"Seharusnya kau tadi tak perlu kembali kesini dan menikmati saja malam ini bersama pacarmu, tapi kau dan Ethan malah kompak sekali menghancurkan rencanaku malam ini." Arkan berdecak.


"Sejak awal aku sudah meminta Ruby secara baik-baik kepadamu!"

__ADS_1


"Seharusnya kau juga menyingkirkan Ethan tadi dan bukan malah mendukung hubungannya dengan Ruby." Arkan bervicara seilah pemuda itu mendengar semua pembicaraan antara Rumi dan Ethan di kamar tadi.


"Ruby hanya boleh menjadi milikku dan kau Seharusnya mendukungku! Bukan malah memberikannya pada Ethan!" Tekanan di kedua lutut Rumi semakin keras hingga meremukkan tempurung lutut pria itu.


"Sekarang, terimalah akibatnya, Rumi!" Arkan mengambil balok kayu dan memukuli lutut Rumi yang tadi ia injak dengan sekuat tenaga beberapa kali menggunakan balok kayu.


"Kau memang bukan temanku sejak dulu!" Ucap Arkan lagi sebelum ganti meninju wajah Rumi dan memukulkkan balok kayu beberapa kali ke kepala Rumi yang sudah tak berdaya.


Bugh! Bugh!


Dua pukulan keras yang terakhir di kepala Rumi, seketika membuat dunia Rumi menjadi gelap. Semua memori hidupnya juga seolah ikut melayang pergi dan kini yang Rumi rasakan hanyalah sebuah kegelapan. Rumi tak ingat apapun lagi setelahnya.


****


Vivian masih duduk di teras rumah dan berulang kali melihat ke arlojinya yang sudah menunjukkan waktu lewat tengah hari. Vivi ganti menatap pada ponsel Rumi yang mati yang tadi pqgi tak sengaja ia temukan di bawah bantal. Mustahil menghubungi Rumi sekarang,jika ponselnya ada di tangan Vivian. Lagipula, tadi pagi sebelum ponsel itu mati layarnya juga terkunci memakai sandi dan Vivian tak bisa membukanya.


Vivian melempar pandangannya ke arah mulut gang dan berharap motor Rumi akan datang secara tiba-tiba. Tapi sejak dua jam tang lalu Vivian sudah melakukannya berulang-ulang dan Rumi tak kunjung datang.


Hati Vivian mendadak terasa sakit mengingat janji manis Rumi yang katanya akan datang pagi-pagi untuk menjemput Vivian dan bicara pada Mama dan Papa.


Rumi pasti berbohong!


Rumi sudah mendapatkan milik Vivian tadi malam, jadi mungkin sekarang Rumi sudah tak butuh Vivian lagi dan sedang menggoda gadis lain untuk ia gombali.


Rumi mencintaimu dan akan menikahimu?


Dasar gadis bodoh! Rumi hanya membohongimu dan dia tak akan pernah datang lagi untuk menemuimu!


Vivian menyeka airmata yang menggenang di sudut matanya.


"Vi!" Tepukan serta teguran dari Kak Vita membuyarkan lamunan Vivian.


"Kau menangis?" Tanya Kak Vita yang melihat mata Vivian yang masih berkaca-kaca.


"Enggak, Kak! Vivian hanya kelilipan," sangkal Vivian yang kembali mengicek kedua matanya.


"Ayo siap-siap! Kita harus berangkat sekarang," ajak Kak Vita seraya membimbing Vivian agar bangkit berdiri.


"Sudah mau berangkat?" Tanya Viviqn yang kemnali melihat arlojinya.


"Iya. Taksi sebentar lagi datang. Cepat siap-siap!" Titah Kak Vita sekali lagi dan Vivian hanya mampu menelan ganjalan pahit di tenggorokannya sekarang.

__ADS_1


Rumi tak menepati janjinya dan pemuda itu sudah membohongi Vivian.


Rumi benar-benar sudah membohongi Vivian, dan sekarang Vivian membenci pemuda itu! Vivian benci pada Rumi!


Vivian melemparkan ponsel Rumi ke dalam tempat sampah dan segera menyusul Kak Vita masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap.


Flashback off


"Vian!" Teguran Rumi mengembalikan kesadaran Vivian yang sejak tadi melamun.


"Jam berapa sekarang?" Tanya Rumi lagi masih dengan suara serak khas orang bangun tidur. Vivian buru-buru melihat jam di ponselnya.


"Jam setengah tujuh."


"Kau mau mandi dulu atau sarapan dulu?" Tawar Vivian pada Rumi yang kini sudah berganti posisi menjadi duduk di atas sofa.


"Sarapanku sudah siap?" Rumi mqlah balik melemparkan pertanyaan pada Vivian.


"Aku ambilkan sebentar." Vivian sudah bangkit berdiri.


"Aku mau mandi dulu! Dimana kursi rodaku!" Sergah Rumi yang langsung membuat Vivian menghela nafas. Vivian tak menjawab sepatah katapun dan segera mengambil kursi roda Rumi, lalu memindahkan pria itu dengan cekatan ke atas kursi roda.


"Air dingin? Air hangat?" Tanya Vivi seraya mendorong kursi roda Rumi masuk ke dalam kamar mandi.


"Apa kau masih harus bertanya setelah sepekan lebih menjadi perawatku?" Jawab Rumi ketus dan Vivian hanya tersenyum tipis. Vivian menutup pintu kamar mandi dan mulai membantu Rumi mandi.


Tujuh tahun lalu, saat Vivian merasa marah dan kecewa pada Rumi, rupanya Rumi sedang terbaring tak berdaya di rumah sakit karena kasus penganiayaan. Vivian tak pernah tahu, jika hari itu Rumi terpaksa ingkar janji karena pria ini memang sedang koma.


Dan hingga detik ini, Rumi masih tak ingat pada Vivian. Tapi tak mengapa, bukankah sejak dulu Vivian masih mencintai Rumi dan tetap mencintai Rumi?


Dan sekarang pun Vivian akan merawat Rumi sepenuh hati, sebelum pria ini menikah dengan gadis pilihan keluarganya. Jika memang Rumi tak pernah bisa menjadi milik Vivian, maka Vivian hanya ingin menghabiskan waktu yang ada ini bersama Rumi. Hanya bersama Rumi.


.


.


.


Flashbacknya aku potong dulu, ya!


Nanti cerita saat Vivian hamil Archie tetap ada. Tapi nanti.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2