RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
LULUS


__ADS_3

"Mau langsung pulang bareng Abang?" Tanya Abang Sandy pada Vivian yang masih tersenyum sumringah. Amplop berisi pengumuman kelulusan memang baru saja diterima oleh Abang Sandy dan Vivian. Kata LULUS yang tertera di dalam amplop langsung membuat wajah Vivian berbinar dan bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyuman.


"Vivian masih mau di sekolah sama teman-teman, Bang!" Ujar Vivian menjawab pertanyaan sang Abang.


"Baiklah!" Abang Sandy mengacak rambut Vivian.


"Selamat, ya! Silahkan rayakn dengan teman-teman dulu! Tapi nanti pulangnya jangan sore-sore!" Pesan Abang Sandy seraya memeluk Vivian sekali lagi.


"Siap, Bos!" Jawab Vivian lebay yang langsung membuat Abang Sandy tergelak.


"Abang balik ke kantor sekarang, ya!" Pamit Abang Sandy selanjutnya.


"Oke, hati-hati!" Vivian melambaikan tangan ke arah Abang Sandy yang sudah berjalan menuju ke gerbang sekolah. Vivian sendiri kembali berbaur dengan teman-temannya demi merayakan kelulusan mereka.


****


[Lulus?] -Rumi-


[Menurut kamu?] -Vivian-


[Ck! Keluar sekarang! Aku di depan sekolah kamu] -Rumi-


[Bohong, nggak? Aku sudah pulang soalnya] -Vivian-


[Serius? Kenapa nggak nungguin aku dulu, coba?] -Rumi-


[Maaf] -Vivian-


[Yaudah, aku ke rumah kamu sekarang, ya! Aku mau ketemu Papa Mama kamu sekalian] -Rumi-


[Papa sama Mama lagi nggak di rumah. Tadi aja yang ke sekolah Abang Sandy] -Vivian-


[Yaudah, aku ketemu abang kamu juga nggak masalah] -Rumi-


[Abang Sandy udah balik ke kantor. Maaf anda kurang beruntung] -Vivian-


[Yaudah! Aku tungguin sampai abang kamu pulang] -Rumi-


[Ngotot banget, Bang! Mau ngapain, coba?] -Vivian-


[Mau melamar si gadis manis berlesung pipit] -Rumi-


[Hmmmm. Itu seragam kamu kenapa? Mejikuhibiniu begitu udah kayak pelangi?] -Vivian-


[Lah, kamu dimana?] -Rumi-


Rumi mengedarkan pandangannya ke sekeliling gerbang saat akhirnye pemuda itu mendapati Vivian yang sedang berjalan ke arahnya dengan senyuman manis seperti biasa.


"Ini maksudnya apa? Seragam dicoret-coret begini?" Cecar Vivian seraya menunjuk-nunjuk ke arah seragam putih Rumi yang sudah penuh warna.


"Lulus! Patut dirayakan, dong!" Pamer Rumi sombong.


"Ujiannya nyontek tapi," tebak Vivian yang langsung membuat Rumi tergelak tanpa dosa.

__ADS_1


"Dikit," jawab Rumi seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Vivian.


Vivian hanya berdecak dan memutar bola mata.


"Kamu lulus juga, kan?" Tanya Rumi selanjutnya seraya melepaskan ransel di punggungnya. Pemuda itu membuka ritsleting ranselnya dan tangannya merogoh sesuatu dari dalam ransel warna abu-abu tersebut.


"Lulus. Tapi nggak nyontek kayak kamu," jawab Vivian sedikit menyindir Rumi.


"Calon istri panutan memang! Jadi makin sayang," celetuk Rumi yang hanya membuat Vivian mencibir.


"Aku kasih hadiah buat kelulusan kamu, mau?" Tanya Rumi seraya menaikturunkan alisnya.


"Hadiah apa?" Tanya Vivi penasaran. Tangan Rumi masih berada di dalam ransel dan sepertinya sedang memegang hadiah Vivian.


"Tutup mata dulu!" Perintah Rumi yang langsung membuat Vivian menurut. Gadis itu menutup kedua matanya.


"Sudah!"


"Baiklah..."


"Berbalik, coba!" Perintah Rumi lagi.


"Ck! Bikin penasaran aja, sih, Rumi! Hadiahnya apa?" Tanya Vivian tak sabar.


"Udah, cepat berbalik!" Perintah Rumi seraya memutar tubuh Vivian qgar berbalik.


"Sudah! Apa hadiahnya?" Tanya Vivian yang tetap merem seraya membelakangi Rumi.


"Suka warna pink, nggak?" Tanya Rumi sok-sokan berbasa-basi.


"Nggak terlalu. Lebih suka warna ijo," jawab Vivian.


"Yah, sayang sekali! Aku bawanya yang warna pink!"


"Tapi nggak apa-apa, ya!" Ujar Rumi seraya menyemprotkan pylox tadi ke punggung Vivian.


"Rumi!" Jerit Vivian yang langsung membuat Rumi tertawa terbahak-bahak.


"Rumi, iiih!" Vivian berbalik dengan cepat dan berusaha merebut kaleng pylox di tangan Rumi. Namun Rumi malah mengangkatnya tinggi-tinggi hingga Vivian tak mampu meraihnya.


"Ambil, ayo!" Goda Rumi yang tentu saja sukses membuat Vivian merengut.


"Ambil, Gadis mungil!" Goda Rumi sekali lagi dan kali ini Vivian memilih untuk tak berusaha merebut lagi. Gadis itu masih merengut dan tangannya bersedekap kesal.


"Kamu nulis apa di belakang?" Tanya Vivian galak pada Rumi.


"Baru L sama U. Kamu udah berontak aja!"


Mau aku tulis Vivian love Rumi?" Goda Rumi yang langsung membuat Vivian kembali merengut.


"Siniin pylox-nya!" Vivian kembali berusaha merebut kaleng pylox di tangan Rumi. Namun entah bagaimana, Vivian malah tak sengaja tersandung kaki Rumi dan hampir jatuh terjerembab, sebelum akhirnya Rumi sigap menangkap gadis itu.


"Pelan-pelan!" Ucap Rumi yang langsung membuat pipi Vivian memerah.

__ADS_1


"Ini! Mau buat apa?" Rumi sudah berhenti menggoda Vivian dan pemuda itu mengulurkan kaleng cat pylox pada Vivian.


"Nggak, kok! Mau aku simpan aja," jawab Vivian yang masih tersipu malu.


"Jalan-jalan bentar, yuk! Aku traktir...." Rumi tampak berpikir.


"Traktir apa?" Tanya Vivian yang sudah kembali mengulas senyum.


"Kamu maunya makan apa?" Rumi balik bertanya pada Vivian.


"Emmmm, makan siomay aja gimana?" Usul Vivian.


"Baiklah! Ayo kita makan siomay!" Rumi meraih tangan Vivian dan menggenggamnya dengan erat, lalu mengecupnya beberapa saat.


"Rumi!" Wajah Vivian kembali bersemu merah.


"Gemas!" Rumi mencolek lesung pipit di pipi Vivian.


"Ck! Jadi makan siomay, nggak?" Tagih Vivian pada Rumi.


"Iya, jadi!" Rumi mengeluarkan jaket hoodie dari dalam tas, lalu melepas helm dan memakai jaketnya tersebut dan kembali memakai helmnya lagi.


"Bawa jaket, nggak?" Tanya Rumi pada Vivian yang sejak tadi hanya diam mematung. Gadis itu menggeleng.


"Nggak bilang, sih!" Rumi mengeluarkan satu jaket lagi dari ranselnya.


Lah, Rumi bawa berapa jaket memangnya?


"Ini punya siapa?" Tanya Vivian saat Rumi menyodorkan hoodie warna putih tersebut pada Vivian.


"Punya aku lah! Tapi mulai sekarang anggap aja milik kamu." Jawab Rumi santai.


"Pakai! Atau mau aku pakaikan?" Titah Rumi selanjutnya yang langsung membuat Vivian merengut. Vivian bergegas memakai hoodie yang tadi diberikan oleh Rumi.


"Sudah!" Lapor Vivian saat sudah selesai.


"Yaudah, cepat naik! Kita cari tukang siomay!" Ajak Rumi yang langsung membuat Vivian mengangguk. Vivian bergegas naik ke jok belakang motor Rumi dan melingkarkan lengannya ke pinggang pemuda itu seperti biasa.


"Udah pegangan?"


"Udah!" Jawab Vivian cepat.


Rumi mengusap sekilas lengan Vivian di pinggangnya sebelum kemudian pemuda itu melajukan motornya meninggalkan sekolah Vivian.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2