RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
SAKIT


__ADS_3

"Kak Vian!" Sapa Sunny saat Vivian hendak ke dapur untuk mengembalikan piring bekas sarapan Rumi. Sunny terlihat sudahlah rapi mengenakan seragam sekolahnya. Vivian jadi rindu pada Archie.


"Hai, Cantik! Sudah mau berangkat?" Vivian berbasa-basi sebentar pada Sunny.


"Iya. Tinggal nungguin Mama," celoteh Sunny.


"Papanya Sunny belum pulang?" Tanya Vivian lagi seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tengah. Sudah satu minggu lebih memang Erick belun terlihat lagi batang hidungnya. Semoga seterusnya begitu sampai Vivian selesai bekerja sebagai perawat Rumi.


"Papa masih kerja, cari uang." jawab Sunny yang hanya membuat Vivian tertawa kecil.


"Sunny!" Panggil Alsya yang sudah terlihat rapi.


"Iya, Ma!" Sunny berlari lincah menghampiri Alsya.


"Ayo berangkat!" Ajak Alsya pada sang putri.


"Siap!"


"Bye, Kak Vian!" Pamit Sunny seraya melambaikan tangan pada Vivian.


"Bye!" Vivian membalas lambaian tangan Sunny dan mengulas senyum.


"Vian! Kau sedang apa? Kenapa mengembalikan piring lama sekali?" Tegur Rumi yang sudah keluar dari kamar dan menghampiri Vivian.


"Eh, iya! Aku ngobrol sebentar dengan Sunny tadi," jawab Vivian menuturkan alasan.


"Ck! Kau akan membuatku terlambat ke rumah sa-" Rumi tak jadi melanjutkan kalimatnya.


Kenapa Rumi malah keceplosan sendiri?


"Rumah sakit? Kau sakit Rumi?" Wajah Vivian sudah berubah khawatir. Jiwa usil Rumi mendadak bergelora. Kalau Rumi pura-pura sakit, apa Vivian akan memanjakannya seharian dan melupakan pacar berondongnya yabg bernama Archie itu?


Ya,


Rumi masih cemburu pada Archie hingga detik ini.


"Ya, aku sedikit tidak enak badan," Rumi mulai berakting. Vivian segera meletakkan punggung tangannya di kening Rumi.


"Aku tidak bilang kalau aku demam! Aku bilang aku tak enak badan," sergah Rumi yang langsung menyentak tangan Vivian.


"Aku panggilkan dokter Ethan agar memeriksamu, ya!" Usul Vivian.


"Tidak usah! Ethan sedang sibuk fitting baju dan mengurus resepsi. Kau rawat saja ak-" Rumi belum menyelesaikan kalimatnya, saat ponsel pria itu berdering.


Sakya menelepon!


"Halo!" Sambut Rumi cepat.


"Kau datang terapi hari ini?"


"Tidak! Aku sedang tak enak badan." Jawab Rumi malas. Rumi ingin berduaan saja dengan Vian. Jadi tak masalah Rumi bolos terapi dan bolos bekerja satu hari saja. Tak akan ada yang memecat Rumi. Bukankah Rumi adalah bosnya?


"Kau sakit apa?" Suara Sakya terdengar khawatir.


"Ya pokoknya aku sakit! Tak usah kepo begitu!" Jawab Rumi galak.


"Baiklah aku percaya! Aku akan menyuruh Ethan memeriksa sakitmu itu. Jangan sampai kau sakit karena hal lain." Terdengar gelak tawa Sakya dari ujung telepon.


Dasar dokter menyebalkan.


"Sudah! Aku tutup teleponnya sekarang! Suaramu membuat kepalaku semakin pusing dan sakitku semakin parah!" Gerutu Rumi sebelum kemudian pria itu menutup sepihak telepon dari Sakya.


"Jadi, kau sakit?" Tanya Vivian lagi setelah Rumi selesai berbicara di telepon.


"Iya, aku sakit! Cepat bawa aku ke kamar dan rawat aku!" Perintah Rumi manja dan kekanakan.


Ya ampun!


Ada-ada saja kelakuan pria ini! Membuat Vivian ingat pada Archie yang juga kerap berpura-pura sakit jika tidak mau ditinggal Vivian.

__ADS_1


"Mom, Achi sakit. Pijitin kaki Achi."


"Mom, Achi sakit. Sembuhnya kalau udah beli coklat dua. Harus dua, ya! Kalau satu belum sembuh dan masih sakit."


Vivian tertawa sendiri mengingatkan manjanya Archie saat sakit.


"Kau sedang menertawakan apa, Vian?" Tegur Rumi yang langsung menyentak lamunan Vivian.


"Apa?" Vivian malah balik bertanya pada Rumi.


"Kau sedang menertawakan aku?" Tuduh Rumi kekanakan.


"Tidak! Aku hanya mendadak ingat pada Archie saat dia-" Vivian tak jadi melanjutkan kalimatnya saat raut wajah Rumi sudah berubah horor.


"Baiklah, maaf! Kau jadi sakit tadi?" Tanya Vivian lagi berusaha mebahan tawanya.


"Tentu saja jadi!" Jawab Rumi galak.


"Iya! Tidak usah menyalak begitu!" Ujar Vivian yang langsung mendorong kursi roda Rumi masuk kembali ke dalam kamar.


"Ambilkan potongan buah untukku! Lalu setelah itu kau harus menemaniku sepanjang hari di dalam kamar dan jangan kemana-mana!" Ujar Rumi memberikan perintah pada Vivian.


"Iya," jawab Vivian santai seraya memindahkan Rumi dari kursi roda ke atas tempat tidur. Vivian juga menyelimuti pria itu.


"Mana potongan buahku?" Tagih Rumi.


"Sebentar aku ambilkan," jawab Vivian sebelum gadis itu berlalu keluar dari kamar Rumi, dan langsung menuju ke dapur untuk mengambilkan pesanan Rumi.


****


"Nona Vian! Baru saja ada paket yang datang untuk Tuan Rumi," ujar maid seraya memberikan satu kotak yang lumayan besar pada Vivian.


"Baiklah, terima kasih!" Ucap Vivian cepat.


Vivian membawa paket tadi beserta potongan buah pesanan Rumi masuk ke kamar.


"Sudah datang, ya?" Jawab Rumi yang wajahnya sudah sumringah.


Tadi bilangnya sakit. Tapi tidak ada pucat-pucatnya sama sekali. Dasar!


"Aku taruh di mana?" Tanya Vivian lagi yang terlihat kesulitan membawa kotak besar warna putih tersebut.


"Terserah! Sekalian kau buka dan kau cuci nanti, ya! Agar lusa kita bisa memakainya," jawab Rumi yang langsung membuat kedua alis Vivian tertaut.


"Kita?"


"Iya, kau dan aku jadi kita!"jawab Rumi santai.


"Iya kamu siapa? Kenapa malah tanya sama aku? Aku kan bukan kamu!"


"Kamu memang bukan aku. Tapi aku maunya cuma kamu. Aku dan kamu jadi kita. Mau, nggak?"


Vivian tersenyum tipis mengingat kalimat yang sama yang pernah di lontarkan Rumi delapan tahun lalu.


"Vian!" Teguran Rumi kembali menyentak lamunan Vivian.


"Apa? Apa isi kotaknya?" Tanya Vivian tergagap.


"Buka saja dan tak usah bertanya!" Jawab Rumi sedikit bersungut.


Vivian segera membuka kotak warna putih tersebut, dan terkejut saat melihat isinya yang rupanya adalah sebuah gaun dan kemeja yang warna serta motifnya senada.


"Ini baju couple?" Tebak Vivian seraya menatap penuh tanya pada Rumi.


"Ya! Apa masih kurang jelas bentuknya?"


"Nanti kita pakai saat acara pernikahan Ethan dan Ruby lusa," ujar Rumi lagi.


"Kita? Maksudnya kau dan aku memakai baju couple?" Tanya Vivian memastikan.

__ADS_1


"Ya! Agar semua tahu kalau kau itu perawatku, dan tak ada yang akan menyuruhmu seenaknya," jawab Rumi yang langsung membuat Vivian sedikit mencibir.


Kirain...


Hehe, sepertinya Vivian terlalu banyak berharap.


Tok tok tok!


Suara ketukan di pintu membuat Vivian tersentak. Wanita itu membuka pintu kamar Rumi dan langsung ada Dokter Ethan yang berdiri di depan pintu seraya menenteng tas dokternya.


"Katanya Rumi sakit? Dia sakit apa?" Tanya Ethan yang wajahnya terlihat khawatir.


"Entahlah, aku juga tidak tahu," jawab Vivian seraya membuka lebar pintu kamar Rumi dan mempersilahkan Dokter Ethan untuk masuk ke dalam.


"Kau sakit apa, Mi?" Tanya Ethan pada Rumi yang sudah menarik selimutnya hingga sebatas dada.


"Ya pokoknya sakit! Kau sendiri sedang apa disini? Aku tak memanggilmu dan menyuruhmu memeriksaku!" Ketus Rumi bersungut-sungut pada Ethan.


"Kalau kau sakit, tentu saja aku harus memeriksamu. Aku kan dokter," jawab Ethan seraya menahan tawa.


"Dokter menyebalkan! Panggilkan dokter lain saja dan jangan kau yang memeriksa!" Perintah Rumi masih bersungut.


"Sepertinya tekanan darahmu tinggi. Berhentilah marah-marah, oke!" Nasehat Ethan sedikit lebay.


"Kau dengar itu, Vian! Berhentilah membuat aku kesal agar tekanan darahku tidak tinggi!" Rumi malah balik menyalahkan Vivian.


"Iya, aku dengar," jawab Vivian ikut-ikutan lebay.


"Hmm, mungkin perlu aku periksa lebih detail sampel darahmu-"


"Tidak usah!" Potong Rumi galak.


"Tapi barangkali sakitmu parah. Apa perlu pasang infus juga?" Bisik Ethan yang langsung membuat Rumi mendelik pada iparnya tersebut. Rasanya ingin Rumi tendang saja bokong suami Ruby yang amat sangat menyebalkan ini.


"Pergi sana! Aku tak mau kau periksa!" Usir Rumi ketus.


"Rumi sakit apa, Dok?" Tanya Vivian yang sudah mendekat ke arah Ethan dan Rumi.


"Sakit yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata," Ethan tertawa kecil dan mulai membereskan peralatannya.


"Aku benar-benar sakit, Eth!" Sergah Rumi bersungut pada Ethan.


"Iya, kau sakit! Aku juga tak mengatakan kalau sakitmu itu hanya pura-pura," kilah Ethan mencari pembenaran.


"Apa perlu minum obat?" Tanya Vivian lagi pura-pura khawatir.


"Tidak usah! Kau rawat dan kau jaga saja Rumi sepenuh hati, Vian! Dan kondisi pria ini akan berangsur membaik," jawab Ethan seraya bangkit berdiri.


"Aku pamit, Rumi yang sedang sakit," Ethan berpamitan dengan lebay pada Rumi.


"Pergilah!" Sahut Rumi ketus.


"Terima kasih banyak, Dokter Ethan!" ucap Vivian seraya mengantar Ethan ke arah pintu.


Ethan hanya mengangguk dan pria itu segera keluar dari kamar Rumi.


"Tutup pintunya dan cepat kesini, Vian! Suapi aku makan buah!" Perintah Rumi manja.


"Oke!" Jawab Vivian cepat.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2