
Vivian masih memejamkan kedua matanya, saat Rumi bergerak semakin intens naik dan turun di atas Vivian.
"Vian," panggil Rumi lembut yang sejak yadi tak berhenti menatap lekat eajah manis Vian.
"Iya!" Jawab Vivian lirih.
"Jangan tidur, hei!"
"Aku tidak tidur," kilah Vivian cepat seraya membuka kedua matanya.
"Lalu kenapa sejak tadi kedua matamu tertutup rapat?" Tanya Rumi yang nafasnya mulai terengah. Titik-titik keringat juga mulai nampak di wajah dan dada Rumi. Vian mengisap dada Rumi yang bidang dan mempesona.
"Aku hanya sedang menikmati apa yang kini kau lakukan kepadaku," jelas Vivian yang langsung membuat Rumi rak tahan untuk tak tersenyum.
"I love you!" Bisik Rumi masih sambil terus bergerak.
"I love you too, Rumiku yang ketus," jawab Vivian seraya tertawa kecil. Rumi sontak berdecak.
"Apa aku dulu romantis?" Tanya Rumi sedikit tak senang.
"Tidak juga! Kau sejak dulu tak pernah romantis," jawab Vivian masih tertawa kecil.
"Aku pikir kau sudah ingat semuanya," lanjut Vivian lagi sedikit mengernyit.
"Belum."
"Saat kita pacaran, aku belum mengingatnya. Kita kenal dimana?" Tanya Rumi lagi.
"Di atas gunung. Saat aku baru pertama kali naik gunung, lalu aku bertemu pria ketus dan irit bicara tapi sok perhatian," cerita Vivian bersamaan dengan Rumi yang tiba-tiba melahap kedua gundukan kenyalnya.
"Naik gunung ini maksudnya?" Tanya Rumi usil.
"Ck! Jangan digigit begitu! Nanti kalau putus bagaimana?" Vivi memukul kecil lengan besar Rumi karen a suaminya itu yang menarik-narik put*ngnya sambil menggigitnya seperti bayi.
"Udah lentur begini! Nggak mungkin putus," jawab Rumi dengan mulut yang masih tersumpal benda kenyal milik Vivian tersebut.
"Awas tersedak!" Kekeh Vivian memperingatkan.
"Tersedak payud*ra?" Tanya Rumi dengan kedua bola mata yang membulat lucu. Vivian hanya memutar bola matanya.
"Kau sudah selesai belum? Kenapa lama sekali?" Tanya Vivian merujuk pada pergelutan mereka. Rumi masih aktif naik turun dan sepertinya belum akan keluar dalam waktu dekat.
"Kenapa memang kalau lama? Kau juga menikmatinya!" Rumi sedikit mengerang. Sepertinya pria itu hampir sampai.
Vivian segera membantu dan ikut menaik turunkan bokongnya.
"Ck! Diamlah! Aku mau lebih lama lagi!" Protes Rumi yang malah membuat Vivian bergerak semakin cepat.
"Vivian!" Decak Rumi sekuat tenaga menahan Vivian agar tak menggila.
__ADS_1
"Vivian, stop! Aku hampir...." Rumi memejamkan kedua matanya dan sedikit meringis.
"Sial!" Umpat Rumi yang akhirnya mencapai pelepasan dan sukses menyemburkan benih-benih ketampanannya di dalam rahim Vivian.
Vivian hanya terkikik kecil seolah ini adalah hal yang lucu.
"Aku capek! Mau tidur," keluh Vivian seraya mendorong tubuh Rumi agar menyingkir dari atasnya.
"Aku mah ronde kedua!" Pinta Rumi tegas.
"Kau baru sembuh, Rumi! Kau baru biza berjalan dan bercinta,jadi sebaiknya kau jaga lututmu itu!" Vivian memperingatkan seraya menyibak selimut dan turun dari atas tempat tidurnya lalu berlari ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih.
Sementara Rumi ikut menyusul, namun pria itu hanya berdiri di ambang pintu kamar mandi dan memperhatikan Vivian.
"Kau tidak bersih-bersih?" Tanya Vivian tanpa melihat ke arah Rumi.
"Aku masih mau lanjut ks ronde kedua, jetiga, keempat. Jadi aku tak perlu bersih-bersih sekarang. Besok pagi saja sekalian mandi," jawab Rumi santai.
"Aku lelah dan ingin tidur," jawab Vivian tegas. Wanita itu sudah selesai bersih-bersih dan menghampiri Rumi masih dengan tubuh naked-nya.
"Bilang lelah, tapi masih menggodaku." Rumi memainkan lagi ujung dada Vivian yang menggiurkan.
"Lututmu sakit?" Tanya Vivian mengalihkan topik pembicaraan. Raut wajah wanita itu terlihat khawatir.
"Tidak! Lututku baik-baik saja! Dan kata Sakya, bercinta adalah terapi yang baik untuk semakin membuat lututku menjadi kuat," ujar Rumi mengemukakan sebuah teori aneh.
"Doktermu aneh sekali memberi saran?" Tanya Vivian bingung.
"Kau juga mesum!" Vivian memukul dada Rumi dan sedikit berdecak.
"Mesum hanya saat bersamamu, memang apa masalahnya? Pacar berondongmu cemburu?" Goda Rumi yang sudah mendekatkan wajahnya ke arah Vivian.
"Masih saja membawa-bawa si berondong," Vivian tertawa kecil.
"Boleh aku bertanya satu hal?" Tanya Rumi yang tiba-tiba sudah menghimpit Vivian ke tembok di depan kamar mandi dan mengungkung wanita itu dengan kedua lengan besarnya.
"Mau tanya apa?" Vivian membalas tatapan tajam Rumi.
"Kenapa kau seperti sengaja membuatku kesal sejak pertemuan kita?"
"Karena dulu kau juga selalu membuatku kesal. Jadi aku hanya membalas perbuatanmu," jawab Vivian dengan raut wajah tanpa dosa.
"Dulu aku pria yang romantis!" Kilah Rumi cepat.
"Bagaimana bisa kau menuduhku sebagai pria yang selalu membuatmu kesal?" Lanjut Rumi merasa tak paham.
"Bukankah katamu kau masih amnesia dan belum ingat apapun tentang kita tujuh tahun lalu?" Tanya Vivian mulai curiga.
"Aa itu. Kau tadi yang mengatakan kalau aku pria romantis," Rumi sedikit salah tingkah.
__ADS_1
"Aku tak pernah mengatakannya," Vivian semakin menyelidik.
"Rumi!" Vivian mendelik tajam pada Rumi.
"Apa?" Rumi masih pura-pura polos.
"Dasar!" Vivian mendorong dada Rumi hingga pria itu terhuyung ke belakang. Vivian berlari cepat dan naik ke atas tempat tidur meninggalkan Rumi. Vivian baru menarik selimut, saat tiba-tiba Rumi sudah menyusul naik ke atas tempat tidur dan mendekap Vivian dengan erat.
"Kau pikir bisa lolos dariku malam ini?"
"Rumi, sudah!" Vivian mencoba berontak.
"Baru juga satu ronde!" Rumi mengecup bibir Vivian dan sedikit memaksa. Vivian yang awalnya berontak akhirnya menikmati juga kecupan Rumi yang bertubi-tubi.
"Sudah! Sebaiknya kita tidur," ucap Vivian mengakhiri ciumannya bersama Rumi. Vivian berbalik memunggungi Rumi dan menarik selimut.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu tidur malam ini?" Rumi tiba-tiba sudah mengangkat satu kaki Vivian, lalu melesakkan miliknya ke dalam milik Vivian dengan sedikit kasar.
"Rumi!" Pekikan Vivian tertahan tatkala tangan Rumi ikut aktif merem*s bukit kembarnya.
Dasar Rumi!
Rumi sudah mulai menghentak dan bergerak.
"Rumi, sudah!" Protes Vivian yang malah dibalas Rumi dengan tepukan di bokongnya.
Ish! Dasar Rumi mesum!
"Nikmati saja, Sayang! Tidak usah bawel dan cerewet!" Bisik Rumi sebelum pria itu menciumi tengkuk Vivian dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana.
"Aku sedang memikirkan banyak gaya di kepalaku untuk kita praktekkan malam ini. Nanti kita coba semua, ya!" Bisik Rumi lagi yang langsung membuat Vivian berdecak kesal.
"Kau nikmati saja, oke!" Sambung Rumi lagi seraya menepuk bokong Vivian.
Ck!
Dasar Rumi!
Tapi Vivian juga tak bisa menolak lagi. Sebaiknya Vivian memang menikmati permainan bersama suaminya yang mesum ini.
.
.
.
Masih nganu ternyata. Banyak formalinnya, jadi awet 😆
Btw, cuma mau ngasih tahu kalau "Penantian Ruby" udah ada audiobook-nya. Coba dengerin, guys! Dubbernya cowok 😁😁
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.