
"Singkirkan tanganmu! Aku bisa masuk ke dalam mobil sendiri!" Sentak Rumi saat Vivian hendak membantunya masuk ke dalam mobil.
Vivian memilih untuk menyingkirkan tangannya karena wanita itu sedang malas berdebat dengan Rumi. Pertemuannya dengan Haris tadi saja sudah cukup membuat Vivian sakit kepala. Vivian masih memperhatikan Rumi yang terlihat kepayahan saat berpindah ke dalam mobil. Baiklah, Vivian mulai iba sekarang. Vivian akhirnya meraih kaki Rumi dan membantu memasukkannya ke dalam mobil.
"Sudah kubilang-"
"Aku sedang malas berdebat dan kau sudah di tunggu di toko kue," sela Vivian memotong kalimat kemarahan Rumi dengan emosi.
Berani sekali wanita ini!
"Cepatlah naik kalau begitu dan jangan membuang waktuku!" Omel Rumi akhirnya yang hanya membuat Vivian memutar bola mata. Vivian segera melipat kursi roda Rumi dan memasukkannya ke bagasi belakang. Tanpa membuang waktu, wanita itu lanjut masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Rumi. Mobil segera melaju meninggalkan kawasan rumah sakit.
Hanya ada keheningan sepanjang perjalanan. Vivian dan Rumi sama-sama tak ada yang memulai obrolan dan dua manusia itu sama-sama membuang wajahnya keluar jendela mobil.
"Ayo masuk!" Ajak Haris pada Vivian setelah pria itu membuka pintu apartemennya.
"Ini apartemenmu?" Tanya Vivian seraya melihat-lihat ruangan di apartemen Haris.
"Ya! Kau menyukainya, kan?" Tanya Haris yang tiba-tiba sudah melingkarkan lengannya di pinggang Vivian. Lalu pria itu juga menyusupkan kepalanya di atas pundak Vivian sambil seseorang menciumi lehet Vivian.
"Haris!" Vivian segera menyentak kedua lengan Haris dan menggeliat, mencoba meloloskan diri dari dekapan Haris.
"Tidak usah jual mahal, Vivian sayang! Kau juga bukan seorang gadis perawan, jadi tidak masalah kalau kita-" tangan Haris tiba-tiba sudah dengan lancang membuka kancing kemeja Vivian bagian atas.
"Stop!" Vivian memukul tangan Haris dengan keras dan menyentak tubuh pria itu dengan kasar.
"Apa?" Haris yang merasa tak terima langsung menatap marah pada Vivian.
"Mau sok jual mahal, hah?" Haris menjambak rambut Vivian dengan kasar lalu membanting tubuh itu ke atas sofa.
Dasar brengsek!
"Kau akan menjadi istriku tak lama lagi. Jadi sekarang, aku akan mencicipimu terlebih dahulu," Ucap Haris seraya menatap Vivian dengan penuh nafsu.
Sial!
"Jangan harap!"
Bugh!
__ADS_1
Vivian menendang pangkal paha Haris dengan kasar lalu wanita itu bangkit dari sofa dengan cepat dan berlari ke arah pintu apartemen.
"Vivian! Jangan kau pikir bisa kabur!" Haris yang masih sambil meringis mengejar Vivian hingga ke pintu lalu menjambak rambut Vivian.
"Lepas!" Vivian memukul-mukul tubuh Haris dengan membabi buta demi meloloskan diri.
Sial sekali!
Kenapa papanya Vivian bisa menjodohkan Vivian dengan pria brengsek sejenis Haris ini?
"Tolong!" Teriak Vivian seraya mendorong tubuh Haris agar menjauhinya.
"Tolong!" Teriak Vivian lagi yang tangannya berusaha menggapai pintu.
Dapat!
"Kau pikir kau bisa kabur!" Haris berhasil meraih kaki Vivian hongga wanita itu tersungkur. Vivian menendang-nendangkqn kakinya ke arah Haris dan terus berusaha meloloskan diri. Beruntung di saat genting itu ada seorang security yang lewat.
"Tolong aku!" Teriak Vivian pada sscurity dan Haris langsung mendorong keluar tubuh Vivian dari apartemennya lalu membanting pintu.
"Vian!" Teguran Rumi menyentak lamunan Vivian tentang kejadian toga tahun lalu dimana Haris hampir memperkosanya di apartemen. Beruntung waktu itu Vivian berhasil lepas dan kabur.
"Kau selalu saja melamun! Apa kau tak punya pekerjaan lain selain melamun, hah?" Omel Rumi yang hanya diabaikan oleh Vivian. Mobil Rumi sudah sampai di toko kue dan Vivian memilih untuk melepaskan sabuk pengamannya lalu turun terlebih dahulu dari dalam mobil dan mengambil kursi roda Rumi.
"Kau sedang apa? Kenapa malah mematung begitu? Bantu aku turun atau kupotong gajimu!" Cecar Rumi sok-sokan mengancam Vivian.
"Aku pikir kau mau turun sendiri," tukas Vivian yang langsung merangkul tubuh Rumi dan memindahkannya ke atas kursi roda dengan cekatan.
"Lalu apa gunanya kau sebagai perawat kalau aku harus turun naik mobil sendiri, hah? Mau makan gaji buta?" Cerocos Rumi sekali lagi yang kali ini tak dijawab apapun oleh Vivian.
Vivian mendorong kursi roda Rumi masuk ke dalam toko kue milik keluarga Attala dan mereka segera menemui manajer toko untuk membahas masalah yang tadi disampaikan oleh Papi Juna. Cukup lama Vivian mendampingi Rumi membahas tentang masalah toko bersama manajer hingga menemukan titik terang.
Tepat saat matahari sudah bergulir ke arah barat, Rumi dan Vivian akhirnya keluar dari ruangan Ruby dan mereka berkunjung ke dapur sebentar untuk memeriksa stok bahan serta proses produksi, lalu terakhir Rumi mengajak Vivian ke etalase toko.
"Kau mau kue yang mana? Pilih saja yang kau sukai," ucap Rumi pada Vivian seraya melihat-lihat kue di dalam showcase.
"Kau sendiri mau yang mana?" Vivian malah balik bertanya pada Rumi.
"Aku tidak suka makan kue. Jadi jangan bertanya kepadaku! Pilih saja yang kau suka lalu kita pulang!" Ucap Rumi menatap tegas pada Vivian yang semakin lama semakin menyebalkan.
__ADS_1
"Baiklah! Aku mau ambil red velvet dan tiramisu." Vivian menunjuk ke potongan kue berbentuk segitiga warna merah dan coklat kombinasi.
"Itu saja?" Tanya Rumi memastikan.
"Ya, itu saja," jawab Vivian yakin.
Rumi segera meminta pelayan toko kuenya membungkus kue yang dipilih oleh Vivian saat pintu toko dibuka dari luar, lalu sepasang pria dan wanita masuk ke dalam toko.
Pasangan itu bergandengan mesra awalnya, hingga kemudian si pria menjadi salah tingkah saat melihat Vivian dan Rumi.
"Mbak, kami mau pesan kue untuk acara pernikahan. Ada pilihan modelnya tidak?" Tanya si wanita pada pelayan toko.
"Maaf, apa kuenya untuk pernikahan kalian berdua?" Rumi mendekat ke arah pasangan tersebut dan si pria yang tadi mengejar-ngejar Vivian dengan gila di rumah sakit masih salah tingkah.
"Maaf?" Si wanita menatap remeh pada Rumi yang duduk di kursi roda.
"Pak Rumi ini pemilik toko kue, Nona!" Ujar pelayan toko menjelaskan.
"Oh, ya?" Si wanita langsung ganti bersikap manis.
Cih! Cari muka!
"Jadi, siapa yang akan menikah?" Tanya Rumi sekali lagi yang sepertinya kepo sekali.
"Kami berdua," jawab si wanita penuh semangat. Berbeda dengan calon suaminya yang tertunduk dan mungkin sudah kehilangan muka.
"Baiklah, silahkan dipilih kuenya sesuai selera. Saya permisi. Selamat sore!" Pamit Rumi yang akhirnya undur diri.
"Vian!" Panggil Rumi pada Vivian yang sejak tadi hanya mematung. Vivian segera menghampiri Rumi dan mendorong kursi roda pria itu keluar dari toko kue.
"Pacarmu ternyata buaya juga, ya!" Celetuk Rumi yang langsung membuat Vivian berdecak.
"Dia bukan pacarku!" Jawab Vivian tegas dan ketus.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.