RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
GAJI


__ADS_3

Vivian baru membuka pintu kamarnya, saat wanita itu dibuat kaget setengah mati oleh Rumi yang ternyata sudah ada di depan pintu kamar. Sepertinya Rumi memang niat sekali membuat Vivian jantungan.


"Kau sedang apa, Rumi?" Tanya Vivian yang masih kaget.


"Menunggumu membuka pintu ini!" Jawab Rumi ketus.


"Kau sedang apa sebenarnya? Mandi tapi berabad-abad!" Ucap Rumi lagi tetap ketus.


"Iya, maaf! Tadi ada panggilan alam sebentar. Jadi aku harus menuntaskannya," jawab Vivian seraya meringis.


"Sambil main ponsel?" Tuduh Rumi.


"Mana ada! Aku hanya memenuhi panggilan alam dan mandi. Tak sampai tiga puluh menit juga!" Kilah Vivian panjang lebar.


"Jawab! Alasan! Kau mau membuatku darah tinggi dan stroke?" Cecar Rumi yang tak lagi membuat Vivian buka suara. Vivian akan diam saja dan membiarkan Rumi yang nyerocos tak karuan.


"Buka lebar!" Perintah Rumi selanjutnya pada Vivian agar Vivian lebar pintu kamarnya.


"Kau mau apa?" Tanya Vivian tak senang.


"Aku mau masuk ke kamarmu!" Jawab Rumi tegas.


Vivian akhirnya membuka lebar pintu kamar dan membiarkan Rumi masuk. Toh Vivian juga tak menyimpan benda apapun di kamarnya yang menarik perhatian.


"Ambil paperbag di belakang ini!" Perintah Rumi pada Vivian seraya menunjuk ke bagian belakang kursi rodanya. Ada sebuah paperbag yang tergantung di sana, entah siapa yang menggantungkan. Tadi saat Vivian pamit mandi, Rumi masih duduk diam di kamar dan termenung sendirian.


Entah apa yang sebenarnya sedang Rumi renungkan, karena semenjak Vivian datang, Rumi kerap terlihat melamun atau merenung saat pria itu sendirian.


"Ini apa?" Tanya Vivian yang sudah mengambil paperbag tadi. Vivisn memeriksa isinya dan menemukan sebuah gaun putih berbahan satin serta kain tile di bagian luarnya.


"Gaun, untuk kau pakai malam ini ke acara," jawab Rumi.


"Kenapa putih?" Tanya Vivian lagi.


"Kau tidak baca undangannya? Dresscode-nya memang putih! Jadi menyesuaikan! Atau kau mau pakai warna merah agar menarik perhatian dan beda sendiri, begitu?" Cerocos Rumi yang hanya membuat Vivian mengulas senyuman tipis.


Saat nanti Rumi sudah menjadi milik gadis lain, mungkin Vivian akan rindu omelan pria ini selain keusilannya di masa lalu. Jadi rasanya tak masalah jika sekarang Vivian kerap membuat Rumi kesal agar pria ini semakin sering mengomel.


"Kenapa malah tersenyum begitu? Kau sedang mengejekku?" Hardik Rumi lagi yang langsung membuat Vivian berhenti tersenyum.


"Tidak, gaunnya bagus. Terima kasih!" Ucap Vivian seraya menatap tulus pada Rumi.


Rumi sejenak terdiam saat melihat tatapan tulus Vivian. Lalu Rumi merasakan sebuah perasaan aneh yang sebelumnya tak pernah Rumi rasakan. Sebuah perasaan hangat yang tiba-tiba menyelimuti hatinya.


Ada apa ini?


Ini apa?


"Ngomong-ngomong, kau tadi kesini hanya ingin mengantarkan gaun ini?" Tanya Vivian lagi yang langsung membuat kesadaran Rumi kembali.


"Aku lapar! Bawakan aku camilan ke kamar!" Perintah Rumi seraya mendorong kursi rodanya keluar dari kamar Vivian.

__ADS_1


Vivian meletakkan gaun di tangannya tadi dengan cepat ke atas tempat tidur, lalu segera meraih pegangan kursi roda Rumi dan membantu mendorongnya.


"Kau baru saja makan satu jam yang lalu," ujar Vivian mengingatkan.


"Iya, lalu?" Rumi menghentikan kursi rodanya secara mendadak yang tentu saja membuat Vivian kaget dan menabrak kepala pria tersebut.


"Aduh!" Vivian mengaduh tapi hanya sambil bergumam.


"Apa hanya karena aku baru saja makan, lalu aku tak boleh makan lagi sekarang? Aku lapar! Kau mau membuatku terkena maagh dan asam lambung?" Cecar Rumi yang benar-benar membuat Vivian harus menahan tawanya.


Rumi lebay sekali sekarang!


"Baiklah, Tuan Rumi! Aku akan mengambilkan camilan untukmu. Kau mau buah atau kue?" Tawar Vivian akhirnya pada Rumi yang sudah terlanjur emosi.


"Aku mau dua-duanya!" Jawab Rumi tegas.


Rumi makannya banyak juga, ya.


"Cepat bawakan ke kamar dan jangan bertanya lagi!" Perintah Rumi galak sebelum pria itu menjalankan kursi rodanya meninggalkan Vivian yang hanya mengendikkan bahu. Vivian segera pergi ke dapur untuk mengambilkan camilan untuk Rumi agar pria itu tak marah-marah lagi.


Wajar jika Rumi cepat lapar, hobinya mengomel dan marah-marah terus pada Vivian. Tapi Vivian menyukainya.


****


"Nanti kirimkan nomor rekeningmu agar aku bisa mentransfer gajimu," ucap Rumi saat Vivian sedang menyuapkan potongan buah kecdalam mulut Rumi yang sidah seperti gilingan makanan. Sejak tadi mengunyah makanan tanpa jeda dan seolah tak mau berhenti. Sepiring besar potongan buah nyaris tandas dimakan Rumi sendiri.


"Tapi aku baru tiga minggu bekerja. Kenapa sudah gajian?" Tanya Vivian bingung.


"Baiklah, Tuan Rumi! Terima kasih atas kemurahan hati anda," ucap Vivian sedikit lebay. Namun ketulusan yang terpancar dari kedua mata wanita itu memang tak terelakkan dan perasaan aneh itu kembali menggelitik hati Rumi.


Ck! Rumi kenapa sebenarnya?


"Tak usah memanggilku Tuan! Aku bukan tuan tanah atau tuan takur!" Sahut Rumi sebelum pria itu melahap potongan buah melon di garpunya.


"Mau kuambilkan lagi potongan buahnya?" Tawar Vivian seraya menunjuk ke atas piring yang hanya tersisa tiga potongan buah.


"Kau mau membuat perutku meledak? Aku sudah kenyang!" Jawab Rumi yang langsung membanting garpu ke atas piring hingga menimbulkan suara nyaring.


"Habiskan itu sisanya! Dan jangan buang-buang makanan!" Perintah Rumi lagi yang langsung membuat Vivian melahap tiga potongan buah terakhirnya di piring, sesuai perintah Rumi.


Rumi sendirian sudah menjalankan kursi rodanya ke arah jendela kamar yang merupakan tempat favorit Rumi untuk merenung dan melamun.


"Ambilkan ponselku, dan cepat kirimkan nomor rekeningmu, Vian!" Perintah Rumi pada Vivian yang hendak keluar dari kamar dan mengembalikan piring bekas camilan ke dapur.


"Baiklah!" Vivian kembali masuk ke kamar untuk mengambil ponsel Rumi di atas nakas, lalu memberikannya pada Rumi.


"Aku ambil ponsel ke kamar sebentar," izin Vivian yang hanya dijawab Rumi dengan anggukan kepala.


Vivian lanjut keluar dari kamar dan menutup pintu.


****

__ADS_1


[Vivian, ini apa?] -Abang Sandy-


Vivian membuka foto yang dikirimkan Bang Sandy dan sedikit terkejut melihat nominal uang yang dikirimkan Rumi sebagai gajinya ke rekening Abang Sandy. Tadi memang Vivian memberikan nomor rekening Abang Sandy pada Rumi, karena Vivian bekerja disini niatnya memang untuk operasi Cio yang merupakan putra Bang Sandy dan Kak Vita.


[Itu gaji Vivian beberapa bulan ke depan, Bang! Memang dibayar di muka semuanya sama boss Vivian, agar Vivian tak kabur juga] - Vivian-


[Cio sudah bisa di operasi, kan? Jadi sebaiknya memang disegerakan, Bang! Agar Cio cepat sembuh dan tumbuh normal seperti bayi lain.] -Vivian-


[Terima kasih banyak, Vi! Ucapkan terima kasih juga untuk boss-mu. Mereka orang-orang baik kan? Kau betah kerja di sana, kan? Atau kau diperlakukan kasar? Dimarahi setiap hari?] -Abang Sandy-


[Mereka orang-orang baik, Bang! Tidak ada yang bersikap kasar dan Vivian betah, kok!] -Vivian-


[Syukurlah kalau begitu! Tetap jaga kesehatan!] -Abang Sandy-


[Iya, Bang! Sampaikan salam Vivian untuk semuanya, ya!] -Vivian-


[Siap, Mom Vivian!] -Abang Sandy-


Vivian tersenyum membaca pesan terakhir Bang Sandy tanpa wanita itu sadari kalau ada seseorang yangbsudah berada di ambang pintu kamar yang sedang menatap tak senang ke arahnya.


"Eheem!" Dehem Rumi yang langsung membuat Vivian terlonjak kaget.


"Sedang bertukar pesan dengan pacar baru, sampai senyum-senyum sendiri seperti orang gila begitu!" Sindir Rumi pedas.


"Tidak!" Kilah Vivian cepat.


"Aku hanya-" Vivian hebdak menjelaskan saat Rumi sudah mengangkat tangannya denagn cepat dan minta Vivian tak melanjutkan penjelasannya.


Baiklah! Terserah!


"Kau sudah siap? Aku baru saja akan ke kamarmu dan membantumu bersiap." Vivian sedikit berbasa-basi pada Rumi.


"Aku sudah jamuran menunggumu yang senyam-senyum sendiri di kamar dan sibuk bertukar pesan dengan pacarmu!" Jawab Rumi ketus.


"Baiklah, maaf!"


"Kita berangkat sekarang?" Tanya Vivian yang sudah meraih pegangan kursi roda Rumi..


"Tentu saja sekarang! Kau pikir acaranya bulan depan?"


.


.


.


Rumi PMS


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2