RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
SUARA ANEH


__ADS_3

Vivian terbangun pukul dua dinihari karena tenggorokannya yang mendadak terasa kering. Gelas di atas nakas sudah kosong dan sepertinya Vivian tadi lupa untuk mengisinya. Vivian akhirnya bangkit dari atas tempat tidur dan membuka pintu kamar, lalu pergi ke kamar untuk mengambil air minum.


Saat Vivian hendak kembali, samar-samar Vivian mendengar suara rintihan dari kamar maid yang bersebelahan dengan kamarnya.


Aneh!


Ada apa dengan asisten rumah tangga di keluarga Attala tersebut.


Vivian mendadak merasa cemas, dan akhirnya wanita itu putuskan untuk memeriksa. Namun saat Vivian hampir mengetuk pintu, suara rintihan dari maid tadi tiba-tiba sudah berubah menjadi des*han.


Hah?


Vivian mundur satu langkah, sebelum kemudian wanita itu menempelkan daun telinganya di pintu kamar maid untuk memastikan kalau suara yang tadi ia dengar bukanlah des*han. Namun Vivian salah!


Itu memang desah*n dua orang, yang mirip dengan suara orang yang sedang bercinta.


Ya ampun! Mungkinkah asisten rumah tangga keluarga Attala itu membawa seorang pria ke kamarnya? Nekat sekali kalau iya!


Vivian hanya begidik dan segera masuk kembali ke dalam kamar, saat ponselnya yang ada di atas nakas bergetar.


Rumi menelepon!


Ck! Tahu saja pria itu kalau Vivian sedang terbangun!


"Halo,"


"Gelasku kosong. Kesini dan ambilkan aku air minum!" Suara Rumi terdengar serak khas orang bangun tidur. Sepertinya Rumi bicara sambil matanya terpejam.


Tuut tuut!


Telepon langsung terputus sebelum Vivian sempat menjawab. Dasar Rumi!


Vivian meneguk habis air di gelasnya, sebelum wanita itu keluar dari kamar dan bergegas menuju ke kamar Rumi.


"Kenapa lama sekali?" Komentar Rumi saat Vivian baru membuka pintu.


"Kau belum tidur?" Bukannya menjawab komentar Rumi, Vivian malah balik bertanya pada pria itu. Vivian mengambil segelas air untuk Rumi, lalu membawanya mebdekat ke arah tempat tidur.


"Duduk sini!" Rumi sedikit bergeser dan memberikan tempat untuk Vivian agar bisa duduk bersamanya.


"Mau mengajakku tidur?" Kelakar Vivian seraya tertawa kecil.


"Sudah pernah sebelumnya?" Rumi balik bertanya.


"Pernah apa?" Vivian menatap tak mengerti pada Rumi yang sedang meneguk airnya.


"Di tiduri seorang pria brengsek. Apa berondongmu itu sudah pernah menyentuhmu?" Rumi mendekatkan wajahnya ke arah Vivian yang langsung beringsut mundur.


Padahal, satu-satunya pria brengsek yang pernah menyentuh Vivian adalah Rumi sendiri.

__ADS_1


Cih! Dasar tak sadar diri.


"Aku tak semurahan itu!" Vivian akhirnya mendorong wajah Rumi agar menjauh, setelah wanita itu menormalkan irama jantungnya yang tak karuan.


"Bagus kalau begitu! Berarti masih rapat, hah?" Goda Rumi seraya menaikturunkan alisnya ke arah Vivian.


Astaga!


Meskipun amnesia, otak mesum Rumi ternyata tak pernah hilang dan malah semakin parah.


"Bisa pakai lem alteco kalau masih kurang rapat. Agar tidak mudah dibobol maling." Jawab Vivian asal.


"Aku dengar banyak maling di kompleks belakangan ini," lanjut Vivian lagi sedikit berbisik.


"Kita sedang membicarakan apa memang?" Rumi pura-pura polos.


"Jendela kamarmu yang kurang rapat. Kalau jendela kamarku sudah rapat dan aku juga tak menyimpan barang berharga apapun di kamarku," jawab Vivian yang langsung membuat Rumi berdecak.


Entah sebenarnya Vivian hanya sedang membuat Rumi kesal atau memang wanita ini benar-benar polos? Tapi hati kecil Rumi mengatakan kalau Vivian tak sepolos kelihatannya. Vivian sepertinya menyimpan sebuah rahasia besar.


"Sebaiknya kau tidur, Rumi! Agar besok tidak mengantuk saat acara resepsi," saran Vivian pada pria di sebelahnya.


"Temani aku!" Rumi sudah berbaring dan tangannya menepuk bantal di sebelahnya.


Vivian hanya menghela nafas dan wanita itu segera ikut berbaring di samping Rumi setelah meletakkan gelas kosong ke atas nakas. Vivian berbaring sembari menatap langit-langit kamar Rumi.


"Apa kau dulu juga tidur satu ranjang dengan pasienmu yang sebelumnya?" Tanya Rumi kepo.


"Kenapa tidak mencari perawat pria saja kalau begitu?" Tanya Rumi emosi.


"Karena pasienku itu perempuan," jawab Vivian cepat seraya terkikik. Rumi tak jadi marah dan pria itu terlihat salah tingkah


"Tapi sayangnya, kondisi gadis malang itu tak membaik hingga akhirnya dia pergi untuk selamanya sebelum bisa berjalan lagi," Vivian melanjutkan ceritanya.


"Gadis?" Rumi mengernyit.


"Usianya baru tujuh belas tahun. Di hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas mendapat hadiah mobil, tapi selang seminggu malah terlibat kecelakaan beruntun dan," Vivian tak melanjutkan ceritanya dan wanita itu menghela nafas dengan berat.


"Setidaknya dia sudah bisa berlari dan bahagia di surga sekarang," lanjut Vivian lagi seraya menyeka butir bening di pelupuk matanya.


"Kau merawatnya lama?" Tanya Rumi kepo.


"Hanya sekitar tiga bulan," jawab Vivian seraya menoleh ke arah Rumi yang kini menguap. Pria itu akhirnya mengantuk.


"Mau aku bacakan dongeng semut dan lebah lagi?" Tawar Vivian pada Rumi yang langsung menggeleng.


"Aku bukan bocah enam tahun yang menyukai dongeng konyol seperti itu!" Pungkas Rumi sebelum pria itu berbalik memunggungi Vivian.


Vivian tersenyum tipis dan langsung bergumam dalam hati,

__ADS_1


"Kau memang bukan bocah enam tahun. Tapi kelakuan manjamu mengalahkan Archie yang masih enam tahun!"


****


Vivian mendorongnya kursi roda Rumi keluar dari kamar, saat sorakan Sunny mampir di telinga perawat Rumi tersebut.


"Yeaaay! Papa pulang!" Sorak Sunny girang seraya meloncat ke gendongan Erick.


"Kapan kau datang, Erick? Kenapa tiba-tiba muncul dari dapur?" Tanya Alsya penuh selidik.


"Iya, aku datang tadi pagi-pagi sebelum kau dan Sunny keluar. Dan aku kelaparan, jadi aku langsung ke dapur untuk membuat sarapan," jawab Erick menjelaskan pada Alsya. Pasangan suami istri itu melanjutkan obrolan mereka sambil sesekali berpagutan tanpa rasa malu.


"Tutupi matamu itu agar tak tercemar melihat pemandangan tak senonoh!" Celetuk Rumi pada Vivian yang sejak tadi hanya bengong.


"Ck! Kau jadi pergi?" Vivian mengalihkan pembicaraan.


"Ya! Kau ikut sekalian dan ke toko duluan saja! Nanti aku menyusul," titah Rumi berubah pikiran setelah tadi ia menyuruh Vivian di rumah karena ia harus terapi ke rumah sakit dulu.


"Tapi katamu kau tidak ke toko hari ini dan hanya ingin menyelesaikan urusanmu," protes Vivian pada keputusan plin-plan Rumi.


"Aku akan ke toko sebentar setelah urusanku selesai! Apa kau tadi tidak mendengar perkataanku?" Cerocos Rumi galak.


Vivian hanya menggeleng dan garuk-garuk kepala karena sepertinya Rumi baru berubah pikiran baru saja dan yang tadi pesannya berbeda. Tapi mungkin ini ada hubungannya dengan Erick yang sudah pulang. Rumi ingin menjaga Vivian.


"Jangan hanya senyam-senyum begitu, Vian! Cepat ganti baju!" Perintah Rumi galak.


"Baiklah!" Jawab Vivian patuh yang langsung melesat ke arah kamarnya untuk berganti baju. Sementara Rumi masih di tempatnya semula mengawasi Erick.


"Eh, maaf, Mbak!" Ucap Vivian yang hampir menabrak maid saat wanita itu keluar dari kamar.


"Tidak apa-apa, Nona Vian! Sudah mau pergi bersama Tuan Rumi?" Tanya maid berbasa-basi. Vivian memperhatikan cara berjalan maid di keluarga Attala itu yang sedikit aneh.


"Iya."


"Itu kenapa jalannya seperti itu? Pahanya sakit?" Tanya Vivian kepo.


"Eh, tidak! Tadi habis jatuh saja di kamar mandi. Jadi sedikit nyeri," jawab maid salah tingkah.


Vivian baru saja akan bertanya lagi perihal des*han semalam, saat panggilan Rumi membuat Vivian mengurungkan niatnya.


"Yaudah aku duluan, ya, Mbak!" Pamit Vivian seraya berlalu dari hadapan maid yang setahu Vivian, statusnya adalah janda tanpa anak tersebut.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2