
"Aku antar sampai rumah, ya!" Pinta Rumi saat motornya hampir sampai di gang rumah Vivian.
"No!" Jawab Vivian tegas.
Rumi hanya terkekeh dan akhirnya menghentikan motornya di depan gang rumah Vivian.
"Sudah sampai, Nona Vivian!" Lapor Rumi bersamaan dengan Vivian yang juga sudah turun dari motor.
"Makasih!" Vivian mengusap lengan Rumi dan pemuda itu langsung mengulas senyum.
"Kembali kasih!" Jawab Rumi yang balas mengusap puncak kepala Vivian.
"Jangan nongkrong-nongkrong lagi! Belajar! Dua minggu lagi ujian," pesan Vivian panjang lebar memberikan nasehat untuk Rumi.
"Iya, aku bakal belajar. Tapi sambil nongkrong," jawab Rumi cengengesan.
"Ck! Dasar keras kepala!" Decak Vivian yang sudah ganti bersedekap.
"Kapan kita nge-date lagi?" Tanya Rumi penuh harap.
"Habis ujian," Vivian mengendikkan kedua bahunya.
"Masih boleh chat, kan?" Tanya Rumi lagi.
"Perasaan kita pacaran lebih banyak chat-nya ketimbang ketemuannya," jawab Vivian seraya tertawa kecil.
"Biar nggak bosan! Yang sering ketemu biasanya gampang cekcok, cemburuan, dikit-dikit ngambek-"
"Aku bukan termasuk yang seperti itu!" Potong Vivian seraya merengut.
"Baiklah! Maksudku memang bukan kamu! Tapi Ruby!" Ujar Rumi cepat seraya tertawa.
"Ruby siapa?" Tanya Vivian menyelidik.
Kenapa namanya senada dengan nama Rumi?
"Adik aku! Yang sering aku ceritain itu," Jawab Rumi yang langsung membuat Vivian membulatkan bibirnya.
"Mau melihat wajahku sampai puas dulu, nggak?" Tanya Rumi sedikit usil.
"Lebay! Biasa nggak ketemu sebulan juga biasa aja," jawab Vivian seraya tertawa kecil.
"Kali aja sekarang mau lihat sampai puas. Buat booster menghadapi ujian," ujar Rumi lagi penuh percaya diri.
"Baiklah!" Vivian menatap lekat wajah Rumi beberapa saat.
"Aku ganteng, ya?" Gumam Rumi yang langsung membuat Vivian tak tahan lagi untuk tak tertawa.
"Iya, yang ganteng!" Puji Vivian lebay.
"Boleh minta kissing?" Tanya Rumi to the point seraya mendekatkan wajahnya ke arah Vivian. Sudah sangat dekat, saat tiba-tiba Vivian malah mencium pipi kanan Rumi.
"Bye, Rumi!" Pamit Vivian serata berbalik dengan cepat dan meninggalkan Rumi yang tak jadi mendapatkan ciuman bibir dari Vivian. Eh, tapi sudah dapat ciuman di pipi. Jadi sudah lebih dari cukup.
Rumi masih memperhatikan Vivian hingga gadis itu menghilang di balik pagar rumahnya. Setelah Vivian tak terlihat lagi, Rumi baru menyalakan mesin motornya dan melaju pergi.
****
__ADS_1
"Darimana, Vi?" Tanya Abang Sandy saat Vivian baru masuk ke teras rumah.
"Nonton, Bang! Ada film baru," jawab Vivian jujur.
"Sama?"
"Teman," jawab Vivian singkat.
"Sekarang sudah bisa bisa bersosialisi dan mau diajakin main? Dulu aja tiap weekend cuma ngerem di kamar kerjaan kamu," kekeh Abang Sandy yang hanya membuat Vivian tertawa kaku.
"Ya biar ada kemajuan, San! Biar seperti remaja seusianya, asal nggak kebablasan," timpal Bu Niar yang baru keluar dari dalam rumah, lalu ikut duduk di teras bersama Abang Sandy.
"Kak Vita kemana, Bang?" Tanya Vivian berbasa-basi.
"Nah kan, Ma! Langsung nyariin belahan jiwanya," kelakar Abang Sandy yang selalu menyebut Vivian dan Kak Vita sebagai belahan jiwa saking akrabnya mereka. Meskipun hanya saudara ipar, tapi Vivian sepertinya memang lebih nyaman menceritakan apa saja pada Kak Vita.
"Iya kan cuma nanya. Masa nggak boleh," Vivian menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kak Vita masih mandi, Vi! Kalau Papa pergi keluar tadi. Katanya ada acara sama teman-teman dinasnya," ujar Bu Niar menjawab pertanyaan Vivian.
"Mama nggak ikut?" Vivian sudah ganti duduk di lengan kursi yang diduduki oleh sang Mama.
"Lagi males," jawab Bu Niar sebelum menyesap tehnya. Vivian hanya mengangguk sebelum kemudian gadis itu pamit masuk karena ponselnya sudah berbunyi.
Sepertinya Rumi sudah sampai di rumah, karena pria itu sudah mengirim pesan pada Vivian.
****
[Nongkrong bentar. Mau kopi?] -Rumi-
Vivian hanya tersenyum tipis melihat foto kopi dengan latar suasana kafe yang baru saja dikirimkan Rumi.
[Rumi belajar? Auto juara kelas terus] -Rumi-
[Sombongnya!] -Vivian-
[Tadi kamu kenapa, sih,Vi?] -Rumi-
[Apanya yang kenapa? Aku nggak kenapa-kenapa, kok!] -Vivian-
[Wajah kamu murung dan beda, lho! Biasanya kan kamu ceria, berseri-seri gitu tiap kita ketemuan] -Rumi-
Vivian tak langsung menjawab pertanyaan Rumi karena gadis itu sedikit bingung. Vivi hanya sedang galau karena ia akan pindah sebentar lagi dan otomatis hubungannya dengan Rumi juga belum tentu bisa berlanjut.
Tapi Vivian memang belum memberitahu Rumi perihal kepindahannya. Vivian hanya tak mau membuat Rumi banyak pikiran ataupun mengganggu fokus pemuda itu untuk ujian.
Hhh!
Kenapa jadi rumit begini?
[Vivian! Sudah tidur?] -Rumi-
Rumi memanggil.
Vivian tak langsung menjawabnya. Sengaja karena Vivian masih tak mau Papa, Mama, serta Abang Sandy tahu kalau Vivian sudah punya pacar.
[Kok nggak diangkat, Vi?] -Rumi-
__ADS_1
[Ada mama dan papa] - Vivian-
[Ck! Pengen dengar suara kamu padahal] -Rumi-
[Kan tadi baru aja ketemu. Suara dan gombalan kamu aja masih terngiang jelas di kepalaku] - Vivian-
[Masa, sih? Aku udah kangen kamu padahal] -Rumi-
[Gombal!] -Vivian-
[Serius! Ciuman dari bibir lembut kamu aja masih terasa di pipi aku. Sampai aku usap-usap terus ini] -Rumi-
Wajah Vivian langsung bersemu merah mengingat saat dirinya mencium Rumi secara spontan tadi.
Ya ampun!
Sudah seperti wanita agresif saja!
[Buruan cuci muka sana!] -Vivian-
[Nggak ah! Nggak akan kucuci sampai besok. Biar kerasa terus] -Rumi
[Jorok!] -Vivian-
[Biarin! Penting kamu tetap cinta] -Rumi-
[Dih, geer!] - Vivian-
[Pipi kamu merah, Sayang] -Rumi-
[Nggak, kok! Sok tahu!] -Vivian-
Vivian mengusap pipi dan wajahnya yang mendadak terasa memanas. Semua gara-gara gombalan Rumi.
[Emang aku tahu] -Rumi-
[Udah, ah! Aku mau siapin buku dan belajar dulu. Kamu juga nongkrongnya jangan kelamaan dan cepat pulang! Besok sudah Senin] -Vivian-
[Oke, siap! Bye, Sayangku] -Rumi-
[Bye!] -Ruby-
[Sapaan sayangnya mana? Balas, dong!] -Rumi-
[Bye, Rumi Sayang!] -Vivian-
Wajah Vivian kembali bersemu merah hanya karena mengetik kata sayang dan mengirimkannya pada Rumi.
Ya ampun!
Jantung Vivian juga tak berdetak dengan benar rasanya! Ada apa dengan Vivian?
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.