
Vivian masih celingukan di depan sekolahnya saat pesan dari Rumi masuk ke dalam ponsel Vivian.
[Biasa pulang naik apa? Kok masih celingukan begitu?] -Rumi-
Vivian membelalakkan kedua matanya saat membaca pesan Rumi. Gadis itu langsung menengok ke kiri dan kanan demi mencari keberadaan Rumi. Kenapa juga pemuda itu selalu ada dimana-mana?
"Nyariin siapa?" Tanya Rumi seraya menutup kedua mata Vivian dengan telapak tangannya.
"Rumi!" Tebak Vivian yang langsung membuat Rumi tergelak.
"Lepas Rumi!" Perintah Vivian seraya berusaha melepaskan tangan Rumi yang masih menutupi kedua matanya.
"Kok belum pulang? Nungguin siapa?" Tanya Rumi kepo.
"Nungguin jemputan," jawab Vivian cepat.
"Dijemput siapa? Pacar?" Nada bicara Rumi terdengar tidak senang.
"Babang angkot," jawab Vivian seraya tertawa kecil. Rumi langsung berdecak sekaligus bernafas lega.
"Kenapa, sih?" Tanya Vivian bingung.
"Nggak ada! Cuma lega aja," jawab Rumi santai.
"Maksudnya?" Vivian masih bingung.
"Udah, nanti aku jelasin. Pulang bareng aku, yuk!" Rumi tiba-tiba sudah meraih lengan Vivian dan menarik serta sedikit memaksa untuk ikut dengannya.
"Aku pulang naik angkor saja, Mi!" Tolak Vivian yang tiba-tiba langsung menghentikan langkah Rumi.
"Barusan panggil aku apa?" Rumi menoleh cepat ke arah Vivian.
"Mi. Rumi, kan?" Jawab Vivian sekaligus melontarkan pertanyaan.
"Ck!" Rumi berdecak kesal.
"Panggil Ru! Atau Rumi yang lengkap! Jangan Mi, Mi! Aku bukan Mami kamu!" Ujar Rumi panjang lebar yang langsung membuat Vivian tergelak.
"Baiklah, Ru!"
"Mi!" Ulang Vivian yang sepertinya sengaja memotong suku kata di nama Rumi.
"Disambung langsung! Jangan dipenggal begitu!" Protes Rumi mulai geram.
"Rururu!"
"Mimimimi!" Ulang Vivian yang malah membuatnya sebagai lelucon.
__ADS_1
"Vivian!" Rumi benar-benar gemas pada gadis ini.
"Rumi, Rumi! Aduh!" Vivian merengut dan mengusap-usap pipinya yang baru saja dicubit oleh Rumi.
Mending-mending kalau pipi Vivian chubby. Ini sudah tirus dan gepeng, malah dicubitin! Dasar!
"Sakit tahu!" Rengut Viviqn yang bibirnya masih mencebik.
"Mana yang sakit?" Rumi memeriksa pipi Vivian sekaligus mengusap-usapnya sebagai modus tentu saja. Tapi ucapan Rumi lembut juga dan membuat Vivian klepek-klepek.
Duh!
"Udah, Rumi! Nanti pacar kamu marah!" Vivian akhirnya memberanikan diri untuk menyingkirkan tangan Rumi dari pipinya.
"Pacar?" Tanya Rumi tiba-tiba yang langsung membuat Vivian mengangguk dengan cepat.
"Aku nggak punya pacar, kok!" Ujar Rumi yang raut wajahnya hanya datar. Entah maksudnya pria ini sedang serius atau hanya membual. Mustahil seorang Rumi yang perfect nggak punya pacar.
"Mustah-" Vivi belum selesai bergumam saat tiba-tiba Rumi melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat Vivian kaget bukan kepalang.
"Kamu aja yang jadi pacar aku gimana?"
"Hah?" Vivian hanya mampu ternganga sekarang sekaligus shock dengan pertanyaan Rumi.
Ini maksudmu Rumi nembak Vivian? Tapi masa iya orang nembak to the point begini dan biasa aja wajahnya. Rumi serius apa cuma bercanda, sih?
"Maksa!" Vivian memukul lengan Rumi.
"Halah! Nggak usah jual mahal! Aku tipe setia dan bukan playboy atau buaya, kok!" Ujar Rumi pamer sekaligus memuji dirinya sendiri.
"Iya, kamu kan Rumi! Yang bilang kamu buaya siapa?" Jawab Vivian seraya terkikik.
"Lagian, mana ada juga playboy yang mengaku dirinya adalah playboy?" Lanjut Vivian yang masih terkikik.
"Masih belum percaya ceritanya? Mau aku buktikan?" Rumi tiba-tiba sudah mendekatkan wajahnya ke arah Vivian.
"Buktikan apa maksudnya?" Vivian beringsut mundur dan mulai khawatir.
"Udah aku antar pulang, ayo! Aku ada latihan basket sore ini!" Tukas Rumi sekali lagi seraya merangkul pundak Vivian.
"Pacarannya biasa aja, bisa, nggak? Nggak usah rangkul-rangkulan begini! Nggak enak dilihat orang," pinta Vivian seraya menyingkirkan lengan Rumi dari pundaknya.
"Bisa!" Rumi ganti menggandeng tangan Vivian sekarang.
"Udah setuju berarti, kan? Kita pacaran mulai hari ini, jam ini, menit ini, detik ini!" Ujar Rumi lagi yang langsung membuat Vivian memutar bola mata.
"Terserah!" Jawab Vivian di bibir yang sepertinya biasa saja. Padahal di dalam hati Vivian sedang bersorak tak karuan.
__ADS_1
"Backstreet, ya!" Celetuk Vivian tiba-tiba yang langsung membuat Rumi menghentikan langkahnya.
"Kenapa?"
"Nanti Papa marah," jawab Vivian seraya meringis.
"Kan masih sekolah juga," lanjut Vivian memberikan alasan.
"Baiklah tidak masalah! Aku juga bukan tipe bucin dan posesif, kok!"
"Atau kamu mau aku posesifin?" Tawar Rumi yang langsung membuat Vivian menggeleng.
"Biarkan mengalir saja!" Jawab Vivian seraya tersenyum. Rumi ikut tersenyum dan kembali menggenggam tangan Vivian.
"Aku antar pulang sampai depan gang!" Ujar Rumi yang langsung membuat Vivian tertawa kecil.
"Tapi ngomong-ngomong, aku nggak lihat motor kamu sejak tadi," Vivian kembali mencari-cari motor Rumi yang beberapa hari lalu dipakai Rumi untuk mengantar Vivian pulang. Tidak ada! Yang ada hanya sebuah mobil putih.
Hah?
"Motor aku dibawa temanku yang lagi bukut. Jadi aku gantian bawa mobilnya," ujar Rumi seraya membukakan pintu mobil Ethan untuk Vivian.
"Bukut? Apaan bukut?"
"Bucin akut! Lagi motoran berdua dia sama calon pacarnya," jawab Rumi seraya tertawa kecil.
"Kok calon pacar?" Tanya Vivian bingung. Rumi tak langsung menjawab dan pemuda itu mengitari mobil, lalu naik melalui pintu pengemudi.
"Aku belum kasih lampu ijo. Jadi masih calon pacar," jawab Rumi santai.
"Pacarnya adik kamu?" Tebak Vivian sok tahu.
"Ya!" Jawab Rumi singkat sebelum pemuda itu melajukan mobil Ethan dan meninggalkan sekolah Vivian.
.
.
.
Maaf lambat up.
Ngetik pake tangan kiri masih kagok ternyata. Tangan kanan lagi cedera.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1