
Rumi turun dari mobil dan sedikit merasa gerah dengan udara sore ini.
Aneh!
"Sore, Vivian!" Sapa Rumi pada Vivian yang masih berdiri di teras rumahnya.
"Hai! Kau sudah datang?" Vivian sedikit berbasa-basi pada Rumi.
"Ya! Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan menjemputmu di rumah dan pamit baik-baik pada Mama dan Papamu?"
"Jadi, kedua orang tuamu ada di dalam?" Tanya Rumi seraya mengendikkan dagunya ke arah pibtu rumah Vivian.
"Mereka baru saja pergi!" Jawab Vivian seraya mengendikkan bahu.
"Kemana?" Tanya Rumi lagi.
"Ada acara bersama teman-teman dinas. Abang Sandy dan Kak Vita juga sedang pamitan dengan teman-teman kantor Abang Sandy," jawab Vivian menjelaskan bersamaan dengan ponsel gadis itu yang berdering nyaring.
"Abang Sandy," gumam Vivian saat membaca nama kontak yang tertera di layar ponselnya.
"Aku angkat telepon sebentar," izin Vivian pada Rumi yang hanya mengangguk. Vivian sedikit menjauh dari Rumi sebelum mengangkat telepon Abang Sandy.
"Halo, Bang!" Sambut Vivian.
"Vi, kamu di rumah?"
"Enggak. Vivian mau pergi ada acara bareng teman, Bang! Papa sama Mama juga sudah pergi tadi."
"Selesai jam berapa acara kamu?"
"Belum tahu. Mungkin jam tujuh atau jam delapan," jawab Vivian seraya melempar pandangannya ke arah Rumi yang wajahnya terlihat aneh.
Ada apa dengan Rumi?
"Abang pulangnya mungkin agak malam. Tapi kamu jangan pulang malam-malam, ya!"
"Iya, Bang! Iya! Nanti Vivian kabari Abang kalau sudah pulang.
"Oh, ya mama dan Papa pulangnya juga mungkin sedikit larut. Nanti jangan nyariin, ya! Tidur sendiri!"
"Abang, ih! Memangnya Vivian bayi!" Cebik Vivian yang langsung membuat Abang Sandy tergelak di ujung telepon.
"Abang pulang jam sembilan."
"Iya, Bang! Kan tadi udah bilang! Vivian juga berani kok di rumah sendiri! Vivian udah besar," Cerocos Vivian masih sambil memperhatikan Rumi yang wajahnya mulai berkeringat.
Aneh!
Rumi kenapa?
__ADS_1
"Iya, iya! Yang udah besar!"
"Udah dulu, ya! Abang tutup dulu teleponnya. Nanti jangan lupa kunci pintu depan kalau mau tidur!"
"Iya, Abang Sandy! Siap!" Jawab Vivian lebay.
Telepon sudah terputus. Vivian kembali menghampiri Rumi yang terlihat gelisah.
"Rumi, kamu kenapa?" Tanya Vivian seraya mengusap lengan Rumi yang sudah dipenuhi peluh. Gelenyar aneh tiba-tiba merasuk ke dalam sel-sel tubuh Rumi hingga menimbulkan sensasi menyenangkan dan membuat ketagihan. Rumi memejamkan matanya dan menikmati usapan Vivian di lengannya.
"Rumi," tegur Vivian lagi pada Rumi yang masih memejamkan mata.
"Iya," jawab Rumi yang hanya bergumam dan nafasnya terengah.
"Kau baik-baik saja, Rumi? Kenapa kau berkeringat begini?" Tanya Vivian khawatir.
"Aku baik, Vivian!" Tangan Rumi sudah mendarat dengan cepat di atas tangan Vivian yang masih mengusap lengannya. Rumi menggenggam erat tangan Vivian yang nampak tersentak.
"Rumi?"
"Jangan berhenti, Vi! Jangan berhenti, please!" Rumi membuka kedua matanya dan menatap memohon pada Vivian yang mulai khawatir.
"Kita jadi pergi?" Vivian masih mengusap lengan Rumi.
"Mama dan Papamu kapan pulang? Kau di rumah sendiri?" Bukannya menjawab pertanyaan Vivian, Rumi malah balik melemparkan pertanyaan bertubi-tubi pada gadis itu.
"Mama dan Papa mungkin pulang malam. Abang Sandy juga," cerita Vivian yang langsung membuat Rumi mengangguk dan pria itu semakin berkeringat.
"Aku boleh buka baju?" Izin Rumi yang tangannya sudah mulai membuka kancing kemejanya, meskipun Vivian belum menjawab iya.
"Mungkin kau bisa ke kamarku sebentar jika masih merasa kepanasan. Ada pendingin udara di sana," tawar Vivian tanpa pikir panjang. Dan Rumi langsung mengangguk mengiyakan ajakan Vivian.
"Ayo!" Ajak Vivian pada Rumi setelah gadis itu menutup pintu depan. Vivian yang sore ini mengenakan baju terusan selutut warna abu-abu, terlihat begitu mempesona saat berjalan di depan Rumi.
Rumi bahkan harus berulang kali menelan salivanya karena gelenyar aneh yang terus merambati setiap sel dalam tubuhnya hanya karena ia menatap pada tubuh mungil Vivian. Rumi ingin menerjangnya, menelanjanginya, lalu mencecap setiap jengkal dari tubuh yang berbalut kulit eksotis tersebut.
"Masuklah, Rumi! Akan kuatur suhunya agar lebih dingin," ujar Vivi seraya membuka lebar pintu kamarnya. Langsung terlihat sebuah ranjang yang berbalut sprei motif dedaunan warna hijau. Susah payah Rumi melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Vivian saat sentuhan Vivian di lengannya, malah membuat Rumi merasakan gelenyar aneh itu lagi.
Rumi dan Vivian duduk berdampingan di tepi tempat tidur Vivian.
"Kau sakit?" Tanya Vivian lagi yang masih khawatir. Gadis itu meletakkan punggung tangannya di kening Rumi untuk memeriksa suhu tubuh Rumi.
"Aku mendadak merasa tak enak badan dan gerah sekali," jawab Rumi yang kembali memejamkan matanya karena sentuhan tangan Vivian di keningnya yang begitu membuat nyaman.
"Kau sedikit demam. Mungkin masuk angin." Ucap Vivian yang sudah selesai memeriksa suhu tubuh Rumi dengan tanganmeter.
"Kemejamu juga basah kuyup. Aku ambilkan kaus Abang Sandy, ya! Kau mau minum obat? Kau sudah makan tadi?" Tanya Vivian bertubi-tubi yang hanya dijawab Rumi dengan gelengan kepala.
Vivian baru saja akan bangkit berdiri saat Rumi menahan tangan gadis itu dan memintanya untuk tak beranjak.
__ADS_1
"Tetaplah disini dan jangan kemana-mana, Vi!" Mohon Rumi yang tiba-tiba sudah mendekap erat Vivian.
"Rumi, ada apa?" Tanya Vivian bingung. Meskipun sebenarnya Vivian juga ingin menangis sekarang di dalam dekapan Rumi karena besok ia sudah harus pergi dan berpisah dari Rumi.
"Aku hanya ingin memelukmu sekarang," gumam Rumi yang semakin merasa nyaman saat semakin banyak kulitnua yang melakukan kontak dengan kuliah Vivian. Rumi tak tahu dirinya kenapa, tapi Rumi ingin berlama-lama mendekap Vivian begini.
Serta menjamah tubuh gadis ini lebih jauh lagi!
"Kita tak jadi pergi?" Tanya Vivi yang masih menyusupkan kepalanya di dalam dekapan hangat Rumi.
"Tidak usah aku rasa. Kita disini saja sambil menunggu orangtuamu pulang," jawab Rumi memberikan ide.
"Kita akan berbuat apa? Besok aku sudah berangkat," kalimat terakhir yang diucapkan Vivian membuat Rumi mengendurkan dekapannya pada gadis itu.
"Apa katamu barusan?" Tanya Rumi menatap lekat wajah Vivian.
"Besok aku sudah pindah. Maaf baru memberitahumu sekarang, karena kata Papa, jadwalnya dimajukan," jawab Vivian dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Tapi aku belum bicara pada papamu, Vi!"
"Kau tidak boleh pergi!" Rumi menangkup wajah Vivian dan raut wajahnya terlihat memohon.
"Masih ada waktu dan kesempatan, kan?" Tanya Rumi penuh harap. Pemuda itu sudah menyatukan keningnya dengan kening Vivian.
"Aku tidak tahu," Tangan Vivian sedikit gemetar saat menyentuh dada Rumi yang tak tertutup sehelai kainpun. Tatapan mata Vivian dan Rumi saling beradu masih dengan tangan Vivian yang berada di dada Rumi.
"Vi, kamu percaya padaku, kan?" Tanya Rumi tiba-tiba masih sambil menatap lekat wajah Vivian.
"Percaya apa?" Tanya Vivian bingung.
"Percaya bahwa aku mencintaimu hari ini, besok, dan seterusnya," ucap Rumi tulus sambil terus mebdekatkan wajahnya ke wajah Vivian yang hanya mematung.
"Aku percaya," jawab Vivian yang langsung membuat Rumi tak ragu lagi untuk menyatukan bibirnya dengan bibir Vivian.
.
.
.
Lanjutin tengah malam, ya!
Biar bisa sambil peluk guling masing-masing 🤣
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
Yang tanya kenapa covernya ganti. Biar kompakable aja 🙊
__ADS_1