RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
BUKAN SEPERTI ITU!


__ADS_3

Braak! Ceklek!


Vivian langsung mematung di tempatnya, saat mendengar suara pintu yang ditutup dan dikunci oleh seseorang. Tentu saja Vivian tahu siapa pria brengsek yang sudah menjebak Vivian itu.


Dasar brengsek!


"Sunny sedang pergi bersama Alsya. Bagaimana kau bisa tidak tahu, hah?" Erick tertawa mengejek pada Vivian yang masih memegang seperti nugget di tangannya. Tanpa babibu, Vivian langsung melemparkan piring nugget ke arah Erick yang ternyata bisa menghindar dengan cepat.


Brengsek!


"Ayo kita bersenang-senang, Vian jal*ng! Agar bukan cuma pria lumpuh itu saja yang kau belai-belai!" Ucap Erick yang sudah menanggalkan kausnya dan mendekat pada Vivian yang terus beringsut mundur.


"Aku bisa sangat memuaskanmu dan membuatmu mendes*h tanpa henti," Erick masih terus tertawa licik pada Vivian. Demi apapun, Vivian benar-benar jijik pada pria ini sekarang.


"Ayo kita bersenang-senang, Vian!" Erick sudah mendorong tubuh Vivian secara tiba-tiba ke atas tempat tidur. Namun sebelum Erick sempat menindihnya, Vivian segera berguling menghindari Erick. Vivian melesat cepat ke arah pintu kamar yang dikunci oleh Erick dan berusaha membukanya.


"Kau mau kemana, Jal*ng!" Erick menarik baju Vivian yang hendak kabur dan membanting tubuh mungil itu ke atas lantai.


"Auuuuw!" Tubuh Vivian langsung terasa nyeri. Tapi tak ada waktu untuk meratapi rasa sakit karena Vivian harus bangkit dengan cepat.


"Dasar jal*ng!"


Plak!


Erick mencekal kedua tangan Vivian di atas kepala dengan tangan kirinya dan menampar keras pipi Vivian dengan tangan kanannya. Vivian terkunci sekarang.


"Kau mau cara kasar, hah?" Erick menatap sengit pada Vivian yang balik menatapnya.


"Cuih!" Vivian meludahi wajah Erick tanpa segan.


"Dasar baj*ngan!" Umpat Vivian yang langsung berhadiah satu tamparan lagi dari Erick.


"Kau benar-benar jal*ng! Akan kubuat kau menyesal karena sudah menghinaku!" Erick baru saja akan memaksa untuk mencium Vivian, saat dengkul Vivian sudah bergerak cepat menendang pangkal paha Erick. Pria itu langsung terjungkal ke belakang, memegangi asetnya yang Vivian tendang pas sekali di tengah-tengah.


Vivian bangkit dengan cepat dan segera meraih gagang pintu, memutar kuncinya, dan hampir membuka knop saat tubuhnya sudah diterjang kembali oleh Erick.


"Wanita sialan!"


Plak!


Erick kembali menampar pipi Vivian. Namun Vivian tak tinggal diam dan terus berontak. Vivian kembali menendang pangkal paha Erick, namun kali ini meleset.


Sial!


Vivian menggigit tangan Erick hingga pria itu menjerit keras, lalu Vivian mendorongnya sekuat tenaga dan pria itu kembali terjungkal. Vivian bangkit berdiri dan netranya tak sengaja menangkap sebuah gunting di atas nakas. Vivian menyambarnya dan baru saja mengacungkan benda itu ke arah Erick saat tiba-tiba pintu kamar sudah menjeblak terbuka.


"Erick-" suara Alsya tercekat di tenggorokan saat menyaksikan Vivian yang penampilan sudah kacau berantakan dan gaunnya sedikit terkoyak, serta Erick yang bertelanjang dada.


"Alsya, Sayang!" Erick langsung menghampiri Alsya dan raut wajah pria itu mendadak berubah melas seolah dia baru saja teraniaya. Sedangkan Vivian masih mematung di tempatnya sembari memegang gunting di tangannya.

__ADS_1


"Kau sedang apa di kamarku?" Tanya Alsya galak mendelik pada Vivian yang sudah meloloskan gunting dari tangannya.


"Aku-"


"Erick mau memperkosaku!" Jawab Vivian tergagap.


"Bohong!" Sergah Erick membantah tuduhan Vivian.


"Kak Alsya, ada apa ini?" Tanya Rumi yang ikut datang ke kamar Alsya. Sepertinya Rumi juga baru sampai. Rumi menatap kaget pada penampilan Vivian yang kacau berantakan.


"Aku sedang tiduran di kamar, lalu Vivian mendadak mengetuk pintu. Aku membukanya dan bertanya ada apa, tapi Vivian malah merangsek masuk seperti seorang jal*ng dan langsung menerkamku, lalu melucuti kausku-"


"Jangan mengarang cerita!" Sergah Vivian memotong cerita palsu Erick.


"Diam kau!" Alsya menuding pada Vivian.


"Kau yang mau memperkosaku!" Vivian tetap berteriak lantang dan menuding pada Erick.


"Untuk apa aku memperkosamu? Aku sudah punya istri! Kau itu yang kegatelan dan menggodaku!" Sergah Erick menatap sengit pada Vivian.


"Lihat ini!" Erick menunjukkan bekas kissmark di dada dan lehernya yang sama sekali tak Vivian ketahui.


Brengsek!


"Kalau aku hendak memperkosamu, seharusnya tanda ini ada di tubuhmu dan bukan di tubuhku!" Ujar Erick lagi yang tentu saja langsung membuat kemarahan Alsya naik ke ubun-ubun. Alsya menghampiri Vivian dan menampar keras pipi perawat itu.


"Vian tak mungkin melakukannya! Suamimu itu yang brengsek!" Sergah Rumi membela Vivian dan berteriak pada Alsya.


"Jangan terperdaya wajah polosnya, Rumi! Perawatmu ini seorang jal*ng yang kerap mengajak security ke kamarnya setiap malam untuk bercinta. Kau mana tahu, hah!"


"Jangan menuduh sembarangan!" Bentak Rumi menuding pada Erick.


"Aku tak menuduh sembarangan! Tanyakan saja pada maid yang kamarnya bersebelahan dengan Vian! Setiap malam, dia adalah saksi dari des*han di kamar Vian!" Ujar Erick lagi yang langsung memanggil maid.


"Mbak!"


"Baj*ngan kamu, Erick! Aku bukan wanita seperti itu!" Vivian hendak menyerang Erick namun Alsya menghalangi dengan cepat dan balik mendorong Vivian hingga jatuh terjerembab.


Maid sudah datang ke kamar dan asisten rumah tangga di keluarga Attala itu wajahnya terlihat segar, tidak seperti pagi tadi saat dia mengeluh sakit pada Vivian.


Apa ini semacam jebakan?


"Ada apa, Tuan?" Tanya maid itu pura-pura polos.


"Ceritakan yang kau dengar setiap malam dari kamar Vivian!" Perintah Erick yang sesaat membuat wajah maid itu merasa ragu.


"Ceritakan saja dan tak perlu takut!" Titah Erick lagi.


"Tadi malam saya mendengar suara des*han-"

__ADS_1


"Jangan mengarang cerita! Aku tidur tadi malam dan suara des*han itu berasal dari kamarmu sendiri! Bukan dari kamarku!" Sergah Vivian memotong tuduhan maid sialan yang sepertinya adalah gund1k Erick tersebut.


"Saya berani bersumpah, Nyonya!" Ucap maid itu yang wajahnya terlihat bersungguh-sungguh.


Brengsek! Pandai sekali dia berakting!


"D*sahan itu bukan yang pertama kali. Dan saya pernah menemukan bungkus kond0m di tempat sampah di kamar Noma Vivian," ujar maid lagi yang benar-benar membuat Vivian murka sekarang.


"Bohong! Itu semua bohong!" Sergah Vivian lagi menuding kesal pada maid sialan itu.


"Jangan menuduh sembarangan!" Rumi menatap tajam ke arah maid yang lebih banyak menunduk tersebut.


"Saya berani bersumpah, Tuan Rumi!" Jawab maid bersungguh-sungguh.


"Periksa saja kamar Nona Vian!" Ujar maid lagi memberikan ide.


Rumi tak menjawab sepatah katapun,dan pria itu menjalankan kursi rodanya ke arah kamar Vivian. Semua orang termasuk Vivian mengikuti Rumi dan saat Rumi mengangkat kasur Vivian, isinya benar-benar membuat semuanya tercengang.


Ada beberapa kond*m yang masih terbungkus dan ada pula yang sepertinya bekas pakai. Rumi menatap tak percaya ke arah Vivian yang sudah bersimbah airmata.


"Itu-"


"Itu semua bukan milikku," ucap Vivian terbata-bata.


"Lalu bagaimana ceritanya semua benda itu ada di kamarmu dan di bawah kasurmu, kalau memang itu bukan milikmu?" Gertak Alsya menatap penuh kebencian pada Vivian.


"Setelah para security, kau mau menggoda suamiku juga, hah?" Maki Alsya lagi yang tak di pedulikan oleh Vivian. Yang Vivian pikirkan sekarang hanyalah Rumi yang hanya diam seribu bahasa.


"Perawatmu ternyata benar-benar seorang jal*ng, Rumi!"


"Apa selain merawat kau yang lumpuh, dia juga memuaskanmu setiap hari?" Tanya Alsya dengan nada mengejek pada Rumi yang tetap diam. Rumi menjalankan kursi rodanya dan keluar dari kamar Vivian.


"Rumi, ini tidak benar!" Vivian menahan lengan Rumi dan mencoba menjelaskan pada pria itu. Bisa Vivian lihat raut penuh kekecewaan di kedua mata Rumi.


"Lepas!" Gertak Rumi yang langsung menyentak cekalan tangan Vivian. Pria itu lanjut menjalankan kursi rodanya menuju ke kamar. Dan tak berselang lama, terdengar bantingan pintu dari arah kamar Rumi.


.


.


.


Ini timing-nya pas Ruby-Ethan lagi honeymoon ke Pulau Maratua itu, ya!


Maaf, kalau banyak umpatan dan kata-kata kotor di bab ini 😌


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2