RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
BODOH!


__ADS_3

"Nanti tidak usah kelayapan dan tetap berada di sampingku! Kau perawatku dan bukan perawat apalagi pengasuh SCTV!" Pesan Rumi pada Vivian saat mereka sedang dalam perjalanan menuju ke hotel tempat diadakannya resepsi pernikahan Ethan dan Ruby.


"Pengasuh SCTV? Apa maksudnya?" Tanya Vivian bingung.


"Satu untuk semua," jawab Rumi dengan ekspresi lucu yang hampir membuat tawa Vivian meledak. Namun Vivian menahannya dan ganti tertawa kecil saja.


Mobil sudah sampai di lokasi acara, dan Vivian yang sudah tirus duluan segera memindahkan Rumi ke atas kursi roda.


"Perasaanku saja atau kau sedikit lebih ringan sekarang?" Gumam Vivian setelah selesai memindahkan Rumi.


Tentu saja sedikit ringan, Rumi sudah bisa menyangga beban tubuhnya sendiri sekarang.


"Maksudmu aku kurus, begitu?" Sergah Rumi yang pura-pura memasang raut wajah tidak senang.


"Bukan seperti itu! Kau tidak kurus! Hanya beban tubuhmu sedikit lebih ringan dari saat pertama kali aku menjadi perawatmu," jelas Vivian lagi.


Rumi tak menjawab cerocosan Vivian dan pria itu sudah sibuk menyapa beberapa tamu yang hadir.


****


Vivian sudah kembali duduk di samping Rumi, setelah wanita itu mengambilkan makanan untuk Rumi yang katanya sudah kelaparan.


"Suapi aku!" Perintah Rumi menatap tegas pada Vivian.


"Ck! Kenapa tidak makan sendiri?" Gerutu Vivian yang tumben-tumbenan protes.


"Agar kau tidak makan gaji buta!" Jawab Rumi sok galak.


"Rumi!" Sapa seorang wanita yang membuat Vivian kaget. Vivian memperhatikan penampilan wanita yang begitu mempesona tersebut.


Dia siapa?


Calon istri Rumi pilihan keluarga Attala?


Rumi masih diam dan sepertinya sedang mengingat-ingat nama wanita di depannya tersebut.


"Ya ampun! Kamu nggak ingat aku, ya?" Wanita itu mencebik sedih.


"Kau-" Rumi belum menyelesaikan pertanyaannya. Saat tiba-tiba Mami Lily datang memotong.


"Via, kau melihat Ruby dan Ethan?" Tanya Mami Lily pada wanita yang tadi menyapa Rumi.


"Tidak, Aunty! Mereka kemana memangnya? Bukankah sebentar lagi acara lempar bunga?" Olivia malah balik bertanya Mami Lily.


"Iya ini baru dicari. Tadi mendadak hilang tak tahu kemana," jawab Mami Lily bingung.


"Mi, dia siapa?" Tanya Rumi to the point seraya menunjuk ke arah Olivia yang langsung menatapnya dengan horor.


"Kau lupa siapa aku, Mi?"


"Jahat!" Cebik Olivia marah.


"Dia Olivia, Rumi! Anaknya Bu Audrey temannya Ruby," jelas Mami Lily pada Rumi.

__ADS_1


"Kau? Olivia?" Rumi mengernyitkan heran.


"Ck! Ada apa denganmu? Kau seperti punya dendam padaku?" Omel Olivia dengan wajah kesal.


"Tidak! Aku hanya ingat perkataan Ethan yang pernah mengatakan kau kau pernah meragukan ketulenanku dan menuduhku sebagai maho," kedua telunjuk Rumi membentuk tanda kutip. Olivia sontak tertawa dan Mami Lily juga ikut tertawa.


"Iya, itu dulu! Karena dulu saat SMA kau tak pernah punya pacar dan kemana-mana sama Ethan. Kan mencurigakan!" Celetuk Olivia yang masih tertawa.


"Tapi sepertinya sekarang sudah normal," lanjut Olivia seraya mengendikkan dagunya ke arah Vivian yang sejak tadi hanya diam menyimak.


"Aku hanya perawatnya," sergah Vivian cepat.


"Hmmm, perawat hati atau perawat cinta?" Goda Olivia usil, saat tiba-tiba seorang pria menghampiri wanita itu dan merangkulnya dengan posesif.


Sepertinya itu pacar Olivia.


"Baiklah, aku duluan, ya! Perawatnya Rumi-"


"Namanya Vian!" Potong Rumi memberitahu Olivia.


"Vian! Nanti jangan lupa ikut acara lempar bunga! Bye!" Pamit Olivia seraya berlalu bersama pria yang tadi menjemputnya.


"Mami cari Ruby dan Ethan dulu agar bisa segera dimulai acara lempar bunganya," ujar Mami Lily yang sejak tadi belum menemukan Ethan dan Ruby.


"Vivian, apa kau benar-benar tak melihat Ethan dan Ruby?" Tanya Mami Lily sekali lagi pada Vivian Vivian yang baru sadar kalau kedua mempelai pengantin itu sudah tak ada di lokasi acara.


"Vivian dari tadi duduk disini bersama Rumi, Bu! Bukankah tadi Ruby dan Ethan masih di meja yang disana dan sedang ngobrol bersama Sasha?" Vivian menunjuk ke satu meja yang ada di tengah ruangan yang tadi di tempati oleh Ruby dan Ethan. Namun sekarang meja itu sudah kosong.


"Kemana perginya mereka berdua," gumam Mami Lily yang terlihat kebingungan.


"Tidak tahu. Mereka berdua sepertinya kabur," jawab Mami Lily berpendapat.


"Sudahlah, Mi! Tidak usah dicari!" Celetuk Rumi tiba-tiba yang langsung membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"Mereka pasti sudah naik ke atas," lanjut Rumi lagi yang langsung membuat Aunty Ghea dan Mami Lily mengernyit bersamaan.


"Ke atas?"


"Masuk ke kamar," jawab Rumi santai.


Mami Lily dan Aunty Ghea langsung berdecak bersamaan dan dua wanita paruh baya tersebut bergegas meninggalkan meja Rumi.


"Maksudnya masuk kamar?" Tanya Vivian setelah kepergian Mami Lily dan Aunty Ghea.


"Membuat Ethan junior," bisik Rumi seraya mengerling nakal pada Vivian. Kedua mata Vivian langsung membulat lucu.


"Kenapa? Mau mencobanya juga?" Goda Rumi pada perawatnya tersebut.


"Mesum!" Gerutu Vivian yang malah membuat Rumi tertawa terbahak-bahak.


"Kau sebenarnya memang tidak polos, hah?" Ejek Rumi lagi yang langsung membuat kedua pipi Vivian bersemu merah.


Iyalah tidak polos! Kau yang membuat pikiran polosku tercemar tujuh tahun lalu!

__ADS_1


Vivian tak berhenti menggerutu dalam hati.


****


"Mbak!"


Vivian yang masih berada di dapur terlonjak kaget saat tiba-tiba Erick sudah muncul di dapur dan memanggil maid.


Kapan Erick pulang ke rumah besar ini? Bukankah setelah resepsi pernikahan Ruby malam itu Erick langsung pergi sampai Kak Alsya uring-uringan?


Vivi bergegas menyudahi acaranya yang sedang mempersiapkan makan siang untuk Rumi. Tadi Rumi memang menelepon dan mengatakan sedang di perjalanan pulang. Vivian hanya ingin segera keluar dari dapur sekarang.


"Kau tahu maid ada dimana?" Tanya Erick yang tatapannya hanya datar pada Vivian.


"Sedang tidak enak badan dan sedang istirahat," jawab Vivian cepat tanpa sedikitpun menatap Erick.


"Kau bisa menggorengkan nugget sebentar untuk Sunny? Dia merengek dan aku tak tahu caranya menggoreng nugget," Erick meminta tolong pada Vivian.


Vivian seharusnya menolak. Tapi mendengat Erick menyebut nama Sunny, Vivian jadi tak tega. Vivian selalu ingat Archie setiap melihat Sunny merengek.


"Baiklah, nanti ku antar ke kamar Sunny," jawab Vivian akhirnya yang sudah membuka kulkas untuk mengambil nugget mentah yangvselqlu tersedia di sana.


"Sunny tak ada di kamarnya. Dia sedang bersama Alsya di kamar satunya," ucap Erick merujuk ke kamarnya dan Alsya tentu saja.


"Oh. Baiklah nanti aku antar kalau sudah matang," jawab Vivian yang sudah mulai menyalakan kompor.


Erick tak menyahut lagi dan pria itu sudah keluar dari dapur.


Selang lima belas menit, Vivian sudah selesai menggoremg sepiring nugget untuk Sunny. Wanita itu segera mengantarnya ke kamar Erick.


Vivian mengetuk pintu dulu demi kesopanan. Lagipula lucu juga. Jika Alsya ada, kenapa Erick tak minta istrinya itu yang menggoreng nugget saja? Apa Alsya tak bisa memasak juga?


Vivian mengetuk sekali lagi, saat pintu akhirnya dibuka dari dalam. Tidak terlihat siap yang membuka pintu, dan Vivian tumben bodoh sekali karena wanita itu malah langsung masuk ke dalam karena hendak menemui Sunny.


Apa?


Sunny dan Alsya mana? Kenapa tempat tidurnya kosong.


"Sun-"


Brak! Ceklek!


Terdengar suara pintu kamar yang ditutup dan langsung dikunci, sebelum Vivian menyelesaikan panggilannya.


Brengsek! Vivian ternyata dijebak!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2