RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
MASIH INGAT CARANYA?


__ADS_3

"Archie tidur di kamar Cio malam ini bersama Kak Vita dan Abang Sandy," Ujar Vivian santai yang tentu saja langsung membuat Rumi kaget.


"Ck!" Rumi berdecak kesal dan segera mengunci pintu kamar Vivian. Pria itu membuka sendiri kancing kemejanya sebelum menyibak selimut dan naik ke atas tempat tidur menyusul Vivian yang masih memunggunginya.


"Rumi!" Pekik Vivian saat Rumi tanpa basa-basi langsung mendekapnya dan mer*mas gundukan kenyal milik Vivian.


"Kenapa masih memunggungiku? Kau benar-benar tidak sopan!" Gerutu Rumi seraya memaksa untuk membalik tubuh Vivian dan istrinya itu masih pura-pura memejamkan matanya.


"Perlu kucium agar kau membuka kedua matamu?" Tanya Rumi sok menebak.


"Kenapa tidak kau coba?" Vivian malah menantang Rumi sekarang.


Rumi ditantang?


Baiklah!


Rumi langsung melahap bibir Vivian, lalu melum*tnya dengan dalam dan mendesak. Vivian sampai gelagapan dengan ciuman gila Rumi.


"Buka matamu, Vian!" Titah Rumi di sela-sela pagutannya bersama Vivian.


"Tatap mataku lalu katakan-"


"Aku mencintaimu," ucap Vivian yang sudah membuka mata dan menatap penuh cinta ke dalam kedua netra Rumi.


"Aku mencintaimu, Rumi!" Ulang Vivian yang satu tangannya sudah menangkup wajah Rumi yang entah bagaimana tubuhnya sudah mengungkung tubuh Vivian.


"Katakan lagi," pinta Rumi seraya memejamkan mata dan menikmati sentuhan tangan Vivian di wajahnya. Hati Rumi terasa menghangat dan Rumi tak pernah sebahagia ini sebelumnya.


"Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu," Vivian menciumi wajah Rumi tanpa henti yang tentu saja malah membuat Rumi kegelian.


"Aku juga mencintaimu, Vivian!" Balas Rumi yang langsung membuat Vivian menyunggingkan senyuman lebar. Lesung pipi Vivian terlihat semakin dalam saja, dan Rumi segera mengecupnya karena gemas.


"Rumi," Vivian tersipu malu.


"Kenapa?" Rumi mengangkat sebelah alisnya, dan tangan pria itu sudah aktif membuka satu persatu kancing gaun Vivian. Rumi lanjut menarik lepas gaun warna broken white tersebut hingga menyisakan sepasang underwear saja yang membalut tubuh sintal Vivian.


Rumi bersiul nakal dan pria itu juga melepaskan kemejanya sendiri, lalu melemparkannya secara serampangan.


Kini semakin banyak kulit Vivian dan kulit Rumi yang bersentuhan, dan Vivian mendadak merasa grogi.


Meskipun mereka pernah melakukannya sekali, namun tetap saja rasa gugup di hati Vivian seperti seorang gadis yang baru akan melakukan malam pertama.

__ADS_1


"Ada apa? Kau gugup?" Tebak Rumi seraya membimbing tangan Vivian ke depan dadanya. Atau lebih tepatnya ke arah jantung Rumi yang ternyata juga berdegup kencang sama halnya seperti milik Vivian.


"Aku juga gugup," ujar Rumi yang langsung membuat Vivian tertawa kecil.


"Aku pikir kau sudah ahli," celetuk Vivian yang langsung membuat Rumi berdecak.


"Memangnya kau pikir aku playboy? Seumur hidup, aku baru melakukannya sekali padamu malam itu," cerocos Rumi blak-blakan.


"Masih ingat caranya? Atau jangan-jangan ingatanmu yang itu juga belum kembali," Vivian menggoda sang suami.


"Ayo kita cari tahu." Tangan Rumi sudah bergerak dan menyusup ke dalam underwear Vivian. Langsung bisa Rumi rasakan, milik Vivian yang lumayan montok untuk ukuran tubuh Vivian yang sebenarnya tak chubby.


Baiklah!


Setidaknya ini menggiurkan.


Rumi mengusap beberapa kali bagian luar dari milik Vivian, saat istrinya itu mulai menggigit bibir bawahnya.


"Kamarmu kedap suara?" Tanya Rumi memastikan.


"Aku rasa tidak-"


"Ooouuh!" Vivian melenguh bersamaan dengan jemari Rumi yang sudah membelai selaput bagian dalam dari milik Vivian. Wanita itu kembali menggigit bibir bawahnya.


"Geli,' jawab Vivian sedikit terengah.


Vivian berusaha membalas kecupan Rumi, sambil menahan gairahnya yang tiba-tiba terasa membuncah, hanya karena Rumi yang tak berhenti memainkan jari-jari nakalnya di dalam milik Vivian.


"Tanganmu jangan nganggur begitu!" Rumi membimbing tangan Vivian ke atas miliknya yang mulai menegang. Setelah meloloskannya dari dalam underwear yang menyesakkan, kini Rumi mulai merasakan apa yang dirasakan oleh Vivian. Genggaman tangan Vivian begitu mantap, dan wanita itu juga sepertinya tak polos lagi. Tanpa Rumi ajari, Vivian sudah ahli menggerakkan tangannya naik dan turun untuk mengurut milik Rumi yang semakin keras menegang.


"Mau begini sampai kapan?" Tanya Vivian setelah pagutan panjangnya bersama Rumi.


"Sampai aku puas bermain dengan bagian-bagian tubuhmu yang lain," bibir Rumi sudah turun ke leher Vivian, lalu ke tulang selangka istrinya tersebut, terus turun sampai ke dua bukit kembar Vivian yang masih tertutup bra.


Rumi membuka bra Vivian dengan tergesa dan sudah tak sabar untuk segera melahap....


"Seingatku dulu bentuknya masih mungil," gumam Rumi yang tanpa basa-basi langsung melahap bukit bagian kanan sambil tangannya mer*mas bukit bagian kiri.


"Kau yang membuatnya jadi seperti ini!" Jawab Vivian seraya mendongakkan kepala, menikmati hidapan tanpa henti Rumi di kedua gundukannya. Rumi sudah seperti bayi besar yang kehausan sekarang.


"Apa yang kulakukan memang? Dan kenapa ini sudah tak ada airnya?" Cecar Rumi yang masih tak berhenti menghisap-hisap ujung kecoklatan dari bukit kembar Vivian.

__ADS_1


"Airnya sudah dihabiskan Archie," jawab Vivian seraya terkekeh.


"Ck! Berondongmu itu benar-benar keterlaluan! Dad-nya tidak disisakan sedikitpun." Rumi menggigit put*ng Vivian karena gemas.


"Rumi!" Pekik Vivian yang refleks langsung menjambak rambut Rumi.


"Aku gemas, Sayang!" Jawab Rumi cengengesan.


Tangan Rumi juga sudah membuka menyingkirkan underwear Vivian yang jadi penghalang terakhir. Kini dua tubuh itu sudah sama-sama naked.


"Jangan lama-lama memandangiku seperti itu, Rumi!" Gumam Vivian seraya menutup wajahnya dengan telapak tangan karena malu.


"Aku suka kulitmu yang gelap dan eksotis, Vi! Kenapa Archie kulitnya tidak gelap sepertimu?" Tanya Rumi yang sudah mulai mengecup bibir Vivian lagi.


"Kulit Archie menurun darimu!" Jawab Vivian di sela-sela pagutannya bersama Rumi.


Tangan Rumi semakin aktif merem*s bukit kenyal Vivian hingga gadis itu melenguh berulang-ulang.


"Lepaskan saja, Sayang! Jangan menahannya."


"Aku suka mendengar des*han serta lenguhanmu," bisik Rumi yang langsung membuat Vivian mengalungkan kedua lengannya di leher Rumi. Nafas Vivian sedikit tersengal, menghadapi ciuman Rumi yang tanpa henti serta usapan lembut dari tangan Rumi di titik-titik tubuhnya yang sensitif.


Rumi melepaskan pagutannya bersama Vivian setelah pria itu mengusap milik Vivian bagian bawah yang sudah sediki basah.


Sepertinya Vivian memang sudah bergairah dan sudah sangat siap untuk Rumi masuki. Jadi Rumi juga tak membuang waktu, dan pria itu segera mengarahkan miliknya yang sudah tegak menantang, ke dalam milik Vivian.


Rumi mengurutnya sebentar, sebelum kemudian....


"Ouuuuh!" Rumi dan Vivian melenguh bersamaan saat akhirnya kedua milik mereka sudah saling memasuki dan menyatu. Kelebat bayangan saat mereka melakukan hal ini untuk pertama kali, tujuh tahun yang lalu kembali menari-nari di benak keduanya.


"Aku akan melakukannya dengan benar kali ini."


"Dan sedikit lama," bisik Rumi seraya menatap pada wajah Vivian yang kini matanya terpejam. Vivian mengangguk pasrah, dan Rumi sudah memulai pergerakannya.


.


.


.


Jam 4 pagi 😆😆😆

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2