
Vivian berbaring dengan posisi tengkurap, setelah pergelutan panjangnya bersama Rumi. Tubuh Vivian benar-benar lelah dan remuk redam sekarang. Sementara Rumi masih aktif menciumi punggung Vivian yang tak tertutup sehelai kainpun.
"Rumi, sudah!" Ucap Vivian seraya bergumam.
"Iya, ini sudah. Memang kau mau berapa ronde lagi?" Tanya Rumi yang masih bisa menggoda.
Dasar!
"Kau akan membuatku pingsan jika menambah satu ronde lagi," jawab Vivian kembali bergumam.
Rumi membalik tubuh Vivian yang sudah pasrah tak bertenaga.
"Sekarang jam berapa?" Tanya Vivian seraya menyusupkan kepalanya ke dalam dekapan Rumi.
"Jam tiga kurang sepuluh menit," jawab Rumi setelah melihat ke arah jam dinding bulat yang tergantung di kamar Vivian.
"Berarti kita sudah bercinta hampir lima jam. Ya ampun!" Vivian berdecak tak percaya.
"Aku masih on fire, dan bisa melakukannya sampai pagi. Aku hanya kasihan kepadamu, jadi tak melanjutkannya," ujar Rumi seraya tertawa kecil.
"Dasar mesum!" Gerutu Vivian seraya memukul dada Rumi tanpa tenaga.
"Aku belum memeriksa Archie," gumam Vivian lagi.
"Besok pagi saja! Sekarang tidurlah dulu!" Rumi mengeratkan dekapannya pada Vivian.
"Ya."
"Ngomong-ngomong, kau mau kita honeymoon kemana?" Tanya Rumi lagi yang malah mengajak Vivian membahas tentang honeymoon. Bagaimana Vivian akan tidur sekarang?
"Tidak usah kemana-mana. Aku tak mau meninggalkan Archie," jawab Vivian seraya memejamkan mata.
"Kata siapa kita akan meninggalkan Archie? Kita ajak Archie honeymoon," ujar Rumi yang langsung membuat Vivian membuka lebar kedua matanya.
__ADS_1
"Kau serius?" Vivian menatap ragu pada Rumi.
"Apa wajahku terlihat bercanda?" Rumi malah balik bertanya pada Vivian.
Vivian tak berkata apa-apa lagi dan segera memeluk Rumi dengan erat. Hati Rumi seketika menghangat merasakan pelukan dari Vivian.
"Jadi, kau mau kemana?" Tanya Rumi sekali lagi.
"Terserah kau saja. Aku tidak tahu tempat honeymoon yang bagus," jawab Vivian yang belum melepaskan pelukannya pada Rumi.
"Aku juga tidak tahu," Rumi malah terkekeh sekarang.
"Nanti aku akan bertanya dulu pada Ethan dan Ruby. Mereka tahu tempat-tempat bagus," usul Rumi selanjutnya yang hanya ditanggapi Vivian dengan anggukan kepala.
"Tapi sebaiknya kita ke makam mama dan papa dulu," ujar Vivian mengingatkan.
"Ya! Kita berangkat besok sore atau lusa, lalu lanjut honeymoon. Bagaimana?" Rumi meminta pendapat Vivian.
"Hei, aku jadi punya ide," Vivian tiba-tiba sudah mengangkat wajahnya dan menatap pada Rumi.
"Bagaimana kalau kita liburan dan honeymoon saja di kota tempat Papa dan Mama dimakamkan," usul Vivian yang langsung membuat Rumi mengernyit.
"Di sana ada apa memangnya? Pantai? Hotel? Tempat wisata?"
"Ada sebuah bukit yang tak jauh dari kota utama. Lalu ada perkebunan teh, strawberry, wisata alam juga. Tempatnya sejuk dan ramah anak." Terang Vivian yang langsung membuat Rumi tertarik.
"Ada beberapa villa juga yang bisa disewa, jika kau punya uang," imbuh Vian seraya berbisik pada Rumi dan mengecup pipi suaminya tersebut.
"Memang berapa harga villa-nya? Akan kubeli agar aku tak perlu menyewanya," jawab Rumi sombong.
"Ck! Tuan sombong!" Cibir Vivian.
"Nanti aku belikan untukmu, ya?" Rayu Rumi lagi.
__ADS_1
"Memang punya uang?" Tanya Vivian meragukan keuangan Rumi.
"Apa perlu aku tunjukkan isi rekeningku? Tujuh tahun aku mencari uang tanpa tujuan dan hanya menimbunnya. Sekarang saatnya aku menghamburkannya," jawab Rumi tetap sombong.
"Yaudah, biarkan tetap di tabungan dan villanya kita sewa saja. Masa depan Archie masih panjang dan pendidikannya akan butuh uang yang todak sedikit," nasehat Vivian bijak.
"Kau benar. Belum lagi nanti adik-adiknya Archie yang juga butuh banyak uang untuk pendidikan," timpal Rumi seraya mengusap perut Vivian yang tertutup oleh selimut.
"Apa, sih! Belum jadi juga!" Vivian serta merta menyingkirkan tangan Rumi.
"Nanti aku jadiin. Mau berapa? Empat atau lima?" Cecar Rumi yang harus kembali membuat Vivian berdecak.
"Satu saja adik untuk Archie,", jawab Vivian cepat.
"Kenapa tidak dua atau tiga?"
"Karena aku maunya punya dua anak saja!" Jawab Vivian tegas.
"Baiklah!" Rumi akhirnya menguap lebar.
"Kau sudah ngantuk, Pria mesum! Cepat tidur!" Titah Vivian yang kembali mencium bibir Rumi.
"Kau tidur juga dan jangan begadang!" Jawab Rumi seraya kembali mendekap Vivian.
"Besok pulang ke rumah Mami dan Papi, ya!" Pesan Vivian mengingatkan.
"Iya!"
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.