
"Mom! Lihat roti beruang Archie!" Archie menarik baju Vivian yang hanya mematung.
"Rumi?" Gumam Ruby yang masih tercengang dengan wajah Archie yang begitu mirip dengan Rumi.
Tidak!
Ini bukan hanya mirip.
Ini memang Rumi kecil kecuali lesung pipi di pipi kanannya yang mirip Vivian.
"Kita pulang sekarang," ucap Vivian tergagap seraya meraih tangan Archie dan hendak membawanya pergi.
"Tidak! Tunggu, Vian!" Ruby mencegah Vivian dengan cepat dan buru-buru meraih satu tangan Archie.
Ruby bersimpuh di hadapan Archie dan menangkup wajah bocah enam tahun tersebut.
"Hai, Aunty!" Sapa Archie seraya tersenyum ramah pada Ruby.
"Hai! Siapa nama kamu?" Jawab Ruby yang ganti bertanya pada Archie. Tangan Ruby masih menyusuri wajah Archie dan kedua mata Ruby menatap tak percaya pada bocah kecil di hadapannya tersebut.
"Archie," jawab Archie singkat.
"Dia putramu, Vian?" Tanya Ruby yang sudah ganti menatap pada Vivian. Wanita itu hanya membisu.
"Apa dia anaknya Rumi?" Ruby mengganti pertanyaannya dan Vivian langsung memaksa melepaskan tangan Ruby dari lengan Archie. Vivian mendekap sang putra dengan erat.
"Bukan!" Jawab Vivian seraya memalingkan wajahnya.
"Jangan berbohong!" Sergah Ruby tak percaya.
"Vivian, urusanku susah selesai," ucapan Kak Vita yang baru keluar dari dalam toko kue memecah ketegangan di antara Vivian dan Ruby.
"Dia temanmu, Vi?" Tanya Kak Vita seraya menunjuk pada Ruby yang masih menunggu pengakuan dari Vivian.
"Bukan! Ayo kita pulang, Kak!' Ajak Vivian seraya menarik tangan Kak Vita dan tetap merangkul Archie.
"Vian!" Ruby bergegas menyusul Vivian bersamaan dengan Ethan yang baru datang ke toko.
"Sayang!" Panggil Ethan yang langsung membuat Ruby menghentikan langkahnya.
"Kau mengejar siapa?" Tanya Ethan penuh selidik.
"Vivian! Dia naik taksi!" Ruby menunjuk ke arah taksi yang berhenti sejenak untuk menaikkan Vivian, Archie, dan Kak Vita. Taksi sudah melaju kembali ke arah jalan utama.
"Sial!" umpat Ruby yang langsung menyambar kunci mobil dari tangan Ethan. Wanita itu berlari menuju ke mobil Ethan yang terparkir di halaman toko. Ethan menyusul dengan cepat.
"Ruby, pelan-pelan!" Ujar Ethan saat Ruby mengemudikan mobil dengan kasar keluar dari halaman parkir.
"Mana tadi," Ruby masih mencari-cari taksi yang tadi dinaiki Vivian.
"Berapa nomor platnya?" tanya Ethan ikut mencari.
"Mana aku tahu?" Jawab Ruby galak. Ethan langsung berdecak.
"Ada stiker warna kuning di kaca belakang," Ruby menjelaskan ciri-ciri taksi yang dinaiki Vivian tadi pada Ethan saat kedua netra wanita itu menemukan taksi yang ia maksud.
"Itu!" Tunjuk Ethan pada taksi di depan mereka
"Iya, itu! Aku sedang mengikutinya," jawab Ruby seraya terus mengemudi mengikuti taksi di depannya.
"Kau yakin itu Vivian? Kau tidak salah orang?" Tanya Ethan memastikan.
"Tentu saja tidak! Kau pikir aku rabun?"jawab Ruby galak seraya menginjak rem, karena taksi di depannya berhenti mendadak. Ethan sampai kaget dan tersentak ke depan. Masih bagus Ethan memakai sabuk pengaman, jadi kepalanya tak perlu terbentur dashboard mobil. Rupanya sedang lampu merah di depan.
"Lalu Vivian sedang apa di kota ini?" Tanya Ethan lagi setelah suami Ruby itu membenarkan kacamatanya.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu. Tadi kata Vivian dia sedang mengunjungi sanak saudaranya," terang Ruby sebelum kembali melajukan mobil Ethan perlahan bersamaan dengan lampu lalu lintas yang sudah berubah hijau.
"Tadi Vivian bersama putranya-"
"Ya, dia seorang single mom," Ethan memotong kalimat Ruby.
"Bukan itu!" Sergah Ruby kembali galak.
"Wajah putra Vivian mirip dengan Rumi!" Lanjut Ruby yang langsung membuat Ethan ternganga.
"Kau yakin tak salah lihat, Sayang?" Tanya Ethan memastikan.
"Tentu saja tidak! Kau lihat sendiri saja nanti, dan kau akan langsung merasa sedang melihat Rumi dua puluh tahun yang lalu!" Jawab Ruby seraya membelokkan mobilnya ke sebuah gang yang di depannya terdapat gapura selamat datang.
Taksi yang tadi ditumpangi Vivian sudah berhenti di depan sebuah rumah bercat abu-abu. Vivian terlihat turun dari kursi belakang seraya menggendong Archie. Lalu seorang wanita yang tadi bersama Vivian menyusul turun dan membawa belanjaan mereka.
"Mana? Wajah anak Vivian tak kelihatan," tanya Ethan celingukan.
"Ck! Tentu saja tak terlihat!
Vivian menyembunyikannya di dalam pelukan!" Gerutu Ruby seraya melepaskan sabuk pengamannya.
"Ruby, kau mau kemana?" Ethan mencegah sang istri yang hendak turun.
"Mau mengungkap kebenaran! Vivian harus menjelaskan siapa sebenarnya ayah kandung putranya!"
"Aku yakin kalau ayah kandung putra Vivian adalah Rumi!" Ruby berucap tegas pada Ethan.
"Tapi bagaimana kalau bukan? Mungkin hanya kebetulan mirip?" Ethan mencari kemungkinan lain.
"Mustahil!" Sergah Ruby yang sudah membuka pintu mobil dan turun dengan cepat.
Ruby langsung menuju ke rumah bercat abu-abu, dimana Vivian masuk tadi dan menekan bel di samping pintu.
"Ruby!" Ethan sudah ikut menyusul sang istri.
Tak butuh waktu lama dan pintu di hadapan Ruby sudah dibuka dari dalam. Vivian yang kini berdiri di belakang pintu sontak terkejut mendapati Ruby dan Ethan yang sudah berdiri di teras rumahnya.
"Aku mau penjelasan!" Ucap Ruby tegas yang langsung membuat Vivian menelan salivanya.
Serapat apapun kau menyimpannya, rahasiamu tetap saja terbongkar, Vivian!
****
"Sampai kapan?" Tanya Rumi seraya menatap wajah Vivian yang berada di atas wajahnya, serta jemari gadis itu yang sejak tadi masih sibuk mengusap kepala Rumi.
Saat ini Vivian dan Rumi sedang berada di sebuah taman, dan posisi Rumi adalah berbaring di pangkuan Vivian.
"Apanya?" Tanya Vivian pura-pura polos.
"Hubungan backstreet ini,"
Vivian tertawa kecil.
"Sampai kita lulus. Memang kenapa? Kamu nggak suka?" Cecar Vivian yang sudah ganti menatap wajah tampan Rumi.
"Bukan begitu!" Rumi sudah bangun, dan kini pemuda itu ganti merangkul Vivian dengan mesra.
"Aku kan juga ingin pamer ke semua orang, dan menunjukkan kalau Rumi sudah punya pacar." Terang Rumi yang kembali membuat Vivian tertawa kecil.
"Jadi selama ini memang belum ngasih tahu siapapun tentang hubungan kita ini?" Tanya Vivian pada Rumi.
"Kan kamu sendiri yang minta backstreet. Jadi aku juga diem-diem aja," jawab Rumi seraya mengacak gemas puncak kepala Vivian.
"Mau aku umumin? Aku kenalin ke teman-teman aku?" Tawar Rumi sedikit menggoda Vivian.
__ADS_1
"Nanti saja sekalian pas acara perpisahan," jawab Vivian seraya tersipu malu.
"Berarti kamu udah setuju datang nanti?" Tanya Rumi dengan raut wajah sumringah.
"Iya!" Jawab Vivian lirih yang langsung membuatmu Rumi bersorak senang.
"Yess! Akhirnya seorang Rumi bisa memberitahu semua orang kalau ia punya pacar!"
"Rumi punya pacar!" Rumi bersorak lebay dan Vivian hanya menahan malu dengan tingkah konyol Rumi tersebut.
"Rumi punya pacar!"
"Rumi punya pacar!"
"Rumi punya-"
"Rumi!" Guncangan dari Ruby membuat semua mimpi Rumi mendadak menjadi buyar.
Rumi punya pacar?
Apa mimpi tadi benar adanya.
Lalu kenapa pacar Rumi adalah Vivian?
"Rumi," panggil Ruby lagi pada Rumi yang sedang mengerjap-ngerjapkan matanya.
Rumi segera berdecak dan menatap tak senang ke arah saudara kembarnya tersebut.
"Kau mengganggu mimpi indahku!" Sentak Rumi seraya mlotot galak pada Ruby.
"Aku cuma mau memberitahu kalau aku baru saja bertemu Vivian." Ucap Ruby santai seraya beranjak dari duduknya.
Kedua bola mata Rumi langsung membelalak dan pria itu sudah bangun dan duduk di atas tempat tidur.
"Kau bertemu Vivian dimana?" Tanya Rumi tak sabar.
"Di rumahnya. Rumah minimalis bercat abu-abu yang letaknya beberapa meter dari mulut gang, dimana ada gapura selamat datang di depan gang." Vivian sedikit memancing Rumi.
Rumi terdiam untuk beberapa saat, sebelum kemudian kelebat sebuah percakapan bercokol di kepalanya.
"Rumahmu yang mana?"
"Itu! Yang catnya abu-abu!" Vivian menunjuk ke rumah warna abu-abu berjarak sekitar dua ratus meter dari mulut gang.
Rumah abu-abu.
Di dalam sebuah gang.
Apa itu artinya?
"Kita pacaran mulai hari ini, jam ini, menit ini, dan detik ini, ya! Kamu setuju, kan?"
"Terserah! Dasar pemaksa!"
Vivian adalah pacar Rumi sebelum Rumi hilang ingatan!
.
.
.
Mending telat up daripada tidak sama sekali. 🤧🤣
Berhubung aku udah ngantuk dan disini sudah jam 10 malam, babnya langsung ku up tanpa edit.
__ADS_1
Typo harap dimaklumi dulu. Besok pagi aku benerin 🙏🙏
Jangan lupa like biar besok nggak telat up lagi 😁😁