
"Pagi!" Sapa Vivian seraya tersenyum pada Rumi yang baru membuka mata. Rumi melirik jam di atas nakas yang baru menunjukkan pukul enam pagi dan Vivian sudah terlihat rapi serta wangi.
"Air minum!" Ucap Rumi seraya menunjuk ke gelas kosong di atas nakas. Segera Vivian mengambil gelas baru lalu mengisinya dengan air hingga penuh dan menyodorkannya pada Rumi.
Rumi meneguk air di gelasnya hingga tandas sebelum mulai bicara pada Vivian,
"Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk membuang seragam itu kemarin? Lalu kenapa kau masih memakainya? Kau mau membuatku darah tinggi dan cepat keriput karena harus terus mengomelimu?" Omel Rumi panjang lebar yang hanya ditanggapi Vivian dengan senyuman tanpa dosa. Vivian seolah tak takut pada omelan dari Rumi.
Ya, sejak awal wanita itu datang sepertinya dia memang tak takut pada Rumi dan hobinya adalah gemar sekali membuat Rumi kesal.
"Mau mandi dulu atau sarapan dulu?" Bukannya menanggapi omelan Rumi soal baju, Vivian malah bertanya tentang mandi dan sarapan. Pertanyaan yang selalu Vivian tanyakan saat pagi Rumi baru membuka mata.
"Mandi!" Jawab Rumi tegas.
"Baiklah! Tidak ada acara berendam, kan? Kulitmu akan keriput jika kau terlalu banyak berendam," ujar Vivian seraya masuk ke dalam kamar mandi.
"Vian!" Panggil Rumi galak.
"Ya!" Vivian melongokkan kepalanya keluar dari pintu kamar mandi mirip seperti hantu kepala.
"Kau belum memindahkan aku!" Ujar Rumi mengingatkan sang perawat yang tumben sedikit amnesia.
"Ya ampun!" Vivian menepuk kepalanya sendiri dan bergegas menghampiri Rumi, lalu memindahkan pria itu ke atas kursi roda dengan cekatan.
"Kau sudah sarapan?" Tanya Rumi pada Vivian.
"Sudah tadi," jawab Vivian cepat sebelum wanita itu menghilang ke dalam kamar mandi. Sementara Rumi memilih untuk menjalankan kursi rodanya ke teras kamar. Rumi akan berolahraga sebentar sebelum mandi.
"Rumi!" Panggil Vivian yang sudah selesai menyiapkan air untuk Rumi mandi. Vivian menyusul Rumi ke teras kamar dan wanita itu sedikit terkejut saat melihat apa yang sedang dilakukan oleh Rumi.
"Kau sedang apa?" Tanya Vivian penuh selidik.
"Olahraga! Apa kau buta?" Jawab Rumi ketus.
"Coba pinjam!" Vivian mengambil secara lancang barbel yang sedang dipegang Rumi.
"Sedikit berat. Kau yakin ini aman?" Tanya Vivian khawatir.
"Kalau memang tidak aman, tak mungkin aku masih mengangkatnya hingga detik ini!" Rumi kembali merebut barbelnya dari tangan Vivian.
__ADS_1
"Aku kan hanya tanya." Tukas Vivian seraya melihat-lihat teras kamar Rumi.
"Ngomong-ngomong, kalau kau sudah kuat angkat barbel, kenapa tidak lanjut belajar berjalan?" Tanya Vivian kepo.
"Kau akan langsung kehilangan pekerjaanmu jika aku bisa berjalan," jawab Rumi seraya menatap remeh pada Vivian.
"Iya juga, ya." Vivian kembali meringis.
"Tapi bukankah biasanya terapi butuh waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan? Tak mungkin kan kau langsung bisa berjalan hanya dengan ikut terapi satu kali," sambung Vivian sedikit bergumam.
"Jadi aku tak mungkin langsung kehilangan pekerjaanku," lanjut Vivian lagi.
"Dasar sok tahu!" Sahut Rumi seraya membanting barbelnya.
"Dan sok mata duitan!" Sambung Rumi lagi.
"Aku bukan mata duitan!" Sergah Vivian yang merasa tak terima dituduh mata duitan oleh Rumi.
"Lalu kenapa minta gaji tinggi kalau memang kau tidak mata duitan?" Tanya Rumi seraya mendongakkan wajahnya ke arah Vivian.
"Aku butuh uang untuk operasi keponakanku!" Jawab Vivian jujur.
"Hanya tantenya!" Potong Vivian menyela kalimat Rumi.
"Jadi kenapa?" Tanya Rumi kepo.
"Aku hanya ingin membantu itu saja. Karena itu adalah anak yang sudah dinantikan oleh Abang dan kakak iparku selama hampir dua belas tahun."
"Selain itu, Bang dan kakak iparku juga sudah banyak membantuku sebelumnya. Jadi tak ada salahnya aku membalas budi, kan?" Jelas Vivian panjang lebar.
"Ya. Aku juga tak menyalahkanmu. Jadi tidak usah emosi begitu!" Sahut Rumi seraya menjalankan kursi rodanya ke arah kamar mandi.
"Airku sudah siap?" Tanya Rumi berseru pada Vivian yang masih menatung di teras kamar.
"Sudah!" Jawab Vivian ikut-ikutan berseru.
"Lalu kau sedang apa disitu? Mandikan aku cepat! Jangan hanya makan gaji buta!" Perintah Rumi galak dan ketus. Vivian hanya memutar bola matanya dan segera menyusul Rumi masuk ke dalam kamar mandi.
****
__ADS_1
"Siang!" Sapa Vivian pada Mom Ghea, Sasha, dan Ruby yang ada di dalam kamar perawatan Ethan. Rumi tidak pergi ke toko hari ini dan malah mengajak Vivian ke rumah sakit untuk menjenguk Ethan lagi.
Sejak Dokter Ethan menjadi korban penganiayaan hingga akhirnya dinyatakan koma, Rumi memang rutin menjenguk dokter muda tersebut. Vivian sendiri tidak terlalu paham hubungan sebenarnya antara Rumi dan Dokter Ethan selain sebagai ipar dan tetangga. Rumah mereka berhadapan.
"Siang, Vivi! Kau menemani pria menyebalkan ini lagi kemari?" Ruby menjawab sapaan Vivian dan sedikitpun berkelakar.
"Panggilannya Vian! Bukan Vivi!" Tegas Rumi mengingatkan sang saudara kembar.
"Vivi lebih bagus, Mi! Kenapa Vian? Jadi seperti laki-laki," Aunty Ghea ikut berpendapat.
"Karena Rumi mintanya Vian, Mom! Jadi kita harus menurutinya dan tak boleh membantah," jawab Ruby sebelum wanita itu menguap lebar.
"Kau selalu mengantuk setiap aku datang. Apa wajahku mengandung obat tidur?" Tanya Rumi ketus.
"Wajahmu menjemukan. Jadi aku mudah mengantuk saat melihatnya," jawab Ruby seraya bangkit dari duduknya, lalu menghampiri bed perawatan Ethan. Ruby terlihat menciumi wajah Ethan beberapa kali sebelum kemudian wanita itu mencium kening Ethan cukup lama. Semuanya hanya diam melihat adegan yang dilakukan oleh Ruby.
"Kak Ruby tidur saja dulu! Sasha dan Mom akan ke kafetaria mencari mqkan siang," saran Sasha yang sejak tadi hanya diam.
"Sasha benar, By! Tidurlah dulu sebentar. Kau terlihat lelah," Aunty Ghea ikut-ikutan menyuruh Ruby.
"Iya, Mom!" Jawab Ruby patuh. Wanita itu sudah menuju ke sofa dan segera membaringkan tubuhnya yang lelah.
"Kami ke kafetaria dulu sebentar," pamit Aunty Ghea selanjutnya pada Rumi dan Vivian.
"Aku boleh ikut ke kafetaria? Aku tadi belum makan siang," izin Vivian pada Rumi yang hanya berdecak.
"Pergilah!" Jawab Rumi akhirnya.
"Terima kasih!" Ucap Vivian yang segera menyusul langkah Aunty Ghea dan Sasha yang sudah hampir mencapai lift.
.
.
.
Nyambung ke "Penantian Ruby" Bab 39.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.