
Vivian tiba di kediaman Attala pukul tiga sore. Wanita itu baru saja akan turun dari mobil, saat ia tak sengaja melihat Kak Alsya yang merupakan kakak dari Rumi dan Ruby sedang bertengkar dengan seorang pria di teras. Vivian tak langsung turun dari mobil dan memilih menunggu beberapa saat, sebelum kemudian pria itu pergi meninggalkan Kak Alsya yang menangis di teras.
Siapa memangnya pria itu? Suami Kak Alsya?
Vivian juga baru melihatnya sekali ini. Karena setahu Vivian Kak Alsya kemana-mana hanya bersama Sunny dan suaminya tak pernah terlihat di rumah ini. Aneh!
Setelah pria yang tadi bertengkar dengan Kak Alsya pergi, Vivian baru turun dari mobil. Kak Alsya terlihat kaget saat melihat Vivian dan wanita itu tak bicara sepatah katapun,lalu langsung masuk ke dalam rumah meninggalkan Vivian yang sebenarnya juga tak mau kepo apalagi ikut campur dengan urusan orang lain.
Vivian mengendikkan bahu, dan baru saja akan masuk ke dalam rumah, saat ponselnya berdering nyaring.
"Halo!" Sambut Vivian mengangkat telepon dari nomor prioritas di ponselnya. Siapa lagi kalau bukan Rumi?
"Sudah sampai rumah? Atau kau kelayapan dulu?"
"Aku baru tiba di rumah dan baru mau masuk ke pintu depan, lalu kau menelepon-" Vivian belum menyelesaikan kalimatnya saat Rumi sudah memotong dengan cepat.
"Tidak usah menceritakannya secara detail begitu. Aku hanya tanya apa kau sudah sampai di rumah atau belum?"
"Iya sudah!" Jawab Vivian singkat, padat dan jelas. Tak ada pertanyaan atau ucapan dari Rumi lagi dan telepon tiba-tiba langsung terputus.
Baiklah, terserah saja!
Vivian lanjut masuk ke dalam rumah yang kondisinya sepi. Sepertinya Bu Lily dan Pak Juna sedang oergi, lalu Kak Alsya yang sedang menangis tadi mungkin sedang mengurung diri di kamar-
"Vivian!" Panggil Kak Alsya dari lantai atas. Kakak suling Rumi itu memang kamarnyq berada di atas sama seperti halnyq Ruby.
"Iya, Kak!"
"Naiklah sebentar!" Titah Kak Alsya yang langsung membuat Vivian buru-buru naik ke lantai dua. Vivian langsung menuju ke kamar Kak Alsya yang letaknya berseberangan dengan kamar Ruby. Meskipun baru sepekan berada di rumah ini, Vivian sudah hafak di luar kepala semua ruangan yang di di rumah besar ini,karena Rumi yang menyuruhnya untuk menghafal semuanya.
"Ada apa, Kak?" Tanya Vivian yang hanya bearda di ambang pintu kamar Kak Alsya. Wajah ibu satu anak itu terlihat sembab dan ada Sunny yang sepertinya sedang bangun tidur dan kini bocah lima tahun tersebut sedang mewarnai.
"Kau mendengar apa tadi?" Tanya Kak Alsya menatap penuh selidik pada Vivian.
"Mendengar apa?" Vivian balik bertanya bingung.
"Pertengkaranku dengan Erick tadi," suara Kak Alsya sedikit berbisik kali ini.
"Tidak ada, Kak!" Jawab Vivian bersungguh-sungguh.
"Saya tidak mendengar apa-apa," lanjut Vivian yang raut wajahnya masih terlihat bersungguh-sungguh. Tapi Vivian memang tak mendengar apapun dan Vivian tak sedikitpun berniat menguping pertengkaran yang bukan menjadi urusannya.
__ADS_1
Kak Alsya terlihat menghela nafas, sebelum lanjut berbicara,
"Jangan bercerita pada siap-siapa soal Erick yang pulang dan soal pertengkaran kami tadi," pesan Kak Alsya pada Vivian yang langsung mengangguk-angguk.
"Iya, Kak!"
"Rumi mana?" Kak Alsya ganti menanyakan keberadaan Rumi.
"Masih di rumah sakit menemani Ruby menjaga Ethan. Jadi saya disuruh pulang duluan," terang Vivian pada kakak sulung Ruby dan Rumi tersebut.
"Kau tidak ada pekerjaan berarti. Bisa kau menjaga Sunny sebentar? Kepalaku sedikit sakit dan aku mau tidur sebentar," pinta Kak Alsya pada Vivian.
"Baik, Kak! Vian akan menjaga Sunny," jawab Vivian cepat.
Vivian segera menghampiri Sunny, bicara sebentar pada gadis lima tahun tersebut, lalu membantu membereskan peralatan mewarnainya dan mereka berdua punkrluar dari kamar setelah berpamitan pada Kak Alsya. Vivian mengajak Sunny untuk mewarnai su lantai bawah saja sekalian menunggu Rumi pulang.
"Omi!" Seru Sunny saat melihat Mami Lily yang baru datang. Bocah lima tahun tersebut langsung melompat je gendongan Mami Lily.
"Hai, Sayang! Mama mana?" Tanya Mami Lily setelah menyapa sang cucu.
"Kak Alsya sedang tidak enak badan, Bu! Jadi dia istirahat sebentar dan menitipkan Sunny pada saya," bukan Sunny, mekainkan Vivian yang memberikan penjelasan kepada Mami Lily.
"Rumi kemana memang? Belum pulang dari toko?" Tanya Mami Lily lagi. Biasanya Rumi akan marah jika perawatnya malah menjadi baby sitter untuk Sunny atau penghuni rumah lain. Pria itu memang jadi pemarah sejak hilang ingatan.
"Begitu." Mami Lily mengangguk saja.
"Kau sudah bicara padanya dan mencoba membujuknya, Vi?" Tanya Mami Lily selanjutnya yang membuat hati Vivian sedikit bergejolak.
"Be-belum, Bu," jawab Vivian menahan sesuatu yang terasa menghimpit dadanya.
"Kau dan Rumi sepertinya cepat sekali akrab."
"Bisakah kau membujuknya agar Rumi mau menikah?"
"Maksud kami, Rumi pernah mengatakan kalau seumur hidup dia tak akan menikah karena mungkin dia merasa tak percaya diri denagn kondisinya saat ini. Padahal itu bukan suatu penghalang."
"Kami masih berharap agar Rumi mengubah keputusannya dan dia mau membuka hati untuk seorang gadis."
"Tolong kau bujuk Rumi, ya, Vivian!"
"Tapi Vivian akan secepatnya membujuk dan bicara pada Rumi, Bu," lanjut Vivian setelah wanita itu menelan ganjalan pahit di tenggorokannya. Rasa sesak masih menghimpit dada Vivian.
__ADS_1
Vivian juga tak tahu ia kenapa.
Bukankah semuanya tentang dirinya dan Rumi sudah lama berakhir?
"Aku akan pindah ke luar kota setelah lulus, karena Papa pindah tempat dinas." Ucap Vivian suatu hari pada Rumi setelah ujian kelulusan selesai. Hanya tinggal menunggu pengumuman dan acara perpisahan sekolah.
"Apa kau tidak bisa tinggal di kota ini saja, Vi?" Tanya Rumi seraya menggenggam erat tangan Vivian.
"Aku tidak punya keluarga lain di kota ini, Rumi! Aku harus ikut papa dan mama kemanapun mereka pergi kecuali aku sudah menikah-" Vivian tak jadi melanjutkan kalimatnya saat gadis itu menatap ke dalam netra Rumi yang tatapannya tak biasa.
"Kita menikah saja kalau begitu," Celetuk Rumi tiba-tiba yang tentu saja langsung membuat Vivian kaget.
"Papa tak akan setuju. Aku bahkan belum lulus SMA," jawab Vivian tak yakin.
"Nanti aku yang akan bicara pada papamu," Rumi mendekatkan wajahnya ke arah Vivian yang hanya mematung.
"Aku akan memintamu secara baik-baik," lanjut Rumi lagi yang wajahnya semakin dekat ke wajah Vivian. Tangan Rumi juga sudah memegang lembut dagu gadis di depannya tersebut, membuat Vivian susah payah menelan ludahnya yang tiba-tiba mengering.
"Kau tidak keberatan, kan?" Rumi seolah sedang meminta izin pada Vivian.
"Keberatan apa?" Suara Vivian terdengar parau. Gadis itu sedang grogi sekarang.
"Ini."
Vivian memejamkan matanya saat ia merasakan lembutnya bibir Rumi yang sudah mendarat dibatas bibirnya.
"Vivian!" Teguran Mami Lily membuyarkan lamunan Vivian tentang masa lalunya bersama Rumi.
Ah, tapi itu hanya masalalu dan semuanya sudah lama berakhir. Kini Vivian dan Rumi hanyalah dua orang asing yang kebetulan bertemu sebagai majikan dan perawat.
"Iya, Bu!" Jawab Vivian tergagap.
"Tolong kau bujuk Rumi, ya!" Pinta Mami Lily yang sepertinya menaruh harapan besar pada Vivian
"Iya, Bu! Vivian akan membujuk dan bicara pada Rumi nanti."
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.