
"Duduk di sebelahku dan jangan kelayapan kemana-mana!" Perintah Rumi pada Vivian yang sedang membenarkan letak kursi roda Rumi.
"Di samping sini? Atau di samping sana?" Tanya Vivian lebih detail agar ia tak salah tempat lagi dan membuat Rumi mencak-mencak.
"Di samping sana! Di sebelah mami!" Jawab Rumi seraya mengendikkan dagunya ke arah kursi kosong diantara dirinya dan Mami Lily. Vivian mengangguk dan segera duduk di kursi yang ditunjuk oleh Rumi. Wanita itu sedikit berbasa-basi pada Mami Lily yang malam ini penampilannya begitu anggun mengenakan gaun putih semata kaki. Ada juga Kak Alsya dan Sunny yang turut hadir malam ini dan duduk di meja yang sama dengan Vivian dan Rumi. Lalu ada Papi Juna yang merupakan kepala keluarga Attala yang duduk di sebelah Mami Lily.
Rumi mencondongkan tubuhnya ke arah Vivian sebelum kemudian pria itu berbisik,
"Jangan caper, tidak usah sok tebar pesona, dan jangan sok-sokan menggoda tamu undangan yang lain. Tetap duduk di tempatmu sampai acara selesai, kecuali aku menyuruhmu beranjak untuk mengambilkan keperluanku!" Ucap Rumi pankang lebar memberikan pesan posesif pada Vivian.
Vivian benar-benar ingin tertawa sekarang dengan sikap posesif konyol Rumi ini dan mendadak Vivian jadi ingat pada Rumi delapan belas tahun yang dulu cenderung cuek pada Vivian dan tidak se-posesif sekarang.
"Aku juga bukan tipe bucin dan posesif, kok! Atau kamu mau aku posesifin?" Kata-kata manis Rumi tujuh tahun yang lalu kembali berkelebat di benak Vivian dan secara otomatis membuat bibir Vivian menyunggingkan senyuman tipis.
"Kau mendengar pesanku barusan, Vian? Kenapa malah tersenyum sendiri seperti orang sinting begitu?" Tegur Rumi yang langsung membuat Vivian tersadar dari lamunannya.
"Eh, iya! Aku dengar," jawab Vivian cepat.
"Dengar apa?" Tanya Rumi seraya mendongak pongah.
"Pesan-pesanmu agar aku tak caper, sok tebar pesona dan menggoda tamu undangan lain. Aku dengar semuanya," jawab Vivian lengkap.
"Ck! Berhentilah melamun seperti orang bodoh begitu!" Decak Rumi seraya bersedekap bersamaan dengan Ruby dan Keluarga Sanjaya yang juga sudah datang ke lokasi acara.
Papi Juna langsung berdecak dan memposisikan tangannya seperti Rumi saat melihat kedatangan Keluarga Sanjaya. Raut wajah papi kandung Rumi tersebut terlihat tidak senang.
"Rumi yang mengundang mereka, Pi! Jadi tidak perlu memasang wajah masam begitu!"
"Bukankah mereka juga adalah besan Papi?" Celetuk Rumi dengan raut wajah tanpa dosa.
Sementara Mami Lily yang duduk di sebelah Papi Juna, buru-buru mengusap lengan Papi Juna demi meredam emosi suaminya tersebut. Namun raut wajah Papi Juna masih tetap belum berubah.
"Mama! Sunny boleh duduk bareng Tante Ruby?" Celetukan Sunny memecah kebisuan di meja keluarga Attala
"Sunny disini saja, ya! Tante Ruby sedang repot," jawab Kak Alsya mencoba memberikan pengertian pada sang putri.
Sunny langsung merengut karena permintaannya yang tak dituruti. Namun sesaat kemudian, raut wajah gadis kecil itu langsung berubah antusias bersamaan dengan kedatangan seorang pria yang mengenakan kemeja warna putih sesuai dresscode malam ini. Pria itu langsung ikut bergabung di meja keluarga Attala dan mengambil posisi duduk di dekat Alsya yang sejak tadi menang masih kosong. Vivian pikir kursi itu untuk Ruby.
"Maaf, Erick telat, Pi!" Sapa pria asing yadi pada Papi Juna yang raut wajahnya belum berubah.
"Papi kira kau lupa dengan acara malam ini, Erick!" Jawab Papi Juna sedikit menyindir.
"Papi!" Mami Lily kembali harus mengusap lengan Papi Juna dan meredam emosi suaminya tersebut.
"Erick tak mungkin lupa, Pi! Sebagai menantu Papi, Erick akan selalu mendukung semua hasil kerja keras Papi untuk keluarga Attala," jawab Erick yang sepertinya sedang perang dingin dengan Papi Juna. Atau entah ada masalah apa diantara mereka Vivian juga tak paham.
"Ngomong-ngomong, itu siapa? Pacar barumu, Rumi?" Tanya Erick seraya mengendikkan dagunya ke arah Vivian yang duduk di dekat Rumi.
"Asisten merangkap perawat," jawab Rumi sedikit ketus.
"Hai, aku Erick, papanya Sunny," Erick mengulurkan tangannya pada Vivian untuk berkenalan. Tatapan mata Erick pada Vivian terlihat tak biasa dan tentu saja hal itu sedikit membuat Vivian menjadi risih.
"Vian!"jawab Vivian yang hanya menjabat tangan Erick sekilas sebelum kembali melepaskannya dan menundukkan wajah. Bisa Vivian dengar kalau Rumi sepertinya juga menangkap gelagat aneh Erick pada Vivian hingga Rumi berdecak beberapa kali.
"Masih muda yang ini, ya? Tak seperti sebelum-sebelumnya," pendapat Erick yang masih menatap penuh ketertarikan pada Vivian.
"Bukan masalah usianya muda atau tua. Tapi yang terpenting adalah pengalamannya!" Jawab Rumi tegas dan Erick segera mengangguk.
__ADS_1
"Papa, gaun Alsya bagus, ya!" Celetukan Alsya akhirnya berhasil mengalihkan pandangan mata tak sopan Erick pada Vivian. Pria itu sudah sibuk dengan celotehan putrinya serta obrolan bersama Kak Alsya yang entah sedang membahas apa.
Acara masih terus berlangsung sesuai agenda dan urutan saat tiba-tiba Vivian bergerak sedikit terkejut di sebelah Rumi karena ada kaki asing yang tiba-tiba menyibak gaun Vivian yang memang hanya sebatas lutut malam ini.
Sial!
Kaki siapa ini?
Mustahil ini adalah kakinya Rumi, kan?
"Ada apa?" Tanya Rumi yang sepertinya merasa peka.
"Tidak ada!" Jawab Vivian cepat yang langsung mengubah posisi kakinya menjadi miring ke arah Rumi.
"Gaun ini sedikit tak nyaman," ujar Vivian lagi sedikit mengeluh pada Rumi demi menutupi jantungnya tang berdegup kencang karena kaki asing sialan tadi.
Mungkinkah itu kaki Erick?
"Bagian mana yang tak nyaman? Apa aku perlu menelanjangimu sekarang?" Tanya Rumi seraya berbisik pada Vivian. Terang saja, hal itu langsung membuat wajah Vivian menjadi merah padam.
Dasar Rumi mesum!
"Belajarlah memakai baju seperti ini mulai detik ini agar penampilanmu terlihat sedikit feminim dan tak lagi menjemukan!" Sambung Rumi lagi yang hanya membuat Vivian memutar bola matanya.
Rumi baru saja akan mengomel lagi, saat tiba-tiba Pak Brata sudah menghampiri meja keluarga Attala dan berucap sinis pada Papi Juna.
"Pengkhianatanmu luar biasa, Juna! Kau bahkan sudah terang-terangan mengundang keluarga besanmu datang ke acara malam ini!" Sindir Pak Brata.
"Tapi aku pastikan kalau ini terakhir kali kita bekerja sama. Karena setelah malam ini, aku tak akan menjalin hubungan apa-apa lagi dengan keluargamu!" Lanjut Pak Brata yang seolah sedang mengancam Papi Juna.
"Rumi!" Tegur Papi Juna yang sudah ikut-ikutan mendelik pada Rumi.
"Jangan menuduh sembarangan! Anak-anakmu semuanya benar-benar tak punya sopan santun, Juna!"
"Setelah kemarin Ruby menolak lamaran Arkan dengan sangat tidak sopan, sekarang putramu yang lumpuh ini sudah menuduh sembarangan pada keluargaku!" Pak Brata menatap geram pada Papi Juna.
"Saya tidak menuduh sembarangan, Pak Brata!" Sergah Rumi dengan nada suara yang meninggi.
"Rumi! Jaga sopan santunmu!" Papi Juna menuding ke arah sang putra.
"Tidak!" Jawab Rumi tegas. Sudah saatnya kini Rumi mengungkap semua kebenaran dan mengakhiri salah paham diantara Papi Juna dan Ethan.
"Rumi sedang bicara kebenaran, Pi! Tanyakan pada Ethan, siapa orang brengsek yang sudah memukulinya di basement hingga Ethan nyaris meregang nyawa! Arkan yang melakukannya!" Lanjut Rumi tetap dengan nada tegas.
"Jangan menuduh sembarangan!" Sergah Arkan yang sejak tadi berdiri di dekat sang Papa.
Cih! Pria brengsek itu kenapa sok-sokan buka suara? Apa dia sedang ketakutan dan ingin bersembunyi di bawah ketiak Papanya sekarang?
"Arkan benar, Rumi! Jangan menuduh sembarangan!" Papi Juna ikutan-ikutan memperingatkan Rumi sekali lagi.
Ya, ya, ya!
Sejak dulu Papi Juna sepertinya memang sudah terpedaya oleh bujuk rayu Arkan sialan hingga papi kandung Rumi itu malah selalu membela Arkan ketimbang Rumi yang jelas-jelas adalah anak kandungnya.
Bela terus saja, Pi!
Saat Papi Juna tahu kebenarannya, Rumi sangat yakin kalau pria paruh baya itu yang akan menjadi orang pertama yang menghadiahi Arkan bogem mentah di wajahnya.
__ADS_1
"Rumi tak akan menuduh tanpa sebab, Papi!" Jawab Rumi seraya tersenyum mengejek ke arah Arkan. Rumi mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan bisa Rumi lihat kalau wajah Arkan kini sudah berubah tegang. Mungkin sebentar lagi pria brengsek itu akan menangis darah!
"Apa kita perlu memakai pengeras suara?" Kelakar Rumi yang sudah mulai membuka rekaman bukti yang dikirimkan oleh Marcell.
"Apapun yang akan kau perdengarkan itu, aku yakin semuanya hanyalah kebohongan untuk menjebakku!" Sergah Arkan cepat yang wajahnya sudah berubah ketakutan.
"Baiklah, mari kita dengarkan pengakuanmu!" Rumi mulai memutar rekaman telepon Ethan pada Marcell saat Ethan mendapat serangan dadakan dari Arkan di basement rumah sakit.
Rumi memasang volume maksimal agar semua bisa ikut mendengarkan.
"Kau yang sudah memukuli Rumi!"
"Tepat sekali! Tapi semua orang tahunya kau yang sudah membuat Rumi menjadi lumpuh. Oooh! Aku senang sekali!"
Terdengar suara berisik di dalam rekaman serta suara benda tumpul yang dipukulkan berulang-ulang.
"Tidak! Itu bukan suaraku! Kau penipu, Rumi! Kau penipu!" Teriak Arkan yang hendak pergi mengelak. Namun kehadiran dua orang bertubuh tegap yang entah darimana, menghalangi niat Arkan yang hendak pergi.
"Akan sangat bagus kalau kau mendengarkannya sampai habis, Arkan!" Saran Rumi menatap mengejek pada Arkan.
"Kau bajing*an!" Umpat Arkan yang segera membalas tatapan mata Rumi dengan tatapan sengit
"Lagipula, kau pikir setelah kau menikahi Ruby diam-diam, Juna bodoh itu akan merestui hubungan kalian, hah? Bahkan saat Ruby mengandung calon anakmu, Juna langsung menggugurkannya karena dia sangat membencimu!"
Bugh!
Bugh!
Suara pukulan berulang-ulang semakin jelas dan keras dari dalam rekaman.
"Anggap saja itu balasan karena kau sudah mengambil hakku saat malam perpisahan itu!"
"Seharusnya aku yang menikmati tubuh Ruby, tapi malah kau menyerobotnya! Dan Rumi sama sekali tak marah padamu dan malah mendukung aksimu! Kalian berdua benar-benar teman satu jiwa, hah!"
"Keparat kau, Arkan!" Geram Papi Juna yang langsung menerjang Arkan hingga putra dari Pak Brata itu terjerembab ke atas lantai.
"Rumi sudah berbohong, Om! Itu bukan suara Arkan!"
"Arkan tak pernah mengatakan itu semua dan tak pernah menyerang Ethan!"
"Aku punya surat bukti kalau rekaman itu asli dan bukan sebuah kepalsuan." Rumi menunjukkan surat yang sejak kemarin diurus oleh Haezel. Surat yang menyatakan kecocokan suara Arkan dengan suara di rekaman. Waktu perekaman juga cocok dengan waktu kejadian saat Ethan dipukuli di basement.
"Dasar keparat!"
Bugh! Bugh!
Papi Juna memukuli Arkan tanpa ampun demi meluapkan kemarahannya, tak peduli dengan para tamu undangan yang kini mengerubuti mereka dan menjadikan kejadian itu sebagai sebuah tontonan.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1