
Tok tok tok!
"Vivian!" Panggil Abang Sandy sekali lagi dari luar kamar.
"Iya, Bang!" Jawab Vivian sedikit berseru.
"Awas!" Vivian mendorong tubuh Rumi agar menyingkir dari atasnya. Namun Rumi malah hanya diam bergeming.
"Satu ciuman dulu," pinta Rumi mesum.
"Apa, sih?" Vivian sedikit berontak dan Rumi malah kekeh mencium bibir Vivian. Tak hanya sekedar mencium, tapi juga mel*matnya.
Dasar Rumi mesum!
Tapi tak tahu kenapa, Vivian malah menyukainya. Dan Vivian tak keberatan dicium oleh Rumi semalaman.
Eh!
"Vivian!" Panggil Abang Sandy sekali lagi yang sepertinya mulai hilang kesabaran.
"Vivian datang, Bang!" Jawab Vivian cepat seraya mendorong Rumi sekuat tenaga dan bangkit berdiri, lalu membuka pintu kamarnya. Sementara Rumi hanya tergelak dan sudah ikut bangun, lalu berdiri di belakang Vivian, saat pintu kamar terbuka.
"Sedang apa?" Tanya Abang Sandy menyelidik, seraya memindai Vivian dan Rumi dari atas kepala hingga ujung kaki. Keduanya masih berpakaian rapi dan hanya sedikit kusut.
"Rumi hanya sedang minta maaf pada Vivian, Bang!" Jawab Rumi seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ayo ke depan dulu! Semuanya sudah siap,"ajak Abang Sandy yang langsung membuat kedua bola mata Rumi membulat.
Semuanya sudah siap?
Apanya yang sudah siap?
"Apanya yang sudah siap?" Bisik Rumi bertanya pada Vivian.
"Kau lihat saja sendiri!" Jawab Vivian seraya menarik tangan Rumi, lalu membawa pria itu ke ruang depan, dimana sudah ada Papi Juna, Mami Lily, Ethan dan juga Ruby di sana. Serta beberapa orang yang terlihat asing. Entah siapa mereka itu, Rumi juga tidak tahu.
"Ehem! Sudah berapa ronde, Mi?" Dehem Ethan sedikit menggoda Rumi.
"Ethan!" Geram Papi Juna yang langsung membuat Ethan diam.
"Papi dan Mami kenapa sudah sampai disini?" Tanya Rumi bingung.
"Agar kau tak khilaf jilid dua!" Jawab Papi Juna tegas yang langsung membuat semua orang tergelak.
"Sandy sudah siapkan bogem mentahnya kalau Rumi khilaf, Om!" Celetuk Abang Sandy yang kembali membuatku semuanya tergelak. Kecuali Rumi yang kini merengut. Persis Archie saat sedang merajuk.
"Jadi, ini sebenarnya ada acara apa? Lamaran?" Tanya Rumi seraya menarik Vivian yang hendak duduk di sofa yang berbeda dengannya. Rumi memaksa Vivian untuk duduk di sampingnya.
"Tidak lihat itu sudah ada Pak penghulu, Tuan Rumi yang bucin?" Jawab Ethan seraya menahan tawa.
"Itu? Penghulu?" Rumi terlihat shock.
"Kenapa shock begitu? Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu tujuh tahun lalu pada Vian, Rumi! Jadi Papi bawakan penghulu, agar kau tidak sembarangan meniduri Vivian lagi sebelum kalian sah sebagai suami istri!" Jelas Papi Juna panjang lebar seraya berdecak berulang kali.
"Tapi, bagaimana Papi dan Mami bisa tahu kalau Vivian batal bertunangan malam ini? Apa kalian semua mengerjai Rumi?" Cecar Rumi semakin bingung.
"Aku yang memberi tahu Dokter Ethan," jawab Vivian cepat yang sepertinya niat sekali membuat Rumi jantungan malam ini.
"Om Juna juga meneleponku tadi untuk memastikan. Jadi aku jelaskan saja semuanya." Abang Sandy menimpali cerita Vivian.
"Ck! Jadi semua ini?" Rumi masih menatap tak percaya pada Vivian.
"Apa?"
"Sesekali kau juga harus diberikan kejutan," celetuk Vivian dengan wajah tanpa dosa. Rumi benar-benar geregetan sekarang pada wanita di hadapannya tersebut. Rumi akan memberikannya pelajaran nanti saja di atas ranjang.
__ADS_1
"Selain pandai membuatku kesal, kau juga suka sekali membuatku jantungan," bisik Rumi pada Vivian yang hanya ditanggapi wanita itu dengan tawa kecil.
"Kau akan menikah sekarang atau hanya akan bisik-bisik pada Vivian seperti itu, Mi? Aku sebagai calon saksi sudah lelah menunggu," tanya Ethan sedikit menyindir Rumi.
"Ya sudah! Pulang sana! Aku akan cari saksi lain!" Jawab Rumi menggerutu.
"Dasar dokter menyebalkan!" Imbuh Rumi lagi sedikit bergumam.
"Ck! Padahal kalau bukan karena bantuanku dan Ruby, kau juga mungkin tak akan menikah dengan Vian malam ini," decak Ethan yang langsung berhadiah delikan dari Rumi.
"Kau!"
"Sudah!" Ucap Ruby dan Vivian kompak melerai perdebatan Rumi dan Ethan yang sudah seperti kucing dan tikus. Katanya teman satu jiwa, tapi kalau bertemu ribut dan debat terus!
Entah apanya yang satu jiwa selain jiwa mesum mereka.
"Jadi acaranya mau dimulai jam berapa, Pak Juna?" Tanya Pak penghulu akhirnya yang mungkin juga sudah lelah mendengar ocehan Ethan dan Rumi.
"Sekarang saja, Pak!" Jawab Papi Juna cepat.
"Rumi belum membawa mas kawin, Pi!" Bujuk Rumi pada Papi Juna.
"Mami sudah membawakannya," ujar Mami Lily yang ikut mendengar bisikan Rumi. Wanita paruh baya itu mengeluarkan sebuah kotak cincin dari dalam tas yang ia bawa, lalu memberikannya pada Rumi.
"Mami memang yang terbaik!" Ucap Rumi seraya mencium pipi Mami Lily sekilas.
"Hey! Jaga sikapmu!" Tegur Papi Juna yang sepertinya cemburu melihat Rumi yang sudah tak lagi hilang ingatan dan gemar menggoda Mami Lily.
"Apa, sih, Pi! Sama anak sendiri cemburu juga?" Bisik Mami Lily seraya menggamit lengan sang suami.
Semua orang sudah berkumpul di ruang tengah sekarang dan duduk lesehan di atas karpet yang di gelar di ruangan tersebut. Acara dimulai dengan berdoa bersama. Lalu dilanjutkan dengan acara pengucapan ikrar janji suci oleh Rumi yang kini menjabat tangan Abang Sandy, yang malam ini menggantikan mendiang papa kandunh Vivian sebagai wali nikah.
"Saya terima nikahnya Vivian binti Satya dengan mas kawin cincin emas seberat lima gram dibayar tunai!" Rumi mengucapkan dengan lancar ikrar pernikahan dan saat semuanya mengucapkan kata sah, seketika suasana di ruangan tersebut berubah haru.
Semuanya bergantian mengucapkan selamat untuk Rumi dan Vivian yang kini sudah sah menjadi suami istri.
Ah, Rumi sudah benar-benar terlambat.
"Jangan lupa untuk mengurus surat-surat nikahnya di KUA setelah ini, ya, Mas!" Pesan Pak penghulu sebelum berpamitan.
"Iya, Pak! Akan secepatnya kami urus," jawab Rumi yang hatinya masih dipenuhi rasa haru. Meskipun semuanya serba mendadak, tapi setidaknya Rumi sudah lega karena akhirnya ia sudah sah mempersunting Vivian sebagai istri.
Benar-benar sulit dipercaya!
Baru siang tadi Rumi bertemu Vivian dan putranya untuk pertama kali, dan malamnya Rumi langsung sah menjadi suami Vivian.
"Kita bawa pulang Vivian dan Archie malam ini?" Papi Juna meminta pendapat dari Mami Lily.
"Vivian masih ingin disini malam ini, Pak Juna!" Ujar Vivian cepat memohon pada sang papi mertua.
"Panggilnya Mami dan Papi mulai sekarang, Vi!" Ujar Ruby mengingatkan Vivian yang langsung tersipu malu.
"Iya."
"Vivian masih ingin di sini, Mi!" Pinta Vivian lagi pada Mami Lily.
"Biarkan Vivian disini dulu malam ini, Pi! Besok Rumi akan mengajaknya pulang. Lagipula, Archie juga sudah tidur. Kasihan kalau kita angkat-angkat," timpal Rumi membantu menjelaskan pada sang Papi.
"Biar Ruby dab Ethan yang menginap di rumah malam ini kalau Mami dan Papi kesepian," usul Ruby ikut memberikan jalan tengah.
"Baiklah! Tadi papi hanya bertanya." Ujar Papi Juna cepat seraya memeluk Vivian dengan hangat.
"Menantu baru di keluarga Attala," ucap Papi Juna lagi seolah sedang pamer.
"Dan menantu perempuan kita satu-satunya, Pi!" Mami Lily ikut menghampiri Vivian dan mencium kening wanita itu.
__ADS_1
Mata Vivian langsung berkaca-kaca karena Vivian seolah mendapatkan pengganti mama dan papanya yang sudah terlebih dahulu berpulang.
"Jangan lupa untuk mengunjungi makan kedua orang tua Vivian dan meminta restu, Rumi!" Pesan Mami Lily selanjutnya pada Rumi.
"Iya, Mi!" Jawab Rumi patuh.
"Sandy, kami pamit pulang dulu kalau begitu," pamit Papi Juna selanjutnya pada Abang Sandy dan Kak Vita.
"Iya, Om. Silahkan!" Abang Sandy mengabtar Papi Juna dan Mami Lily ke teras depan.
Setelah sedikit berbasa-basi, mobil yang membawa keluarga Attala akhirnya meninggalkan rumah Vivian.
"Sebaiknya kita memeriksa anak-anak!" Bisik Kak Vita pada Abang Sandy seolah sedang memberikan kode.
"Ya! Kau benar, Sayang!" Jawab Abang Sandy seraya merangkul Kak Vita.
"Ayo kita periksa anak-anak" lanjut abang Sandy lagi dan pasangan suami istri itu sudah menghilang ke dalam rumah. Kini hanya tinggal Vivian dan Rumi di teras rumah.
"Sebaiknya aku juga memeriksa Archie. Mungkin saja dia bangun atau mencariku," gumam Vivian setelah keheningan beberapa saat.
Vivian hendak masuk ke dalam rumah, namun Rumi mencegah dengan cepat.
"Archie tidur dimana kalau malam?" Tanya Rumi penuh selidik.
"Bersamaku di kamar tentu saja!" Jawab Vivian tanpa raut bercanda sedikitpun.
Sial!
Seharusnya Rumi tadi membawa Vivian pulang saja ke rumah Papi agar Archie bisa tidur di kamar lain. Kalau malam ini Archie tidur bersama Rumi dan Vivian, bagaimana Rumi akan menerjang Vivian?
Ck!
"Kenapa malah diam dan melamun?" Tanya Vivian yang kini sudah bersedekap pada Rumi.
"Ayo kita ke hotel saja dan Archie kita titipkan pada Kak Vita," usul Rumi menatap melas pada Vivian.
"Jangan berlebihan, Rumi! Masih ada kasur dan bantal di kamarku! Jadi tak perlu menyewa kamar hotel segala!" Gerutu Vivian yang sudah masuk ke dalam rumah meninggalkan Rumi di teras.
"Vian! Dengarkan aku dulu!" Rumi mengekori Vivian masuk ke dalam rumah.
"Kunci pintu depan dua kali, Rumi!" Pesan Vivian pada Rumi sebelum wanita itu menghilang ke dalam kamarnya.
Rumi hanya berdecak dan segera melakukan apa yang baru saja diperintahkan oleh Vivian. Rumi mengunci pintu depan dua kali, lalu lanjut menyusul Vivian masuk ke dalam kamar.
Vivian sudah berbaring di atas tempat tidur seraya menutupi tubuhnya dengan selimut hingga sebatas leher saat Rumi masuk ke dalam kamar. Rumi tak melihat Archie di dalam kamar.
"Archie mana, Vi?" Tanya Rumi bingung.
"Kunci sekalian pintu kamarnya! Archie tidur di kamar Cio malam ini bersama Kak Vita dan Abang Sandy," jawab Vivian yang tetap memunggungi Rumi.
"Apa katamu?"
.
.
.
Hahahaha.
Cut dulu!
Adegan nganunya besok
Masih ada sekitar 8-10 eps lagi sebelum bisa ditamatin. Jangan mules kalo nanti banyak adegan nganunya 😁😁
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.