RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
PACAR?


__ADS_3

Vivian duduk di bangku kecil yang berada di samping bathtube sambil sesekali melihat Rumi yang sedang berendam sambil merentangkan kedua tangannya, lalu kepalanya bersandar ke pinggiran bathtube dan sedikit mendongak dengan kedua mata yang terpejam.


Tadinya saat Rumi mengatakan kalau Vivian harus menemaninya berendam itu, pikiran Vivian juga sudah kemana-mana. Tapi ternyata maksud Rumi adalah Vivian hanya perlu duduk di dekatnya dan bukan ikut berendam bersama Rumi.


Baiklah! Vivian mulai benci dengan pikirannya sendiri sekarang.


"Pacarmu juga sering berendam seperti ini?" Tanya Rumi pada Vivian. Pria itu tak membuka matanya sedikitpun dan masih betah pada posisinya semula.


"Pacar?" Vivian balik bertanya bingung.


"Jangan kau pikir aku tidak tahu," Rumi membuka mata dan melirik penuh selidik pada Vivian.


"Aku tidak punya pacar!" Sergah Vivian bersungguh-sungguh.


"Tidak usah berbohong!" Decak Rumi sok tahu.


"Aku tak bohong! Aku memang tak punya pacar!" Sahut Vivian cepat. Rumi kembali berdecak.


"Masih tak mau mengaku. Telepon saja sampai memanggil sayang, tapi bilang tak punya pacar," sinis Rumi seraya menyodorkan botol sabun pada Vivian.


"Apa?" Tanya Vivian bingung.


"Usap punggungku! Aku mau membuat pacarmu cemburu," Perintah Rumi blak-blakan. Vivian hanya memutar bola matanya dan segera beranjak dari duduknya lalu menuang sabun ke shower puff dan mulai menggosokkan shower puff tadi ke punggung Rumi.


Vivian menatap pada punggung polos Rumi, saat kejadian delapan tahun silam tiba-tiba melintas di benak Vivian.


"Jadi sebenarnya kau mendaki bersama rombongan yang mana?" Tanya Vivian pada Rumi yang terus-terusan mengekorinya sejak pertemuan mereka kemarin. Bahkan semalam Rumi juga mendirikan tenda di dekat Vivian, meskipun pemuda itu tak banyak bicara maupun berbasa-basi.


"Memang harus bawa rombongan, kalau mendaki? Aku terbiasa pergi sendiri agar tak berisik."


"Lagipula tujuanku mendaki itu untuk ketenangan dan kepuasan diri. Bukan hanya untuk selfie, konten." Rumi mengendikkan dagunya ke arah rombongan Vivian yang sedang sibuk foto-foto dengan berbagai macam gaya. Vivian hanya tertawa kecil.


"Mau aku fotoin mumpung masih di puncak?" Tawar Vivian pada Rumi.


"Kau saja," jawab Rumi yang malah menengadahkan tangannya ke arah Vivian dan meminta ponsel gadis itu. Vivian tersenyum dan dua lesung pipi langsung terbentuk sempurna di kedua pipi Vivian yang sesaat membuat Rumi tertegun.


Manis juga.


Eh!


"Ini," suara Vivian yang sedang menyodorkan ponselnya ke arah Rumi segera membuyarkan lamunan Rumi.


Rumi segera menerima ponsel Vivian dan mengarahkan gadis itu agar sedikit mundur, lalu mulai mengambil foto Vivian beberapa kali.


"Sekarang gantian," ucap Vivian yang sudah menghampiri Rumi.


"Pakai ponselmu saja! Aku tak bawa ponsel," ujar Rumi sedikit modus.


"Baiklah, nanti bisa kukirim ke nomormu," jawab Vivian santai seraya kembali tersenyum. Dan lagi-lagi dua lesung pipi Vivian membuat Rumi terpana.


"Satu kali saja!" Pesan Rumi seraya berpose dengan kaku.


"Senyum sedikit, Rumi!" Vivian memberikan aba-aba dan Rumi langsung tersenyum dengan sangat mudah mengikuti senyuman Vivian serta dua lesung pipi menakjubkan itu.


"Sudah!" Lapor Vivian seraya menghampiri Rumi dan hendak menunjukkan foto hasil jepretannya saat tiba-tiba.

__ADS_1


"Aduh!" Vivian tersandung batang pohon yang lumayan besar hingga membuat gadis itu jatuh tersungkur.


"Vivi!" Seru Rumi tang bergerak cepat untuk menolong Vivian.


"Kau selalu saja ceroboh!" Omel Rumi seraya memeriksa kaki Vivian, sementara sang empunya kaki hanya diam dan merengut.


"Sakit?" Tanya Rumi seraya memeriksa kaki Vivian.


"Dikit," jawab Vivian lirih.


"Ayo berdiri!" Rumi memegang kedua tangan Vivian dan membantu gadis itu untuk berdiri saat kemudian Vivian langsung meringis.


"Ada apa?" Tanya Rumi khawatir.


"Tidak apa-apa! Terima kasih!" Ucap Vivian seraya berjalan dengan terpincang dan menjauh dari Rumi. Vivian bergabung lagi dengan rombongannya dan Rumi hanya memperhatikan gadis itu dari kejauhan.


Rumi terus mengekori Vivian yang masih melangkah dengan kaki terpincang dan sepertinya teman-teman Vivian juga tak ada yang peduli. Vivian mulai tertinggal dari rombongannya dan Rumi mempercepat langkahnya untuk menghampiri gadis itu.


"Duduklah dulu! Aku periksa kakimu!" Titah Rumi memaksa.


"Rombonganku sudah jauh," jawab Vivian mencari alasan.


"Nanti turun bersamaku! Aku hafal jalannya," jawab Rumi yang sudah mulai menggulung celana Vivian, lalu memeriksa kaki gadis itu.


"Sial!" Umpat Rumi saat melihat kaki Vivian yang tergores lumayan dalam.


Rumi segera mengeluarkan kotak P3K dari dalam carrier-nya dan mulai mengobati luka Vivian.


"Kau sering naik gunung?" Tanya Vivian membuka obrolan.


"Sebulan sekali biasanya," jawab Rumi seraya membebat kaki Vivian.


"Tergantung."


"Maksudnya?" Vivian mengernyit bingung.


"Kadang bareng teman kadang juga sendiri seperti sekarang," Rumi mengendikkan bahu, lalu mulai membereskan kotak P3K nya setelah selesai mengobati luka Vivian.


"Aku bisanya jalan pelan-pelan. Apa tidak apa-apa?" Tanya Vivian lagi menatap penuh rasa bersalah pada Rumi.


Rumi tak langsung menjawab dan pemuda itu malah menyatukan carrier-nya dengan carrier Vivian.


"Pakai ini!" Rumi memakaikan dua carrier tadi di punggung Vivian. Lalu mengencangkan ikatan talinya.


"Maksudnya?" Tanya Vivian bingung saat tiba-tiba Rumi malah berjongkok di depannya.


"Ayo naik!" Titah Rumi memberikan kode pada Vivian agar naik ke punggungnya.


"Aku jalan saja, Rumi!" Tolak Vivian cepat merasa sungkan sekaligus malu.


"Ck! Sudah cepat naik, Vi!" Paksa Rumi seraya berdecak.


"Tapi..." Vivian masih ragu.


"Naik atau aku tinggal?" Ancam Rumi yang langsung membuat Vivian membelalakkan bola matanya.

__ADS_1


"Jangan!"


"Makanya, buruan naik!" Paksa Rumi sekali lagi. Vivian hanya merengut dan akhirnya gadis itu naik ke punggung Rumi. Bisa Vivian rasakan, kekarnya punggung Rumi, padahal pemuda ini masih SMA. Mungkin Rumi memang rajin olahraga juga selain naik gunung.


"Pegangan!" Perintah Rumu yang hanya membuat Vivian mengangguk. Setelah memastikan posisinya Vivian sudah benar, Rumi langsung melangkah turun menyusul rombongan Vivian yang sudah tak terlihat lagi.


"Vian!" Tegur Rumi yang langsung membuat lamunan Vivian menjadi buyar.


"Iya!" Jawab Vivian yang tetap lanjut menggosok punggung Rumi.


"Ada apa?" Lanjut Vivian lagi.


"Kau akan menggosok punggungku sampai kapan? Apa kau terlalu mengaguminya, hingga sejak tadi kau tak selesai selesai?" Tanya Rumi yang langsung membuat Vivian berhenti menggosok punggung Rumi.


"Memangnya aku sudah menggosok berapa lama?" Tanya Vivian yang bahkan tak sadar kalau ia tadi melamun lama sekali.


"Hampir setengah jam!"


"Lihat!" Rumi menunjukkan jari-jari tangannya yang sudah mulai memutih dan keriput.


"Kau mau membuatku kedinginan dan masuk angin?" Sergah Rumi lagi yang langsung membuat Vivian membulatkan matanya dengan lucu. Seperti biasa saat wanita itu kaget dan bibir Rumi selalu bisa berkedut menahan tawa saat melihatnya.


"Maaf!" Ucap Vivian akhirnya seraya meraih shower untuk membilas tubuh Rumi. Vivian lanjut membantu Rumi keluar dari bathtube, lalu dengan cepat membebatkan handuk ke bagian bawah tubuh pria tersebut.


"Kau melihatnya?" Tanya Rumi usil.


"Melihat apa?" Vivian balik bertanya sambil mendorong kursi roda Rumi keluar dari dalam kamar mandi.


"Aku tidak pakai celana, kau pasti melihatnya," ujar Rumi lagi masih usil.


Lagipula, haruskah hal seperti itu Rumi bahas?


"Aku sudah hafal bentuknya dan itu tak berpengaruh apa-apa! Aku perawat dan aku profesional!" Jawab Vivian tegas dan sedikit galak.


"Sudah pernah lihat punya pacarmu juga?" Tanya Rumi kepo.


"Ya! Lalu kenapa? Kau mau aku menceritakan bentuk dari milik pacarku?" Jawab Vivian sinis.


Vivian sedang malas berdebat dengan Rumi perihal pacar yang sama sekali tak Vivian miliki. Tapi Rumi tetap keras kepala dan menuduh Vivian punya pacar. Jadi sekalian saja Vivian beberkan dan mengarang cerita.


"Ck! Wanita jaman sekarang. Belum ada status tapi mudah saja memberikan miliknya pada seorang pria brengsek," cibir Rumi yang sesaat membuat hati Vivian tersentil.


"Padahal belum tentu pria brengsek itu mau menikahinya kelak," lanjut Rumi lagi yang mendadak membuat Vivian ingin tertawa terbahak-bahak.


"Ya, itu benar! Kau contohnya!" Celetuk Vivian tiba-tiba yang langsung membuat Rumi menatap tajam ke arah wanita tersebut.


"Apa maksudmu?" Tanya Rumi penuh selidik. Vivian diam sebentar sebelum kemudian wanita itu tertawa terbahak-bahak.


"Aku hanya bercanda! Wajahmu serius sekali!" Vivian menepuk punggung Rumi dan segera membuka lemari untuk mengambil baju tuan Rumi pemarah.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2