RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
INI RAHASIA


__ADS_3

"Kau yakin aku tak perlu ikut ke toko hari ini?" Tanya Vivian yang masih berharap Rumi akan mengajaknya ke toko. Selama sebulan ini, tak bisa dipungkiri kalau sebenarnya Vivian takut berada di rumah saat Rumj tak ada dan Erick sedang di rumah. Vivian kadang memilih mengunci diri di kamar seharian dan baru keluar saat Rumi pulang terutama saat papa kandung Sunny itu berada di rumah.


Vivian hanya tak mau terlibat skandal apapun dengan pria brengsek, mesum, playboy, dan buaya sejenis Erick itu!


Tatapan mata Erick pada Vivian selalu saja melecehkan seolah Vivian adalah jal*ng yang bisa ia tiduri kapan saja. Apa wajah Vivian memang se-murahan itu?


"Kau diam saja di rumah dan jangan kelayapan kemana-mana!" Jawab Rumi tegas.


"Baiklah! Aku tak akan kemana-mana. Aku boleh tidur saja di kamar?" Tanya Vivian lagi bawel sekali.


"Terserah kau mau berbuat apa, Vian! Kau punya waktu luang hari ini dan jangan bertanya-tanya lagi! Kepalaku pusing mendengarkan kebawelanmu! Kau mau membuatku sakit kepala?" Cecar Rumi yang langsung membuat Vivian diam seribu bahasa. Sepertinya Rumi sedang PMS sekarang, jadi baiknya Vivian memang diam dan tak bertanya lagi.


Semoga Erick tak pulang hari ini dan seterusnya. Sudah sepekan terakhir pria itu memang tak menampakkan batang hidungnya di kediaman Attala. Semoga begitu seterusnya agar Vivian tak usah lagi-


"Brengsek!" Umpat Vivian dalam hati saat ia belum selesai membatin Erick, dan tiba-tiba mobil pria menyebalkan itu malah sudah tiba di depan mobil Rumi.


"Pagi, Rumi! Sudah mau pergi ke toko?" Sapa Erick berbasa-basi pada Rumi setelah pria itu turun dari mobil dengan wajah pongah.


"Ya! Apa aku terlihat mau pergi ke sawah?"jawab Rumi ketus. Tawa Erick langsung terdengar menggelegar.


"Guyonanmu lucu sekali, Rumi! Kau memang selalu bisa berkelakar," ujar Erick yang entah sedang memuji atau mengejek Rumi.


"Yeaaay! Papa sudah pulang! Papa jadi mengantar Sunny ke sekolah hari ini, kan?" Tanya Sunny yang sudah keluar dari dalam rumah. Kak Alsya terlihat mengekori putrinys tersebut dan ikut menyambut Erick. Kakak sambung Rumi itu bahkan tak malu berpagutan dengan Erick di depan Rumi dan Vivian.


"Tentu saja jadi, Sunny sayang! Papa mandi dulu, ya!" Bujuk Erick mencoba memberikan pengertian pada Sunny.


"Sunny akan terlambat jika menunggumu mandi, Erick! Kalian berangkat saja sekarang, lalu kau bisa mandi setelah mengantar Sunny." Ujar Kak Alsya memberikan solusi.


"Ayo berangkat, Papa! Mandinya nanti saja!" Sekarang gantian Sunny yang menarik lengan Erick dan mengajaknya masuk ke dalam mobil.


"Kau ikut, Alsya?" Tanya Erick pada Alsya yang juga sudah rapi. Tadi sepertinya Alsya hendak mengantar Sunny ke sekolah.


"Aku sebenarnya ada urusan penting. Jadi aku akan langsung pergi saja karena sudah ada kau yang mengantar Sunny," jawab Alsya seraya memasangkan carseat Sunny dan membantu putrinya tersebut untuk duduk di atas carseat serta memakai sabuk pengaman.


"Urusanmu lama?" Tanya Erick lagi pada Alsya.


"Mungkin sampai sore. Kau tak keberatan menjaga Sunny hari ini, kan?" Tanya Alsya penuh harap seraya mengusap lengan sang suami yang sudahlah duduk di belakang kemudi.


"Sama sekali tidak!" Erick meraih dagu Alsya dan kembali memagut bibir istrinya tersebut lumayan lama.


"Sudah, Erick! Kau akan merusak riasanku!" Protes Alsya yang langsung menjauhkan bibir dan wajah Erick dari wajahnya. Papa Sunny itu sontak tergelak.


"Aku antar Sunny ke sekolah dulu. Bye!" Pamit Erick pada Alsya serta Rumi dan Vivian yang masih mematung sejak tadi.


"Kalian belum berangkat?" Tanya Alsya pada Vivian dan Rumi setelah mobil Erick pergi meninggalkan kediaman Attala.


Alsya langsung berlalu begitu saja meninggalkan Vivian dan Rumi, sebelum keduanya sempat menjawab. Dasar aneh!

__ADS_1


"Kau mau berangkat sekarang?" Tanya Vivian akhirnya memecah keheningan. Wanita itu sudah membuka pintu mobil dan bersiap untuk memindahkan Rumi.


"Aku berangkat tahun depan!" Jawab Rumi ketus yang hanya membuat Vivian tertawa kecil. Meskipun sebenarnya Vivian sedang tidak ingin tertawa sekarang. Vivian ingin ikut saja bersama Rumi demi menghindari Erick, tapi pria ini melarang dan sedang PMS.


Huh!


Kaum pria memang selalu sulit dimengerti


"Kau di kamar saja dan kunci pintunya sampai aku pulang!" Pesan Rumi pada Vivian setelah pria itu duduk di dalam mobil.


"Kau pulang jam berapa?" Tanya Vivi yang sudah seperti seorang istri yang bertanya pada suaminya saja.


"Setelah makan siang," jawab Rumi cepat.


"Aku makan siang sendiri atau menunggumu pulang?" Tanya Vivian lagi yang tak mau membuat kesalahan lagi.


"Makan siang saja kalau sudah lapar! Hal seperti itupun kau tanyakan," Rumi berdecak tidak percaya sementara Vivian hanya memasang raut wajah merengut.


"Tutup pintunya sekarang!" Perintah Rumi selanjutnya. Vivian segera menutup pintu mobil, dan mobilnya warna hitam itupun sudah melaju pergi meninggalkan kediaman Attala.


Vivian baru saja akan masuk ke dalam rumah saat wanita itu kembali berpapasan dengan Alsya.


"Kau tidak ada pekerjaan hari ini, kan, Vi?" Tanya Alsya tiba-tiba pada Vivian.


"Tidak ada," jawab Vivian sedikit ragu. Tapi Vivian memang menganggur sampai Rumi pulang.


"Tolong nanti kau jaga Sunny kalau dia pulang sekolah, ya! Erick biasanya akan tidur dan pengasuh Sunny sedang tidak bisa datang hari ini. Mami dan Papi juga masih di luar kota," pinta Alsya yang langsung membuat Vivian berdecak dalam hati.


"Nanti aku yang akan bicara pada Rumi. Jaga saja Sunny" Sambung Alsya lagi yang tentu saja tak bisa ditolak oleh Vivian.


Bagaimana mau menolak kalau Alsya tak memberi Vivian kesempatan untuk bicara?


"Aku pergi dulu! Jangan lupa pesanku! Sunny pulang jam sepuluh!" Pungkas Alsya seraya berlalu pergi dari hadapan Vivian.


Ck!


Dasar wanita egois!


Memangnya dia ada urusan apa?


Vivian hanya mampu menggerutu dalam hati dan wanita itu masuk ke rumah masih dengan hati yang dongkol.


****


"Kapan aku bisa berdiri? Kenapa dari kemarin terapinya begini-begini saja?" Tanya Rumi tak sabar pada Sakya, dokter fisioterapinya yang juga merupakan teman sekaligus sepupu jauh Ethan. Entah sejauh apa maksudnya, Rumi juga tidak tahu. Yang Rumi tahu mereka sama-sama berdarah Abraham.


Sudah satu pekan terakhir Rumi rutin ikut terapi agar ia bisa cepat berjalan. Keinginan Rumi hanya satu, Rumi ingin cepat bisa berjalan lagi seperti Ethan, lalu membuat Vivian terpesona agar wanita itu berpaling dari kekasih berondongnya yang bernama Archie itu!

__ADS_1


Ya, Rumi sudah tergila-gila pada Vivian dan Rumi tak akan membiarkan Vivian berhenti dari pekerjaannya sebagai perawat. Meskipun nanti Rumi sudah bisa berjalan, Rumi akan tetap berpura-pura lumpuh di depan Vivian agar wanita itu tak bisa berhenti bekerja. Rumi memang ikut terapi ini secara diam-diam tanpa ada yang tahu.


"Semuanya butuh proses, Rumi! Otot-otot di kakimu harus dibiasakan dulu agar tak kaku, sebelum kau mulai belajar berdiri," jelas Sakya sesabar mungkin.


"Tapi Ethan langsung bisa berdiri dan berjalan," sergah Rumi mencari alasan.


"Cedera kalian berbeda, dan Ethan sudah langsung ikut terapi waktu itu! Tidak sepertimu yang harus menunggu tujuh tahun dulu baru ikut terapi," jawab Sakya yang langsung membuat Rumi berdecak.


"Jadi kau menyalahkanku begitu? Dasar menyebalkan!" Gerutu Rumi sebal. Inilah salah satu alasan Rumi benci pada para dokter. Mereka selalu sok tahu dan menyebalkan!


"Kau juga menyebalkan!" Balas Sakya tak mau kalah. Rumi kembali berdecak dan ingin menendang dokter menyebalkannya ini, andai kaki Rumi sudah berfungsi normal. Memang pantas Sakya dan Ethan menjadi saudara sepupu. Mereka berdua menyebalkan!


"Surprize!" Seru seseorang tiba-tiba yang sedang tak ingin Rumi lihat keberadaannya. Apa dokter Sakya ini sudah mulai ember sekarang?


"Jadi, kau ikut terapi sekarang?" Goda Ethan yang jalannya masih dibantu satu tongkat.


"Tidak! Aku sedang berlatih sirkus!" Jawab Rumi ketus.


"Kau sedang apa disini? Sakya ember ini membocorkan keberadaanku?" Tuduh Rumi pada dua dokter berjas putih yang kini berada di hadapannya.


"Aku tak bicara apa-apa pada Ethan! Iparmu ini yang kepo sekali," kilah Sakya membela diri.


"Ck! Kalian berdua benar-benar tak bisa menjaga rahasia!" Gerutu Rumi sebal.


"Tenang! Rahasiamu aman di tanganku dan Sakya." Ujar Ethan santai.


"Tapi beritahu dulu alasanmu ikut terapi setelah tujuh tahun kau menolaknya! Kau mau memukau siapa? Vivian?" Cecar Ethan sok tahu.


"Aku ingin berjalan itu saja! Dan aku tak ingin memukau siapapun! Jadi tidak usah sok tahu!" Sahut Rumi ketus seraya menuding pada Ethan yang langsung tergelak.


"Baiklah aku percaya!" Nada bicara Ethan terdengar mengejek. Suami Ruby ini memang menyebalkan sejak dulu. Kenapa juga Rumi dan Ethan bisa menjadi sahabat satu jiwa?


"Rahasiamu aman bersamaku," sambung Ethan lagi seraya menepuk punggung Rumi yang hanya berdecak berulang-ulang.


.


.


.


Sakya Arsenio Abraham adalah anak keduanya Zayn dan Thalita, ya!


Dokter juga ternyata 😆😆


Si Zeline, kakaknya Sakya kira-kira profesinya apa, ya🤭. Nanti kita sempilkan di cerita lain saja.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


Follow juga IG othor @bun_bundew30 biar keliatan kalau othornya juga bisa main IG 😆😆


__ADS_2