RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
TANYAKAN SENDIRI!


__ADS_3

Mobil yang mengantarkan Rumi dan Archie sudah tiba di depan rumah Vivian. Ada sebuah mobil.monibus warna hitam yang sudah terparkir di depan rumah Vivian. Saat ini, Rumi hanya berharap kalau ia datang saat acara pertunangan Vivian dan siapapun pria yang menjadi tunangan Vivian sudah berakhir.


"Ini rumahnya, Pak Rumi?" Tanya supir yang mengantarkan Rumi.


"Iya! Itu rumah Archie!" Bukan Rumi, melainkan Archie yang menjawab dengan penuh semangat. Hati Rumi rasanya tak karuan sekarang.


"Maaf, tapi kau terlambat, Rumi!"


Kalimat Vivian siang tadi kembali berkelebat di benak Rumi.


"Aku mencintaimu, tapi kau terus saja membuatku kecewa."


"Kau tidak percaya kepadaku,kau juga tak bertanya kebenarannya apalagi memberiku kesempatan untuk menjelaskan."


"Kau menyakiti hatiku, Rumi!"


Kedua mata Rumi sudah berkaca-kaca sekarang. Hati Rumi terasa perih. Rumi mengeratkan dekapannya pada Archie, seolah tak rela jika malam ini ia harus kembali berpisah dengan Archie.


Vivian akan menjadi milik pria lain, tidak bisakah Rumi tetap bersama-sama dengan Archie setiap waktu, setiap detik...


"Dad!" Cicit Archie yang masih berada di pelukan Rumi.


"Dad menangis?" Tanya Archie lagi yang sudah mendongakkan wajahnya dan menatap pada wajah Rumi.


"Tidak! Dad hanya sedang kelilipan," jawab Rumi seraya mengucek matanya sekaligus mengulas senyum.


"Archie mau turun sekarang?" Tanya Rumi selanjutnya pada Archie, bersamaan dengan beberapa orang yang keluar dari rumah Vivian.


Ada Vivian disana, bersama seorang pria yang mirip Vivian. Mungkinkah itu adalah Abang Sandy yang merupakan abangnya Vivian?


Lalu ada seorang pria lain yang mengenakan kemeja dan berpenampilan rapi. Pria itu memeluk Abang Sandy lalu memeluk Vivian.


Rumi sontak memalingkan wajahnya dan hari Rumi juga langsung bisa menebak kalau itu adalah tunangan Vivian.


Ya!


Dia terlihat dewasa dan sedikit tua. Sepertinya tak cocok untuk Vivian. Kenapa pria pilihan Vivi harus setua itu? Rumi benar-benar tak rela!


Tapi semua sudah terlambat!


"Kau tidak percaya kepadaku,kau juga tak bertanya kebenarannya apalagi memberiku kesempatan untuk menjelaskan."


"Kau menyakiti hatiku, Rumi!"


Kalimat Vivian berkelebat sekali lagi di benak Rumi dan sukses membuat lusah Rumi terasa pahit.


Dasar bodoh!


Rumi memang pria bodoh!


"Dad, ayo turun!" Ajak Archie sekali lagi yang langsung menyentak lamunan Rumi.


"Tunggu sebentar, ya! Mom sedang berpamitan dengan tamunya," ujar Rumi mencoba menjelaskan pada Archie. Rumi kembali mengusap wajah Archie yang saat tersenyum akan langsung mengingatkan Rumi pada Vivian. Lesung pipi itu....


"Itu Om Indra," celetuk Archie yang sepertinya sudah berkenalan dengan tunangqn Vivian itu. Mungkin juga sudah dekat.


"Om Indra baik, ya?" Tanya Rumi penuh selidik.


"Ya! Suka bawain kue sama permen kalau main. Tapi kata Mom, Archie nggak boleh maem permen. Nanti gigi Archie habis," cerita Archie yang langsung membuat Rumi tertawa kecil.


Archie memang bawel, sama seperti Rumi saat mengomeli Vivian. Tapi mungkin ke depannya Rumi tak akan bisa melakukannya lagi. Rumi sekarang rindu pada Vivian yang kerap membuatnya kesal dan mengomel.


"Mainan Archie tadi mana? Sudah dibawa semua?" Tanya Rumi mengingatkan sambil tangannya membuka pintu mobil. Mobil Om Indra tadi sudah berlalu pergi, jadi saatnya Rumi turun dan mengantar Archie pulang pada Mom-nya.


"Sudah! Ini punya Archie, ini punya Cio!" Jawab Archie seraya bergantian menunjukkan dua paperbqg di tangannya.


"Baiklah! Ayo kita turun," ajak Rumi selanjutnya seraya turun duluan dari mobil. Rumi lanjut menurunkan Archie,lalu membawakan dia paperbag mainan milik Archie dan Cio yang tadi dibelikan oleh Papi Juna dan Mami Lily.


Rumi berjalan perlahan menyusul Archie yang sudah berlari kecil masuk ke teras rumah.


"Ayah!" Seru Archie pada Abang Sandy yang baru saja akan masuk ke dalam rumah. Sementara Vivian malah sibuk tak nampak batang hidungnya.


Mungkin Vivian memang sedang menghindari bertemu dengan Rumi. Atau mungkin wanita itu tengah bahagia sekarang karena baru saja bertunangan?


"Hai!"


"Kau sudah pulang, Jagoan?" Abang Sandy langsung berjongkok dan mengacak rambut Archie, lalu melakukan sebuah tos yang sepertinya adalah tos khusus antara Archie dan Abang Sandy.

__ADS_1


Rumi adalah Dad-nya Archi. Tapi malah Rumi tak punya tos semacam itu bersama Archie. Rumi saja baru bertemu Archie siang ini.


Ck!


Sepertinya Rumi adalah Dad paling payah sepanjang sejarah. Dad macam apa kau itu, Rumi!


"Kau adalah..." Abang Sandy ganti menyapa Rumi yang sejak tadi hanya diam melamun.


"Saya Rumi, Bang!" Jawab Rumi cepat memperkenalkan dirinya sendiri. Seharusnya Rumi melakukan ini tujuh tahun lalu.


Kau terlambat, Rumi! Kau benar-benar terlambat!


"Dad-nya Archie, ya?" Abang Sandy tersenyum tipis pada Rumi. Mungkin sedikit kesal juga karena Rumi yang pernah menelantarkan Vivian dan Archie selama tujuh tahun.


Tapi itu sebuah ketidaksengajaan!


Coba Vivian jujur pada keluarganya, kan pastinya keluarga Vivian akan menemui Mami Lily dan Papi Juna, dan meluruskan semuanya. Tapi belum tentu juga Mami dan Papi percaya.


Ya ampun! Ini rumit!


"Maaf soal kejadian tujuh tahun lalu, Bang!" Ucap Rumi penuh rasa bersalah.


"Ya, harusnya aku memberimu bogem mentah," Abang Sandy sedikit berkelakar.


"Tapi tenang! Aku tidak suka main kekerasan. Lagipula,Vivian juga sudah menceritakan semuanya, dan waktu itu memang sebuah ketidaksengajaan."


"Kau menjadi korban penganiayaan, lumpuh, dan hilang ingatan," tutur Abang Sandy panjang lebar seraya memindai Rumi yang kini sudah lepas dari kursi rodanya.


"Tapi sekarang kau sudah sembuh," lanjut Abang Sandy yang sudah gantung tersenyum.


"Semua berkat Vivian, Bang!" Ucap Rumi setelah menelan ganjalan pahit di tenggorokannya.


Alasan utama Rumi mau belajar berjalan memang karena Vivian. Rumi ingin memisahkan Vivian dari pacar berondongnya, Archie.


Archie yang ternyata adalah anak Rumi sendiri. Sandiwara Vian benar-benar luar biasa! Wanita itu juga sepertinya niat sekali membuat Rumi cemburu buta dan mencak-mencak. Entah apa maksudnya bersikap seperti itu.


"Archie! Sudah pulang!" Sapa seorang wanita yang sepertinya adalah istri Abang Sandy.


"Bunda!" Panggil Archie riang seraya memamerkan mainannya pada Kak Vita. Setelah berbasa-basi sedikit dengan Rumi, Kak Vita akhirnya mengajak Archie masuk ke dalam. Kini hanya tinggal Rumi dan Abang Sandy yang duduk di kursi teras.


"Jadi, tadi acara pertunangan Vivian berjalan lancar, ya, Bang?" Tanya Rumi memecah keheningan di antara dirinya dan Abang Sandy.


"Vivian yang tak mau acaranya dibuat meriah. Toh hanya acara tukar cincin sebelum menuju ke acara utama," terang Abang Sandy yang langsung membuat hati Rumi berdenyut sakit.


Acara utama?


Acara pernikahan maksudnya?


"Lalu kapan acara pernikahannya, Bang? Apa sudah diputuskan?" Tanya Rumi selanjutnya merasa penasaran.


Memangnya Rumi mau apa?


Menggagalkan pernikahan Vivian?


Membuat drama?


"Kenapa kau tidak bertanya langsung saja pada Vivian?" Jawab Abang Sandy yang tentu saja malah membuat Rumi kaget.


"Masuk dan tanyakan sendiri pada Vivian! Dia ada dikamarnya," ujar Abang Sandy lagi mempersilahkan Rumi.


"Apa tidak apa-apa, Bang?" Tanya Rumi sedikit ragu.


Abang Sandy tertawa kecil.


"Masuk saja! Kau masih hafal letak kamar Vivian, kan?" Jawab Abang Sandy yang malah lebih mirip sebuah sindiran. Tentu saja Rumi masih ingat. Meskipun hanya sekali Rumi masuk ke kamar Vivian, tapi Rumi masih mengingatnya, setelah semua ingatan Rumi kembali.


Tok tok tok!


Rumi mengetuk tiga kali sebelum kemudian terdengar suara Vivian yang mempersilahkan masuk.


"Archie sudah tidur, Bang?" Tanya Vivian yang sepertinya mengira kalau Rumi adalah Abang Sandy. Namun sesaat gadis itu diam teryegun saat menyadari kalau yang masuk ke kamarnya adalah Rumi.


"Kau mau apa?" Tanya Vivian yang langsung berangsur mundur.


Memangnya Vivian pikir Rumi mau apa? Memperkosanya agar Vivian hamil lagi, dan pernikahannya dengan Indra Indra itu gagal?


Ah, itu ide cemerlang.

__ADS_1


Rumi akan mewujudkannya,meskipun setelahnya Rumi akan mendapat bogem mentah bertubi-tubi dari Abang Sandy dan Papi Juna.


"Abang Sandy yang menyuruhku menemuimu. Padahal aku hanya bertanya kapan pernikahanmu akan dilangsungkan," jawab Rumi seraya mengendikkan bahu. Rumi sudah duduk di tepi tempat tidur Vivian yang malam ini terbalut sprei warna pink motif bunga lembut.


"Dia pasti pria yang baik, ya?" Tanya Rumi menatap sedih pada Vivian.


"Ya, sangat baik malahan," jawab Vivian yang kini sudah duduk di bangku kecil yang berada di dekat meja rias.


"Sslamat atas pertunangan kalian kalau begitu," Rumi mengulurkan tangannya ke arah Vivian. Namun wanita itu tak langsung menyambutnya dan malah bersedekap.


"Begitu saja?" Tanya Vivian yang tentu saja langsung membuat Rumi mengernyit bingung.


"Kau tidak marah? Atau mengomel seperti saat kau mengatakan kalau Archie bukan pasangan yang baik untukku?" Lanjut Vivian lagi yang langsung membuat Rumi tertawa kecil.


"Rasanya tak akan ada gunanya aku mengomel, karena kau juga sudah bertunangan tadi,dan hari pernikahan kalian juga sudah ditentukan."


"Kau juga yang bilang kalau aku sudah terlambat dan kehilangan kesempatan untuk bisa menikah denganmu." Rumi ganti tertawa kecut.


"Dan kau hanya akan pasrah?" Tanya Vivian yang benar-benar membuat Rumi tak paham lagi apa maunya wanita di depannya ini.


Tadi siang Rumi sudah memohon dan membujuknya seperti orang gila. Tapi dia sendiri yang mengatakan kalau ia tak akan mundur dari pertunangannya dengan pria lain.


Dan kini, Vivian malah bertanya kenapa Rumi hanya pasrah dan tak berusaha menggagalkan pernikahan Vivian. Jadi maunya Vivian ini apa sebenarnya? Membuat Rumi kesal dan darah tinggi?


"Lalu maumu aku harus bagaimana? Menangis meraung-raung agar kau membatalkan pernikahan yang harinya sudah ditentukan itu?" Tanya Rumi akhirat dengan nada meninggi.


Entah mengapa Rumi mulai kesal pada Vivian sekarang!


"Menangis meraung-raung bukan sikap elegan seorang Rumi. Kau pasti punya cara lain untuk menggagalkan pernikahan seorang wanita, jika memang kau benar-benar mencintainya," ucap Vivian memancing.


"Aku memang mencintaimu! Aku mencintaimu, Vivian! Apa perlu aku membuktikannya?" Jawab Rumi kesal.


"Buktikan!" Tantang Vivian masih bersedekap.


"Ck! Kau sedang memancingku?" Rumi mulia jengah sekarang.


"Kalau iya kenapa kalau tidak kenapa? Bukankah katamu tadi kau mencintaiku? Lalu kenapa kau pasrah saja saat tahu aku akan menikah dengan pria lain?"


"Padahal saat Rumi masih amnesia saja, dia tak pernah mengatakan secara jujur perasaannya, tapi sikapnya sudah begitu posesif pada Vian," cerocos Vivian panjang lebar yang sepertinya memang niat sekali memancing Rumi.


"Aku tidak akan menjadi pria brengsek untuk yang kedua kali," ucap Rumi yang masih duduk tenang di tempatnya.


"Lagipula, seperti yang aku bilang di awal kalau kau sudah bertunangan dengan pria bernama Indra itu, dan pernikahan kalian juga hanya tinggal menghitung hari, jadi aku tak perlu mengacaukannya," imbuh Rumi lagi yang malah membuat Vivian mengangguk-angguk.


"Jadi, kapan hari pernikahanmu?" Tanya Rumi selanjutnya pada Vivian yang hanya berekspresi datar.


"Kau sendiri kapan akan menikah?" Vivian malah balik bertanya pada Rumi.


"Entahlah, belum aku pikirkan," jawab Rumi teragagap. Lagipula, yang akan menikah kan Vivian. Lalu kenapa wanita ini malah balik bertanya pada Rumi?


Dasar aneh!


"Baiklah, berarti aku juga belum tahu kapan aku akan menikah," ujar Vivian yang benar-benar membuat Rumi geregetan. Hanya tinggal mengucapkan hari dan tanggalnya! Apa susahnya memang?


"Vian, aku serius!" Rumi mulai kesal.


"Aku juga serius! Aku tidak bisa menikah jika pria yang akan menikahiku belum tahu kapan ia akan menikah!" Jawab Vivian panjang lebar yang sontak membuat Rumi menganga dan membelalakkan mata.


"Apa maksudnya?" Tanya Rumi yang hanya terdengar seperti gumaman.


"Aku tak jadi bertunangan malam ini, dan aku juga tak jadi menikah dengan Pak Indra. Abang Sandy membatalkan semuanya," jawab Vivian jelas dan tegas yang malah membuat Rumi menjadi shock.


"Apa kau sedang membuatku jantungan?"


.


.


.


😲😲😲😲😲


Melu mangap 😆


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


Alhamdulillah, trio bocil udah membaik. Terima kasih doanya para reader budiman 🙏


__ADS_2