RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
ARCHIE DAN ARSHELL


__ADS_3

"Ayo, Mom! Ayo!" Ajak Archie bersemangat seraya menarik-narik lengan Vivian. Sore ini memang sedang ada acara makan bersama di rumah keluarga Sanjaya, sebagai ungkapan syukur atas kehamilan Ruby.


"Archie duluan, ya! Mom nanti menyusul," ujar Vivian yang masih menunggu Rumi keluar.


"Vian, belum berangkat?" Tanya Kak Alsya yang baru keluar dari dalam rumah seraya menggandeng Sunny.


"Masih nunggu Rumi, Kak," jawab Vivian cepat.


"Oh."


"Archie! Ayo!" Ajak Kak Alsya pada Archie. Kakak ipar Vivian itu kini menggandeng Sunny dan Archie dan berjalan duluan ke rumah keluarga Sanjaya.


Tak berselang lama, Rumi akhirnya keluar dari rumah dan menghampiri Vivian.


"Darimana, sih!" Rengut Vivian yang langsung menggamit lengan Rumim


"Iya maaf!" Jawab Rumi seraya membimbing Vivian perlahan menuju ke rumah Ethan. Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba Vivian berhenti dan istri Rumi itu terlihat meringis.


"Ada apa?" Tanya Rumi khawatir.


"Kontraksi palsu sepertinya. Sebentar!" Vivian menarik nafas panjang beberapa kali sambil merem*s lengan Rumi.


"Sayang!" Rumi meringis karena lengannya diremas kuat oleh Vivian.


"Kamu kok barbar?" Protes Rumi seraya merengut.


"Perut aku sakit!" Vivian berucap dengan galak.


"Lagian, cuma diremas gitu aja mengeluh!" Omel Vivian lagi.


"Iya aku kan kaget!" Kilah Rumi mencari alasan.


"Aduh..." Vivian kembali meringis.


"Kenapa? Kontraksi lagi?" Tanya Rumi sedikit sinis.


"Kayaknya aku mau lahiran, Mi!" Vivian sudah memegang kuat lengan Rumi dan wanita itu duduk begitu saja di halaman depan rumah Ethan.


"Sayang! Jangan lahiran disini!"


"Ayo ke rumah sakit!" Rumi sudah berubah panik sekarang.


"Mami! Papi!" Rumi berteriak tak karuan memanggil semua orang yang sedang berada di halaman belakang kediaman Sanjaya.


"Mami!" Panggil Rumi lagi seraya berusaha membantu Vivian untuk bangkit berdiri.


"Rumi, ada apa? Kenapa berteriak-teriak?" Tanya Mami Lily yang langsung keluar dari dalam rumah disusul oleh anggota keluarga yang lain.


"Vivian mau lahiran! Cepat panggil ambulan!"


"Ethan!" Rumi masih berteriak-teriak panik.

__ADS_1


"Ck! Cepat bawa Vivian ke mobil dan jangan hanya berteriak seperti orang gila begitu, Rumi!" Ethan berdecak dan segera menyiapkan mobil. Sementara Mami Lily dan Aunty Ghea membimbing Vivian agar masuk ke dalam mobil, meninggalkan Rumi yang masih kebingungan sendiri.


"Cepat masuk ke mobil, Rumi!" Perintah Ruby galak pada sang saudara kembar. Padahal Vivian sudah berada di dalam mobil bersama Mami Lily, dan Ethan juga sudah siap di belakang kemudi. Rumi malah masih di luar dan panik tak karuan.


"Aku naik dimana? Perlengkapan bayinya bagaimana? Stroller, baju, selimut, semuanya belum diambil," cecar Rumi kebingungan.


"Naik saja di bagasi!" Teriak Ethan yang malah berkelakar.


"Naik saja sana! Perlengkapan bayinya nanti aku antar bersama Papi!" Ruby yang sudah geregetan segera mendorong Rumi agar masuk ke jok depan yang bersebelahan dengan Ethan.


"Mi, apa bayinya akan lahir di dalam mobil? Kenapa tidak panggil ambulan saja? Kalau bayi Rumi keluar di dalam mobil bagaimana?"


"Rumi, diamlah!" Bentak Ethan galak.


"Bayimu tak mungkin keluar di dalam mobil dan perjalanan ke rumah sakit hanya lima belas menit!"


"Jadi diamlah agar aku fokus mengemudi!" Cecar Ethan masih dengan nada galak. Ethan sudah mulai melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.


"Jangan ngebut, Ethan-"


"Iya, aku paham!" Potong Ethan cepat. Ethan kembali fokus ke jalan di depannya. Sementara Mami Lily dan Vivian yang duduk di jok belakang hanya menahan tawa.


****


"Kau sebaiknya di luar saja!" Saran Ethan pada Rumi yang wajahnya terlihat panik. Ethan hanya khawatir kalau Rumi akan pingsan di dalam ruang bersalin jika memaksa ikut masuk dan menemani Vivian di dalam.


"Aku baik-baik saja! Tidak usah sok-sokan mengaturku!" Gertak Rumi pada Ethan.


"Baiklah, terserah! Silahkan masuk, Dad Rumi!" Ethan membukakan pintu ruang bersalin dan mempersilahkan  Rumi untuk masuk ke dalam.


"Mi!" Rumi berbisik-bisik pada Mami Lily.


"Ada apa?"


"Sini kamu!" Mami Lily menyuruh Rumi untuk berdiri di dekat Vivian dan menggenggam tangan istrinya tersebut.


"Aduh! Aduh!" Rumi meringis karena tangannya yang malah digenggam kuat oleh Vivian hingga mungkin jari-jari Rumi akan patah sebentar lagi.


"Sayang!" Rumi masih terus meringis dan refleks mengejan saat Vivian sedang mengejan  karena mengikuti aba-aba dari dokter.


"Kau tidak perlu ikut mengejan, Rumi! Biar Vian saja yang melakukannya," bisik Mami Lily sedikit geregetan pada sang putra


"Iya ini gerakan refleks, Mi!" Rumi mencari alasan dan ikut mengejan lagi. Mami Lily benar-benar tak tahan untuk tidak tertawa sekarang.


"Eeeeeerrrrrgh!" Rumi mengejan sekuat tenaga.


"Rumi!" Mami Lily memukul lengan Rumi dan meminta sekali lagi pada Rumi agar diam.


"Satu kali lagi, ya, Bu!" Aba-aba dari dokter.


"Ayo, Vian! Satu kali lagi!" Rumi ikut-ikutan memberikan aba-aba, sebelum kemudian pria itu kembali mengejan, dan di detik berikutnya suara tangis bayi laki-laki langsung terdengar menggema di dalam ruang bersalin. Ucapan syukur langsung terucap dari bibir Mami Lily, Vivian dan juga Rumi tentu saja.

__ADS_1


Rumi mengintip pada bayinya yang sedang dibersihkan dan wajah tampan dari bayi laki-laki mungil itu langsung membuat Rumi merasa jatuh cinta.


Malaikat kecil Rumi dan Vivian yang kedua akhirnya sudah lahir ke dunia.


****


Beberapa minggu kemudian...


"Oweek!" Tangisan Arshell memecah keheningan malam. Vivian buru-buru bangun dan menyusui bayi laki-lakinya tersebut.


"Ck! Pakai botol saja,Vi!" Protes Rumi yang sudah ikut bangun dan sepertinya merasa cemburu melihat bayi Arshell menghisap-hisap payud*ra Vivian.


"Apa, sih!" Vivian memukul lengan Rumi yang hendak melepaskan bibir mungil Arshell dari payud*ra Vivian.


"Itu punyaku! Arshell kasih ASI pakai botol saja!" Ujar Rumi seraya mencebik kekanakan.


"Nanti bingung put*ng!" Vivian mendelik galak pada Rumi.


"Tapi itu punyaku, Vi!" Rumi kembali melayangkan protes.


"Lebay!"


"Aku minta yang kanan kalau begitu!" Rumi tiba-tiba sudah memaksa untuk membuka bra Vivian dan mengeluarkan payudar* kanan Vivian yang menganggur, sebelum Vivian sempat menolak.


"Rumi!" Vivian hanya mampu menggeram, saat kedua payuda*anya sudah dihisap oleh bayi Arshell dan bayi tua Rumi.


Ya, ya, ya!


Ini lah Rumi!


Pada Archie dan Arshell yang jelas-jelas putra kandungnya saja cemburu,  apalagi pada pria lain yang akan mendekati Vivian. Bisa  mencak-mencak tujuh hari tujuh malam!


"Mulai besok Arshell minum ASI-nya pakai botol saja, ya!" Gumam Rumi pada  sang putra di sela-sela pria itu menyusu. Sementara bayi Arshell tak menyahut dan tetap khusyuk menyusu seraya memejamkan matanya.


Arshell be like,


"Ini juga punya Arshell, Dad! Nanti Dad keracunan kalau kebanyakan nyusu pada Mom!"


Dad Rumi be like,


"Arshell itu cuma pinjam. Ini udah milik Dad secara paten dan tak bisa lagi diganggu gugat. Awas saja kalau besok masih nyusu pada Mom! Dad umpetin nyenyennya."


**********TAMAT**********


Terima kasih  sebesar-besarnya untuk semua reader yang sudah setia membaca kisah Rumi dan Vivian sampai tamat.


Terima kasih juga buat yang sudah memberikan like, komen, vote, hadiah, dan dukungan. Mohon maaf kalau masih banyak typo serta kata-kata kasar yang kurang berkenan.


Cerita Rumi aku akhiri sampai disini.


Next kita ketemu sama cerita Melody, Claudia, Aaron,dan Matthew di "Mendadak Jadi Nona Muda"

__ADS_1


Semoga besok udah mulai bisa teratur UP-nya.


Bhay!


__ADS_2