RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
PINDAH


__ADS_3

"Aku akan pindah ke luar kota setelah lulus, karena Papa pindah tempat dinas," Ucap Vivian pada Rumi.


Saat ini, dua sejoli tersebut sedang duduk berdua di sebuah kafe yangbtak jauh dari sekolah Vivian. Ujian kelulusan memang sudah selesai, dan hari ini tadi adalah hari terakhir. Vivian juga tak menyangka kalau Rumi ternyata sudah berada di depan sekolqhnya, saat Vivian keluar.


"Pindah?" Rumi terlihat kaget dan raut wajahnya seketika berubah.


Tentu saja! Vivian juga kaget kemarin.


"Soal hubungan kita...." Vivian bergumam ragu dan Rumi masih diam.


"Kita sudahi saja," Lanjut Vivian masih bergumam dan kini sudah ganti menatap Rumi yang menggeleng samar.


"Apa kau tidak bisa tinggal di kota ini saja, Vi?" Tanya Rumi tiba-tiba seraya menggenggam erat tangan Vivian. Sepertinya Rumi masih enggan berpisah jauh dari Vivian, sama seperti apa yang Vivian rasakan.


"Tapi aku tidak punya keluarga lain di kota ini, Rumi! Aku harus ikut papa dan mama kemanapun mereka pergi kecuali aku sudah menikah-" Vivian tak jadi melanjutkan kalimatnya saat gadis itu menatap ke dalam netra Rumi yang tatapannya tak biasa.


Apa maksudnya?


"Kita menikah saja kalau begitu," Celetuk Rumi tiba-tiba yang tentu saja langsung membuat Vivian kaget. Apa Rumi sedang berkelakar sekarang? Karena kalau iya, kelakar Rumi kali ini benar-benar tak lucu.


"Jangan bercanda, Rumi!" Ucap Vivian yang sedang berusaha menyembunyikan wajah merahnya dari Rumi.


Astaga!


Itu bukan ajakan yang serius dan wajah Vivian kenapa harus memerah begini?


"Aku serius, Vivian!" Sergah Rumi yang tiba-tiba sudah bdrpindah tempat duduk menjadi di samping Vivian. Rumi juga semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Vivian dan mengecupnya dengan serius.


"Aku serius!" Ulang Rumi sekali lagi.


"Ayo kita menikah, Vivian!" Ucap Rumi lagi yang benar-benar membuat Vivian membeku.


"Papa tak akan setuju. Aku bahkan belum lulus SMA," jawab Vivian yang seolah kembali tersadar. Nada bicara gadis itu terdengar tak yakin.


"Nanti aku yang akan bicara pada papamu," Rumi mendekatkan wajahnya ke arah Vivian yang kembali mematung.

__ADS_1


Rumi mau apa?


"Aku akan memintamu secara baik-baik," lanjut Rumi lagi yang wajahnya semakin dekat ke wajah Vivian. Tangan Rumi juga sudah memegang lembut dagu gadis di depannya tersebut, membuat Vivian susah payah menelan ludahnya yang tiba-tiba mengering.


"Rumi," Vivian hanya mamlu bergumam dalam.hati karena lidahnya mendadak terasa kelu untuk berbicara dan wajah Rumi kenapa tampan sekali saat mereka berdekatan seperti ini?


"Kau tidak keberatan, kan?" Rumi seolah sedang meminta izin pada Vivian.


"Keberatan apa?" Vivian akhirnya bisa menjawab pertanyaan Rumi, meskipun suara gadis itu terdengar parau. Vivian sedang grogi sekarang.


"Ini." Telunjuk Rumi menyentuh lembut bibir Vivian, sebelum kemudian telunjuk itu berganti dengan bibir Rumi sendiri.


Vivian memejamkan matanya saat ia merasakan lembutnya bibir Rumi yang sudah mendarat di atas bibirnya. Rasanya benar-benar tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, karena ini kali pertama bibir Vivian dikecup oleh bibir seorang pemuda. Dan itu adalah Rumi.


Vivian masih diam dan sedikit bingung harus membalas kecupan Rumi bagaimana. Vivian masih tak tahu caranya berciuman.


"Kenapa hanya diam?" Tanya Rumi setelah pemuda itu melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Vivian.


"Aku harus bagaimana memangnya?" Tanya Vivian dengan raut polos dan wajah yang sudah semerah tomat yang tentu saja membuat Rumi merasa gemas.


"Kau seharusnya membalasku," ujar Rumi yang hanya membuat Vivian menggeleng-gelengkan kepala.


"Aku juga tidak tahu. Nanti kita pelajari, ya!" Ujar Rumi yang langsung membuat Vivian mengangguk spontan.


"Iya!" Vivian masoh mengangguk-angguk.


"Eh, enggak! Enggak!" Sergah Vivian tiba-tiba yang sepertinya baru connect dengan ajakan Rumi barusan.


"Udah bilang iya tadi. Jawaban kedua nggak dianggap, ya!" Seloroh Rumi yang langsung membuat Vivian merengut.


"Apaan, sih!" Vivian memukul lengan Rumi dan masih merengut.


"Apa? Kan kamu tadi udah bilang iya!" Rumi masih mencari-cari kesempatan.


"Nggak jadi iya! Masa belajar kayak gituan. Kan aneh," rengut Vivian seraya bersedekap.

__ADS_1


"Hmmm, kalau begitu aku saja yang belajar, nanti kamu aku ajari sekalian praktek gimana?" Tawar Rumi yang malah membuat Vivian semakin merengut.


"Dasar mesum!" Vivian kembali memukul lengan Rumi.


"Mesum-mesum begini calon suami kamu, lho!" Jawab Rumi seraya menepuk dadanya.


"Belum tentu juga. Papa kan belum ngasih lampu hijau," jawab Vivian seraya mencibir.


"Nanti aku rayu papa kami biar setuju," celetuk Rumi penuh percaya diri.


"Ck! Nanti kalau kamu kena omel aku nggak mau bantuin."


"Kamu bantu lewat doa saja, Sayang!" Ucap Rumi seraya merangkul Vivian dan mencium pipi gadis itu.


"Rumi!" Wajah Vivian kembali memerah.


"Apa? Nggak ada yang lihat, kok!" Rumi mencium pipi Vivian sekali lagi.


"Rumi, iiih!" Vivian memukul-mukul dada Rumi, dan pemuda itu dengan cepat menahan tangan Vivian lalu kembali mendekatkan wajahnya ke arah Vivian.


"Rumi," gumam Vivian yang suaranya hanya tercekat di tenggorokan. Wajah Rumi semakin dekat dan Vivian refleks memejamkan matanya.


"Aku mau ke toilet. Mau ikut, nggak?" Bisik Rumi di telinga Vivian yang sesaat langsung membuat ekspetasi Vivian menjadi ambyar. Vivian membuka kedua matanya yang langsung membulat dengan lucu.


"Apa? Kamu pikir aku mau ngapain, hah?" Goda Rumi seraya tertawa yang tentu saja langsung membuat Vivian merengut.


"Bersihin ini isi pikiran kamu!" Rumi mengetuk kening Vivian dan pemuda itu langsung bangkit dari duduknya. Rumi menggampiri seorang pelayan kafe untuk bertanya letak toilet, sebelum pemuda itu menghilang ke sudut kafe.


Dasar Rumi usil!


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2