
"Kamu percaya padaku, kan, Vi?"
"Iya, aku percaya,"
"Aku akan melakukannya malam ini, tapi besok aku akan menemui Mama dan Papa kamu, lalu kita akan menikah."
"Rumi kehilangan ingatannya tujuh tahun lalu karena sebuah kasus penganiayaan. Kaki Rumi juga jadi lumpuh, tapi masih ada harapan bagi Rumi untuk nisa berjalan lagi. Hanya saja, Rumi tak pernah mau ikut terapi."
"Jadi tolong kau bujuk Rumi juga agar ia mau ikut terapi dan mulai berjalan lagi. Rumi juga berhak bahagia dan menikah dengan seorang gadis, lalu membangun sebuah rumah tangga."
Seorang gadis?
Seorang gadis dan bukan seorang wanita beranak satu yang pernah menjalin hubungan tak jelas bersama Rumi. Bahkan teman-teman dan keluarga Rumi saja tak ada yang tahu tentang Vivian yang pernah menjadi kekasih Rumi di masa lalu.
"Mbak!" Teguran dari kondektur bus membuyarkan lamunan Vivian.
"Mbak mau kemana?" Tanya kondektur tersebut seraya menyodorkan tiket bus pada Vivian.
"Terminal terakhir, Pak!" Jawab Vivian tergagap. Vivian bahkan baru ingat kalau ia tak membawa sepeser uang pun di sakunya. Hanya ada ponsel satu-satunya yang ia bawa yang berisi barang bukti perselingkuhan Erick dengan maid jal*ng di keluarga Attala. Bagaimana ini?
"Ongkosnya seratus ribu, Mbak!" Ucap kondektur lagi yang tiba-tiba langsung membuat Vivian berlutut di kakinya.
"Pak, saya tidak bawa uang. Tolong jangan turunkan saya sekarang! Anak saya sedang sakit dan saya harus menemuinya," Vivian memohon dengan wajah melas dan mata yang berkaca-kaca.
"Saya punya ponsel. Ponsel saya untuk Bapak saja! Tapi tolong jangan turunkan saya!" Pinta Vivian lagi yang ganti menunjukkan ponselnya pada kondektur.
"Tidak bisa begitu-" kondektur tak melanjutkan kalimatnya saat melihat wajah Vivian yang sedikit memar.
"Mbaknya korban KDRT, ya?" Tanya kondektur tersebut.
"Iya, tadi suami saya hampir membunuh saya hanya karena saya minta uang untuk pulang dan menjenguk anak saya. Jadi saya kabur tanpa membawa apapun. Hanya ada ponsel ini," cerita Vivian seraya menunjukkan ponselnya lagi pada kondektur yang kini merasa iba.
Pak kondektur menghela nafas dan menyodorkan tiket pada Vivian.
"Sebentar, Pak!" Ucap Vivian seraya membongkar ponselnya dan mengeluarkan kartu memori serta simcard dari dalam ponsel. Setelah selesai, Vivian menyodorkan ponsel satu-satunya itu pada Pak kondektur.
__ADS_1
"Nanti saya turun di rumah sakit yang sebelum terminal, ya, Pak!" Pesan Vivian sekali lagi.
"Iya!" Jawab Pak Kondektur sebelum berlalu dari depan Vivian.
Vivi kembali menatap nanar pada jendela di sampingnya dan wanita itu duduk sembari memeluk lutut.
"Mom pulang sebentar lagi, Archie!"
****
Matahari mulai menyusup masuk ke sela-sela jendela di dalam kamar Vivian. Rumi sendiri belum memejamkan matanya barang sedetik pun sejak ia masuk ke kamar ini. Rumi masih berharap Vivian hanya keluar kamar sebentar entah mencari apa atau entah melakukan apa. Tapi hingga pagi menjelang, Vivian tak pernah kembali.
Apa yang sudah Rumi lakukan pada wanita itu?
Seharusnya Rumi percaya pada Vivian!
Seharusnya Rumi mendengarkan penjelasan Vivian dan tidak percaya begitu saja pada ucapan Erick baj*ngan itu!
Rumi mendorong keluar kursi rodanya dari kamar Vivian, saat pria itu tak sengaja berpapasan dengan maid yang baru keluar dari dapur.
"Selamat pagi, Tuan Rumi!" Sapa maid sopan. Mata Rumi memicing saat ia tak sengaja mendapati bercak merah di leher maid itu yang hampir tertutupi oleh kerah bajunya.
Kalimat pembelaan dari Vivian kembali berkelebat di benak Rumi. Pria itu tak menjawab sapaan dari maid yang sepertinya sudah berbohong dan membuat kesaksian palsu. Rumi segera pergi ke satu ruangan yang sejak kemarin tak terpikirkan bagi Rumi untuk memeriksanya.
Bodoh sekali!
Rumi masih memperhatikan layar yang berisi rekaman beberapa CCTV yang ada di rumah. Rekaman yang mengarah ke dapur sedikit aneh karena hanya menampilkan layar putih kosong. Seseorang sepertinya sudah memutar kamera dan mengarahkannya ke tembok.
Rekaman lain menunjukkan saat Erick datang dari arah dapur. Waktunya beberapa menit sebelum Vivian mengetuk pintu kamar Erick, lalu Alsya memergoki Vivian yang sudah berada di dalam kamar Erick.
Berarti Erick memang ke dapur sebelum Vivian ke kamarnya membawa sebuah piring berisi makanan....
Brengsek!
Erick memang sengaja menyuruh Vivian ke kamarnya. Bukan Vivian yang sengaja menggoda Eric!
__ADS_1
Tapi kenapa Vivian mau saja ke kamar Erick? Bukankah Rumi sudah berulang kali mengingatkan wanita itu agar menghindari Erick? Mungkinkah Vivian dan Erick memang...
Berbagai macam dugaan terus berkelebat di kepala Rumi, dan membuat Rumi mengerang karena kepalanya serasa ingin meledak sekarang!
"Rumi! Kau sedang apa disini?" Tegur Mami Lily yang langsung membuat Rumi kaget.
"Hanya sedang memeriksa beberapa rekaman. Ini kenapa CCTV yang mengarah ke dapur hanya terlihat tembok, Mi?" Tanya Rumi seraya menunjuk ke arah CCTV dapur.
"Benarkah? Mami jarang memeriksa karena rumah kita aman-aman saja sejauh ini," ujar Mami Lily seraya memeriksa CCTV dapur yang ditunjuk oleh Rumi.
"Sepertinya sudah diutak-atik seseorang," gumam Mami Lily setelah melihat kejanggalan di CCTV dapur.
"Sebaiknya Mami memperbaikinya karena Rumi sedikit curiga dengan maid di rumah," ujar Rumi sebelum pria itu memutar kursi rodanya dan hendak keluar dari ruangan. Tapi sesaat Rumi ingat pada Vivian yang tiba-tiba menghilang. Rumi kembali lagi dan memeriksa CCTV halaman depan.
"Mami dan Papi pulang jam berapa semalam?" Tanya Rumi yang tangannya masih sibuk memutar rekaman CCTV halaman.
"Lewat tengah malam. Sekitar jam satu atau setengah dua. Mami langsung tidur soalnya," jawab Mami Lily seraya tertawa kecil.
"Vivian tumben tak kelihatan. Kau mengurungnya di kamar? Atau dia belum bangun?" Tanya Mami Lily selanjutnya penuh selidik bersamaan dengan Rumi yang akhirnya menangkap sosok Vivian yang menyelinap dari gerbang, bersamaan dengan mobil Papi Juna yang datang.
Vivian terlihat celingukan dan sepertinya memang berniat kabur secara diam-diam. Kenapa Vivian harus kabur jika memang ia tak bersalah?
"Rumi, Vian kemana?" Tanya Mami Lily sekali lagi pada sang putra yang terlihat melamun.
"Pergi," jawab Rumi singkat seraya menjalankan kursi rodanya keluar dari ruangan meninggalkan Mami Lily.
Vivian seharusnya tak perlu kabur kalau wanita itu memang tak bersalah dan tak pernah melakukan apapun yang dituduhkan Erick dan maid di rumah. Atau jangan-jangan Vivian memang melakukannya?
Hati Rumi mendadak menjadi bimbang sekarang.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.