RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
BERTUBI-TUBI


__ADS_3

Vivian masuk ke area rumah sakit masih mengenakan piyama dan tanpa alas kaki. Hari sudah beranjak pagi dan terang saja penampilan tak wajar Vivian tersebut mengundang perhatian beberapa orang. Tapi Vivian memilih abai, dan Vivian langsung ke pusat informasi untuk bertanya tentang Archie. Semoga Vivian tak salah rumah sakit, karena biasanya memang keluarga Vivian akan ke rumah sakit ini saat berobat. Dan bodohnya Vivian karena tak bertanya pada Abang Sandy rumah sakit tempat Archie dirawat.


"Namanya Archie Rajendra." Ujar Vivian pada petugas di meja informasi.


"Korban kecelakaan yang usianya enam tahun?" Tanya petugas itu memastikan.


"Kecelakaan?" Hati Vivian bagai tersambar petir saat tahu Archie menjadi korban kecelakaan.


"Benar yang itu, Nona?" Tanya petigqs sekali lagi.


"I-iya! Apa dia baik-baik saja?" Tanya Vivian tergagap.


"Masih di ruang ICU karena belum sadarkan diri." Jawab petugas yang langsung membuat tulang-tulang Vivian serasa dilolosi dari sendinya.


"Di ICU?" Gumam Vivian nyaris tanpa suara, bersamaan dengan dua buah brankar yang di dorong melewati meja informasi. Ada Abang Sandy yang mengekori kedua brankar tersebut.


Apa?


Itu brankar siapa?


"Vivian?" Abang Sandy terlihat kaget mendapati sang adik yang sudah berada di rumah sakit tapi dengan penampilan kacau dan hanya mengenakan piyama.


"Abang! Archie kenapa, Bang?" Tanya Vivian tak sabar seraya mengguncang tubuh Abang Sandy yang wajahnya terlihat sembab serta kelelahan.


Abang Sandy tak menjawab sepatah katapun dan langsung memeluk Vivian dengan erat.


"Archie masih kritis," ucap Abang Sandy setelah beberapa saat.


"Tapi papa dan mama," suara Abang Sandy terdengar bergetar. Vivian langsung mengangkat kepalanya dan menatap ke arah wajah sang abang karena ingat pada dua brankar yang tadi diikuti abang Sandy. Kedua pasien di atas brankar ditutupi kain putih yang menandakan kalau itu adalah pasien yang sudah meninggal.


"Papa dan mama kenapa, Bang?" Tanya Vivian yang airmatanya sudah jatuh ke kedua pipinya.


"Papa dan mama sudah pergi, Vi! Kamu yang tabah, ya!" Jawab Abang Sandy lirih yang sesaat langsung membuat Vivian kehilangan pijakannya. Vivian bahkan lupa caranya berdiri dan merasakan sekelilingnya yang mendadak jadi gelap gulita. Vivian tak ingat apa-apa lagi setelahnya.


"Vivian!"


****


"Hoek!" Vivian bangkit berdiri dengan cepat lalu berlari ke dalam kamar mandi di dekat dapur untuk memuntahkan isi perutnya.


"Masih belum sembuh asam lambungnya Vivian?" Tanya Pak Satya pada sang istri.


"Entahlah! Disuruh makan juga susah sekali belakangan ini."


"Yang katanya masakan Mama hambar lah! Tak ada rasa lah! Banyak sekali alasannya," keluh Bu Niar pada sang suami.


"Vita mana, San? Kok belum kelihatan?" Tanya Pak Satya selanjutnya pada Abang Sandy yang hanya menikmati makanannya sejak tadi.


"Nggak tahu, Pa! Tadi masih di kamar mandi-" Abang Sandy belum menyelesaikan kalimatnya saat Vita sudah tiba di ruang makan.

__ADS_1


"Loh, Vivian mana, Mas?" Tanya Kak Vita pada sang suami. Istri Abang Sandy itu tak langsung duduk dinkursi dan malah menanyakan keberadaan Vivian.


"Sedang muntah-muntah di kamar mandi. Sepertinya asam lambungnya kambuh lagi," terang Bu Niar pada sang menantu.


"Mau minta pembalut padahal. Vivianmasih punya stok nggak, ya? Belum belanja bulanan juga," gumam Kak Vita. Biasanya memang semua kebutuhan wanita Vivian dibelikan oleh Kak Vita.


"Coba periksa sendiri di kamar Vivian, Vit!" Ujar Abang Sandy memberikan ide.


"Baiklah!" Kak Vita segera menuju ke kamar Vivian dan membuka lemari kecil di sudut kamar tempat Vivi menyimpan keperluan wanitanya. Namun alangkah terkejutnya Kak Vita saat mendapati tumpukan pembalut yang sepertinya belum tersentuh selama beberapa bulan.


Apa Vivian tak mendapat tamu bulanan, hingga pembalut yang dibelikan Kak Vita masih utuh semua begini?


Berbagai macam pertanyaan masih bercokol di kepala Kak Vita, saat kakak ipar Vivian itu tak sengaja menemukan kardus susu ibu hamil yang disembunyikan di belakang tumpukan pembalut.


Apa?


Susu siapa ini?


"Vit, sudah ketemu?" Tanya Abang Sandy yang sudah ikut masuk ke dalam kamar Vivian. Abang kandung Vivian itu ikut terkejut melihat sang istri yang memegang kotak susu ibu hamil.


"Itu susu siapa, Vit?" Tanya Abang Sandy bingung.


"Aku juga nggak tahu, Mas! Aku nemuin di lemarimya Vivian," jelas Kak Vita.


"Dan pembalut Vivian ada banyak sekali. Masih utuh semua juga. Apa Vivian tidak mendapat tamu bulanan?" Lanjut Kak Vita lagi yang langsung membuat Abang Sandy mematung sesaat.


Vivian tak mendapat tamu bulanan.


"Ma!" Abang Sandy langsung membawa susu ibu hamil tadi ke ruang makan. Vivian sudah kembali melanjutkan makan dan Ibu Niar baru mencuci piring.


"Ada apa, Sandy? Kenapa teriak-teriak?" Tanya Bu Niar heran.


"Ma, Vita menemukan susu ini di lemari Vivian!" Abang Sandy meletakkan kotak susu yadi di atas meja dan Vivian langsung terkejut dan mematung.


"Itu susu ibu hamil, kan?" Tanya Pak Satya memastikan.


"Iya, Pa! Dan Vivian menyimpannya di lemari. Lalu pembalut Vivian juga utuh semua tak ada yang terpakai," lapor Abang Sandy lagi menatap bergantian pada kedua orangtuanya.


"Itu bukan milik Vivian!" Sergah Vivian menutupi kegugupannya.


"Lalu punya siapa, Vian? Ini bungkusnya sudah terbuka juga," tanya Bu Niar penuh selidik.


"Vita, kau masih punya testpack itu, kan?" Tanya Abang Sandy tiba-tiba pada sang istri.


"Iya, masih ada, Mas!"


"Ambilkan dan-"


"Vivian minta maaf, Ma!" Vivian tiba-tiba sudah bangkit dari kursinya dan berlutut di depan Bu Niar.

__ADS_1


"Vivian tak sengaja melakukannya," ucap Vivian lagi yang sudah bercucuran airmata.


Pak Satya menghampiri Vivian dan memaksa gadis itu untuk berdiri.


"Siapa yang menghamilimu, Vivian?" Tanya Pak Satya tegas serata mengguncang pundak Vivian yang kini menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Vivian tidak tahu!" Jawab Vivian berbohong.


Vivian bisa saja berkata jujur dan mengatakan kalau Rumi adalah pelakunya. Lalu setelah itu, Pak Satya dan Abang Sandy akan mencari Rumi dan memaksa pria itu untuk bertanggung jawab.


Rumi saja sudah ingkar janji saat itu, bukankah itu artinya Rumi memang tak pernah mencintai Vivian dan hanya memanfaatkan kepolosan Vivian. Dan jika akhirnya Rumi tetap menikahi Vivian karena keterpaksaan, Vivian hanya akan menjalani rumahbtangga neraka bersama Rumi ke depannya.


Tidak!


Vivian tidak mau!


Vivian akan merawat dan membesarkan bayinya sendiri dan Vivian akan melupakan Rumi untuk selamanya.


Vivian benci pria bernama Rumi itu!


Vivian membencinya!


"Bagaimana kau bisa tidak tahu siapa pria yang sudah menghamilimu, Vivian?" Tanya Abang Sandy dengan raut wajah tak percaya.


"Vivian dijebak dan diberi obat tidur oleh teman-teman," cerita Vivian berdusta.


"Dan saat Vivian bangun-" terbata-bata Vivian mengarang cerita.


"Vivian sudah kehilangan semuanya."


"Vivian minta maaf, Pa!" Isak Vivian yang tubuh langsung dipeluk oleh Kak Vita.


"Maafkan Vivian!" Ulang Vivian lagi yang masih menangis tersedu-sedu.


Pak Satya langsung memijit kepalanya dan Bu Niar sudah terduduk lemas di kursi sembari berurai airmata. Sementara Vivian masih menangis di pelukan Kak Vita.


"Sudah berapa bulan?" Tanya Pak Satya selanjutnya pada Vivian.


"Tiga bulan," jawab Vivian lirih.


"Kita gugurkan saja kalau begitu!"


.


.


.


Cetak miring adalah flashback. Oke, sudah pada hafal.

__ADS_1


Jangan lupa like sementara othor nyari wifi dulu untuk UP berikutnya 😆😆


__ADS_2