RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
SUDAH INGAT?


__ADS_3

Flashback sebelumnya...


"Jadi bagaimana, Mas? Vivian jadi tunangan dengan Pak Indra malam ini?" Tanya Kak Vita memastikan.


"Entahlah, aku bingung, Vit!" Jawab Abang Sandy seraya memijit pelipisnya.


"Bingung kenapa?" Tanya Kak Vita penasaran.


"Aku merasa kalau Vivian mencintai pria lain san bukan Pak Indra," pendapat Abang Sandy menerka-nerka.


"Maksud Mas Sandy, ayah kandungnya Archie?" Tebak Kak Vita.


"Sorot mata Vivian sudah sangat menjelaskannya."


"Aku rasa Vivian selalu menjaga cintanya pada pria bernama Rumi itu sejak dulu hingga sekarang. Jadi jika aku memaksanya untuk menikah dengan Pak Indra-"


"Vivian hanya akan tersiksa dengan perasaannya seumur hidup," ujar Kak Vita menyambung kalimat sang suami.


"Sudah saatnya kita memberikan Vivian kebahagiaan, Mas! Vivian sudah banyak berkorban dan bersedih selama ini." Ujar Kak Vita.


"Ya! Vivian berhak bahagia bersama pria yang ia cintai dan juga mencintainya. Pria yang merupakan ayah kandung Archie." Abang Sandy mengangguk-angguk.


"Tujuh tahun Vivian menunggu pria itu. Jadi ayo kita wujudkan kebahagiaan untuk Vivian!" Abang Sandy tersenyum pada Kak Vita dan pasangan suami istri itu sama-sama mengangguk.


****


"Saya benar-benar minta maaf, Pak Indra. Terserah jika setelah ini Pak Indra mau memutuskan kerjasama kita." Pungkas Abang Sandy setelah menyampaikan niatnya untuk membatalkan lamaran Pak Indra pada Vivian tempo hari. Abang Sandy juga membatalkan acara pertunangan Vivian dan Pak Indra malam ini.


"Sedikit mengecewakan, ya! Padahal aku benar-benar tertarik pada adikmu itu dan berniat menikahinya secepatnya." Ujar Pak Indra yang raut wajahnya menunjukkan kekecewaan.


"Tapi pendapatmu ada benarnya. Vivian memang lebih berhak bahagia bersama ayah kandung Archie," lanjut Pak Indra lagi.


"Kami akan mengembalikan semua yang sudah Pak Indra berikan untuk Vivian-"


"Tidak usah!" Tolak Pak Indra cepat.


"Anggap saja itu hadiah untuk Vivian dan tak usah dikembalikan!" Ujar Pak Indra lagi.


"Aku boleh bertemu Vivian?" Tanya Pak Indra selanjutnya dan Abang Sandy langsung mengangguk. Abang Sandy memanggil Kak Vita agar membawa Vivian ke ruang tamu dan menemui Pak Indra


Vivian terlihat murung dan tatapan matanya kosong. Jiwa dan hati wanita itu sepertinya sedang berada di tempat lain.


"Vi, kenapa murung?" TegurPak Indra yang langsung membuat Vivian tersentak.


"Eh, enggak kok, Pak!" Jawab Vivian tergagap.


"Hanya memikirkan Archie yang belum diantar pulang," lanjut Vivian mencari alasan.


"Oh."


"Mungkin masih kangen berat pada ayahnya," pendapat Pak Indra


"Iya," Vivian hanya tersenyum kaku


"Soal pertunangan kita-"


"Vivian sudah siap, kok, Pak!"potongan Vivian cepat dengan nada bicara seyakin mungkin.


"Yakin siap?" Pak Indra merasa ragu.

__ADS_1


"Jiwa dan hatimu sepertinya sedang berada di tempat lain," lanjut Pak Indra yang langsung membuat Vivian salah tingkah.


Pak Indra tertawa kecil dan meraih kotak cincin di atas meja, lalu memasukkannya ke saku celana.


"Aku membatalkan lamaran dan pertunangan kita, Vivian! Raihlah kebahagiaan bersama pria yang benar-benar kau cinta." Ujar Pak Indra seraya bangkit dari duduknya. Vivian masih ternganga tak percaya karena rekan bisnis Abang Sandy itu yang membatalkan pertunangannya dengan Vivian di detik terakhir.


"Aku langsung pamit, Sandy! Jangan lupa untuk mengirimkan undangan pernikahan Vivian nanti." Pak Indra sudah keluar menuju teras dan Abang Sandy bergegas mengantar.


"Vivian!" Abang Sandy turut memanggil Vivian agar ikut mengantar Pak Indra sekaligus berterima kasih.


"Nanti akan saya kirimkan, Pak! Terima kasih sekali lagi!" Abang Sandy memeluk Pak Indra dengan hangat. Sebelum bergantian dengan Vivian yang masih setengah shock.


"Terima kasih sekali lagi, Pak Indra. Semoga Pak Indra mendapatkan jodoh yang lebih baik," ucap Vivian akhirnya seraya memeluk teman Abang Sandy tersebut.


"Aamiin."


"Aku pamit. Selamat malam!" Pak Indra akhirnya meninggalkan teras rumah Vivian dan segera melaju pergi dengan mobilnya.


Flashback off


****


Rumi masih menatap tak percaya ke arah Vivian yang malah tertawa kecil, seolah merasa senang karena baru saja membuat Rumi nyaris jantungan.


"Jadi, kau benar-benar tak jadi bertunangan malam ini?" Tanya Rumi penuh selidik. Kedua tangan Rumi bahkan sudah merengkuh pundak Vivian sekarang.


"Periksa saja sendiri," Vivian menunjukkan sepuluh jarinya yang masih kosong tanpa ada satupun cincin yang melingkar pada Rumi.


Rumi memperhatikan dengan seksama, sebelum kemudian pria itu bernafas lega. Sementara Vivian malah kembali tertawa kecil.


"Wajahmu sudah pucat tadi," ejek Vivian yang langsung membuat Rumi mendelik ke arahnya.


"Tentu saja tidak!" Jawab Rumi sok pongah. Rumi mendekatkan wajahnya ke arah Vivian yang langsung beringsut mundur.


"Rumi, kau mau apa?" Vivian mengangkat kedua tangannya dan menahan dada Rumi yang semakin dekat. Vivian bisa merasakan degup jantung Rumi sekarang.


"Bukankah sudah pernah sebelumnya? Kenapa masih grogi?" Goda Rumi yang sesaat langkah membuat wajah Vivian memerah.


"Itu-" Vivi tiba-tiba tergelak dan wanita itu lolos dengan cepat dari himpitan Rumi. Tapi sepertinya Vivian lupa, kalau Rumi tak lagi duduk di atas roda, jadi pria itu juga langsung bisa mengejarnya dan menarik tangan Vivian.


"Aauw!" Vivian memekik kecil saat Rumi tiba-tiba sudah mendorongnya hingga jatuh telentang di atas tempat tidur.


"Kau masih mesum!" Vivian memukul dada Rumi yang kini berada di atasnya.


"Ingatanku sudah kembali," Rumi mengingatkan Vivian kembali.


"Semuanya?" Tanya Vivian penuh selidik.


"Tidak juga sebenernya. Hanya saat kejadian aku pulang dari sini malam itu, lalu aku memergoki Ethan dan Ruby sedang di kamar tanpa busana di kamar hotel, lalu aku dan Ethan berkelahi," Rumi menjeda kalimatnya dan mengecup singkat bibir Vivian. Wanita yang berada di bawah Rumi itu tentu saja kaget dan langsung mengerjapkan kedua matanya dengan lucu.


Tapi Rumi lebih suka saat Vivian membulatkan kedua bola mata bermanik hitam tersebut. Terlihat lebih lucu dan menggemaskan.


"Lalu?" Tanya Vivian yang langsung membuat lamunan Rumi menjadi buyar.


"Tadi sampai mana?" Rumi malah balik bertanya.


"Kau berkelahi dengan dokter Ethan," jawab Vivian.


"Ethan belum jadi dokter saat itu! Jadi panggil dia Ethan saja!" Protes Rumi yang langsung membuat Vivian berdecak.

__ADS_1


"Iya, baiklah! Lanjutkan apa saja yang kau ingat!" Perintah Vivian seraya mengusap dada Rumi yang terbalut kemeja warna cokelat muda.


"Ada apa? Kau mau mengusapnya?" Tanya Rumi blak-blakan seraya membuka kancing kemejanya sendiri.


"Apa, sih! Dasar mesum!" Vivian mencegah tangan Rumi agar tak lanjut membuka kancimg kemejanya. Rumi malah tergelak sekarang.


"Aku mau membuat pacar berondongmu cemburu," Goda Rumi lagi yang langsung membuat Vivian berdecak.


"Aku panggil nanti pacar berondongku. Biar kamu tidak bisa-"


"Astaga!" Vivian refleks mengalungkan kedua tangannya di leher Rumi, saat pria yang kini masih mengungkung tubuh Vivian itu malah menggesekkan miliknya yang masih terbalut celana ke pangkal paha Vivian.


Dasar Rumi!


"Tidak bisa apa? Tidak bisa seperti ini?" Rumi menggesekkan ke atas dan ke bawah hingga gaun Vivian sedikit tersingkap.


"Rumi!" Vivian memukul dada dan lengan Rumi.


"Kenapa? Bukankah kau sudah sering melihatnya dan sudah hafal bentuknya?" Goda Rumi dengan seringai nakalnya.


"Kau bilang tidak akan jadi pria brengsek itu kedua kali!" Vivian mengingatkan.


"Bukan pria brengsek namanya, jika kau adalah calon istriku," klaim Rumi seraya menarik kedua tangan Vivian yang masih melingkar di lehernya untuk naik ke atas kepala wanita itu.


"Kau bahkan belum melamarku dan memintaku untuk menjadi istrimu," ujar Vivian mengingatkan Rumi.


"Vivian, Sayang!" Rumi kembali mendekatkan wajahnya ke arah wajah Vivian. Tubuh Rumi juga sudah menindih Vivian sekarang.


"Maukan kau menikah denganku?" Tanya Rumi melanjutkan kalimatnya.


"Jawab ya!" Bisik Rumi sebelum pria itu mengecup bibir Vivian.


"Ya!" Jawab Vivian di sela-sela pagutan Rumi yang menggairahkan.


"Aku mau," ucap Vivian lagi seraya terus membalas pagutan bibir Rumi.


Dua insan yang sedang dimabuk asmara itupun terus berpagutan tanpa henti, mencecap setiap inchi dari bibir pasangan mereka, lalu saling bertukar saliva.


"Ehhhhm!" Vivi sedikit menggeliat saat ciuman bibir Rumi sudah bergerak menuruni lehernya.


Vivian mendongakkan kepalanya dan menekan kepala Rumi yang masih bermain-main di lehernya. Sementara tangan Rumi sudah mengusap kedua gundukan milik Vivian yang terasa kenyal menggiurkan. Lalu bergerak ke bagian tengah dimana ada deretan kancing di sana.


Rumi sudah hampir membuka kancing gaun Vivian bagian atas, saat ketukan di pintu kamar membuat Vivian dan Rumi sama-sama kaget.


"Vivian! Rumi! Bisa keluar sebentar?"


.


.


.


🤣🤣🤣


Halalil dulu, woy!


Nyosor wae!


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2