
Rumi dan Vivian sudah mengenakan kembali pakaian mereka, dan Vivian segera mengantar Rumi ke teras depan. Kedua orang tua Vivian serta Bang Sandy masih belum pulang.
"Aku akan memeriksa keadaan Ruby dulu. Nanti aku kesini lagi untuk bertemu mama dan papamu," janji Rumi yang sudah kembali mengusap wajah Vivian yang sesekali masih menunduk malu.
"Maaf soal tadi, Vi! Tapi aku tak akan lari dari tanggung jawab dan aku akan menjelaskan semuanya pada Papa dan Mama kamu."
"Kamu percaya padaku, kan?" Jedua tangan Rumi sudah menangkup wajah Vivian yang hanya mengangguk-angguk.
"Iya, aku percaya!" Jawab Vivian seraya mengangkat wajahnya dan menatap kedua mata Rumi yang kini menyorotkan kehangatan. Dua remaja itu tersenyum bersama.
"Tapi sepertinya sudahbterlalu malam jika kau bicara pada Mama dan Papa malam ini, Rumi!" Ujar Vivian lagi yang langsung membuat Rumi tampak berpikir.
"Kalian berangkat pagi besok?" Tanya Rumi selanjutnya.
"Siang, setelah jam makan siang," jawab Vivian cepat.
"Aku akan datang pagi-pagi kesini kalai begitu!" Janji Rumi pada Vivian.
"Baiklah! Nanti aku bantu bicara pada Papa. Kita melakukannya bersama-sama tadi, jadi jika Papa marah, seharusnya Papa menarahi kita berdua." Ujar Vivian seraya tertawa kecil.
Rumi ikut tertawa sebelum pemuda itu mengecup kening Vivian cukup lama.
"Aku pamit!" Rumi mengusap lembut pipi Vivian.
"Hati-hati!" Pesan Vivian yang hanya membuat Rumi mengangguk. Rumi masih menggenggam tangan Vivian hingga pemuda itu membuka pintu mobil Ethan.
"Bye!" Vivian melambaikan tangan pada Rumi yang sudah masuk ke dalam mobil.
"Aku akan kembali besok pagi-pagi," janji Rumi sekali lagi dan Vivian hanya mengangguk penuh rasa percaya.
Tentu saja Vivian percaya pada Rumi!
Tak butuh waktu lama, mobil Rumi sudah melaju meninggalkan rumah Vivian dan menuju ke hotel milik keluarga Arthur, tempat berlangsungnya acara perpisahan malam ini.
****
"Kau baru datang, Rumi? Tadi kata Ethan kau sedang menjemput pacarmu. Mana?" Cecar Olivia pada Rumi yang baru toba di kafe.
"Ethan dan Ruby sudah pulang?" Bukannya menjawab pertanyaan Olivia, Rumi malah balik melemparkan pertanyaan pada sepupu Ethan tersebut.
"Mereka masih di atas," jawab Olivia seraya menunjuk ke langit-langit ruangan.
"Ruby mendadak demam tadi," ujar Olivia lagi.
"Kamarnya nomor berapa?" Tanya Rumi lagi pada Olivia.
"333!" Jawab Olivia cepat. Rumi menyunggingkan senyuman tipis.
"Cantik sekali nomornya," gumam Rumi sebelum pemuda itu keluar dari kafe dan setengah berlari menuju ke arah lift yang akan mengantarnya ke kamar 333.
Rumi menyusuri lorong dan bersiul santai sambil sesekali membayangkan wajah manis Vivian serta lesung pipi gadis itu.
Astaga!
Rumi benar-benar sudah tergila-gila pada Vivian.
Rumi sudah tiba di kamar nomor 333 dan pemuda itu memeriksa pintu yang memang tak dikunci oleh Ethan. Tanpa menunggu lagi, Rumi langsung mendorong pintu itu hingga menjeblak terbuka.
"Ethan, Ruby kenapa?" Tanya Rumi santai sebelum kedua bola matanya membelalak seketika karena melihat pemandangan yang ada di dalam kamar.
__ADS_1
Ethan terlihat hanya mengenakan underwear saja dan gaun Ruby terbuka lebar bagian punggungnya.
"Brengsek!" Umpat Rumi yang langsung melesat dengan cepat ke arah Ethan dan menarik tubuh tambun pemuda tersebut.
""Aku menyuruhmu menjaga Ruby! Kenapa kau malah menyentuhnya?" Murka Rumi seraya berteriak pada Ethan.
"Rumi!" Ruby buru-buru melerai Rumi dan Ethan sebelum dua remaja itu baku hantam.
Namun terlambat karena Rumi sudah membanting tubuh Ethan ke atas lantai.
"Ethan!" Terdengar jeritan dari Ruby yang masih berusaha melerai Rumi dan Ethan.
"Rumi, dengarkan dulu penjelasanku!" Ethan berusaha untuk bangun, namun Rumi seperti sudah kesetanan dan pemuda itu terus saja menendang Ethan dan membuat Ethan tak berkutik. Rumi benar-benar marah pada Ethan sekarang karena pemuda ini malah mencari kesempatan dalam kesempitan!
Rumi tadi menyuruh Ethan menjaga Ruby! Bukan menidurinya!
"Rumi, stop!" Ruby sudah berganti posisi dan kini ganti melindungi Ethan yang tak berhenti dipukuli oleh Rumi.
Rumi terpaksa menghentikan pukulanmya pada Ethan karena kini Ruby sedang mendekap erat tubuh setengah telanjang kekasihnya itu.
"Minggir, Ruby!" Gertak Rumi menatap galak pada Ruby. Tangan Rumi bahkan sudah mengepal dengan kuat.
"Dengarkan dulu penjelasanku!" Ruby balik berteriak pada Rumi. Dan saat itulah Olivia ternyata sudah masuk ke dalam kamar dan tentu saja gadis itu langsung kaget melihatnya keadaan teman-temannya dj dalam kamar.
"Ruby! Ini ada apa?" Tanya Olivia bingung.
"Via! Bawa Ruby pergi dari sini!" Bukan Ruby yang menjawab pertanyaan Olivia, melainkan Rumi yang malah memerintah sepupu Ethan tersebut.
"Tidak! Aku tidak mau!" Tolak Ruby keras kepala.
"Ruby, pergilah! Dan jangan membuat ini menjadi rumit! Aku yang akan menjepada Rumi!" Pinta Ethan yang kini sudah telentang tak berdaya di bawah Rumi yang sedang menindihnya.
"Tapi, Ethan!" Ruby sepemasih leraz kepala.
"Pergi saja, Ruby!" Usir Ethan sekali lagi.
"Via! Bawa Ruby pergi dari sini!" Perintah Ethan selanjutnya pada Olivia yang sejak tadi hanya diam mematung.
"Aku tidak mau!" Ruby masih keras kepala, namun Olivia akhirnya berhasil menyeret Ruby keluar.
"Ada seseorang yang mencampurkan obat perangsang ke dalam.minuman Ruby!" Ucap Ethan to the point setelah Ruby dan Olivia pergi serta pintu kamar tertutup kembali.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Rumi menyelidik. Tangan kanan Rumi sudah mengacungkqn sebuah tinjuan yang siap mendarat di wajah chubby Ethan kapan saja.
"Aku menemukan kulit tubuh Ruby memerah dan dia seperti demam. Tapi itu bukan demam larena saat aku memberinya obat penurun deamm iti tak berefek apa-apa," terengah-engah Ethan mencoba memberikan penjelasan pada Rumi yang semakin menatapnya dengan sengit.
"Lalu gelagat Ruby mulai janggal dan aku akhirnya ingat pada artikel yang pernah aku baca tentang obat perangsang." Sambung Ethan menjelaskan pada Rumi.
Penjelasan Ethan sesaat membuat Rumi terdiam dan mencerna kata-kata sahabatnya tersebut. Apa yang terjadi pada Ruby hampir mirip dengan apa yang terjadi pada Rumi sore tadi.
Mungkinkah seseorang juga telah mencampurkan obat perangsang ke dalam minuman Rumi?
Tapi siapa?
"Ini, Rumi! Minumlah dulu sebelum kau menjemput pacarmu!"
Ucapan Arkan yang menyodorkan segelas sirup warna merah pada Rumi tiba-tiba berkelebat di dalam kepala Rumi.
Mungkinkah minuman itu?
__ADS_1
"Aku tak akan kabur, oke! Aku akan bertanggung jawab dan-"
"Menikahi Ruby!" Potong Rumi menyela kalimat Ethan.
Sama persis dengan yang tadi Rumi katakan pada Vivian!
"Kau pikir aku akan mengijinkanmu, Anak manja!" Sergah Rumi bersungut.
Ethan memang manja menurut Rumi karena pemuda ini masih selalu minta uang Dad-nya untuk membeli apapun keperluannya. Tidak seperti Rumi yang kadang membantu di toko demi tambahan uang jajan, Ethan hanya tinggal merengek dan Dad Alvin akan langsung memberikannya segepok uang jajan.
"Aku mencintai Ruby," ucap Ethan penuh kesungguhan.
"Belajarlah mencari uang sendiri sebelum menikahi Ruby kalau begitu!" Gertak Rumi sengit. Sementara Ethan hanya berdecak.
"Kau yakin bukan kau yang memberikan obat setan itu pada Ruby?" Cecar Rumi sekali lagi pada Ethan yang wajahnya sudah lebam dan babak belur akibat perkelahiannya dengan Rumi. Kepala Rumi juga terasa berkunang-kunang sebenarnya karena tertimpa lampu meja tadi.
"Ck! Apa kau masih tak percaya?" Ethan kembali berdecak kesal.
"Lalu menurutmu siapa yang memberikan obat setan itu pada Ruby?"
"Mana aku tahu!" Jawab Ethan emosi.
Mungkinkah Arkan juga yang memberikan pada Ruby? Tapi maksudnya apa?
Rumi bangkit berdiri dengan langkah sempoyongan karena kepalanya yang sudah mulai berdentum sakit.
"Rumi kepalamu berdarah," ucap Ethan seraya mengendikkan dagu ke arah dahi Rumi.
"Aku akan mencari orang brengsek itu," gumam Rumi seraya meraba kepalanya yang basah karena darah. Rumi tak memperhatikan langkahnya hingga ia tak sengaja terpeleset air dari vas bunga dan lututnya langsung jatuh menimpa pecahan kaca di lantai.
"Rumi!" Pekik Ethan yang buru-buru menghampiri Rumi yang kini metasakan sakit luar biasa pada lututnya. Tapi Rumi tak peduli dan pemuda itu bangkit berdiri lagi menahan sakit di lututnya.
Rumi hanya ingin menemui Arkan sekarang dan meminta penjelasan dari teman brengseknya tersebut.
"Kau mau kemana, Rumi?" Tanya Ethan khawatir.
"Mencari orang brengsek yang sudah mencampurkan obat pada minuman Ruby," jawab Rumi seraya menahan geram di hatinya.
"Aku ikut denganmu!" Pinta Ethan cepat.
"Tidak usah!" Cegah Rumi tak kalah cepat.
"Obati saja luka-lukamu itu agar tak infeksi!" Pungkas Rumi seraya berjalan ke arah pintu masih dengan langkah sempoyongan.
Rumi akan memberikan pelajaran pada Arkan!
.
.
.
Maaf kalau nggak nyambung dan ngulang adegan di "Penantian Ruby"
Perkelahian lengkap antara Rumi dan Ethan ada di "Penantian Ruby" bab 4-5. Yang disini hanya aku cuplik dan tidak aku jelaskan mendetail.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1