RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
MALAM PERPISAHAN


__ADS_3

[Gimana acara perpisahan hari ini?] -Rumi-


Vivian baru tiba di rumah setelah menghadiri acara perpisahan di sekolahnya bersama Papa dan Mama, saat pesan dari Rumi masuk ke ponsel gadis tersebut.


[Acaranya lancar. Perpisahan di sekolahmu hari ini juga, kan?] -Vivian-


[Yupz! Yang acara resmi dari sekolah hari ini juga. Ini aku baru sampai rumah] -Rumi-


[Acara resmi? Memang ada acara tak resminya?] - Vivian-


[Ada. Yang khusus buat para siswa saja. Kebetulan ketua OSIS-nya kan orang tajir. Jadi disewain itu satu kafe hotel buat acara senang-senang] -Rumi-


[Wow, keren!] -Vivian


[Besok sore aku jemput, ya?] -Rumi-


[Mau kemana?] -Vivian-


[Ke acara perpisahan. Kamu harus ikut pokoknya!] -Rumi-


[Tapi aku kan bukan siswa di sekolah kamu, Rumi!] -Vivian-


[Nggak masalah! Aku kenal baik sama ketua OSIS-nya, kok! Jadi santai aja!] -Rumi-


[Sekalian aku mau go public-in hubungan kita, dan umumin ke semua orang kalau aku udah punya pacar] -Rumi-


[Berlebihan!] -Vivian-


[Nggaklah! Ngomong-ngomong, orang tua kamu pindahnya masih minggu depan, kan?] -Rumi-


[Rencana begitu] -Vivian-


[Besok aja habis acara perpisahan aku baru ngomong sama kedua orang tua kamu, ya!] -Rumi-


[Terserah. Tapi apa kamu yakin, Rumi!] -Vivian-


[Iya, aku yakin] -Rumi-


[Besok sore aku jemput ke rumah, ya! Bukan di depan gang! Aku mau pamit baik-baik sama Mama dan Papa kamu] -Rumi-


Vivian baru saja akan mengetikkan kalimat penolakan saat pesan dari Rumi kembali masuk ke ponselnya secara berentetan.


[Tidak ada tapi-tapi] -Rumi-


[Besok aku jemput di rumah] -Rumi-


[Aku tak menerima penolakan. Titik!] -Rumi-

__ADS_1


[Tidur, gih! Udah malam! Sampai jumpa besok sore!] -Rumi-


"Ck! Dasar pemaksa!" Gumam Vivian setelah membaca rentetan pesan dari Rumi. Vivian menatap pada beberapa kardus berisi barang-barang miliknya yang sudah tersusun rapi di sudut kamar. Rencana pindahan memang masih minggu depan, tapi Vivian memilih mengemasi barang-barangnya lebih awal saja. Meskipun dalam hati Vivian masih berharap, kalau kardus-kardus itu akan berpindah ke rumah Rumi dan bukan ke rumah baru Mama dan Papa di luar kota.


Vivian berulang kali membayangkan dirinya akan dilamar Rumi, lalu mereka menikah.


Ya ampun! Sepertinya Vivian terlalu banyak berhalusinasi!


Vivian menggeleng-gelengkan dan segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu menarik selimut. Vivian akan pergi ke alam mimpi saja dan memulai mimpi indahnya bersama Rumi.


****


"Rumi!" Panggil Arkan pada Rumi yang baru datang bersama Ruby dan Ethan ke lokasi acara sore ini di kafe yang menyatu dengan salah satu hotel milik keluarga Arthur.


Olivia sebagai ketua OSIS benar-benar tak menyia-nyiakan kesempatan untuk membuat acara yang menghamburkan banyak uang ini. Tapi kalau kamu seorang putri kesayangan dari keluarga yang kaya raya, sepertinya hal ini tak jadi masalah. Seperti itu mungkin pemikiran Olivia yang memang kaya sejak lahir karena merupakan cucu dari dua keluarga yang kaya raya dan hotelnya ada di mana-mana.


Rumi menghampiri Arkan dan melakukan tos dengan pemuda tersebut, serta langsung membaur bersama teman-teman Arkan. Sementara Ruby juga sidah berbaur dengan teman-temannya sesama gadis dan Ethan terlihat mengawasi Ruby dari kejauhan. Pemuda berkacamata itu sepertinya bisa diandalkan sore ini untuk menjaga Ruby, dan Rumi akan fokus pada Vivian yang sebentar lagi akan Rumi jemput.


Rumi melirik jam di arlojinya sebelum kembali ngobrol bersama Arkan dan teman-temannya yang lain.


"Ngomong-ngomong, kamu nggak bawa pacar, Ru?" Tanya seorang teman Rumi.


"Bawalah! Ini baru mau aku jemput," jawab Rumi pamer.


"Ck! Sekarang udah punya pacar, Ru? Kirain pacarmu Ethan," celetuk teman Rumi yang lain yang langsung berhadiah toyoran di kepala dari Rumi.


"Minum dulu, Rumi! Sebelum kau menjemput pacar barumu."


"Aku benar-benar penasaran dengan gadis pilihan seorang Rumi," celetuk Arkan yang langsung disambut oleh gelak tawa dari teman-teman yang lain.


Rumi hanya tertawa kecil dan langsung meneguk hingga tandas, minuman berwarna merah yang tadi disodorkan oleh Arkan.


"Aku akan pergi sekarang!" Pamit Rumi pada teman-temannya. Pemuda itu menghampiri Ruby terlebih dahulu sebelum meninggalkan kafe.


"Aku akan pergi sebentar. Ada Ethan yang menjagamu," pamit Rumi pada sang saudara kembar, seraya mengendikkan dagunya ke arah Ethan yang masih intens mengawasi Ruby.


"Aku bukan Mami! Kenapa pakai acara pamit begini?" Decak Ruby kesal.


"Pergi sana!" Usir Ruby selanjutnya. Rumi ikut-ikutan berdecak dan pemuda tersebut segera berjalan ke arah pintu keluar kafe, saat tiba-tiba Ethan malah menghampirinya.


"Mau kemana?" Tanya Ethan to the point


"Menjemput seseorang," jawab Rumi dengan mata berbinar. Ethan sepertinya langsung paham dengan seseorang tang dimaksud Rumi.


"Kau jaga Ruby dan awasi gadis itu!" Lanjut Rumi memberikan pesan pada Ethan.


"Baiklah! Akan kujaga Ruby dengan sepenuh hati," jawab Ethan lebay.

__ADS_1


"Dasar bucin!" Rumi meninju perut pemuda chubby berkacamata tersebut sebelum lanjut keluar dari kafe. Namun baru beberapa langkah, Rumi berhenti dan menoleh kembali ke arah Ethan.


"Eth! Aku pinjam mobilmu!" Seru Rumi pada Ethan yang hanya tersenyum mengejek. Ethan melemparkan kunci mobilnya ke arah Rumi lalu kembali masuk ke dalam kafe seraya geleng-geleng kepala.


Dasar Ethan!


****


"Besok, Pa?" Tanya Vivian sekali lagi saat Pak Satya memberitahunya kalau acara pindahan mereka dimajukan menjadi besok.


"Iya, Vi! Ini memang mendadak. Tapi kita tetap harus berangkat besok sore karena tiket juga sudah di tangan," jelas Pak Satya pada sang putri.


"Papa harus pergi sekarang dan pamit pada teman-teman dinas. Kamu mau ikut?" Tanya Pak Satya selanjutnya pada Vivian.


"Abang Sandy dan Kak Vita kemana?" Vivian malah balik menanyakan keberadaan abang dan kakak iparnya.


"Mereka sedang pamit pada teman-teman kantor Bang Sandy, Vi!" Jawab Bu Niar yang sudah menyusul ke depan kamar Vivian.


"Vivian ada acara sore ini-"


"Bareng teman-teman kamu?" Bu Nira menyela kalimat sang putri.


"Apa boleh, Pa?" Tanya Vivian meminta izin tanpa menyebut kalau ia akan dijemput oleh Rumi.


Baiklah, ini salah! Tapi Vivian akan pulang cepat nanti.


"Yasudah! Kamu pergi bersama teman-teman kamu saja! Sekalian pamitan!" Ucap Pak Satya seraya mengusap lembut kepala Vivian.


"Pergi naik apa, Vi?" Tanya Bu Niar memastikan.


"Dijemput teman, Ma!" Jawab Vivian sedikit tergagap.


"Papa dan Mama pergi duluan, ya! Biar nggak kemalaman nanti pulangnya. Banyak yang harus dipamiti soalnya," ujar Mama Niar lagj yang hanya membuat Vivian mengangguk. Vivian mencium punggunh tangan Pak Satya dan Bu Niar secara bergantian sebelum kedua orangtuanya tersebut berangkat.


Baru lima menit Pak Satya dan Bu Niar meninggalkan rumah, Rumi sudah tiba di depan rumah Vivian mengendarai mobil warna putih pinjaman dari Ethan.


"Sore,Vivian!"


.


.


.


Bentar, habis ini kayaknya adegan nganu yang di nganu-nganu 🙈


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2