RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
HATI-HATI!


__ADS_3

"Dad! Hentikan papi sekarang!" Pinta Ethan pada Dad Alvin yang masih bisa didengar jelas oleh Rumi.


"Tidak usah dihentikan! Biar saja bocah brengsek itu babak belur dihajar Papi," sergah Rumi seraya menatap tajam pada Ethan yang balik mendelik ke arahnya.


"Apa? Aku mau pulang sekarang," ketus Rumi seraya memutar kursi rodanya dan mencari Vivian.


"Vian!"


"Aku disini!" Sahut Vivian cepat seraya meraih pegangan kursi roda Rumi.


"Kau darimana?" Tanya Rumi penuh selidik.


"Aku di dekatmu sejak tadi! Apa bajuku terlihat melayang saja?" Jawab Vivian yang hampir membuat tawa Rumi meledak. Jika berdiri kegelapan dan Vivian mengenakan gaun putih seperti ini, pasti Vivian juga tak akan kelihatan karena kulitnya yang masuk kategori eksotis.


"Ehem!" Rumi akhirnya hanya berdehem dan tak jadi tertawa. Bisa kege-eran Vivian nanti jika wanita itu tahu Rumi tertawa berkat kelakarnya.


"Kita pulang sekarang!" Ucap Rumi selanjutnya pada Vivian.


"Sekarang? Tidak menunggu Pak Juna dan Bu Lily dulu?" Tanya Vivian yang langsung membuat Rumi berdecak.


"Untuk apa menunggu Papi yang masih sibuk menghajar Arkan? Aku sudah mengantuk! Kita pulang sekarang!" Cerocos Rumi panjang lebar yang nada bicaranya sudah berubah ketus.


"Baiklah!" Jawab Vivian yang akhirnya menurut. Vivian mendorong kursi roda Rumi keluar dari lokasi acara dan langsung menuju ke tempat parkir.


"Kalian mau pulang juga? Mau bareng sekalian?" Tanya Erick yang entah darimana datangnya dan tiba-tiba sudah mendekat ke arah Vivian dan Rumi.


"Bareng kami saja, Rumi! Kami juga mau pulang," Kak Alsya ikut-ikutan memaksa. Kakak sambung Rumi tersebut kini menggendong Sunny yang sepertinya sudah mengantuk.


"Baiklah!" Jawab Rumi akhirnya setelah sedikit menimbang. Tadi saat berangkat, keluarga Attala memang hanya membawa satu kendaraan. Yang ini adalah mobil Erick yang tadi datang belakangan.


Erick membuka pintu mobil dan hendak memindahkan Rumi, saat kemudian pria itu menolak dengan cepat.


"Biar Vian saja!" Ucap Rumi tegas.


Erick mengangkar kedua tangannya dan segera mempersilahkan Vivian untuk memindahkan Rumi. Sementara suami Kak Alsya itu sidah naik dan duduk di belakamg kemudi.


"Kau tidak di belakang saja, Sya! Agar Sunny bisa berbaring. Nanti biar Vian yang duduk di depan," ujar Erick memberikan saran pada Alsya.


"Tidak usah! Aku disini saja!" Tolak Alsya cepat.


Sementara Vivian sudah selesai memindahkan Rumi,dan wanita itu segera memasang sabuk pengaman Rumi.


"Duduk di sebelahku, dan jangan mau jika Erick menyuruhmu duduk di depan!" Perintah Rumi seraya berbisik pada Vivian.


Vivian menatap sejenak pada kedua netra Rumi sebelum kemudian wanita itu mengangguk.

__ADS_1


Setelah menutup pintu, Vivian mengitari mobil dan hendak masuk dari sisi lain mobil saat tiba-tiba Erick susah berdiri dan membukakan pintu mobil untuk Vivian.


"Silahkan!" Ucap Erick dengan nada bicara dan senyuman yang sepertinya dibuat-buat dan lebih mirip seorang playboy. Apa suami Kak Alsya ini memang seorang playboy?


"Terima kasih!" Ucap Vivian tanpa sedikitpun menatap wajah Erick. Vivian langsung masuk dan duduk di sebelah Rumi serta memasang sabuk pengaman.


****


Perjalanan tiga puluh menit naik mobil Erick benar-benar terasa seperti tiga tahun untuk Vivian yang merasa risih dengan tatapan aneh Erick melalui kaca spion mobilnya pada Vivian.


Bukannya Vivian kege-eran, tapi Vivian sangat yakin kalau tatapan mata Erick itu memang tertuju ke arahnya dan Vivian merasa tak nyaman sekarang.


Vivian sudah selesai menurunkan Rumi, dan wanita itu segera mendorong kursi roda Rumi masuk ke dalam kediaman Attala.


"Aku masih dihukum malam ini? Aku sudah boleh tidur di kamarku?" Tanya Vivian penuh harap.


"Tidak!" Jawab Rumi tegas, singkat dan padat.


"Kau tidur lagi di kamarku malam ini!" Lanjut Rumi yang hanya membuat Vivian mendes*h pasrah.


Vivian terus mendorong kursi roda Rumi hingga masuk ke dalam kamar pria itu yang terletak di bawah tangga.


"Tutup pintunya!" Titah Rumi pada Vivian.


Vivian kembali menghampiri Rumi setelah menutup pintu kamar, lalu wanita itu membuka kemeja serta celana Rumi.


"Apa kau berniat membuatku terkena rematik?" Tanya Rumi dengan nada ketus.


"Aku hanya bertanya dan tak perlu ketus begitu!" Sergah Vivian seraya menutup pintu lemari Rumi dengan kasar.


"Kau akan membuat lemariku rusak jika membanting pintunya seperti itu!" Komentar Rumi yang kali ini hanya ditanggapi Vivian dengan decakan. Vivian memakaikan piyama ke tubuh Rumi tanpa berucap sepatah katapun.


"Kau sebaiknya berhati-hati pada Erick jika pria itu ada di rumah!" Pesan Rumi pada Vivian yang sedang mengancingkan piyamanya.


"Kenapa tak memanggilnya Abang? Bukankah dia Abang iparmu?" Bukannya mengiyakan nasehat Rumi, Vivian malah melayangkan protes.


"Dia terlihat menyebalkan," jawab Rumi mencari alasan.


"Kau ingat pesanku barusan, kan?" Tanya Rumi sekali lagi memastikan.


"Iya! Aku akan berhati-hati," Jawab Vivian yang akhirnya sudah selesai mengganti baju Rumi dengan piyama.


"Ngomong-ngomong, aku dengar Dokter Ethan sudah mulai ikut terapi untuk pemulihan kakinya. Kau tidak ikut terapi? Bukankah kau juga masih punya harapan untuk bisa berjalan lagi?" Tanya Vivian mengalihkan bahan pembicaraan.


"Harapan yang hanya beberapa persen itu maksudmu? Maaf aku tak tertarik!" Jawab Rumi ketus.

__ADS_1


"Lagipula, aku sudah membayar lunas gajimu setahun ke depan. Jika aku bisa berjalan sekarang, kau hanya akan makan gaji buta!" Lanjut Rumi lagi seraya menjalankan kursi rodanya mendekat ke arah tempat tidur.


"Yang kemarin itu gaji satu tahun?" Tanya Vivian kaget.


"Tentu saja! Kau pikir gaji satu bulan? Mana ada orang kerja satu bulan gajinya sebesar itu? Memangnya kau siapa? Presiden?" Cecar Rumi mendelik-delik pada Vivian.


"Tapi aku pikir, aku tak akan bekerja selama itu sebagai perawatmu-"


"Jadi kau merasa keberatan sekarang?" Sergah Rumi memotong kalimat Vivian.


"Tidak! Bukan seperti itu! Tapi aku pikir kau akan bisa berjalan beberapa bulan lagi, jadi aku tak perlu menjadi perawatmu selamanya," jelas Vivian yang langsung membuat Rumi berdecak.


"Mami menyuruhmu membujukku agar aku ikut terapi?" Tebak Rumi yang langsung membuat Vivian tergagap.


"Tolong kau bujuk Rumi agar mau ikut terapi, Vi!"


"Rumi masih punya harapan untuk bisa berjalan lagi sebenarnya, hanya saja Rumi selalu menolak ikut terapi dan tak ada yang bisa membujuknya."


"Barangkali Rumi nanti mau mendengarkan jika kau yang membujuk."


"Tidak! Aku benar-benar hanya bertanya tadi," jawab Vivian menutupi rasa gugupnya.


"Kau mau naik ke atas tempat tidur sekarang?" Vivian kembali mengalihkan pembicaraan dan mendekat ke ģarah Rumi.


"Kau belum mengganti gaunmu!" Rumi mengendikkan dagunya ke arah gaun putih Vivian.


"Nanti saja setelah aku memindahkanmu," jawab Vivian cepat.


"Ganti saja sekarang, lalu kau bisa memindahkanku!" Perintah Rumi pada Vivian.


"Ck! Piyamaku masih di kamar," Vivian mencari alasan.


"Ambil saja kalau begitu, sekalian ganti! Lalu kembali kesini, pindahkan aku, dan kau bisa tidur!"Cerocos Rumi panjang lebar.


"Baiklah! Dasar keras kepala!" Gerutu Vivian yang akhirnya melangkah keluar dari kamar Rumi dan menuju ke kamarnya dengan cepat. Namun baru saja Vivian membuka pintu kamar, wanita itu sudah kaget setengah mati karena melihat seseorang yang sudah berada di dalam kamarnya.


Sial!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2