
"Stop!" Vivian memberikan aba-aba pada Rumi agar menghentikan motornya di depan sebuah gang yang terdapat gapura di kiri dan kanannya.
"Rumahmu yang mana?" Tanya Rumi penasaran, karena di sekitar gapura tersebut tidak ada rumah.
"Itu! Yang cat abu-abu!" Vivian menunjuk ke rumah warna abu-abu berjarak sekitar dua ratus meter dari mulut gang.
"Tapi anternya sampai disini saja, biar Papa nggak ceramah," lanjut Vivian seraya meringis.
"Memang kenapa kalau papamu ceramah? Kita akan langsung dinikahkan?" Tanya Rumi cengengesan.
"Sembarangan! Yang ada kamu yang kena ceramah tujuh hari tujuh malam! Papa aku galak!" Jawab Vivian yang entah sedang pamer atau sedang menakut-nakuti Rumi.
"Baiklah kalau begitu. Aku minta nomor ponselmu!" Rumi menyodorkan sebuah pena pada Vivian yang entah ia dapat darimana.
Lagipula, untuk apa orang naik gunung membawa pena?
"Untuk?" Tanya Vivian sok jual mahal.
"Kau menyimpan fotoku di ponselmu, jadi kau harus mengirimkannya. Aku akan mengingatkanmu nanti," tutur Rumi memberikan alasan yang kebetulan tepat sekali. Vivian hanya menghela nafas.
"Baiklah! Tulis dimana?" Tanya Vivian seraya meraih pena yang disodorkan oleh Rumi.
"Disini!" Rumi menggulung lengan jaketnya, lalu menyodorkan tangan putihnya ke hadapan Vivian. Langsung terlihat black and white saat tangan putih Rumi bersanding dengan tangan Vivian yang berkulit gelap
Coklat juga eksotis, kok!
Ejaan cantik kan C-A-N-T-I-K!
Bukan P-U-T-I-H!
Vivi meraih lengan Rumi dan mulai menuliskan nomor ponselnya disana.
"Sudah!" Lapor Vivian seraya mengembalikan pena Rumi.
"Terima kasih," ucap Rumi sembari membenarkan lengan jaketnya.
"Aku langsung pulang kalau begitu. Sekolahmu di SMA 8, kan?" Tanya Rumi selanjutnya. Pemuda itu sudah menyalakan mesin motornya.
"Iya," jawab Vivian singkat dan sedikit mengernyit.
"SMA 8." Rumi terlihat bergumam sambil mengingat-ingat. Aneh
"Ada apa?" Vivian akhirnya tak tahan untuk tak bertanya karena heran saja melihat raut wajah Rumi.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ssdang mengingat-ingat barangkali aku punya teman di SMA 8," jawab Rumi seraya mengul*m senyum.
"Ada memang?" Tanya Vivian lagi merasa kepo.
"Ada. Namanya Vivian!" Jawab Rumi seraya mengusap pipi Vivian yang langsung mematung karena kaget.
Rumi tak berbasa-basi lagi dan segera melajukan motornya meninggalkan Vivian yang masih mematung di tempatnya. Motor Rumi sudah tak terlihat saat tiba-tiba sebuah klakson menyentak lamunan Vivian.
"Vi, kamu sudah pulang? Kok nggak telepon Abang? Tadi pulang sama siapa?" Cecar Abang Sandy yang sudah menghentikan motornya di depan Vivian yang masih mematung.
"Eh, itu, Bang-" Vivian sedikit tergagap.
"Ponsel Vivian mati. Jadi tadi Vivian numpang teman dan diantar sampai sini," jelas Vivian selanjutnya.
"Teman?" Abang Sandy mengernyit dan Vivian kembali salah tingkah.
"Kayaknya teman kamu bukan cewek," tebak Abang Sandy yang langsung membuat Vivian semakin salah tingkah.
__ADS_1
"Itu...Anu,"
"Udah, ayo naik!" Tukas Abang Sandy selanjutnya pada sang adik yang masih salah tingkah. Vivian tak memberikan alasan lagi dan segera naik ke atas motor sang Abang.
"Jangan bilang Papa, ya, Bang!" Pesan Vivian pada Abang Sandy.
"Kenapa memang? Takut Papa marah?" Tebak Abang Sandy.
"Abang Sandy baik, deh!" Rayu Vivian lagi.
"Hmmm, pinter kamu kalau merayu. Persis Kak Vita," gumam Abang Sandy seraya terkekeh.
"Kan Kak Vita yang ngajarin," jawab Vivian seraya terkekeh. Abang Sandy ikut terkekeh dan motor sudah sampai di halaman rumah kedua orang tua Vivian dan Sandy.
****
Vivian baru mengerjakan tugas saat sebuah pesan dari nomor asing masuk ke ponselnya.
[Hai, Manis! Balikin foto aku, dong!]
Vivian mengernyit.
Manis?
Memangnya kucing?
[Siapa, ya? Kenapa panggil manis? Emangnya aku kucing?] -Vivian-
Vivian mengul*m senyum setelah mengirim pesan balasan pada nomor asing yang sebenarnya Vivian juga sudah tahu itu nomor siapa. Vivian segera menyimpan nomor baru tadi sebagai kontak di ponselnya dan memberikan nama Rumi menyebalkan.
[Kamu manis soalnya. Sampai-sampai nggak butuh gula lagi kalau mau bikin es teh manis. Cukup lihatin wajah kamu aja udah langsung manis es tehnya] -Rumi-
[Gombal banget!] -Vivian-
[Iya kamu siapa? Kenapa malah tanya sama aku? Aku kan bukan kamu!] -Vivian-
[Kamu memang bukan aku. Tapi aku maunya cuma kamu. Aku dan kamu jadi kita. Mau, nggak?] -Rumi-
[Mau apa?] -Vivian-
[Polos banget, sih, kamu! Bikin gemes dan pengen nusuk!] -Rumi-
[Hah? Nusuk apa?] -Vivian-
[Nusuk lubang pipi kamu itu. Emang kamu pikir nusuk apa? Pikiranmu tak sepolos wajahmu ternyata] -Rumi-
Wajah Vivian sontak bersemu merah saat membaca pesan penuh gombalan dari Rumi.
[Apa, sih! Dasarnya kamu itu yang mesum!] -Vivian-
[Nih, foto kamu!] -Vivian-
Vivian mengirimkan dua foto Rumi yang masih tersimpan rapi di ponselnya. Wajah pria itu kaku sekali dan enggan tersenyum, padahal saat bertukar pesan, Rumi begitu asyik dan sering melontarkan gombalan recehnya pada Vivian. Dasar pria!
[Yang di galeri ponsel kamu langsung kamu hapus atau masih kamu simpan?] -Rumi-
[Kenapa tanya-tanya] -Vivian-
[Mau memastikan saja kalau fotoku tidak akan kamu salahgunakan.] -Rumi-
Vivian langsung tergelak membaca balasan pesan konyol dari Rumi.
__ADS_1
[Kalau aku pakai buat nakut-nakutin tikus dan kecoa apa termasuk penyalahgunaan?] - Vivian-
[Tentu saja!] -Rumi-
[Lalu yang tidak masuk penyalahgunaan yang bagaimana?] -Vivian-
[Kamu cetak, lalu kamu taruh di bingkai, lalu kamu pajang di atas meja belajar kamu berjejer dengan foto kamu] -Rumi-
Vivian menatap pada foto di meja belajarnya. Foto di atas gunung yang kemarin diambil oleh Rumi, baru Vivian cetak memang dan langsung Vivian pajang sebagai kenang-kenangan kalau Vivian pernah mendaki hingga puncak. Meskipun saat turun Vivian harus digendong oleh Rumi karena kakinya terluka.
[Tahu darimana kalau ada fotoku di meja belajarku?] -Vivian-
[Tahulah! Aku kan ngintipin kamu dari jendela] -Rumi-
Hah?
Vivian buru-buru bangkit dari duduknya untuk memastikan apa Rumi benar-benar ada di balik jendela kamarnya atau tidak. Gadis itu menyibak tirai dan ternyata tidak ada apa-apa.
Ck! Dasar Rumi usil!
[Hahahaha! Pasti langsung nengokin keluar jendela buat nyariin aku] -Rumi-
[Dasar usil!] -Vivian-
[Aku lagi nongkrong di kafe bareng teman] -Rumi-
Rumi mengirimkan foto di dalam sebuah kafe yang cukup ramai. Entah kafe mana Vivian juga tidak tahu. Vivian jarang keluar rumah apalagi nongkrong di kafe dan hang out apalah. Vivian anak rumahan!
[Nggak ngerjain tugas? Ini kan bukan malam minggu] -Vivian-
[Besok tinggal nyontek] -Rumi-
[Dasar! Nanti ujian bagaimana coba? kalau tugasnya nyontek terus?] -Vivian-
[Ujian nyontek juga] -Rumi-
[Ck! Dasar!] -Vivian-
[Ngomong-ngomong, kamu suka nongkrong juga, nggak? Aku jemput mau?] -Rumi-
[Nggak! Aku anak rumahan. Nggak pernah nongkrong atau hang out. Kalau keluar paling sama Papa atau Abang] -Vivian-
[Bagus, dong! Baiknya memang anak gadis itu di rumah, belajar yang rajin. Nanti biar jadi dokter atau guru] -Rumi-
[Mau jadi perawat saja] -Vivian-
[Perawat? Nanti jangan lupa rawat hati aku juga, ya!] -Rumi-
Pipi Vivian kembali bersemu merah membaca pesan terakhir Rumi. Jika kata Rumi wajah Vivian manis, maka bolehkan kalau Vivian mengatakan gombalan Rumi lebih manis lagi dan membuat Vivian diabetes serta ingin muntah pelangi setiap saat?
Tapi ngomong-ngomong, apa Rumi nge-gombal begini hanya pada Vivian? Jangan-jangan Rumi itu buaya yang doyan nggombalin banyak gadis remaja! Wajah Rumi kan termasuk kategori ganteng dan ditunjang dengan penampilan perfect juga.
Ck! Sebaiknya Vivian memang tak perlu banyak berharap!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.