RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
KEMBALILAH!


__ADS_3

"Sudah dapat semua, kan? Kita langsung pulang sekarang, Kak!" Ajak Vivian pada Kak Vita.


Sudah hampir sebulan Vivian berada di kota ini, dan hari ini ia bersama Kak Vita dan Archie sedang belanja kebutuhan bulanan di sebuah swalayan.


"Aku ada janji bertemu teman lamaku di bakery tak jauh dari sini. Ikut sebentar, yuk!" Ajak Kak Vita sedikit memaksa.


"Kak Vita pergi sendiri saja kalau begitu. Vivian dan Archie biar pulang duluan," usul Vivian yang selalu buru-buru pulang saat harus keluar rumah seperti ini. Kak Vita dan Abang Sandy kadang juga heran dengan sikap Vivian tersebut.


"Mom! Archie mau beli roti," rengek Archie saat mendengar Kak Vita menyebut bakery.


"Nanti dibeliin Bunda Vita, ya! Kita pulang duluan,", ujar Vivian memaksa.


"Nggak mau! Archie mau pilih sendiri rotinya! Nanti Bunda nggak tahu Archie mau roti yang mana," rengek Archie keras kepala.


Mirip sekali dengan Rumi!


Ck!


Kenapa Vivian harus mengingat pria itu lagi?


Move on, Vian!


"Udah ayo,Vi! Bentar aja, kok!" Ajak Kak Vita memaksa seraya menarik lengan Vivian.


"Kenapa nggak disuruh main ke rumah saja, sih, Kak?"


"Cio juga udah kelamaan Kak Vita tinggal. Nanti kalau rewel bagaimana?"cecar Vivian mengingatkan sang Kakak ipar.


"Kan ada ayahnya. Stok ASIP-nya juga masih ada," jawab Kak Vita santai.


"Kalau Mas Sandy kewalahan atau Cio rewel pasti juga udah telepon sejak tadi," sambung kakak ipar Vivian tersebut.


"Bakery-nya sebelah mana?" Tanya Vivian saat mereka sudah keluar dari swalayan dan hendak menyeberang jalan.


"Itu! Lily's bakery," jawab Kak Vita seraya menunjuk ke arah Lily's Bakery yang sepertinya adalah cabang baru.


Sial!


Kenapa harus toko kue itu?


Bagaimana kalau Ruby atau Rumi ada di dalam sana?


"Vivian menunggu di luar saja, Kak! Archie nanti pilih roti sama Bunda, ya!" Bujuk Vita pada sang putra.


"Kenapa nggak ikut masuk?" Tanya Kak Vita heran.


"Mmmm, takut kalap, Kak!" Jawab Vivian seraya meringis.


"Ck! Seperti bocah saja!" Kak Vita tertawa renyah.

__ADS_1


"Itu teman aku sudah di dalam. Aku masuk sebentar, ya!" Pamit Kak Vita seraya membuka pintu toko kue. Kakak ipar Vivian itu juga menggandeng Archie dan membawanya masuk ke dalam.


Vivian sendiri memilih untuk duduk di kursi panjang yang ada di depan bakery sembari menunggu urusan Kak Vita selesai. Hampir dua puluh menit menunggu, dan Vivian mulai bosan serta haus.


"Tadi perasaan beli jus buah dari swalayan," gumam Vivian seraya mengorek tas belanjaan di sampingnya demi mencari jus buah kemasan yang tadi dibeli oleh Archie.


Vivian masih fokus mencari saat sebuah teguran membuat jantung Vivian hampir meloncat keluar dari rongganya.


"Vian!"


Vivian mematung mendengar suara itu. Suara dari saudara kembar Rumi, yang pasti sedang mengunjungi toko kuenya ini.


Sial! Sial! Sial!


"Vivian!" Ruby merengkuh kedua pundak Vivian dan tiba-tiba langsung memeluk Vivian tanpa Vivian tahu maksudnya apa.


Ada apa ini?


"Kau kemana saja? Rumi mencarimu dan pria itu nyaris gila," cecar Ruby seraya memindai Vivian dari ujung kepala hongga ujung kaki.


"A-aku minta maaf karena kabur dari rumah waktu itu," ucap Vivian serata tergagap.


"Aku tak ada maksud untuk kabur atau menipu keluargamu. Tapi waktu itu-"


"Kedua orangtuamu meninggal dan putramu sakit," potong Ruby seolah melanjutkan kalimat Vivian.


Mungkin Dokter Marcell yang sudah memberitahu Dokter Ethan dan juga Ruby. Apa itu artinya Rumi juga sudah tahu?


"Aku turut berduka, Vian!" Ucap Ruby lagi seraya meraih tangan Vivian dan mengusapnya sebagai bentuk belasungkawa. Vivian hanya mengangguk samar.


"Kau pindah ke kota ini sekarang?" Tanya Ruby selanjutnya penuh selidik.


"Ti-tidak!" Jawab Vivian tergagap.


"Aku hanya sedang mengunjungi sanak saudara dan aku sudah akan kembali pulang sore ini," lanjut Vivian lagi berdusta.


"Lalu kau tinggal di kota mana? Bisakah kai mampir sebentar ke rumah dan menemui Rumi? Pria itu begitu kacau setelah tahu kebenarannya," pinta Ruby memohon.


"Kebenaran apa?" Tanya Vivian pura-pura tak tahu.


"Soal rekaman kejahatan Abang Erick. Kau yang waktu itu mengirimkan rekamannya ke ponsel Ethan, kan?" Tebak Ruby.


"Bukan!" Sanggah Vita cepat.


"Aku tak tahu-menahu tentang Erick dan kejahatannya," suara Vivian kembali tergagap dan gadis itu tak sedikitpun menatap pada Ruby.


"Jangan bohong, Vian!" Sergah Ruby tegas.


"Kami semua tahu kalau kau sama sekali tak bersalah, dan kau bersih," Ruby kembali menggenggam tangan Vivian.

__ADS_1


"Kembalilah ke rumah dan kembalilah pada Rumi," lanjut Ruby memohon.


"Bukankah Rumi akan segera menikah dengan gadis pilihan keluargamu? Lalu untuk apa aku kembali?" Tanya Vivian menahan perih di hatinya.


Ruby sontak membelalakkan mata dengan pernyataan Vivian barusan.


"Siapa yang bilang begitu?" Tanya Ruby penuh selidik.


"Bu Lily," jawab Vivian lirih.


"Bu Lily memintaku membujuk Rumi agar mau menikah lagi dengan seorang gadis pilihan Bu Lily," sambung Vivian bercerita pada Ruby.


"Mustahil!" Gumam Ruby tak percaya. Wanita itu sudah dengan cepat mengutak-atik ponsel di tangannya dan menghubungi seseorang.


"Mami!"


"Ada apa, Ruby?"


"Apa Mami akan menjodohkan Rumi dengan seorang gadis?" Tanya Ruby to the point.


"Gadis siapa maksudnya? Mami tak ada niat menjodoh-jodohkan Rumi dengan siapapun. Mami akan mendukung gadis manapun yang menjadi pilihan Rumi, asal saudaramu itu mengubah pendiriannya dan mau menikah." Terang Mami Lily yang bisa didengar jelas oleh Vivian karena Ruby memang menyalakan loudspeaker.


"Tapi kata Vivian, Mami pernah meminta Vivian membujuk Rumi agar mau menikah dengan gadis pilihan Mami," tanya Ruby lagi memperjelas semuanya.


"Bukan seperti itu! Mami memamg minta Vivian membujuk Rumi agar mau menikah, tapi denagn gados manapun yang menjadi pilar Rumi dan tak ada acara jodoh-jodohan. Jikapun gadis itu adalah Vivian, Mami sungguh tak keberatan dan pasti akan memberikan restu! Vivian gadis yang baik."


"Ngomong-ngomong, apa kau baru saja bertemu Vivian?"


"Ya! Ruby baru membujuknya agar mau pulang dan menemui Rumi," jawab Ruby seraya menatap pada Vivian yang hanya diam dan tak berucap sepatah katapun.


"Mami boleh bicara padanya?"


"Bicara saja, Mi! Vivian mendengarkan karena Ruby menyalakan loud-" Ruby belum menyelesaikan kalimatnya saat suara seorang bocah kecil yang baru keluar dari toko mengalihkan perhatian Ruby.


"Mom, lihat! Archie beli roti bentuk beruang!"


Ruby menoleh ke arah bocah laki-laki bernama Archie itu dan wanita itu langsung tercengang saat melihat wajah Archie yang lebih mirip fotokopian Rumi.


Apa?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2