
Flashback sebelumnya...
"Aku mau penjelasan!" Ucap Ruby seraya menatap tegas pada Vivian yang kini berdiri di belakang pintu.
"Maaf, aku tak paham maksudmu!" Jawab Vivian tergagap yang tangannya bergegas menutup pintu. Namun terlambat, karena kaki dan tangan Ruby sudah menahannya.
Sial!
Ruby ternyata sama keras kepalanya dengan Rumi! Dasar saudara kembar!
"Vivian, siapa yang datang?" Tanya Abang Sandy yang sudah menyusul ke depan.
"Bukan siapa-siapa, Bang!" Jawab Vivian tergagap yang masih berusaha menutup pintu.
"Mereka siapa?" Tanya Abang Sandy lagi seraya menunjuk ke arah Ruby dan Ethan.
"Mereka-"
"Apa ayah Archie adalah Rumi, Vian?" Ruby bertanya sekali lagi dengan lebih lantang.
"Bukan! Bukankah aku sudah mengatakannya!" Jawab Vivian kesal.
"Jangan berbohong! Wajah Archie sama persis dengan Rumi! Jadi Archie pasti anaknya Rumi!" Sergah Ruby bersikeras.
"Kau pernah menjalin hubungan dengan Rumi sebelumnya?" Ethan ikut-ikutan bertanya.
Vivian masih membisu dan wanita itu sudah tak berusaha lagi untuk menutup pintu.
"Itu hanya masalalu! Dan Rumi juga tak ingat apapun!" jawab Vivian seraya berlinang airmata, sebelum kemudian wanita itu berbalik dan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Ruby, Ethan, serta Abang Sandy.
"Vian!" Ruby hendak menyusul Vivian saat kemudian Abang Sandy menghalangi langkah wanita tersebut.
"Siapa Rumi?" Tanya Abang Sandy menatap penuh selidik pada Ruby dan Ethan.
"Rumi saudara kembarku," jawab Ruby seraya mengeluarkan ponselnya dan mencari satu foto Rumi di sana.
"Wajahnya mirip sekali dengan Archie," lanjut Ruby yang sudah menemukan foto Rumi. Ruby menunjukkan foto tersebut pada Abang Sandy.
Abang kandung Vivian tersebut langsung tertegun.
"Siapa ayah kandung Archie, Bang?" Tanya Ethan akhirnya menyentak keterkejutan Abang Sandy.
"Vivian tak pernah mengatakannya hingga kini," jawab Abang Sandy lirih.
Tentu saja jawaban Abang Sandy itu langsung membuat Ruby dan Ethan saling melempar pandang.
"Apa Rumi adalah pacar Vivian saat mereka SMA?" Tanya Abang Sandy selanjutnya menatap bergantian pada Ruby dan Ethan.
"Rumi tak pernah cerita sebelumnya. Tapi waktu itu Rumi memang mengatakan kalau ia punya seorang pacar beda sekolah." Tutur Ruby bercerita.
"Rumi menjadi korban penganiayaan saat malam perpisahan, lalu setelahnya Rumi koma selama sepuluh hari. Dan saat pria itu bangun, dia tak pernah ingat dengan dirinya sendiri serta masa lalunya," ujar Ethan menyambung cerita Ruby.
Abang Sandy tak menjawab sepatah katapun, dan abang kandung Vivian itu kembali menatap pada foto Rumi yang memang mirip sekali dengan Archie.
__ADS_1
"Vivian mengatakan kalau dia dijebak oleh teman-temannya saat malam perpisahan dan dia bilang tidak tahu menahu tentang ayahnya Archie." Abang Sandy menghela nafas dan mengembalikan ponsel Ruby.
"Mungkin Vivian mengira Rumi meninggalkannya, padahal waktu itu Rumi memang sedang koma dan saat sadar Rumi juga tak ingat apa-apa," Ruby mulai menerka-nerka.
"Kemarin selama beberapa bulan Vivian menjadi perawat Rumi, wanita itu juga tak mengatakan apapun tentang masa lalu mereka-"
"Jadi pria lumpuh yang selama ini dirawat oleh Vivian?" Abang Sandy menotong kalimat Ruby dan menatap tak percaya pada Ruby dan Ethan.
"Itu adalah Rumi, Bang!" Jawab Ethan cepat.
"Rumi sepertinya juga menyukai Vivian, meskipun ia tak ingat apapun tentang Vivian. Dan kami pikir Vivian juga menyukai Rumi. Vivian pergi karena berpikir Rumi akan dijodohkan dengan gadis lain. Padahal itu sama sekali tidak benar."
Abang Sandy tak berucap sepatah katapun dan bergegas masuk ke dalam menyusul Vivian.
"Vivian!" Tegur Abang Sandy pada Vivian yang langsung memalingkan wajahnya.
"Apa benar ayah Archie adalah-"
"Rumi!" Vivian memotong dengan cepat.
"Jadi benar?" Abang Sandy memastikan sekali lagi.
"Maaf, Abang!" Ucap Vivian lirih.
"Rumi mengatakan pada Vivian malam itu, kalau ia akan datang je rumah keesokan paginya, agar Vivian tidak ikut Papa dan Mama pindah. Rumi ingin menikahi Vivian. Tapi Rumi tak pernah datang hari itu." Cerita Vivian yang sudah berlinang airmata. Ruby dan Ethan sudah ikut masuk dan mendengarkan cerita Vivian.
"Vivian marah pada Rumi karena Vivian pikir, dia sudah mengkhianati Vivian. Tapi saat Vivian tahu yang sebenarnya terjadi pada Rumi-"
"Karena aku pikir Rumi akan menikahi dengan gadis lain! Jadi-" Vivian semakin sesenggukan.
"Jadi aku tak mau mengacaukan semuanya. Dan aku memilih untuk merawat Rumi sepenuh hati saja selagi aku punya kesempatan dan Rumi belum menjadi milik gadis lain," Vivian menyeka airmatanya dengan kasar.
"Rumi menyukaimu," ucap Ethan penuh kesungguhan.
"Kau tidak melihat bagaimana Rumi selalu menatapmu, seolah dunianya hanya tertuju kepadamu?" Ujar Ethan lagi yang hanya membuat Vivian menggeleng samar.
"Rumi sudah membenciku sekarang. Dia tidak percaya-"
"Tidak seperti itu, Vian!" Sergah Ruby cepat.
"Itu hanya salah paham, dan Rumi sudah tahu kebenarannya! Sekarang Rumi menyesal dan dia terus mencari keberadaanmu!" Jelas Ruby yang sudah mendekat ke arah Vivian yang masih sesenggukan.
"Kembalilah dan bawa Archie bertemu Dad-nya, Vi!"
"Rumi akan hancur jika kau tak kembali," pinta Ruby memohon pada Vivian. Ethan ikut mendekat pada Vivian dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Teman satu jiwa Rumi itu ikut memohon pada Vivian yang kini merasa bimbang.
Vivian menatap pada Abang Sandy yang sejak tadi hanya diam, seolah sedang minta pendapat dan persetujuan.
"Pergilah!" Ucap Abang Sandy lirih.
"Bawa Archie bertemu dad-nya!"
Flashback off
__ADS_1
****
Ruby mendorong kursi roda Rumi keluar dari kamar, saat Rumi melihat Vivian yang sudah berdiri di ruang tengah seraya merangkul Archie yang terlihat kebingungan.
"Mom!" Archie bersembunyi ke dalam pelukan Vivian yang sudah bersimpuh dan menyamakan posisinya dengan sang putra.
"Itu Archie, Rumi!"
"Putra Vivian dan putramu juga," jelas Ruby pada sang saudara kembar yang masih menatap lekat pada Vivian dan Archie yang tetap berada di tempatnya.
"Putraku?" Tanya Rumi yang terus mebatap wajah Archie yang masih kebingungan. Bocah itu terlihat seperti....
Seperti Rumi dua puluh tahun yang lalu. Rumi yang usil dan suka membuat Ruby menangis.
"Dia putra kandungku, kan?" Tanya Rumi memastikan.
"Iya!"
"Peluk dia, Rumi!" Jawab Ruby dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ruby hendak mendorong kursi roda Rumi, saat tiba-tiba Rumi mencegahnya.
"Aku akan memeluknya dan menemuinya," Rumi menurunkan kedua kakinya dari pijakan kursi roda. Vivi sudah bangkit berdiri, dan Ethan bersiap membantu Rumi.
"Jangan bergerak dan tetap di tempatmu, Eth!" Gertak Rumi galak pada Ethan yang hendak membantunya.
"Jangan ada yang membantuku!" Rumi berisaha untuk bangkit berdiri.
"Aku bisa melakukannya," Rumi mulai terlihat kesulitan dan Ethan bergerak lagi.
"Aku bilang berhenti dan jangan membantuku!" gertak Rumi lagi pada Ethan masih dengan nada galaknya.
"Diam di tempatmu!" Ruby memperingatkan sang suami seraya mendelik tajam dan Ethan hanya mengangkat kedua tangannya.
"Aku akan memeluk anakku," Gumam Rumi lagi yang akhirnya berhasil bangkit dari kursi rodanya.
Rumi melangkah perlahan, dan tatapan semua orang yang berada di ruangan tersebut tak lepas dari Rumi. Semuanya seolah menahan nafas menunggu langkah Rumi yang selanjutnya.
"Archie, Sayang!" Rumi menapakkan langkah keduanya. Pria itu sudah semakin dekat ke arah Vivian dan Archie.
"Anakku!" Rumi hampir jatuh ke depan saat Vivian sudah dengan cepat menahan tubuh pria itu. Tatapan Vivian dan Rumi kini saling beradu, bersamaan dengan kelebat masa lalu delapan tahun silam, yang kini menari-nari di kepala Rumi.
"Ngomong-ngomong, namaku Vivian. Siapa nama kamu?"
"Rumi!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1