RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
KEINGINAN RUMI


__ADS_3

"Bye, Archie Sayang! Jangan nakal, ya!"


Rumi yang baru bangun, sedikit memicingkan mata saat samar-samar mendengar Vivian yang sepertinya sedang menelepon seseorang.


Archie? Sayang?


Cih! Seperti remaja baru kasmaran saja!


"Bye, Sayang! Mmmuaaaah!" Vivian terlihat memberikan kecupan untuk layar ponselnya.


Ck! Sedang video call rupanya!.


Apa Vivian memang sengaja ingin mengejek Rumi yang tak pernah video call dengan siapapun? Dasar!


"Rumi, kau sudah bangun?" Tegur Vivian yang langsung membuat Rumi kembali memejamkan matanya. Secara pura-pura tentu saja! Canggung sekali kalau Rumi ketahuan baru saja menguping obrolan mesra Vivian dengan Archie berondong tak tahu diri yang memacari wanita dewasa itu.


Apa istimewanya Archie memang? Dia kaya? Dia tampan?


Kalau dia kaya, pasti Vivian tak perlu bekerja sebagai perawat demi uang operasi keponakannya. Archie tentu akan memberikan uang secara cuma-cuma kalau memang pria itu kaya.


Baiklah!


Fix, berarti Archie itu pria yang tidak kaya dan juga pelit. Skor 1-0 karena Rumi lebih kaya dari Archie. Dan lebih dermawan tentu saja!


Jangan tanya berapa banyak uang Rumi di rekening. Rumi sudah bekerja selama hampir 7 tahun sejak ia bangun dari koma hingga detik ini, dan Rumi bukan pria yang doyan menghambur-hamburkan uang. Jadi uang Rumi saat ini masih penuh di rekening dan hanya berkurang sedikit saat Rumi membayar gaji Vivian kemarin.


Kau kalah 1-0, Archie!


Lalu soal ketampanan, setampan apa memangnya Archie itu? Rumi yakin kalau wajah Rumi pasti lebih tampan dari Archie. Apa Rumi perlu menyewa orang untuk menyelidiki wajah Archie menyebalkan itu?


Ah, tidak perlu!


Rumi sangat yakin kalau dirinya itu pasti lebih tampan dari Archie, andai Rumi juga bisa berdiri tegak....


Rumi sesaat ingat pada Ethan yang kini sudah bisa berjalan dengan saru tongkat saja. Pria menyebalkan itu bahkan sudah kembali praktek di rumah sakit, setelah sebulan lebih mengambil cuti dan sibuk terapi. Apalagi beberapa minggu lagi acara resepsi pernikahan Ruby dan Ethan akan digelar. Ethan pasti sudah bisa berjalan normal saat resepsi pernikahan yang digadang-gadang akan menjadi yang termewah sepanjang abad itu digelar.


Cih! Termewah sepanjang abad?

__ADS_1


Rumi akan membuat pesta resepsi yang lebih mewah nanti saat ia menikah dengan gadis yang ia cintai.


Tapi gadis mana yang mau menikahi pria lumpuh sejenis Rumi? Semua wanita pastikan menginginkan calon suami yang sempurna dan bukan pria yang duduk di atas kursi roda.


Termasuk Vivian!


"Rumi!" Panggilan Vivian yang sepertinya sedang memastikan apa Rumi sudah bangun atau belum membuyarkan semua lamunan Rumi.


"Kau masih tidur, ya? Aku pikir sudah bangun tadi," Vivian bergumam sendiri dan bibir Rumi mendadak terasa berkedut karena Rumi ingin tersenyum sekarang. Vivian mengira Rumi masih tidur.


Rumi sedikit mengintip saat merasakan Vivian yang menjauh dari tempat tidurnya. Wanita itu terlihat mondar-mandir di kamar Rumi, lalu berjalan ke jendela dan membuka tirai jendela besar tersebut. Cahaya matahari pagi langsung menerobos masuk dan membuat Rumi menjadi silau.


Sial! Sepertinya Vivian sengaja!


"Vian!" Rumi berdecak dan akan pura-pura marah karena Vivian mengganggu tidurnya.


"Kau sudah bangun? Selamat pagi!"


"Kau kesiangan hari ini," cerocos Vivian panjang lebar yang langsung membuat Rumi berdecak. Memangnya sekarang jam berapa?


Pas sekali dengan rambut Vivian yang selalu terikat rapi di belakang qla ekor kuda. Padahal kalau digerai akan menambah kecantikan perawat Rumi tersebut.


Eh!


"Sekarang sudah hampir jam tujuh, Rumi!" Jawaban Vivian kembali menyentak lamunan Rumi.


Sial!


Rumi kenapa sebenarnya?


Belakangan ini Rumi mudah sekali terpesona saat memandangi Vivian. Padahal sebelum-belumnya tak begini.


"Kau terlihat sudah rapi," komentar Rumi setelah memindai penampilan Vivian dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Kau akan marah, jika saat kau bangun aku masih memakai piyama dan belum mandi," kekeh Vivian seraya menyodorkan segelas air putih untuk Rumi. Senyuman manis Vivian seolah sudah merasuk ke dalam air minum Rumi karena kini air putih tawar ini rasanya jadi manis.


Ya ampun!

__ADS_1


Rumi ini kenapa sebenarnya?


"Mandi atau sarapan?" Tanya Vivian memberikan pilihan seperti biasa.


"Sarapan. Kau belum sarapan, kan?" Tanya Rumi memastikan.


"Kebetulan sudah tadi. Bukankah aku masih harus menyuapimu? Jadi aku sengaja sarapan duluan-"


"Besok lagi, kau harus sarapan bersamaku!" Potong Rumi menyela kalimat Vivian.


"Harus?" Kedua alis Vivian saling bertaut.


"Iya, harus! Wajib! Kau tahu artinya, kan?" Sahut Rumi yang nada bicaranya sudah berubah ketus. Bukan berarti Rumi benci pada Vivian, tapi Rumi suka saja bicara ketus pada wanita itu dan membuat bibir mungilnya merengut.


"Tapi akan sangat repot jika aku harus makan sendiri sembari menyuapimu," Vivian mencari alasan.


"Bagian mana yang repot? Ambil saja dua porsi dalam satu piring, lalu kau bisa makan sambil menyuapiku berselang-seling!" Jawab Rumi enteng.


"Maksudmu kita makan satu piring?" Kedua alis Vivian kembali bertaut.


"Ya! Kenapa? Kau merasa jijik dan tidak suka?" Cecar Rumi yang langsung membuat raut wajah Vivian berubah aneh.


"Aku tak bilang begitu! Aku kan hanya bertanya!" Kilah Vivian mencari pembenaran. Rumi langsung mengangkat tangan dan memberikan kode agar Vivian berhenti mengajaknya berdebat.


"Sudah cukup berdebatnya! Mana sarapanku? Kau mau membuatku pingsan karena kelaparan?" Gertak Rumi yang langsung membuat Vivian bergegas mengambilkan sarapan Rumi. Vivian duduk di depan Rumi dan mulai menyuapi pria itu dengan telaten.


Dasar Rumi manja!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2