
Vivian memejamkan kedua matanya saat bibir Rumi mendarat dengan lembut di atas bibirnya. Jika yang sebelumnya Rumi hanya mengecup bagian luar saja, kali ini Rumi sedikit agresif dan lidahnya mulai menggelitik bibir Vivian, hingga gadis itu merasa geli dan merenggangkan sedikit katupan bibirnya.
Rumi tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan lidahnya langsung menyusup masuk ke dalam mulut Vivian, lalu mengabsen setiap gigi gadis itu dan mencecap dengan teliti setiap inchinya. Nafas Vivian sedikit tersengal karena ini memang baru kali pertama, Vivian berpagutan bersama lawan jenis. Tidak seperti Rumi yang sepertinya sudah sangat ahli.
Apa Rumi memang sudah biasa mencium gadis-gadis lain sebelum Vivian?
"Uhuuk!" Vivian terbatuk karena tersedak ludahnya sendiri saat membayangkan Rumi yang mungkin sudah pernah mencium bibir banyak gadis dengan bibirnya yang menawan.
"Ada apa? Aku terlalu kasar?" Tanya Rumi seraya menangkup wajah Vivian yang masih terengah.
"Kau sering melakukannya sebelum ini?" Tebak Vivian yang lebih ke arah menuduh sebenarnya.
"Melakukannya?" Kedua alis tebal Rumi saling bertaut.
"Jika maksudmu bersama gadis lain, aku bersumpah kalau kau gadis yang pertama aku cium dan bertukar saliva denganku," Beber Rumi membuat pengakuan. Wajah Vivian seketika bersemu merah karena kelebat ciumannya bersama Rumi tadi kembali melintas di kepalanya.
Sial!
"Tapi kau begitu ahli dan..." Vivian berpikir beberapa saat sebelum melanjutkan kalimatnya dan Rumi masih diam menyimak.
"Dan kau sepertinya pengalaman sekali," lanjut Vivian akhirnya setelah menemukan kata yang pas.
Rumi tertawa kecil.
"Aku belajar." Tangan kanan Rumi kembali menangkup wajah Vivian.
"Belajar cara mencium?" Gumam Vivian merasa tak percaya sekaligus heran.
"Ya! Lalu aku praktek sama kamu," Rumi melepaskan kemejanya dan membuang kemeja motif garis-garis tersebut secara serampangan.
"Kenapa dilepas?" Tanya Vivian bergumam.
"Lebih nyaman jika melakukannya tanpa baju atau penghalang." Otak mesum Rumi sepertinya sudah kembali sekarang dan malah bertambah dua kali lipat setelah ciumannya bersama Vivian tadi.
"Melakukannya?" Vivian bergumam dan masih menatap Rumi dengan bingung saat tiba-tiba bibir Rumi sudah kembali mendarat di atas bibirnya. Ciuman Rumi kali ini lebih dalam dan mendesak. Vivian masih mencoba mengimbangi pergerakan bibir dan lidah Rumi, saat tiba-tiba tangan Rumi sudah menurunkan ritsleting baju terusan yang dikenakan oleh Vivian dan membukanya dengan sedikit kasar.
"Emh!" Vivian melenguh saat ciuman Rumi sudah turun ke lehernya serta tangan Rumi yang sudah aktif menyusup ke dalam bra Vivian dan menangkup gundukan kenyal milik Vivian yang bentuknya masih dalam kategori imut.
"Ouuuh!" Vivian menggelinjang saat sensasi seperti sengatan listrik merasuk ke dalam sel sel tubuhnya hanya karena Rumi memegang ujung bukit kembarnya.
Rumi merebahkan tubuh Vivian dengan lembut ke atas tempat tidur, lalu pemuda itu melepaskan celana jeans serta underwear-nya. Kini tubuh Rumi benar-benar sudah naked, sedangkan tubuh Vivian hanya tinggal terbalut underwear di bagian bawah pusat sebatas pangkal paha.
"Vi," panggil Rumi lembut seraya jemarinya mengusap wajah manis Vivian, lalu berhenti sejenak di pipi gadis tersebut. Vivian hanya tersenyum tipis, namun lesung di pipi gadis itu tetap terbentuk dan Rumi segera mengecupnya dengan lembut.
"Kau percaya padaku, kan?" Tanya Rumi sekali lagi.
"Iya," jawab Vivian parau karena gadis itu yang mendadak grogi setelah Rumi menindih dan mendekapnya.
"Aku akan melakukannya sekarang, tapi setelahnya aku akan menemui Papa dan Mamamu, lalu kita akan menikah." Ucapan Rumi terdengar bersungguh-sungguh, dan Vivian hanya mengangguk-angguk.
"Kau masih demam," gumam Vivian yang tangannya sudah berada di punggung Rumi dan mengusapnya berulang kali. Rumi terlihat sangat nyaman dan menikmati, saat Vivian melakukannya.
__ADS_1
"Hanya ini," jari Rumi sudah berada di atas underwear Vivian dan mengusap-usap lembut milik Vivian yang berada di pangkal paha tersebut.
"Yang bisa membuat demamku hilang, Vi! Aku menginginkannya," sambung Rumi lagi yang kini jemarinya sudah ganti menyusup ke dalam underwear Vivian dan menyentuh secara langsung milik Vivian yang sebelumnya belum pernah terjamah pria manapun.
"Rumi!" Gelenyar serta perasaan geli yang aneh mulai merambati sendi-sendi tubuh Vivian serta membuat darah Vivian berdesir tak karuan. Vivian menggeliat, saat Rumi menarik turun penutup terakhir tubuhnya tersebut dan memainkan jemarinya semakin intens di dalam milik Vivian yang kini tak berpenghalang.
"Rumi, oouuh!" Tubuh Vivian menggelinjang saat Rumi memainkan jemarinya di bagian bawah tubuh Vivian dan lidahnya bermain-main dengan puncak bukit kembar Vivian. Rumi memejamkan mata dan membayangkan adegan dalam film yang sebelumnya ia tonton. Rumi hanya penasaran waktu itu dan siapa menyangka kalau kini Rumi malah praktek bersama Vivian sebelum mereka sah menikah.
Ini salah!
Tidak, ini memang salah!
Tapi persetan! Karena Rumi sedang tak bisa menahan hasratnya sekarang.
Rumi akan menikahi Vivian besok.
Ya, Rumi akan langsung menikahi Vivian besok dan jika kedua orang tua Vivian menolak, Rumi akan berkata jujur kalau ia sudah menyentuh Vivian. Maka orang tua Vivian tak akan menolak Rumi.
Tak apa jika nantinya Rumi mendapat bogem mentah dari Papanya Vivian dan dari Papi Juna, karena yang terpenting malam ini adalah Rumi ingin menyentuh Vivian dan menuntaskan hasratnya yang sudah sangat membuncah. Dada dan kepala Rumi mungkin akan meledak, jika Rumi tak mendapat kepuasan bersama Vivi malam ini.
Bless!
"Aaaarrrrgh!" Vivian memekik kecil dan mata gadis itu terlihat berkaca-kaca setelah Rumi berhasil menembus keperawanannya.
Ya, Rumi sudah sukses menjadi seorang pria brengsek sekarang!
"Maaf, Sayang!" Ucap Rumi lembut seraya menatap pada kedua netra Vivian yang masih berkaca-kaca. Rumi mengusap lembut kedua mata kekasihnya tersebut, sedangkan Vivian hanya diam dan balik menatap pada Rumi.
"Ini tak akan lama," ucap Rumi lagi yang sudah mulai bergerak. Vivian meringis dan rasa perih di pangkal pahanya malah semakin menyiksa.
"Ouh!" Rumi melenguh di antara pagutannya bersama Vivian karena ini kali pertama Rumi merasakan sebuah kenikmatan yang tak bisa dijabarkan oleh kata-kata. Rumi terus bergerak dan merasakan miliknya yang semakin nyaman keluar masuk di dalam milik Vivian yang masih sangat sempit dan menggigit.
Tak ada lagi raut kesakitan di wajah Vivian dan gadis itu masih terus membalas pagutan Rumi.
"Jangan menahannya," ucap Rumi lembut pada Vivian yang sepertinya merasa malu-malu untuk mendes*h nikmat. Rumi saja sudah melakukannya berulang-ulang.
Wajah Vivian bersemu merah dan gadis itu hanya tersenyum malu saat gerakan Rumi semakin intens.
"Ouuuh! Ini enak sekali, Vi! Aku benar-benar akan menikahimu besok agar kita bisa melakukannya setiap hari," ucap Rumi yang semakin menikmati pergelutannya bersama Vivian.
Rumi masih terus bergerak di atas Vivian saat tiba-tiba dering ponsel Rumi membuat Vivian dan Rumi sama-sama tersentak kaget.
Brengsek!
"Dimana ponselmu?" Tanya Vivian seraya berusaha meraih celana jeans Rumi. Sementara Rumi masih terus bergerak di atas Vivian.
"Saku depan," jawab Rumi yang nafasnya sudah mulai terengah. Peluh sudah membanjiri tubuh Rumi dan Vivian yang tak terbalut sehelai benangpun.
Dan jika boleh jujur, Rumi jatuh cinta pada kulit gelap eksotis milik Vivian yang sangat pas dengan wajah manis gadis itu.
"Ethan menelepon," ucap Vivian seraya menyodorkan ponsel Rumi.
__ADS_1
"Aku angkat telepon sebentar," izin Rumi tanpa beranjak dari atas Vivian ataupun melepaskan miliknya dari milik Vivian yang begitu menggigit. Rumi masih terengah-engah sekarang.
"Halo, Ethan! Ada apa?" Sambut Rumi yang masih berusaha mengatur nafasnya.
"Rumi, kau dimana?"
Rumi tak langsung menjawab, karena pemuda itu masih berusaha mengatur nafas.
"Urusanku belum selesai, Ethan! Ada apa?" Jawab Rumi yang tangannya sudah kembali usil memainkan puncak bukit kembar berukuran imut milik Vivian.
"Ruby sakit."
"Sakit apa? Kau antar saja pulang kalau begitu!" Jawab Rumi santai.
"Tapi sakitnya sedikit aneh, Rumi."
Rumi mengernyit mendengar laporan Ethan tentang sakit anehnya Ruby. Aneh bagaimana, coba?
"Aneh bagaimana? Ruby mabuk? Kau memberikannya minum?" Tuduh Rumi pada Ethan yang sejak dulu selalu tergila-gila pada Ruby.
"Tidak!" Sangkalan Ethan benar-benar membuat telinga Rumi berdenging.
Ethan sialan!
"Sekarang kalian dimana?" Tanya Rumi akhirnya yang kembali bergerak dengan lembut di atas Vivian
"Di kamar Olivia di hotel. Tadi Olivia yang menyuruhku membawa Ruby kesini agar Ruby bisa istirahat dan minum obat."
"Yasudah! Aku akan kesana tiga puluh menit lagi. Biarkan Ruby istirahat dulu. Nanti kita pulang bersama!" Jawab Rumi yang sudah ingin segera bergerak lagi dan menikmati permainannya bersama Vivian.
Dasar Ethan pengganggu
Rumi meletakkan ponselnya secara serampangan dan kembali bergerak lagi dengan intens di atas Vivian.
"Ouh," Vivian mendes*h dengan sedikit malu-malu, dan itu sukses membuat Rumi menyunggingkan senyuman tipis. Rumi mempercepat gerakannya karena miliknya yang sudah mulai berkedut. Rumi hampir sampai!
Rumi mencecap bibir Vivian dan gerakannya semakin cepat hingga akhirnya tubuh itu mengejang dan milik Rumi menyemburkan cairan hangat yang kini memenuhi rahim Vivian.
Tubuh Rumi langsung ambruk di samping tubuh Vivian dan jiwa Rumi terasa terbang melayang...
"Aku mencintaimu, Vivian! Kita menikah besok, ya!"
.
.
.
Setdah!
Rumi nggak pakai fiesta pisang stroberiš¤£š¤£
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.