RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
TAKUT


__ADS_3

"Malam, Vian!" Ucap Erick seraya tersenyum smirk pada Vivian yang baru membuka kamar.


"Sedang apa kau di kamarku?" Gertak Vivian galak.


"Sssstttt! Jangan berisik atau berteriak begitu!" Erick sudah bangkit dari posisinya yang tadi duduk di atas tempat tidurnya Vivian. Kini pria itu mendekat ke arah Vivian yang sudah beringsut mundur.


"Mbak!" panggil Vivian keras pada maid di rumah keluarga Attala.


"Mbak! Bisa kesini sebentar!" Teriak Vivian sekali lagi yang langsung membuat Erick menatap sengit pada Vivian.


"Kau tidak akan lolos dariku! Dasar jal*ng!" Ancam Erick seraya menuding ke arah Vivian. Erick keluar dari kamar Vivian dengan cepat dan masih sempat menyenggol pundak Vivian hingga wanita itu sedikit terhuyung, bersamaan dengan maid yang sudah tiba di kamar Vivian.


"Ada apa, Nona Vivian?"


"Tidak jadi! Tadi pintu kamarku mendadak tak bisa dibuka. Aku pikir rusak atau kenapa. Tapi sekarang sudah bisa," jawab Vivian sedikit berdusta.


"Pintunya kadang memang sering macet, Nona! Nanti saya bilang pada Bu Lily agar diperbaiki," tutur maid memberikan saran.


"Iya, sebaiknya memang begitu." Jawab Vivian sedikit bergumam.


"Mmmm, Ngomong-ngomong apa ada keranjang atau kotak apa saja yang bisa kupakai? Aku ingin memindahkan beberapa bajuku," tanya Vivian lagi yang berniat membawa baju-bajunya ke kamar Rumi saja.


Vivian akan membuat pria itu kesal agar masa hukumannya diperpanjang sekalian. Vivian masih takut kalau Erick akan masuk ke kamarnya secara sembarangan lagi seperti tadi dan melakukan hal yang tidak-tidak pada Vivian.


"Ada, Nona! Sebentar saya ambilkan," ucap maid sebelum berbalik dan pergi meninggalkan Vivian untuk mengambil keranjang yang dipinta oleh Vivian.


Vivian sendiri, buru-buru masuk ke kamar dan mengunci pintu demi keamanan.


****


"Kenapa lama? Kau teleponan dulu dengan pacarmu?" Tuduh Rumi saat Vivian baru masuk ke kamarnya seraya membawa sekeranjang baju milik wanita itu.

__ADS_1


"Iya, maaf! Pacarku mendadak bilang kalau dia rindu, jadi aku bicara sebentar padanya dan sedikit mendongeng agar ia tak lagi rindu padaku," jawab Vivian mengarang cerita dan raut wajahnya sediki lebay.


Ayo mengamuk, Rumi!


Ayo mengamuklah!


"Mendongeng apa memangnya? Aku mau mendengar dongengmu juga kalau begitu," ujar Rumi yang kini kedua tangannya sudah bersedekap di depan dada.


"Hanya dongeng anak-anak yang tak penting dan menjemukan untuk pria dewasa sepertimu. Jadi aku yakin kalau kau tidak akan mau mendengarnya sekarang," tutur Vivian memberikan alasan.


"Aku tetap mau mendengarkannya sekarang," ucap Rumi keras kepala.


Baiklah!


Seharusnya Vivian tadi tak usah membawa-bawa alasan mendongeng untuk membuat Rumi kesal. Sekarang Vivian akan mendongeng apa coba, untuk tuan keras kepala ini? Dongeng lebah dan semut seperti yang sering Vivian bacakan untuk Archie itu?


Huh! Merepotkan saja!


"Sebaiknya kau naik ke atas tempat tidur dulu, Rumi!" Saran Vivian berusaha mengalihkan perhatian Rumi dari dongeng tadi. Vivian tak sengaja menguap lebar saat wanita itu mendekat ke arah Rumi.


"Maaf! Tapi aku akan tidur setelah kau tidur nanti," jawab Vivian yang sudah kembali menguap.


"Ck! Tidurlah! Aku akan tidur nanti!" Ujar Rumi memberikan perintah pada Vivian.


"Tapi kau belum naik ke atas tempat tidur. Siapa yang akan memindahkanmu nanti?" Tanya Vivian mencari alasan.


"Tentu saja kau! Nanti aku bangunkan kalau aku sudah ngantuk! Sekarang kau tidurlah dulu!" Perintah Rumi sekali lagi.


Ck!


Menyuruh tidur tapi nanti dibangunkan lagi. Sama saja berarti!

__ADS_1


"Tidur cepat, Vian! Apa perlu aku tiduri?" Ucap Rumi blak-blakan yang langsung membuat Vivian terbatuk-batuk.


Iya!


Tiduri saja!


Lalu akan keluar Archie baru setelahnya!


Dasar Rumi mesum!


Amnesia juga tetap saja mesum!


Vivian menggerutu dalam hati.


"Baiklah, terserah! Aku tidur sekarang karena kau yang menyuruh," ucap Vivian mencari pembenaran. Vivian menyusun bantal di sofa dan segera berbaring seraya menatap langit-langit kamar Rumi.


"Ngomong-ngomong, kenapa kau tadi membawa semua bajumu ke kamarku, hah? Kau tunawisma sekarang?" Tanya Rumi yang hanya dijawab Vivian dengan kebisuan. Rumi menjalankan kursi rodanya mendekat ke arah sofa dan Vivian sudah bernafas dengan teratur, menandakan kalai wanita itu memang sudah terlelap.


Cepat sekali tidurnya!


Dasar tukang tidur!


Rumi tak berhenti menggerutu dalam hati dan pria itu akhirnya memilih keluar dari kamar saja karena Rumi seperti mendengar suara Ruby dan Ethan tadi. Apa pasangan pengantin baru itu sudah pulang sekarang?


.


.


.


Lanjut ke "Penantian Ruby" bab 45

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2