RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
MIRIP


__ADS_3

Vivian menggoyang-goyangkan ponselnya yang sudah hampir mati sebelum kemudian gadis itu mendes*h kecewa karena ponselnya yang benar-benar mati sekarang. Mana nggak bawa charger pula.


"Pulang bareng rombongan kamu? Mana?" Tanya Rumi yang sudah menghampiri Vivian yang masih terlihat celingukan.


"Udah pada pulang sendiri-sendiri. Nggak ada fasilitas transport pulang," jawab Vivian masih merengut.


"Serius? Itu rombongan macam apa sebenarnya yang ngajak kamu mendaki? Nggak profesional banget," komentar Rumi yang hanya membuat Vivian berdecak.


"Kamu bawa charger, nggak? Atau aku boleh pinjam ponsel kamu?" Tanya Vivian berharap pada Rumi.


"Aku nggak bawa ponsel. Kan kemarin aku udah bilang sama kamu," jawab Rumi santai seraya memasukkan kedua tangannya ke saku celana.


"Ada bus ke terminal kota nggak, sih? Kalau dari sini?" Tanya Vivian lagi pada Rumi yang masih bersikap santai.


"Ada! Tapi harus jalan dulu dua kilometer ke arah sana!" Rumi menunjuk ke arah jalan menuju tempat bus biasa lewat.


"Yaudah, kita jalan bareng aja gimana? Kamu naik bus juga, kan?" Tanya Vivian berharap sekali lagi. Ngeri juga kalau haris jalan sendiri meskipun ada beberapa warga yang berlalu lalang.


"Aku nggak naik bus," jawab Rumi.


"Trus? Naik apa?" Tanya Vivian penasaran. Rumi tak menjawab dan pria itu berjalan ke arah satu motor yang terparkir di tempat parkir pos pendakian.


"Naik motor dia," gumam Vivian yang lagi-lagi harus mendes*h kecewa.


"Vivian!" Panggil Rumi yang sudah nangkring di atas motornya.


"Apa?"


"Ayo aku antar!" Ajak Rumi yang langsung membuat Vivian mengulas senyum di bibirnya. Vivian tak membuang waktu lagi dan segera menghampiri Rumi lalu naik ke atas motor pemuda tersebut.


"Sampai terminal saja. Nanti aku pulang naik bus," pesan Vivian sebelum motor Rumi melaju.


"Kau pikir aku akan membiarkanmu pulang naik bus sendirian?"


"Pegangan!" Rumi meraih tangan Vivian dan melingkarkannya di pinggang. Motor Rumi segera melaju pergi meninggalkan pos pendakian dan menyusuri jalanan yang berkelok.

__ADS_1


"Eheem!" Rumi berdehem sedikit keras saat kemudian mimpi Vivian tentang kejadian delapan tahun silam menjadi buyar.


Eh, hanya mimpi ternyata!


Vivian membuka matanya perlahan dan merasa penasaran kenapa tumben Rumi sudah di kamarnya pagi-pagi buta? Bukankah biasanya Vivian yang akan membangunkan Rumi?


Dan guling di pelukan Vivian, kenapa bisa bergerak-gerak sendiri? Aneh!


"Vian!" Suara Rumi langsung membuat Vivian membuka lebar kedua matanya. Saat itulah Vivian sadar kalau yang ia peluk bukan guling melainkan....


"Hah?" Vivian refleks berguling ke samping dan...


Bruuuk!


"Aduuh!" Vivian mengaduh saat tubuhnya terjun bebas dari atas sofa dan kini sudah mendarat di lantai kamar Rumi yang keras.


"Kenapa malah terjun bebas?" Tanya Rumi heran.


"Kau sedang apa, Rumi? Kenapa pagi-pagi sudah ada di sofa begitu?" Tanya Vivian yang sudah bangun dan ganti duduk di atas lantai sambil menatap penuh selidik ke arah Rumi.


"Ck! Kau tidak memindahkanku semalam ke atas tempat tidur dan malah tidur di pundakku! Sekarang kau malah bertanya kenapa aku tidur di sofa bersamamu! Apa aku masih harus menjelaskan agar tenggorokanku sakit?" Jawab Rumi yang malah mencecar Vivian dengan galak.


"Aku mengantuk sekali tadi malam, dan aku pikir aku hanya tidur sebentar. Aku tidak tahu kalau ternyata sampai pagi begini," Vivian malah terkikik tanpa dosa. Wanita itu segera mendekatkan kursi roda Rumi ke arah sofa dan hendak memindahkan Rumi.


"Aku mau tidur disini!" Tolak Rumi cepat.


"Ambilkan selimut!" Perintah Rumi selanjutnya. Vivian tak protes dan segera mengambil selimut, lalu membentangkannya untuk menutupi tubuh Rumi. Wanita itu masih sempat melirik jam di atas nakas yang baru menunjukkan pukul empat pagi. Mungkin Vivian bisa ke kamar sebentar kalau Rumi sudah kembali tidur.


"Kau masih aku hukum, jadi jangan coba-coba untuk pindah ke kamarmu atau hukumanmu akan aku perpanjang sampai satu bulan nanti!" Ancam Rumi pada Vivian. Mata pria itu sudah terpejam tapi mulutnya masih bisa mengancam. Dasar!


"Aku harus mandi dan berganti baju," ujar Vivian mencari alasan dan celah tentu saja. Vivian belum melihat wajah Archie sejak kemarin dan Vivian sudah rindu suara putranya itu.


"Mandi saja disini!" Jawab Rumi tegas.


"Dan pakai dress hari ini! Aku tak mau melihatmu memakai seragam jelek itu lagi!" Pesan Rumi lagi masih dengan nada tegas.

__ADS_1


"Aku boleh ke kamar mengambil baju dan ponsel dulu?" Tanya Vivian meminta izin pada Rumi.


"Hanya mengambil baju dan jangan mandi di kamarmu! Nanti kau lanjut tidur malahan!" Gerutu Rumi yang langsung membuat Vivian berdecak.


"Aku akan mandi di kamarmu, Tuan Rumi!" Jawab Vivian tegas sebelum wanita itu keluar dari kamar Rumi dan menuju ke kamarnya untuk mengambil baju ganti serta ponselnya.


****


Rumi sudah kembali terlelap saat Vivian selesai mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamar Rumi. Wanita itu membenarkan selimut Rumi dan sejenak merasa bingung harus berbuat apa. Vivian tak mungkin tidur lagi karena rasa kantuknya juga sudah menguap pergi setelah dirinya mandi air dingin tadi.


Vivian duduk di sofa yang tak jauh dari tempat Rumi tidur dan memilih untuk membuka ponselnya saja. Ada pesan video dari Abang Sandy yang tentu saja berisi rekaman video singkat Archie.


"Mom!" Archie melambaikan tangan ke kamera.


"Achi punya adek!" Archie menunjuk ke dalam box bayi dimana Cio dibaringkan. Hati Vivian merasa trenyuh melihat bayi Kak Vita dan Abang Sandy tersebut.


"Achi sayang adek!" Ucap Archie lagi yang langsung membuat Vivian tersenyum meskipun matanya sedang berkaca-kaca sekarang karena menahan rindu pada Archie, Abang Sandy, Kak Vita, keponakannya yang baru lahir, lalu pada Mama dan papanya.


Vivian membuka foto selanjutnya yang dikirimkan Abang Sandy. Ada Archie yang sedang tersenyum manis dengan lesung pipi di bagian kanan. Jika Vivian punya dua lesung pipi, maka Archi punya satu di sebelah kanan, meskipun hanya itu bagian wajah Archie yang mirip Vivian. Selebihnya, wajah Archie tak mirip Vivian melainkan mirip dengan seseorang.


Seseorang yang tak mungkin lagi Vivian gapai karena ia akan menikah dengan gadis pilihan keluarganya.


Vivian menatap bergantian pada wajah Archie di layar ponselnya, lalu pada wajah Rumi yang sedang terlelap di sofa. Berulang kali Vivian menatap keduanya secara bergantian, hingga sebuah senyum tiba-tiba terulas di bibir Vivian.


Benar-benar seperti pinang dibelah dua!


.


.


.


Habis ini kita flashback, ya!


Cerita dari awal tentang hubungan Rumi-Vivian

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2