RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
NONTON


__ADS_3

Vivian menarik kursi di samping Kak Vita dan gadis itu segera ikut duduk serta bergabung bersama keluarganya untuk menikmati makan malam.


"Kata Abang Sandy, Papa mau bicara hal penting?" Tanya Vivian buka suara.


"Makan dulu, Vivian! Nanti baru kita akan membahasnya," ucap Mama Niar seraya menyendokkan nasi ke dalam piring Vivian.


"Mama, sudah!" Cegah Vivian saat Mama Niar akan menambahkan porsi nasi Vivian.


"Itu cuma sedikit. Mana kenyang kamu nanti, Vivian?"


"Kenyang, kok! Vivian kan nggak banyak makannya," jawab Vivian seraya meringis.


"Kapan besarnya coba? Kalau makan cuma seuprit begitu?" Cibir Abang Sandy yang langsung membuat Vivian merengut.


"Nanti waktunya besar juga pasti besar, Bang!" Sahut Vivian masih merengut.


"Sudah, Mas! Jangan diejek begitu!" Kak Vita menengahi perdebatan antara Vivian dan Abang Sandy.


"Iya, iya! Aku menyerah kalau kalian berdua sudah bersekongkol. Pasti kalah deh," tukas Abang Sandy sebelum menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Ujian kamu kapan, Vi?" Tanya Pak Satya pada Vivian.


"Bulan depan, Pa! Trus pengumuman kelulusanny bulan depannya nanti sekalian perpisahan," jelas Vivian panjang lebar.


"Kita pindah setelah acara perpisahan berarti, ya!" Ujar Pak Satya lagi yang langsung membuat Vivian berhenti mengunyah makanannya.


"Pindah, Pa? Mau pindah ke mana?" Tanya Vivian kaget.


"Papa kamu dipindahkan tempat dinasnya, Vivian. Jadi nanti kita akan ikut pindah." Bukan Pak Satya melainkan Bu Niar yang menjawab kekagetan Vivian.


"Abang Sandy dan Kak Vita?" Tanya Vivian lagi.


"Ikut pindah juga. Abang rencananya akan resign dan lanjut membuka usaha mandiri saja," jawab Abang Sandy. Sudah sejak lama memang Abang Sandy berencana untuk resign dari kantornya dan membuka usaha mandiri saja.


"Lanjutin toko online-nya Kak Vita jadi offline juga, ya, Bang?" Tebak Vivian sok tahu.


"Iya!" Jawab Abang Sandy dan Kak Vita serempak.


"Jadi nanti Vivian nggak kuliah di kota ini?" Tanya Vivian dengan raut wajah sedih.


Vivian tidak tahu kenapa ia mendadak jadi sedih. Apa karena ia akan berpisah dari Rumi sebentar lagi?


"Disana juga kamu masih bisa kuliah keperawatan, Vivian! Jangan sedih begitu!" Hibur Kak Vita seraya mengusap lembut kepala Vivian.


"Vita benar, Vivian! Nanti kamu daftar kuliah di sana." Tukas Pak Satya menimpali kalomat Kak Vita.


"Iya, Pa!" Jawab Vivian lirih.


"Tapi sementara ini kamu fokus ke ujian dulu,Vivian! Nggak usah kamu pikirin dulu tentang kepindahan ini," ujar Bu Niar ikut-ikutan memberikan nasehat untuk Vivian.


"Iya, Ma!" Jawab Vivian patuh


Pindah?


Serius?


Lalu hubungan Vivian dan Rumi bagaiamana?


****


Vivian melihat arloji di tangannya sekali lagi dan saat itulah, motor Rumi berhenti tepat di hadapannya.


"Maaf telat. Tadi ke pom dulu isi bensin," ujar Rumi seraya membuka kaca helm fullface yang ia kenakan.


"Iya, nggak apa-apa!" Jawab Vivian lirih.

__ADS_1


"Kenapa? Kok cemberut?" Tanya Rumi seraya mengusap pipi Vivian.


"Nggak, kok! Langsung jalan, kan?" Jawab Vivian yang sudah memakai helmnya.


"Iya, ayo!"


Vivian naik ke atas motor Rumi dan tangannya melingkar ke pinggang Rumi.


"Filmnya masih sekitar satu jam lagi. Kita putar-putar cari angin sebentar, ya!" Usul Rumi seraya mengusap lengan Vivi yang melingkarkan di pinggangnya.


"Terserah!" Jawab Vivian sebelum gadis itu menyandarkan kepalanya di punggung Rumi. Tak butuh waktu lama dan motor Rumi sudah melaju meninggalkan mulut gang yang menuju ke rumah Vivian.


Rumi memacu motornya dengan kecepatan sedang dan tangannya sesekali mengusap lengan Vivian yang tak pernah lepas melingkar di pinggangnya.


So sweet memang!


Tapi hati Vivian rasanya sedang galau sekarang.


"Kita mau kemana, Rumi?" Tanya Vivian yang tetap menyandarkan kepalanya di punggung Rumi.


"Kamu maunya kemana?" Rumi malah balik bertanya pada Vivian.


"Langsung ke bioskop saja! Katanya mau nonton," jawab Vivian akhirnya.


"Baiklah! Kita langsung ke bioskop, ya!" Rumi mengusap lengan Vivian sekali lagi dan hati Vivian seketika terasa menghangat serta darahnya berdesir aneh. Vivian tak tahu apa namanya, namun bibir Vivian tak berhenti menyunggingkan senyum hingga motor Rumi memasuki kawasan parkir sebuah mall.


****


"Ini 18+ nya kekerasan atau adegan lain?" Tanya Vivian pada Rumi saat melihat poster film yang rencananya akan mereka tonton sore ini.


"Adegan lain? Adegan lain apa?" Tanya Rumi sok polos seraya mengul*m senyum.


"Ck! Aku serius, Rumi!" Decak Vivian sedikit kesal.


"Iya, udah." Jawab Vivian dengan raut wajah masih tak yakin.


"Udah, ayo masuk!" Rumi merangkul Vivian dan segera menuju ke pintu masuk.


"Kok sepi?" Bisik Vivian saat mereka sudah berada di dalam bioskop dan mencari kursi mereka.


"Masih sore mungkin, jadi sepi." Rumi kembali mengendikkan bahu dan segera menarik Vivian untuk duduk di sebelahnya. Sepertinya Rumi sudah menemukan kursi mereka, dan entah kebetulan atau bagaimana barisan tempat Rumi dan Vivian duduk pas sekali masih kosong dan baru ditempati mereka berdua.


"Sini dekat-dekat! Nanti kalau filmnya seram biar bisa langsung aku peluk," ucap Rumi modus seraya menarik Vivi agar mendekat ke arahnya.


"Apa, sih! Emangnya film horor? Jelas-jelas genre-nya action!" Vivian memukul lengan Rumi si usil dan tukang modus.


"Ya, kali aja mendadak ada hantunya," kekeh Rumi yang kini malah mendekap Vivian.


"Kita sedang nonton film, Rumi," Vivian mengingatkan.


"Iya, terus?" Rumi masih pura-pura acuh.


"Trus kenapa kamu rangkul aku kayak guling begini?" Tanya Vivian pura-pura melotot pada Rumi.


"Mmuah!" Rumi mengecup dahi Vivian yang sontak langsung membuat Vivian kaget dan serta merta meloloskan dirinya dari dekapan Rumi.


"Kamu ngapain baru saja?" Tanya Vivian seraya melempar delikan tajam pada Rumi.


"Mencium keningmu. Mau aku cium bagian lain?" Tanya Rumi genit seraya mendekatkan wajahnya ke arah Vivian yang beringsut mundur.


"Nggak!" Vivian mengangkat tangannya dan menahan wajah Rumi agar tak semakin mendekat.


"Apa, sih! Cium kening aja kok kamu panik gitu? Kita kan udah pacaran setahun lebih, Vi!"


"Pasangan lain udah sampai kissing-kisssing mungkin," lanjut Rumi yang ternyata otaknya mesum tingkat dewa.

__ADS_1


Ck!


Tahu begini Vivian dulu tak usah jadi pacarnya.


Eh, tapi kapan lagi punya pacar seganteng dan sebucin Rumi.


"Apaan kissing-kissing?" Vivian pura-pura bersedekap kesal.


"Kayak gitu, tu!" Rumi menangkup wajah Vivian dan memaksanya menoleh ke arah layar bioskop dimana sedang ada adegan ciuman antara pemeran pria dan wanita. Lalu lanjut ke acara saling memagut, meraba, hingga akhirnya mereka sudah berada di atas ranjang dan saling berpeluh.


Tunggu!


Ini bukannya film action? Lalu kenapa ada adegan 21+ begitu?


Bahkan des*han kedua tokoh di film terdengar jelas sekali.


"Mereka menikmati sekali, hah?" Bisik Rumi yang sudah kembalk merangkul Vivian yang masih terbengong. Hingga tiba-tiba suara tembakan dari dalam film membuyarkan lamunan Vivian.


Ck!


Lagian itu tokoh di film,lagi situasi genting dan sembunyi, kok ya masih sempat-sempatnya bercinta secara hot begitu!


Dasar film!


"Bengong!" Rumi terkikik dan menutup kedua mata Vivian dengan telapak tangannya.


"Ish! Rumi! Aku mau nonton!" Vivian merengut dan segera berusaha menyingkirkan tangan Rumimdaru wajahnya.


"Nggak boleh! Adegan 21+ itu!"


"Apa, sih! Cuma tembak-tembakan gitu! Adegan 21+ nya udah lewat tadi!" Sergah Vivian mulai kesal.


"Lihat berarti yang tadi?"


"Ckckckck! Pacarku udah nggak polos!" Celetuk Rumi lebay.


"Lebay!" Vivian menyikut perut Rumi dan pria itu langsung mengaduh.


"Praktek, yuk!" Celetuk Rumi sekali lagi.


"Praktek apa?" Tanya Vivian bingung.


"Adegan 21+" bisik Rumi seraya cengengesan. Vivian refleks mendorong Rumi dan pemuda itu malah tergelak tanpa dosa.


"Ck! Dasar mesum!"


.


.


.


Perasaan Rumi anaknya Juna-Lily


Tapi 'nakalnya' kok kayak Ghea-Alvin 🤣🤣


Ketuker sama Ethan.


Ru to the Mi.... Rumi mesum.



Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2