
Tok tok tok!
Ketukan di pintu kamarnya,membuat Vivian yang sedang melamun terlonjak kaget. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih lima belas menit. Apa Sunny sudah pulang?
"Siapa?" Tanya Vivian yang tak langsung membuka pintu dan menilih bertanya dulu siapa yang mengetuk pintu.
"Nona Vivian, ini saya!" Jawab suara dari luar yang ternyata dalah maid di kediaman Attala.
Huh!
Vivian segera bernafas lega dan wanita itu bergegas membuka pintu kamarnya.
"Maaf, Nona! Nona Sunny sudah pulang dan Tuang Erick juga mencari anda," ujar maid memberitahu Vivian.
"Mereka dimana?" Tanya Vivian cepat.
"Di ruang tengah."
Vivian mengangguk dan bergegas pergi ke ruang tengah untuk melohag Sunny. Semoga Erick sudah masuk kamar dan tidur. Vivian benar-benar malas bertemu pria brengsek mata keranjang itu!
"Kak Vian!" Seru Sunny saat Vivian baru toba di ruang tengah.
"Hai, Sunny! Sudah pulang?" Jawab Vivian berbasa-basi seeaya mengulas senyum.
"Kenapa belum ganti baju?" Tanya Vivian lagi pada Sunny.
"Tolong kau ambilkan baju Sunny di kamar, Vian! Bukankah Alsya sudah berpesan agar kau mengasuh Sunny siang ini karena kau tak ada pekerjaan?" Bukan Sunny, melainkan Erick yang menjawab pertanyaan Vivian pada Sunny.
"Ayo, Sunny! Kita ganti baju di kamar, ya!" Vivian segera menggandeng Sunny dan hendak mengajaknya masuk ke dalam kamar bocah itu.
"Sunny biar disini! Kau ambil saja sendiri dan nanti ganti bajunya disini!" Sergah Erick yang sepertinya hanya akal-akalan saja.
Menyuruh Vivian masuk ke kamar Sunny dengan alasan mengambil baju ganti, lalu pria brengsek itu akan menyusul masuk dan entah melakukan apa pada Vivian.
Ck!
Mungkin Erick pikir Vivian adalah gadis polos dan bodoh yang akan sangat mudah ia kelabuhi. Dasar playboy mata keranjang!
"Tidak baik anak gadis ganti baju di tempat terbuka seperti ini. Sebagai seorang ayah, seharusnya kau mengajarkan rasa malu pada putrimu, sekalipun ia masih anak-anak," tutur Vivian sok-sokan menasihati Erick. Pria itu langsung berdecak kesal.
"Ayo, Sunny! Kita ganti baju di kamar!" Ajak Vivian sekali lagi pada Sunny yang langsung mengangguk patuh. Vivian menggandeng tangan Sunny dan membawanya masuk ke dalam kamar. Tak lupa, Vivian juga mengunci kamar Sunny setelah ia dan gadis kecil itu masuk ke dalam kamar, agar Erick sialan itu tak tiba-tiba merangsek masuk.
"Kak Vian, Sunny ngantuk!" Lapor Sunny seraya menguap lebar setelah Vivian selesai mengganti baju gadis kecil itu.
"Jam segini sudah ngantuk? Tadi bangun jam berapa memangnya?" Tanya Vivian heran.
"Jam enam." Jawan Sunny yang kembali menguap.
__ADS_1
"Sunny habis makan sesuatu? Atau minum sesuatu yang diberikan papa?"tanya Vivian menerka-nerka. Mustahil kalau Sunny sudah ngantuk jam segini, padahal bangunnya jam enam pagi. Sebagai ibu dari seorang bocah yang seusia dengan Sunny, Vivian tentu hafal jam-jam saat anak mulai mengantuk.
"Tadi diberi jus jeruk sama Papa," jaeab Sunny yang kembali menguap.
"Sunny boleh bobok, Kak Vian?"sunny sudah naik ke atas ranjang princess-nya dan Vivian membantu membenarkan bantal serta selimut Sunny.
"Mau dibacakan dongeng dulu? Atau mau Kak Vian nyanyikan sebuah lagu?" Tawar Vivian pada Sunny.
"Nggak usah!" Jawab Sunny lirih sebelum kemudian bocah itu memejamkan mata dan langsung terlelap.
Aneh!
Mungkinkah Erick mencampurkan obat tidur ke jus jeruk Sunny? Tapi untuk apa?
Suara gagang pintu yang sepertinya hendak dibuka dari luar menyentak lamunan Vivian.
"Sunny!" Itu suara Erick! Vivian diam di tempatnya danntaknada niat untuk membuka gagang pintu tersebut.
"Vian! Kau sudah selesai mengganti baju Sunny?" Seru Erick lagi dari luar kamar. Vivian masih diam.
"Vian! Buka pintunya! Dasar wanita jal*ng murahan!" Ujar Erick lagi yang kata-katanya mulai kasar dan menghina. Seharusnya Vivian tadi membawa ponselnya agar Bisa merekam ucapan kasar Erick kepadanya.
Ck!
"Vian!" Panggil Erick lagi dari luar, sementara Vivian masih mematung dj tempatnya semula sambil berharap pintu kamar Sunny itu kokoh dan susah didobrak Erick.
Seseorang cepatlah pulang!
Pak Juna, Bu Lily, atau Rumi! Vivian benar-benar takut sekarang.
"Vivian! Jangan kau pikir bisa lolos dariku dengan mengunci pintu bodoh ini!"
"Aku akan mendobraknya!" Ancam Erick yang langsung membuat Vivian beringsut mundur. Vivian memeriksa jendela kamar Sunny sebagai alternatif untuk kabur jika Erick berhasil mendobrak pintu.
Sial!
Semua jendelanya memakai teralis. Bagaimana ini? Menghubungi Rumi juga tak bisa karena ponsel Vivian tertinggal di kamar tadi.
"Buka pintunya sekarang, Wanita jal*ng!" Perintah Erick darj liar bersamaan dengan suara pintu yang dipaksa untuk dibuka dari luar. Daun pintu berwarna coklat itu sudah mulai dihentak paksa dari luar.
Ya ampun!
Rumi, pulanglah sekarang!
Vivian masih bergeming di tempatnya, saat suara Erick tak lagi terdengar, dan gedoran di pintu juga sudah berhenti tiba-tiba.
Aneh!
__ADS_1
Erick sedang apa sekarang?
Meskipun sedikit ragu, Vivian akhirnya tetap memberanikan diri mendekat ke arah pintu kamar untuk mencari tahu apa yang terjadi di luar kamar.
"Erick, Alsya dan Sunny mana?" Itu suara Mami Lily yang sepertinya sudah pulang dari luar kota.
Huh!
Terima kasih, Tuhan!
Vivian membuka kunci pelan-pelan bersamaan dengan pintu kamar yang tiba-tiba di dorong dari luar hingga menjeblak terbuka. Jantung Vivian nyaris meloncat keluar saar wanita itu mengira Erick yang mendorong pintu. Namun rupanya itu Mami Lily yang langsung membuat Vivian bernafas lega.
"Vian, kau di rumah?" Tanya Mami Lily kaget.
"Eh, iya, Bu! Rumi menyuruh Vian di rumah saja dan mengasuh Sunny karena pengasuh Sunny tak datang hari ini dan mamanya Sunny sedang ada keperluan," tutur Vivian menjelaskan pada mami Lily.
"Begitu? Lalu Sunny mana?" Tanya Mami Lily lagi.
"Sunny tidur, Bu! Tadi mengeluh ngantuk dan capek," lapor Vivian pada Mami Lily.
"Tumben. Apa Sunny sakit?" Tanya Mami Lily khawatir seraya memeriksa Sunny yang tetap terlelap. Kasihan sekali gadis kecil itu karena diberikan obat tidur oleh papanya yang tak berakhlak.
"Suhu tubuhnya normal," gumam Mami Lily setelah memeriksa Sunny.
"Mungkin memang sedang kelelahan, Bu!" Ujar Vivian mencoba menenangkan Mami Lily.
"Kau benar. Sebaiknya kita biarkan Sunny beristirahat saja. Padahal Opinya membelikan banyak oleh-oleh tadi," cerita Mami Lily seraya tertawa kecil. Mami Lily dan Vivian sudah keluar dari kamar Sunny sekarang.
"Kau sebaiknya istirahat juga, Vian! Rumi pulang sore, kan?" Saran Mami Lily sekaligus bertanya mengenai Rumi.
"Katanya setelah makan siang sudah pulang, Bu!" Jawab Vivian cepat.
"Kau istirahat dulu saja kalau begitu!" Ujar Mami Lily lagi seraya mengusap punggung Vivian.
"Iya, Bu! Saya permisi," pamit Vivian seraya undur diri dari hadapan Mami Lily dan wanita itu segera menuju ke arah kamarnya. Vivi membuka kunci kamarnya sedikit tergesa dan sudah akan masuk, saat tiba-tiba Erick datang dan pura-pura lewat.
"Lain kali kau tidak akan lolos!" Bisik Erick seraya berlalu yang langsung dijawab Vivian dengan bantingan pintu. Vivian mengunci rapat pintu kamarnya dan segera bersandar di belakang pintu.
Kenapa keluarga Attala bisa punya menantu brengsek sejenis Erick?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.