
"Haris itu pria yang baik, dan dia sudah berjanji untuk menerima Vivian apa adanya. Jadi keputusan Papa untuk menjodohkan Vivian dengan Haris sudah bulat!" Ujar Pak Satya panjang lebar di depan semua anggota keluarganya.
"Tapi setidaknya, Papa tanyakan dulu pada Vivian, apa dia mau menikah dengan Haris atau tidak! Jangan mengambil keputusan sepihak begini, Pa! Vivian yang kelak akan menjalani rumah tangganya, jadi Vivian juga punya hak untuk memutuskan!" Sergah Abang Sandy yang sejak dulu memang paling mengerti Vivian.
"Untuk apa minta pendapat Vivian, jika Vivian saja tak pernah jujur hingga detik ini tentang pria yang sudah menghamilinya! Pria yang menjadi ayah kandung dari Archie! Kau selalu membela adikmu itu, Sandy! Dan lihatlah hasilnya!" Cecar Pak Satya berapi-api.
"Kau mau mengatakan ayah dari Archie sekarang, Vivian?" Tanya Pak Satya selanjutnya pada Vivian yang sejak tadi hanya diam. Vivian menggeleng karena Vivian sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau ia tak akan memberitahu siapapun tentang siapa ayah kandung Archie.
Bahkan ayah kandung Archie sendiri, Vivian juga tak ingin memberitahunya setelah semua yang terjadi. Dasar pembohong!
"Kau akan menikah dengan Haris kalau begitu! Papa anggap kau sudah setuju!" Putus Pak Satya tegas.
"Vivian, kau berhak menolak jika kau memang tidak mau," ujar Abang Sandy yang hanya membuat Vivian menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Vivian tak mau membuat Papa kecewa untuk kesekian kalinya, Bang! Vivian akan menurut kali ini," putus Vivian menatap tegas pada sang Abang.
"Archie akan baik-baik saja bersama Abang dan Kak Vita." Vivian sudah berurai airmata.
"Kau tidak akan membawa Archie?" Tanya Abang Sandy dengan tatapan mata sedih.
"Vivian tak mau membuat Kak Vita sedih. Biarlah Archie tetap tinggal di rumah Abang Sandy. Nanti kalau Vivian rindu, bukankah Vivian bisa menjenguk Archie kapanpun?" Jawab Vivian sambil kembali menyeka airmatanya.
Vivian memang ibu kandung Archie. Tapi sejak anak itu lahir, Kak Vita-lah yang merawatnya dengan sepenuh hati. Kerinduan Kak Vita akan hadirnya momongan seolah terobati setelah kelahiran Archie. Dan Vivian tak mau memisahkan Kak Vita dari Archie sementara ini. Lagipula,Vivian belum tahu pasti watak pria bernama Haris yang akan dijodohkan dengannya. Belum tentu juga Haris akan langsung menerima kehadiran Archie jika Vivian langsumg membawanya. Jadi nanti saja Vivian akan bicara dan menjelaskan pelan-pelan pada Haris mengenai Archie.
"Kau selalu keras kepala dari dulu!" Ucap Bang Sandy yang sudah memeluk Vivian.
"Dan Abang selalu ada untuk membela Vivian," timpal Vivian yang malah tertawa di sela-sela tangisnya.
"Jangan tertawa, Gadis keras kepala!" Abang Sandy sudah menangkup wajah Vivian dan menghapus airmata di wajah adiknya tersebut.
"Semoga Haris benar-benar adalah pria yang baik," gumam Abang Sandy penuh harap.
"Papa tidak mungkin memilih pria yang tak baik sebagai calon suami Vivian, Bang!" Ujar Vivian menenangkan sang Abang.
"Ya, kau benar," Gumam Bang Sandy lagi.
Andai boleh menarik kembali kata-kata yang pernah Vivian lontarkan tentang pria bernama Haris itu tiga tahun yang lalu, Vivian pasti sudah menariknya.
Pria baik?
Cih!
__ADS_1
Baik di depan Papa lebih tepatnya. Selebihnya pria ini tak lebih dari pria brengsek yang hampir menipu keluarga Vivian mentah-mentah. Beruntung waktu itu Vivian baru bertunangan dengannya dan belum sampai naik ke pelaminan. Dan sekarang kenapa Vivian malah bertemu dengannya lagi?
"Vivian? Kau sedang apa disini, Sayang?" Sapa Haris seraya mendekati Vivian yang sudah dengan cepat menghindar.
"Jangan mendekat!" Sentak Vivian galak pada Haris yang terus berusaha mendekatinya.
"Aku mencarimu selama ini, Vivian! Aku..."
"Aku merindukanmu. Ayo kita menikah!"
"Ayo kita menikah!"
"Lepas, Haris!" Bentak Vivian pada pria yang terus merentangkan lengannya ke arah Vivian. Namun Vivian juga terus-terusan menyentaknya dan seperti merasa jijik.
"Ayo kita menikah, Vivian! Dan kau tak perlu lagi bekerja sebagai perawat seperti ini!"
"Kau bisa tinggal di istanaku yang megah!" Haris terus melontarkan bujuk rayu pada Vivian yang terus menghindarinya, hingga akhirnya suara lift membuat Vivian mendorong kursi roda Rumi dengan segera keluar dari lift.
"Vivian!"
Sial!
Pria brengsek bernama Haris itu malah mengejar Vivian sekarang.
Vivian menpercepat dorongan kursi roda Rumi saat tiba-tiba Rumi menyebalkan malah menarik rem kursi rodanya hingga membuat Vivian kaget. Vivian yang tak siap, tentu saja langsung terjungkal ke depan dan dadanya menubruk kepala Rumi yang benar-benar keras secara harfiah.
Sial! Brengsek!
Vivian tak berhenti mengumpat dalam hati.
"Selesaikan dulu masalahmu dengan pria itu!" Ucap Rumi menatap marah pada Vivian.
"Aku tak ada urusan apa-apa dengan pria itu!" Jawab Vivian cepat.
"Tidak usah berbohong! Dia mengejarmu seperti orang gila begitu, jadi tak mungkin jika kalian tak ada hubungan apa-apa!" Sergah Rumi yang tetap menatap Vivian dengan raut wajah penuh emosi.
"Aku benar-benar-"
"Vivian, Sayang!" Tangan Vivian mendadak sudah ditarik oleh Haris. Sementara Rumi hanya berdecak dan menjalankan kursi rodanya menjauh dari Vivian dan pria asing yang memanggil Vivian dengan sebutan sayang. Api di hati Rumi rasanya sudah sangat berkobar hingga mungkin akan bisa menghanguskan rumah sakit ini seisinya.
"Lepas!" Sentak Vivian kasar dan galak.
__ADS_1
"Kita tak ada hubungan apa-apa lagi! Uang, cincin, dan semua seserahan pemberianmu sudah dikembalikan oleh Abang Sandy!"
"Jadi jangan pernah menggangguku lagi atau aku akan melaporkanmu ke polisi atas tindakan tidak menyenangkan!" Vivian menuding ke arah Haris dan berucap dengan tegas.
Rumi yang tadinya sudah berniat pergi, kembali menghentikan kursi rodanya dan mendadak merasa penasaran dengan masalah Vivian dan pria asing bernama Haris tadi.
"Aku sudah berpisah dengan wanita jal*ng itu, Vivian! Jadi kita bisa menikah dan memulainya dari awal. Aku tak akan bersikap kasar dan aku mencintaimu-"
"Tidak!" Sela Vivian tegas.
"Sudah cukup kau menyakiti papaku dan keluargaku waktu itu, jadi aku tak akan pernah menjalin hubungan apa-apa lagi denganmu!" Vivian masih tetap menuding ke arah Haris.
"Vivi-"
"Pergi menjauh dari hadapanku!" Usir Vivian pada Haris.
"Aku tidak mau! Aku mencintaimu dan aku akan membawamu pulang sekarang-" Haris hendak mencekal lengan Vivian, saat tiba-tiba tangannya di tahan oleh seseorang.
"Jangan mengganggunya lagi!" Kali ini gantian Rumi yang berucap tegas pada Haris.
"Apa kau, Pria cacat?" Haris mengejek Rumi yang tentu saja langsung membuat amarah Rumi naik ke ubun-ubun. Tanpa basa-basi lagi, Rumi yang tadi masih mencekal lengan Haris langsung memelintirnya dengan kuat hingga Haris menjerit kesakitan.
"Aaaauuw!" Haris berusaha melepaskan tangannya, namun yang terjadi pelintiran Rumi malah lebih kuat lagi.
"Rumi, Rumi!" Vivian akhirnya angkat suara dan berusaha untuk menghentikan tingkah barbar Rumi.
"Apa? Kau masih membelanya?" Sentak Rumi menatap galak pada Vivian.
"Bukan begitu! Tapi kau akan membuat tangannya patah jika terus memelintirnya seperti itu!" Ujar Vivian mengingatkan Rumi.
Rumi langsung menyentak tangan Haris dengan kasar dan menjalankan kursi rodanya, meninggalkan Vivian dan Haris begitu saja.
"Siapa pria brengsek itu?" Tanya Haris sambil meringis menahan sakit di lengan kanannya.
"Jangan pernah menemuiku lagi! Kita tak ada urusan apa-apa lagi!" Vivian menuding sekaligus memperingatkan Haris dengan tegas sebelum wanita itu setengah berlari menyusul Rumi ke arah lobby depan. Rumi bahkan sudah mencapai pintu utama rumah sakit dan sepertinya pria itu sedang marah pada Vivian.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.