RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
HONEYMOON


__ADS_3

Rumi mengusap sekali lagi nisan dari makam kedua orang tua Vivian, sebelum pria itu berpamitan dan bangkit berdiri. Hati Rumi masih belum sepenuhnya lega sebenarnya, karena Rumi belum sekalipun bejumpa dengan kedua orangtua Vivian.


Ya,


Andai waktu bisa diputar kembali.


Andai malam itu Rumi tidak buru-buru mencari pria brengsek yang memberikan obat pada dirinya dan Vivian.


Andai beberapa bulan lalu Rumi percaya pada Vivian dan tidak ikut-ikutan menuduh wanita itu.


"Sayang!" Gamitan Vivian di lengan Rumi langsung membuyarkan lamunan Rumi.


"Iya," Rumi mengusap kedua matanya yang tanpa ia sadari sudah berkaca-kaca.


"Ayo pulang!" Ajak Vivian seraya mengusap lengan Rumi.


"Iya!" Rumi mengangguk, dan segera menggantikan Vivian untuk menggandeng Archie.


"Dad," tanya Archie saat mereka melangkah keluar dari pemakaman.


"Apa?"


"Apa Dad akan pergi dan kerja jauh lagi setelah kita liburan nanti?" Tanya Archie yang langsung membuat Rumi menatap sejenak pada Vivian. Rumi selanjutnya berjongkok agar bisa menyamakan posisinya dengan Archie.


"Dad tidak akan kemana-mana lagi, Archie!" Rumi mengusap lembut kepala Archie yang begitu mirip dirinya saat kecil.


"Dad akan selalu bersama Archie mulai sekarang dan seterusnya."


"Dad akan selalu menjaga Mom, Archie, dan calon adik-adik Archie nan-"


"Dad Rumi!" Tegur Vivian memotong.


"Archie akan punya adik?" Tanya Archie antusias.


"Belum. Tapi nanti tak lama lagi adik untuk Archie akan segera jadi." Jawab Rumi sambil sesekali melirik pada Vivian yang hanya bersedekap dan merengut.


Ck!


Sok jual mahal!


Nanti malam kalau sudah Rumi tusuk juga pasti ah uh ah uh minta lagi dan tak mau berhenti!


Dasar!


"Archie mau adik perempuan apa laki-laki?" Tanya Rumi lagi pada sang putra.


"Laki-laki! Biar nggak cengeng dan bis Archie ajak main bola," jawab Archie antusias.


"Perempuan aja, Archie! Biar Mom punya teman," protes Vivian yang langsung membuat Rumi tertawa kecil.


"Archie maunya laki-laki, Mom! Titik!" Archie sudah bersedekap dan tetap keras kepala. Sudah mirip Rumi saat memaksakan kehendak. Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya.


"Mom yang hamil, kenapa kalian para pria yang menentukan?" Cebik Vivian kekanakan.


"Aku yang akan menghamilimu, jadi aku yang menentukan nanti," bisik Rumi yang sudah mendekat ke arah Vivian.


"Mana bisa begitu!" Vivian mencubit kesal lengan Rumi. Pria itu langsung meringis.


"Mom, Dad, kenapa cubit-cubitan begitu? Sudah seperti bocah saja!" Tegur Archie seraya berkacak pinggang dan geleng-geleng kepala. Sudah seperti pria dewasa saja!


"Lihat! Berondongmu sudah protes!" Timpal Rumi yang hanya membuat Vivian memutar bola matanya dengan malas.

__ADS_1


"Udah! Ayo pulang, Archi!" Vivian sudah menggandeng tangan Archie dan mengajak bocah enam tahun itu masuk ke dalam mobil.


"Hei! Tunggu Dad!" Seru Rumi yang bergegas menyusul anak dan istrinya.


****


"Dad, kenapa Archie nggak boleh bobok sama Mom dan Dad malam ini?" Tanya Archie lagi pada Rumi yang sedang berjuang untuk membuat bocah enam tahun ini tidur.


Haruskah Rumi memberinya obat tidur?


"Archie kan sudah besar! Archie juga anak hebat dan berani. Jadi Archie harus bobok sendiri mulai sekarang, ya!" Tutur Rumi mencomemverikan pengertian.


"Lagipula, kamar Mom dan Dad hanya dj depan kamar Archie. Jadi nanti kalau Archie butuh sesuatu, tonggal ketuk pintu saja dan Dad akan segera bangun," sambung Rumi lagi.


"Janji, ya, Dad!" Archie menyodorkan kelingkingnya pada Rumi.


Apa maksudnya?


"Archie mengajakmu membuat janji kelingking, Dad Rumi!" Jelas Vivian yang sudah berdiri di depan pintu kamar Archie seraya bersedekap.


"O!" Rumi membulatkan bibirnya dan segera membalas janji kelingking Archie.


"Bobok, ya, Sayang! Besok kita jalan-jalan ke kebin strawberry," bujuk Vivian yang sudah menghampiri Archie dan mengecup kening putranya tersebut. Rumi sedikit cemburu. Hanya sedikit tapi.


"Yeay! Besok makan strawberry!" Archie bersorak senang dan bocah itu segera berbaring ke atas tempaf tidur. Vivian membenarkan selimut Archie san mengecup sekali lagi kening sang putra.


"Kau sudah mencium Archie tadi, Vi!" Bisik Rumi yang sepertinya mulai cemburu buta.


Dasar Rumi!


"Lalu apa masalahnya? Archie putraku dan aku bosa menciumnya berulang kali," Vivian mencium kening Archie lagi.


"Sudah cukup! Cium saja keningku atau bibirku berkali-kali dan jangan menciumi Archie secara berlebihan begitu!" Gerutu Rumi seraya menarik Vivian agar menjauh dari Archie.


"Iya, aku cemburu! Karena kau hanya milikku dan hanya boleh menciumku!" Rumi sudah menghimpit tubuh Vivian ke arah dinding.


"Dan kau tan boleh mencium pria manapun selain aku. Termasuk Archie dan calon anak kita nanti kalau dia laki-laki." Lanjut Rumi tegas.


"Dasar gila!" Vivian meletakkan telunjuknya di dahi dengan posisi miring.


"Sinting!" Olok Vivian lagi sebelum wanita itu mendorong tubuh Rumi dan meloloskan diri.


"Vian!" Rumi segera mengejar Vivian setelah memastikan kalau Archie memang sudah terlelap. Rumi menutupintu kamar Archie dan kembali mengejar Vivian.


"Vian!" Rumi membuka pintu kamar dan tak mendapati Vivian di sana.


Baiklah! Kemana istri Rumi itu sekarang?


"Vian!" Rumi mencari ke ruang tengah, lalu dapur, namun Vivian tetap tak ada.


"Vian, kau dimana?" Perasaan tadi Rumi hanya menoleh sebentar untuk memeriksa Archie. Kenapa Vivian kabur cepat sekali.


"Vian-" suara Rumi tertahan saat ada dua tangan yang tiba-tiba menutup kedua mata pria itu.


"Vian?" Rumi meraba-raba tangan Vivian san langsung terdengar gelak tawa dari istri Rumi tersebut.


"Lepas!" perintah Rumi memaksa.


"Tidak akan."


"Coba tebak, bajuku warna apa?" Vivian rupanya sedang mengajak Rumi main tebak-tebakan.

__ADS_1


"Hitam!" Jawab Rumi cepat.


"Salah!"


"Merah!" Tebak Rumi lagi.


"Masih salah!" Vivian terkikik.


"Lalu warna apa? Kau hanya punya dua warna itu," tanya Rumi bingung.


"Aku punya banyak baju! Kau menebak warna apa memangnya?" Vivian balik bertanya.


"Lingerie-mu!" Jawab Rumi dengan nada genit.


"Ck! Berbalik coba!" Titah Vivian seraya menyingkirkan kedua tangannya dari mata Rumi.


Rumi berbalik dan bola mata pria itu nyaris melompat keluar saat mendapati Vivian yang hanya memakai sepasang underwear.


Dasar Vivian gila!


Niat sekali wanita ini merayu Rumi.


"Kau keluar dari kamar dan hanya memakai?" Rumi secepat kilat melepaskan kausnya, lalu memakaikannya pada Vivian tanpa peduli kalau kausnya terbalik.


"Aku sedang menggodamu," Vivian mengerlong nakal pada Rumi.


"Tapi tidak harus memakai baju dalam saja di luar kamar begini! Bagaimana kalau ada yang melihat?" Rumi sudah kalang kabut sekarang.


"Hanya ada kau, aku dan Archie di villa ini. Dan Archie juga sudah tidur," jawab Vivian santai.


"Kau itu benar-benar!" Rumi merasa gemas pada Vivian sekarang dan pria itu hebdak menangkapnya. Namun wanita itu sudah melesat dengan cepat masuk ke dalam kamar dan meninggalkan Rumi.


"Vian!" Rumi mengejar Vivian ke dalam kamar dan mendorong tubuh setengah naked itu ke atas tempat tidur.


"Kau pikir mau kemana?" Rumi menatap penuh gairah pada Vivian yang masih tergelak di bawahnya. Tanpa menunggu, Rumi sudah melucuti vajunya sendiri serta sepasang underwear tadi.


"Kunci dulu pintunya, Pria mesum!"


"Archie bisa mengintip kapan saja," ujar Vivian mengingatkan.


Rumi berdecak dan segera bangkit lagi lalu mengunci pintu kamar. Dan setelah itu, Rumi tak membuang waktu lagi dan langsung menerjang Vivian serta menuntaskan hasratnya yang sudah naik ke ubun-ubun.


Rumi akan lembur sampai pagi!


.


.


.


Terserah, Rum!


Terserah!


Aku lupa bilang tadi.


Jadi status Alsya di cerita ini sudah resmi jadi janda anak satu, ya! Nanti akan ada jodoh baru buat Alsya. Rencana Othor mau ngasih yang berondong aja 😁😁


Kira-kira siapa, hayo!


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2