
Sikapnya berubah dingin. Bahkan lebih dingin dari saat Vivian baru tiba di rumah ini dan bertemu dengannya. Tak ada lagi omelan, tak ada lagi cerocosan apalagi kalimat-kalimat ketus yang selalu membuat suasana hati Vivian membaik.
Tidak!
Rumi memang tak banyak bicara sepanjang hari ini. Rumi hanya diam dan benar-benar irit bicara. Tentu saja hal itu terasa menyakitkan untuk Vivian yang sudah terbiasa mendengar omelan pedas Rumi. Belum lagi tatapan mata Rumi yang sepertinya penuh kekecewaan membuat hati Vivian kian teriris.
"Air mandimu sudah siap, Rumi," ucap Vivian seraya menahan perih di hatinya.
"Siapkan saja baju ganti dan silahkan keluar dari kamarku!" Usir Rumi sebelum pria itu menghilang ke dalam kamar mandi.
Vivian menyeka butir bening di pelupuk matanya dan bergegas menyiapkan baju ganti Rumi. Tak lupa Vivian juga mengambilkan makan malam Rumi dan menatanya di atas meja di kamar. Setelah memastikan semuanya beres, Vivian keluar dari kamar Rumi dengan hati yang pedih serasa teriris sembilu.
"Masih belum pergi, Jal*ng?" Gertak Alsya saat tak sengaja berapa dengan Vivian yang hendak menuju ke kamarnya.
"Aku bukan jal*ng!" Ucap Vivian menatap tegas pada Alsya.
"Suamimu itu yang baj*ngan dan keparat. Aku akan membuktikannya kepadamu," lanjut Vivian seraya bersumpah dalam hati.
"Tidak usah mencemooh suamiku, jika kau sendiri yang murahan dan kegatelan!" Gertak Alsya sekali lagi seraya menyenggol pundak Vivian dan berlalu dari hadapan wanita itu.
"Kau akan menangis darah dan tak akan pernah memaafkan Erick, saat tahu kebenarannya, Alsya!" Gumam Vivian sebelum wanita itu melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam kamar.
****
Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam, dan Vivian masih belum bisa memejamkan matanya. Vivian hanya membolak-balikkan tubuhnya di atas tempat tidur dan hati wanita itu mendadak merasa gelisah.
Apa yang mengganggu hati Vivian sebenarnya?
Ceklek!
Suara pintu yang dibuka memecah keheningan malam. Vivian diam sejenak dan memasang telinga baik-baik, serta matanya menatap awas ke arah knop pintu kamar. Tapi bukan pintu kamarnya yang di buka. Sepertinya pintu sebelah.
Vivian menyambar ponselnya di atas nakas dan melangkah tanpa alas kaki agar tak menimbulkan suara. Di kegelapan kamarnya, Vivian melangkah secara senyap, lalu memasang telinganya di dinding yang memisahkan kamarnya dengan kamar maid.
"Sudah siap?" Itu suara Erick.
Apa mungkin Erick dan maid memang punya sebuah hubungan dan mereka bekerjasama menjebak Vivian?
Brengsek!
Vivian membuka pintu kamarnya tanpa suara, lalu melangkah dalam senyap ke kamar sebelah. Membuka pintu dengan hati-hati saat terdengar suara Erick dan Maid yang sepertinya sedang bercengkerama.
Erick baj*ngan!
Sore tadi sok-sokan mengajak Alsya dan Sunny staycation di hotel. Tapi tengah malam malah pulang menemui maid jal*ng itu!
Vivian membuka sedikit daun pintu kamar maid yang tak dikunci oleh Erick.
Ceroboh sekali!
Tapi baguslah, Vivian jadi bisa mencari bukti untuk diberikan pada Alsya.
Vivian mengulurkan ponselnya masuk ke dalam kamar untuk merekam apapun yang terjadi di kamar yang bentuknya serupa dengan kamar Vivian tersebut.
Erick dan maid jal*ng itu sudah mulai melucuti baju masing-masing, lalu saling berpagutan dan mencecap. Vivian memalingkan wajahnya dan tak mau melihat adegan apapun yang terekam di layar ponselnya.
__ADS_1
Mulai terdengar des*han Erick dan maid, saat tiba-tiba gertakan Erick membuat Vivian kaget.
"Siapa itu!"
Sial! Vivian ketahuan!
Vivian mundur dengan cepat dan langsung kembali ke kamar lalu menutup pintu.
"Vian!" Gedoran Erick membuat Vivian yang bersandar di belakang pintu terlonjak kaget.
"Buka pintunya atau aku dobrak, Jal*ng!"
"Kau tadi sedang apa, hah? Merekamku?" Gertak Erick bertubi-tubi yang hanya dijawab Vivian dengan kebisuan.
"Buka pintunya!" Erick mendorong-dorong pintu dengan kasar.
"Kau pikir bisa lolos dariku, hah?"
"Buka pintunya, J*lang! Berikan ponselmu, atau aku harus menghabisi nyawamu?"
Vivian beringsut mundur mendengar ancaman Erick. Wanita itu segera menuju ke jendela kamar yang langsung tembus ke halaman belakang.
Beruntung tubuh Vivian lumayan mungil hingga ia berhasil menyelinap keluar lewat jendela.
Vivian masih menggenggam ponselnya, saat wanita itu melangkah dalam kegelapan menuju ke pagar depan. Ada dua security yang berjaga. Bagaimana ini?
Di tengah kekalutannya, ponsel Vivian tiba-tiba bergetar menandakan ada panggilan masuk. Nama Abang Sandy tertera di layar ponsel, membuat kepala Vivian dipenuhi tanda tanya. Tidak biasanya Abang Sandy menelepon tengah malam begini.
"Halo," jawab Vivian sedikit berbisik.
Vivian masih bersembunyi di taman.
"Kau bisa pulang barang sehari, Vi?" Tanya Abang Sandy yang sepertinya sedang menahan tangis.
Tunggu!
Ada apa ini?
Bukankah Cio sudah dioperasi satu bulan lalu dan kondisinya juga sudah membaik?
"Abang? Apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Vivian khawatir.
"Iya, semuanya baik-baik saja. Hanya saja Archie-"
"Archie kenapa, Bang?" Tanya Vivian memotong kalimat Abang Sandy.
"Archie mengalami sedikit insiden dan ia sedang dirawat di rumah sakit sekarang."
Vivian terdiam dan rasa gelisah di hatinya semalaman ini seolah terjawab. Archie sedang sakit sekarang.
"Vivian akan pulang secepatnya, Bang!" Jawab Vivian cepat sebelum menutup telepon. Vivian bergegas keluar dari persembunyian dan berjalan menuju ke gerbang depan. Vivian masih memikirkan alasan yang tepat untuk ia berikan pada security agar bisa keluar tanpa ditanya macam-macam, saat tiba-tiba pintu gerbang sudah di buka lebar karena ada mobil yang datang.
Itu mobil Papi Juna yang sepertinya baru pulang dari luar kota. Vivian bergegas menyelinap keluar, saat security sedang sibuk menyapa Papi Juna. Vivian hanya ingin secepatnya menuju ke terminal bus malam ini.
****
__ADS_1
Rumi merebahkan tubuh Vivian dengan lembut ke atas tempat tidur, lalu pemuda itu melepaskan celana jeans serta underwear-nya. Kini tubuh Rumi benar-benar sudah naked, sedangkan tubuh Vivian hanya tinggal terbalut underwear di bagian bawah pusat sebatas pangkal paha.
"Vi," panggil Rumi lembut seraya jemarinya mengusap wajah manis Vivian, lalu berhenti sejenak di pipi gadis tersebut. Vivian hanya tersenyum tipis, namun lesung di pipi gadis itu tetap terbentuk dan Rumi segera mengecupnya dengan lembut.
"Kau percaya padaku, kan?" Tanya Rumi sekali lagi.
"Iya," jawab Vivian parau karena gadis itu yang mendadak grogi setelah Rumi menindih dan mendekapnya.
"Aku akan melakukannya sekarang, tapi setelahnya aku akan menemui Papa dan Mamamu, lalu kita akan menikah." Ucapan Rumi terdengar bersungguh-sungguh, dan Vivian hanya mengangguk-angguk.
"Rumi!" Gelenyar serta perasaan geli yang aneh mulai merambati sendi-sendi tubuh Vivian serta membuat darah Vivian berdesir tak karuan. Vivian menggeliat, saat Rumi menarik turun penutup terakhir tubuhnya tersebut dan memainkan jemarinya semakin intens di dalam milik Vivian yang kini tak berpenghalang.
"Rumi, oouuh!" Tubuh Vivian menggelinjang saat Rumi memainkan jemarinya di bagian bawah tubuh Vivian dan lidahnya bermain-main dengan puncak bukit kembar Vivian.
Bless!
"Aaaarrrrgh!" Vivian memekik kecil saat akhirnya Rumi berhasil menembus keperawanannya.
"Vivian!" Rumi terjaga dari tidurnya dengan nafas yang memburu serta tubuh yang dipenuhi oleh peluh. Pria itu menatap ke sekeliling kamar dan kembali mengingat adegan dalam mimpinya tadi yang seolah terasa nyata.
Kenapa Rumi bermimpi seperti itu?
Rumi menyugar kasar rambutnya dan melirik ke arah jam di atas nakas yang baru menunjukkan pukul empat pagi. Rumi tak pernah bangun sepagi ini, dan kini rasa kantuk Rumi sudah menguap pergi.
"Rumi, ini tidak benar!"
Kalimat Vivian siang tadi serta raut kesedihqn dj wajah wanita itu kembali berkelebat di benak Rumi.
Kenapa Rumi percaya begitu saja pada kata-kata Erick dan tak mendengarkan penjelasan Vivian dulu? Kenapa Rumi tak minta Vivian yang menjelaskan. Soal kond*m bisa saja ada yang menjebak Vivian.
Jika Erick saja pernah diam-diam masuk ke kamar Vivian. Maka perihal kond*m itu....
"Brengsek!" Umpat Rumi yang bergegas bangun dan berpindah ke atas kursi rodanya. Rumi ingin secepatnya mendengarkan cerita Vivian dan minta maaf pada wanita itu
"Vian!" Rumi mengetuk pintu kamar Vivian tanpa peduli pada hari yang masih pagi buta.
"Vian, buka pintunya!" Rumi mengetuk lebih keras.
"Vivian!" Rumi sudah setengah berteriak sekarang dan berusaha membuka knop pintu kamar Vivian yang sepertinya sedikit rusak karena dibuka paksa.
Apa?
Rumi membuka lebar pintu kamar Vivian dan mendapati kamar yang gelap serta berantakan. Seseorang sepertinya sengaja membuatnya berantakan. Tapi siapa? Bukankah Erick sedang staycation di hotel bersama Alsya dan Sunny?
"Vian!" Panggil Rumi pada kamar yang kosong tersebut.
Rumi membuka lemari Vivian dan mendapati baju serta koper Vivian masih berada di sana semua, tapi Vivian tidak ada.
Lalu Vivian kemana?
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.