
"Pagi!" Sapa Vivian seraya membuka tirai kamar Rumi.
Rumi yang baru membuka mata, segera memicingkan kedua matanya saat menatap pada penampilan Vivian yang masih terlihat menjemukan.
"Bajumu yang kemarin aku belikan kau buang kemana? Kenapa masih memakai seragam jelek itu?" Tanya Rumi dengan nada bicara ketus seperti biasa. Vivian sudah hafal tentu saja.
"Ada di lemari," jawab Vivian santai seraya mengganti gelas kosong di atas nakas dengan gelas baru yang berisi air putih.
"Lalu kenapa tak dipakai? Mau kau pakai sebagai sumpalan saja di lemari, begitu?" Tanya Rumi seraya meraih air minum yang baru saja diletakkan oleh Vivian tadi.
"Sedikit kurang nyaman jika aku pakai saat bekerja. Terlebih aku harus memindahkanmu yang terkadang harus melakukan gerakan yang kurang enak dipandang jika memakai dress seperti itu. Maksudku, lebih nyaman memakai setelan blouse dan celana panjang begini saat aku menjadi perawatmu, ketimbang harus memakai dress selutut yang bisa tersibak kapanpun atau mungkin tertiup angin saat aku sedang memindahkanmu." Terang Vivian panjang lebar mengungkapkan alasannya.
"Kau bisa memakai legging atau celana panjang jika merasa malu," jawab Rumi enteng.
"Oh, ya ampun! Kau mau membuatku menjadi kurcaci bantat? Aku memang bukan wanita yang fashionable, tapi aku juga tahu tata cara berpakaian yang membuatku terlihat pendek dan membuatku terlihat sedikit tinggi-"
"Kau memang pendek! Akui saja!" Sela Rumi yang malah memperjelas kondisi fisik Vivian.
"Iya, aku pendek dan kau lebih pendek karena harus duduk sepanjang waktu," Vivian tertawa sumbang. Raut wajah Rumi sudah berubah cemberut dan saat itulah Vivian sadar kalau ia baru saja salah bicara.
"Maaf, aku tak bermaksud-"
"Kau sudah mengucapkannya dan aku tersinggung sekarang," sela Rumi lagi yang sepertinya memang hobi menyela kalimat Vivian.
"Aku minta maaf!" Ucap Vivian penuh sesal.
"Kau harus aku hukum," ujar Rumi berlebihan yang tentu saja langsung membuat Vivian kaget. Kenapa juga Rumi harus berlebihan begini?
"Hukuman apalagi?" Tanya Vivian tak mengerti.
"Tidur di kamarku malam ini. Suapi aku saat aku makan, lalu kau tak boleh beranjak sedetikpun dari sampingku-"
"Bagaimana kalau aku harus ke kamar mandi?" Sela Vivian berusaha mencari celah.
"Pakai saja kamar mandi di kamarku! Bukankah bentuk dan fungsinya sama?" Jawab Rumi enteng.
"Tapi-"
"Membantah? Aku tambah hukumanmu jadi tiga hari!" Sela Rumi lagi seenaknya.
"Apa? Kau tidak bisa melakukan ini, Rumi! Aku juga butuh privasi!" Vivian melayangkan protes.
"Membantah lagi! Aku perpanjang menjadi satu minggu berarti!" Tukas Rumi lagi yang benar-benar membuat Vivian ternganga tak percaya. Vivian langsung diam seribu bahasa dan tak mau protes lagi meskipun sekarang bibir wanita itu cemberut dan merengut.
__ADS_1
"Baiklah! Berarti hukumanmu seminggu! Kau akan tidur di kamarku mulai malam ini dan menyuapiku tiga kali sehari serta membantuku apa saja," putus Rumi seenak jidatnya.
Terserah, Rumi!
Terserah!
Vivian berteriak dalam hati sambil tak berhenti mengumpat kasar.
"Rumi!" Terdengar ketukan pintu sekaligus suara Papi Juna dari luar kamar.
"Buka pintu! Papi mencariku," titah Rumi pada Vivian yang sejak tadi masih diam seribu bahasa. Vivian tak menjawab sepatah katapun dan bergegas mengayunkan langkahnya ke arah pintu, lalu membuka pintu kokoh tersebut.
"Selamat pagi, Pak Juna!" Sapa Vivian pada Papi kandung Rumi tersebut.
"Rumi sudah bangun?" Tanya Papi Juna yang langsung membuat Vivian mengangguk.
"Sudah. Baru saja," Vivian menunjukkan keberadaan Rumi yang masih duduk di atas tempat tidur.
"Ada apa, Pi?" Tanya Rumi to the point.
"Papi ingin bicara."
"Soal?" Rumi menautkan kedua alisnya.
"Kolom ulasannya kecil sekali. Apa Haris Pratama tak mampu menyewa kolom yang lebih besar?" Komentar Rumi seraya membanting surat kabar yang tadi diberikan Papi Juna.
"Apa sebenarnya masalahmu?" Tanya Papi Juna penuh selidik.
"Pria itu menyebalkan, penipu, dan aku tidak menyukainya," jawab Rumi dengan raut tanpa dosa.
"Kau mengenalnya?" Tanya Papi Juna lagi penuh selidik.
"Tidak! Tapi aku pernah hampir mematahkan tangannya karena dia mengejar-ngejar Vivian seperti orang gila saat di rumah sakit," jawab Rumi jujur dan blak-blakan.
"Uhuuk!" Vivian yang sejak tadi masih berada di dalam kamar Rumi sontak tersedak ludahnya sendiri dan terbatuk-batuk. Vivian tak ada maksud menguping sebenarnya, hanya saja, Rumi sedang memberikannya hukuman dan pria itu tak mengijinkan Vivian keluar dari kamarnya kalau belum diperintahkan. Jadi Vivian memilih menurut saja ketimbang masa hukumannya diperpanjang oleh Tuan Rumi pemarah.
Papi Juna dan Rumi menatap bersamaan ke arah Vivian yang terlihat salah tingkah.
"Maaf! Saya akan keluar, Pak Juna," pamit Vivian seraya meraih gagang pintu, saat kemudian seruan Rumi menghentikan langkah Vivian.
"Tetap di tempatmu, Vian! Aku belum mengijinkan kau keluar!"
Vivian terpaksa kembali ke tempatnya semula.
__ADS_1
"Ini konyol, Rumi! Dan alasanmu membatalkan pesanan wedding cake Haris Pratama itu tak masuk akal!" Sergah Papi Juna lagi yang mulai pening dengan kelakuan Rumi.
"Rumi sudah membatalkannya dan itu masuk akal. Tak perlu dibahas lagi, Papi! Itu hanya ulasan tak penting dan tak akan berpengaruh apapun terhadap toko kue kita! Memangnya siapa Haris Pratama? Anak pejabat? Konglomerat? Presiden?" Cecar Rumi penuh kesombongan. Papi Juna hanya mampu berdecak dengan jawaban serta penyangkalan dari Rumi. Putra satu-satunya di keluarga Attala ini memang keras kepala.
"Baiklah, kita lupakan saja!" Tukas papi Juna pada akhirnya.
"Ngomong-ngomong, kau sudah punya list tamu undangan untuk pembukaan swalayan baru hari Sabtu nanti?" Tanya Papi Juna selanjutnya pada Rumi.
"Swalayan baru?" Rumi mengerutkan kedua alisnya.
"Maksud Papi yang hasil kerjasama dengan Pak Barata itu? Rumi pikir sudah dibatalkan karena mereka tak mau lagi menjalin hubungan apapun dengan keluarga kita," lanjut Rumi sedikit bergumam.
"Ya! Itu semua berkat kekompakanmu dan Ruby yang sudah mengkhianati Papi!" Sahut Papi Juna ketus.
"Bukan Ethan yang membuat Rumi seperti ini, Pi!" Sergah Rumi menjelaskan pada papi Juna.
"Lalu siapa? Jelaskan pada Papi! Bawa orang itu ke hadapan papi!"
"Kau benar-benar sudah terpengaruh omongan Ruby dan Ethan!" Cecar Papi Juna emosi.
"Rumi akan membawanya ke hadapan papi, beserta semua bukti yang menguatkan. Dan saat itu tiba, Papi akan menyesal karena sudah menyalahkan Ethan selama ini! Papi harus minta maaf pada Ethan!" Ujar Rumi tegas yang langsung membuat Papi Juna terdiam.
"Berikan saja list undangannya!" Tukas Papi Juna menghindari tatapan tajam Rumi.
"Papi berikan saja undangannya! Rumi yang akan menulisnya sendiri!" Jawab Rumi tegas. Papi Juna tak menjawab lagi dan berbalik pergi.
"Vivian, kau ambil undangannya di ruang tengah, dan berikan pada Rumi!" Perintah Papi Juna saat pria paruh baya tersebut melewati Vivian yang masih berdiri di dekat pintu kamar.
"Baik, Pak Juna!"
.
.
.
Ini timingnya sehari sebelum Ethan pulang dari rumah sakit itu, ya!
"Penantian Ruby" bab 42
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1