
"Suapi!" Perintah Rumi saat Vivian menyodorkan sepiring nasi lengkap ke hadapannya.
"Kau masih ingat kalau kau sedang aku hukum, kan? Jadi kau masih harus menyuapiku dan tidur di kamarku enam hari ke depan!" Cerocos Rumi panjang lebar mengingatkan kembali tentang hukumannya pada Vivian.
Vivian tak protes dan segera menarik kursi untuk menyuapi Rumi.
"Kau ke toko hari ini?" Tanya Vivian memecah kebisuan.
"Apa kau amnesia? Kita akan ke rumah depan hari ini, jadi aku tak akan pergi ke toko!"
"Apa kau sedang berharap aku tak di rumah hari ini agar kau bebas dari hukumanmu dan bisa kelayapan?" Cecar Rumi yang hanya membuat Vivian memutar bola matanya.
"Aku tak mengatakan seperti itu! Aku hanya bertanya satu kalimat dan kau langsung menuduhku panjang kali lebar," sahut Vivian sedikit bergumam.
"Aku tidak menuduhmu! Dasar geer!" Sergah Rumi seraya berdecak berulang-ulang.
"Tapi bukankah katamu aku harus senantiasa berada di sampingmu selama masa hukuman. Jadi misalnya kau ke toko, aku juga harus ikut ke toko dan menjadi asistenmu berarti," ujar Vivian yang kembali bergumam.
"Hari ini aku tak ke toko! Apa kau itu tak punya telinga, Vivian!" Sergah Rumi lagi merasa geregetan pada Vivi.
"Aku hanya berkata misalnya dan juga tak memaksamu ke toko! Ada apa denganmu?" Tanya Vivian heran dengan Rumi yang selalu nge-gas saat bicara.
Dulu usil dan kerap membuat kesal, sekarang malah jadi temperamental setelah hilang ingatan. Dasar Rumi aneh!
"Kau itu yang ada apa!" Sahut Rumi seraya berdecak.
"Kau suka sekali mengajakku berdebat dan menjawab kata-kataku!"
"Apa kau memang berniat membuatku darah tinggi dan stroke di usia muda?" Cerocos Rumi lagi sebelum melahap nasi yang disuapkan oleh Vivian.
"Sama sekali tidak!" Jawab Vivian singkat. Vivian ganti menyodorkan segelas air putih untuk Rumi yang segera diteguk hingga tandas oleh pria tersebut.
Setelah Rumi menyelesaikan sarapannya, pria itu langsung meraih ponselnya dan menelepon seseorang.
"Halo, Ruby! Ethan jadi pulang hari ini?" Tanya Rumi pada seseorang di seberang telepon yang ternyata adalah Ruby.
Rumi sedang menelepon Ruby.
"Iya, jadi! Kami baru sampai di rumah."
__ADS_1
"Lalu kapan Haezel membawa bukti penunjang dan hasil tes keaslian rekaman?" Tanya Rumi lagi pada saudara kembarnya tersebut.
"Sebentar aku tanyakan ke Ethan dulu,"
"Halo, Rumi! Kata Ethan nanti sore."
"Baiklah! Aku akan ke rumah nanti sore. Aku mau ke toko dulu sekarang." Pungkas Rumi sebelum menutup telepon begitu saja tanpa pamitan. Kebiasaan sekali!
"Kita ke toko dulu! Nanti sore baru kita pergi ke rumah Ethan," ucap Rumi pada Vivian setelah selesai menutup telepon.
"Tapi bukankah katamu tadi kita tidak ke toko hari ini?" Protes Vivian yang langsung membuat Rumi mengangkat tangannya ke arah wanita tersebut.
"Berhenti protes atau membantah! Kau mau hukumanmu aku perpanjang?" Ancam Rumi dengan ancaman itu-itu lagi.
"Bosnya disini sebenarnya aku atau kau? Kenapa jadi kau yang mengatur-atur dan protes sana-sini?" Gerutu Rumi lagi pada Vivian.
"Baiklah, Pak Rumi! Kita ke toko sekarang!" Ucap Vivian seraya meraih pegangan kursi roda Rumi dan mendorongnya keluar dari kamar.
"Berhenti memanggilku Pak! Aku bukan bapakmu!" Gertak Rumi galak. Vivian tak menyahut dan hanya memutar bola matanya. Untung Vivian masih cinta. Kalau tidak, mungkin sudah Vivian jungkalkan juga kursi roda Rumi temperamental ini!
****
Jam menunjukkan pukul empat sore, saat Rumi dan Vivian sudah tiba lagi di kediaman Attala. Seharian membantu Rumi di toko lumayan membuat kepala Vivian berasap. Tapi Vivian tetap tidak boleh mengeluh atau Rumi akan mengomelinya lagi.
"Air dingin saja!" Lanjut Rumi lagi.
"Mau berendam?" Tawar Vivian sebelum wanita itu masuk ke dalam kamar mandi untuk mempersiapkan air untuk Rumi.
"Tidak!" Jawab Rumi cepat.
"Aku mau mandi sendiri!" Lanjut Rumi lagi dan Vivian sedikit kaget.
"Kau yakin?"
"Ya! Kenapa?" Rumi mengangkat sebelah alisnya pada Vivian.
"Tidak ada. Aku hanya khawatir saja dan takut kalau kau terjungkal atau terpeleset," ujar Vivian mengungkapkan kekhawatirannya.
"Aku tak selemah itu!"
__ADS_1
"Awas, minggir!" Rumi menyuruh Vivian menyingkir agar ia bisa masuk ke dalam kamar mandi.
"Kau juga mandi sana! Lalu kita ke rumah Ethan setelahnya!" Perintah Rumi sebelum pria itu membanting pintu kamar mandi. Vivian tidak tahu bagaimana caranya Rumi akan mandi sendiri, tapi sebaiknya memang Vivian tak usah kepo dan ia bergegas mandi saja ke kamarnya.
****
"Undangannya sudah kau bawa?" Tanya Rumi mengingatkan, saat Vivian mendorong kursi roda pria itu keluar dari kamar.
"Sudah ada di saku kursi rodamu," jawab Vivian cepat.
"Baiklah, kita pergi sekarang!" Titah Rumi dan Vivian segera lanjut mendorong kursi roda Rumi menuju ke pintu depan.
Papi Juna sedang menemani Sunny bermain di teras depan saat Rumi dan Vivian keluar.
"Kau mau membawa Rumi kemana, Vivian?" Tanya Papi Juna.
"Rumi mau menjenguk Ethan, Pi!" Bukan Vivian, melainkan Rumi yang menjawab pertanyaan Papi Juna.
Papi Juna tak berucap sepatah katapun dan langsung mengajak Sunny masuk ke dalam rumah, meninggalkan Rumi serta Vivian.
"Vian!" Tegur Rumi pada Vivian yang terdiam.
"Kenapa kau malah melamun?" Omel Rumi pada perawatnya tersebut.
"Aku tidak melamun!" Kilah Vivian yang sudah lanjut mendorong kursi roda Rumi menuju ke kediaman Sanjaya di seberang jalan. Saat mereka tiba, sudah ada dua pria lain yang sepertinya adalah paman serta sepupu dari Dokter Ethan.
"Aku menunggu dimana?" Tanya Vivian bingung karena ia tak mau salah tempat atau menjadi pengganggu di acara sore ini yang sepertinya sedang membahas hal penting. Meskipun sebenarnya Vivian juga penasaran tentang pria bernama Arkan yang kata mereka adalah pelaku dari kasus penganiayaan terhadap Rumi dan Ethan.
"Duduk saja di sofa dan tak usah kemana-mana!" Jawab Rumi tegas. Vivian tak menyahut lagi dan segera duduk di sofa bersama Ruby dan Bu Ghea, menyimak pembicaraan para pria.
.
.
.
Nyambung ke "Penantian Ruby" Bab 42.
Nggak aku jabarkan disini, ya! Nanti langsung lanjut ke acara saja karena awal konflik selanjutnya antara Rumi-Vivian pas di acara itu.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.