RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
DIHUKUM


__ADS_3

"Bukankah itu sebuah kabar baik?" Celetuk Mami Lily setelah mendengar cerita Papi Juna tentang Rumi yang mungkin menaruh perasaan pada Vivian. Jika dilihat dari gelagat serta perubahan sikap Rumi sudah terlihat jelas sebenarnya.


"Rumi akhirnya jatuh cinta pada wanita dan impiannya yang katanya tidak akan menikah selamanya, sebentar lagi akan pupus."


"Kita harus mendukung hubungan Rumi dan Vivian," ungkap Mami Lily lagi menatap serius pada Papi Juna.


"Tapi kita pastikan dulu status Vivian."


"Maksudku, jangan sampai Vivian sudah punya pacar atau tunangan dan Rumi menjadi orang ketiga perusak hubungan," Papi Juna terlihat khawatir. Sementara Mami Lily malah justru tergelak mendengar kekhawatiran sang suami.


"Aku sudah membaca data diri Vivian, Jun! Dan wanita itu masih single. Usianya juga sepantaran dengan Rumi hanya beda bulan saja," terang Mami Lily yang langsung membuat Papi Juna bernafas lega.


"Syukurlah kalau begitu." Ucap Papi Juna.


"Kita akan mendukung hubungan Rumi dan Vivian, kan?" Tanya Mami Lily sekali lagi seraya merapatkan tubuhnya ke arah Papi Juna.


"Tentu saja! Rumi juga berhak bahagia setelah semua yang dia lalui selama tujuh tahun ini," pendapat Papi Juna dengan nada sendu.


"Sudah!" Mami Lily mengusap lengan Ppai Juna dan berusaha menghibur kesedihan suaminya tersebut. Sejak tujuh tahun lalu, atau tepatnya setelah penganiayaan yang menimpa Rumi, Papi Juna selalu berwajah murung dan sendu setiap membahas tentang kondisi Rumi.


Pria paruh baya itu begitu tertekan dan merasa dilema tentu saja karena apa yang dialami oleh Rumi justru disebabkan oleh seorang anak yang juga sangat Papi Juna sayangi. Ethan!


"Rumi sudah menjalani hidupnya dengan bahagia dan penuh penerimaan sekarang. Kita tak perlu mengungkit-ungkit masalalu itu lagi, Jun!" Mami Lily menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


"Tapi seharusnya Rumi masih bisa melakukan banyak hal, andai ia tak duduk di kursi roda hingga detik ini," kedua mata Papi Juna sudah berkaca-kaca sekarang.


"Apa yang dicapai Rumi sekarang sudah melampaui semuanya, Jun! Rumi tetap bisa mengurus toko-toko milik keluarga kita dengan keterbatasannya. Rumi tetap bisa bergaul."


"Kita hanya perlu mendukungnya sekarang apapun yang menjadi kebahagiaan Rumi, kita harus mendukungnya," tutur Mami Lily panjang lebar yang langsung membuat Papi Juna mengangguk. Pria paruh baya tersebut menyeka butir bening yang masih menggenang di sudut matanya.


"Apa kita perlu memberitahu Vivian agar dia membuka hati juga untuk Rumi dan tak membuatnya patah hati?" Tanya Papi Juna meminta pendapat sang istri.


"Tidak! Biarkan mereka jatuh cinta secara alami dan kita mendukung dalam diam saja. Aku rasa Vivian juga menyukai Rumi," pendapat Mami Lily seraya tertawa kecil.

__ADS_1


"Kau yakin? Mereka bahkan baru bersama selama sepekan." Papi Juna masih merasa ragu.


"Hei, hei, hei! Cinta pada pandangan pertama itu benar-benar ada, Papi Juna!" Mami Lily menangkup gemas wajah sang suami.


"Ingat dulu seorang single dad yang jatuh cinta juga pada pandangan pertama pada pengasuh putrinya?" Mami Lily sedikit menggoda Papi Juna.


"Aku jatuh cintanya pada pandangan kesekian," kilah Papi Juna menyangkal kalimat Mami Lily.


"Hmmm, begitu, ya!" Mami Lily mulai bersedekap kesal.


"Baiklah, aku akan tidur saja," Mami Lily menarik selimut dan tidur membelakangi Papi Juna.


"Buat adik untuk Ruby dan Rumi dulu," Goda Papi Juna pada sang istri.


"Sudah tutup pabriknya!" Mami Lily menyikut perut Papi Juna hingga suaminya tersebut mengaduh.


"Sudah punya cucu juga, masih mau bikin adik untuk Ruby dan Rumi," decak Mami Lily lagi yang sontak membuat Papi Juna tergelak.


"Baiklah, aku akan tidur memelukmu saja," ujar Papi Juna akhirat seraya mengeratkan dekapannya pada Mami Lily.


****


"Pisahkan yang untuk keluarga Sanjaya. Kita akan mengantarnya besok sekalian menjenguk Ethan," titah Rumi selanjutnya pada Vivian.


"Dokter Ethan sudah pulang?" Tanya Vivian penasaran.


"Kata Ruby besok pagi," jelas Rumi yang hanya membuat Vivian membulatkan bibirnya. Sesaat kemudian, Vivian menguap lebar karena sudah mengantuk. Jam juga sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Kau mau tidur?" Tanya Vivian penuh harap pada Rumi. Mata Vivian sudah tak bisa diajak kompromi, dan Vivian ingin secepatnya tidur. Tapi berhubung Vivian sedang menjalani hukuman malam ini dan wajib tidur di kamar Rumi, Vivian terpaksa harus menunggu Rumi terlelap dulu sebelum ia pergi tidur.


"Aku mau nonton film. Nyalakan televisinya!" Jawab Rumi yang langsung membuat Vivian mengumpat dalam hati.


Dasar Rumi tak pengertian!

__ADS_1


Vivian segera menyalakan televisi besar yang ada di kamar Rumi, lalu wanita itu juga membantu Rumi untuk pindah ke atas sofa.


"Ambilkan camilan juga!" Titah Rumi pada Vivian selanjutnya.


"Kau mau apa?" Vivian kembali menguap lebar. Cepat-cepat wanita itu menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Popcorn dan irisan buah," jawab Rumi yang tangannya sudah mulai mengganti channel di televisi.


Vivian menarik nafas berulang kali sebelum keluar dari kamar Rumi dan langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan camilan untuk Rumi yang sepertinya sengaja ingin membuat Vivian kesal.


****


Lima belas menit berselang, Vivian sudah kembali ke kamar membawa sepiring irisan buah dan semangkuk besar popcorn.


"Aku boleh tidur?" Izin Vivian pada Rumi.


"Duduk disini dan suapi aku! Kau masoh menjalani hukumanmu, Vian!" Titah Rumi seraya menepuk ruang kosong di atas sofa di sebelahnya dan menatap tegas pada Vivian yang merengut.


Namun Vivian tak punya pilihan dan wanita itu akhirnya duduk di samping Rumi, lalu meraih piring berisi irisan buah dan mulai menyuapi Rumi. Vivian kembali menguap beberapa kali dan matanya benar-benar sudah tak bisa menahan kantuk lagi. Kepala Vivian akhirnya jatuh ke samping dan mendarat tepat di atas pundak Rumi.


Nyaman!


Vivian akan tidur sebentar sebelum lanjut menyuapi Rumi menyebalkan.


Sementara Rumi masih diam meskipun kini kepala Vivian sudah bersandar dengan nyaman di pundaknya. Rumi mengambil piring berisi buah dari pangkuan Vivian dan lanjut menyantapnya sendiri masih sambil menikmatinya film di layar besar di hadapannya. Hingga menjelang tengah malam, Rumi baru mengantuk. Namun Vivian tak kunjung bangun dan Rumi akhirnya terpaksa tidur di sofa bersama perawatnya tersebut.


Hah?


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2