RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
AKU PUNYA PACAR?


__ADS_3

Ethan sudah selesai menghubungi Marcell dan menanyakan soal bukti yang mungkin bisa dipakai untuk menjerat Arkan. Dan beruntung sekali, teman Ethan itu sempat merekam dan menyimpan bukti percakapan Ethan dan Arkan saat kejadian penganiayaan.


"Aku sudah menelepon Dad, Uncle Galen dan Abang Haezel. Mereka sedang dalam perjalanan kesini," lapor Sasha pada Ethan yang hanya mengangguk. Sementara Rumi dan Vivian masih diam sejak tadi.


"Maukah kau memberitahu Mom siapa yang sudah melakukan ini semua, Eth?" Tanya Aunty Ghea kembali memecah keheningan.


"Nanti Ethan akan memberitahu Mom jika bukti sudah kuat." Jawab Ethan bersamaan dengan ponsel Rumi yang berbunyi.


Ada pesan baru yang masuk.


"Marcell mengirimkan bukti rekamannya," lapor Rumi seraya mendekat ke bed perawatan Ethan.


"Bisa dibuka?" Tanya Ethan memastikan. Rumi segera membuka file rekaman yang dikirimkan oleh Marcell dan memutarnya. Ruangan kembali hening karena semua orang fokus mendengarkan suara di ponsel Rumi.


"Cukup jelas dan sudah bisa menjadi bukti untuk menjerat Arkan," pendapat Rumi setelah rekaman selesai diputar.


"Jadi pelakunya?" Raut wajah Aunty Ghea terlihat shock.


"Mom, ini rahasia dan tolong jangan dibocorkan dulu. Kalau Arkan tahu dirinya kita curigai, bukan tak mungkin dia akan langsung kabur dan betsembunyi."


"Kau juga Sasha!" Ethan memberikan pesan pada Aunty Ghea dan Sasha agar tak buka suara dulu. Dua wanita itu mengangguk serempak.


"Rumi, kau sedang apa?" Tanya Ethan saat melihat Rumi yang sudah menghampiri sofa dimana Ruby tidur. Wanita itu tidur nyenyak sekali dan seperti tak terganggu dengan obrolan orang-orang tang berada di dalam kamar perawatan.


"Membangunkan istrimu! Heran saja, kenapa dia tak bangun padahal kalian semua berteriak dan berisik sejak tadi," jawab Rumi yang langsung berhadiah tudingan dari Ethan.


"Jangan membangunkannya! Biarkan saja Ruby tidur! Mungkin dia masih lelah dan mengantuk! Kau pulang saja sana!" Ethan memperingatkan sekaligis menhusir Rumi.


"Kau mengusirku?" Decak Rumi tak percaya.


"Ya! Apa masih kurang jelas?" Wajah Ethan terlihat mengesalkan.


"Ck! Baiklah aku akan pulang!" Decak Rumi ikut-ikutan kesal.


"Vian!" Panggil Rumi selanjutnya pada Vivian yang sejak tadi hanya diam di pojokan. Sedang berlatih menjadi patung?


"Kita pulang sekarang?" Tanya Vivian seraya menghampiri Rumi.


"Kita pulang tahun depan!" Jawab Rumi ketus yang langsung membuat Vivian tertawa kecil. Saat itulah tiba-tiba ada sebuah pertanyaan yang menggelitik hati Rumi perihal celetukan Vivian kemarin.


"Wanita jaman sekarang. Belum ada status tapi mudah saja memberikan miliknya pada seorang pria brengsek. Padahal belum tentu pria brengsek itu mau menikahinya kelak."

__ADS_1


"Ya, itu benar! Kau contohnya!"


"Bisa kau keluar duluan? Aku mau bicara sebentar dengan Ethan," titah Rumi akhirnya yang malah menyuruh Vivian untuk keluar duluan. Sementara Rumi sudah mendekatkan kursi rodanya ke arah bed perawatan Ethan. Dokter muda itu masih makan, tapi Rumi mana peduli. Rumi sedang ingin bertanya sekarang.


"Ada apa? Mau pamitan?" Tanya Ethan di sela-sela ia mengunyah makanannya.


"Kau selalu bilang kalau kita ini dulu adalah teman satu jiwa," ucap Rumi yang langsung membuat Ethan berhenti makan sejenak.


"Ya! Lalu?"


"Apa aku pernah punya pacar sebelum ingatanku hilang?" Tanya Rumi menatap serius pada Ethan.


Pikir Rumi, jika ia dan Ethan dulunya adalah teman satu jiwa, pasti Ethan tahu semua rahasia Rumi termasuk pacar yang mungkin sudah Rumi lupakan.


"Tidak ada setahuku," jawab Ethan setelah berpikir beberapa saat.


"Kau dulu tidak pernah punya pacar saat di sekolah, bahkan Olivia sampai meragukan ketulenanmu," Ethan sedikit menahan tawa.


"Apa maksudmu?" Sergah Rumi dengan raut wajah tak senang.


"Iya kau tak pernah punya pacar dan kita berdua bisa dibilang sangat dekat. Jadi-"


"Kau pikir aku penyuka sesama jenis!" Rumi yang kesal segera memukul gips di kaki Ethan.


"Bukan aku yang mengatakannya, oke! Tapi Olivia! Aku kan pria normal sejak dulu dan hanya mencintai Ruby," ujar Ethan pamer. Rumi hanya berdecak malas.


"Jadi kenapa kau tiba-tiba bertanya soal pacar? Kau menyukai seseorang sekarang?" Tanya Ethan kepo yang kembali membuat Ethan berdecak.


"Aku hanya tanya! Dan memastikan saja kalau aku bukan seorang pria brengsek di masalalu!" Ujar Rumi sok diplomatis.


"Hmmm, begitu, ya?" Nada bicara Ethan terdengar mengejek dan rasa kesal di hati Rumi kembali membubung tinggi.


"Tapi mungkin kau bisa tanya ke Ruby untuk lebih jelasnya. Karena mungkin Ruby lebih tahu tentang rahasiamu," lanjut Ethan memberikan saran pada Rumi.


"Karena seingatku saat malam perpisahan itu kau pamit ingin menjemput seseorang," ujar Ethan lagi yang langsung membuat Rumi mengerutkan kedua alisnya.


"Seseorang?"


"Ya! Kau pamit pada Ruby dan aku juga tak tahu seseorang itu seorang gadis atau seorang pemuda," Ethan kembali tergelak dan mengejek Rumi.


"Sialan kamu!" Rumi sudah mengacungkan sebuah tinju ke arah Ethan yang tetap tergelak tanpa dosa. Rumi lanjut menjalankan kursi rodanya mendekat ke arah Ruby. Namun saat Rumi baru saja akan membangunkan saudara kembarnya tersebut, ternyata Uncle Alvin dan Haezel sudah tiba. Rumi tak jadi membangunkan Ruby dan segera ikut bergabung bersama Ethan, Haezel, dan Uncle Alvin untuk membahas barang bukti yang tadi dikirimkan oleh Marcell.

__ADS_1


****


"Baik, Pi! Nanti Rumi yang akan menyelesaikannya. Ruby masih menjaga Ethan," pungkas Ethan sebelum telepon dari Papi Juna terputus.


"Ada apa?" Tanya Ethan saat Rumi sudah kembali menghampirinya.


"Ada sedikit masalah di toko kue. Aku akan kesana untuk menggantikan Ruby menyelesaikannya," jawab Rumi seraya menatap pada Ruby yang tetap terlelap. Dasar tukang tidur!


"Vian!" Rumi memanggil Vivian yang sudah tak berada di dalam kamar perawatan Ethan. Kemana lagi perawat Rumi itu?


"Gadis perawat tadi?" Tebak Haezel yang sejak tadi masih mengobrol bersama Ethan.


"Ya! Kemana dia?" Tanya Rumi pada Haezel.


"Di luar, bersama Aunty Ghea dan Sasha," jawab Haezel seraya mengendikkan dagu ke arah pintu.


Rumi hanya mengangguk samar dan segera menjalankan kursi rodanyabke arah pintu. Haezel membantu membukakan pintu untuk Rumi, meskipun hal kecil itu membuat Rumi lumayan kesal. Rumi bisa membukanya sendiri padahal! Yang lumpuh kaki Rumi dan bukan tangan Rumi! Dasar menyebalkan.


"Thank's!" Ucap Rumi pada Haezel sedikit kesal.


Haezel hanya mengangguk dan masuk lagi ke dalam kamar perawatan Ethan. Sepertinya pembahasan tentang Arkan belum selesai.


"Hai, kau sudah selesai?" Tanya Vivian yang sudah dengan cepat menghampiri Rumi.


"Sudah! Ayo pulang! Ada masalah di toko kue," ujar Rumi pada Vivian.


"Baiklah!" Jawab Vivian patuh. Setelah berpamitan pada keluarga Ethan, Vivian segera mendorong kursi roda Rumi menuju ke arah lift.


Namun baru saja pintu lift terbuka, Vivian sudah kaget setengah mati karena mendapati seseorang yang kini berdiri di dalam lift.


Sial!


Kenapa Vivian harus bertemu pria ini sekarang?


.


.


.


Masih sambungan dari "Penantian Ruby" bab 40

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2