RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
SUDAH PINDAH


__ADS_3

"Anak Vivian ikut terlibat dalam kecelakaan dan kondisinya sempat kritis." Ethan melanjutkan penjelasannya pada Rumi.


"Lalu sekarang bagaimana kondisinya? Apa itu adalah anak yang sama dengan yang akan dioperasi itu?" Tanya Rumi penuh selidik.


"Bukan!" Jawab Ethan cepat.


"Kata Marcell usia anak Vivian sekitar enam tahun. Sedangkan yang kemarin dioperasi itu adalah anak Abangnya Vivian yang baru berusia beberapa bulan," terang Ethan selanjutnya.


"Enam tahun? Kau yakin, Marcell tidak salah mengira?" Sergah Rumi masih setengah percaya. Jika sekarang usia Vivian dua puluh lima tahun dan anaknya berusia enam tahun, itu artinya Vivian sudah hamil saat dia lulus SMA.


Apa ini semacam Married By Accident? Lalu pria brengsek mana yang sudah melakukannya pada Vivian, dan membuat wanita itu kehilangan masa mudanya?


Pria brengsek yang kemudian menceraikan lalu meninggalkannya dan membiarkan Vivian menjadi seorang single mom?


Dasar laki-laki brengsek!


Jika Rumi bertemu pria itu, Rumi akan memberikannya pelajaran!


"Marcell yakin kalau usianya enam tahun, Rumi," jawab Ethan tegas


"Baiklah! Bisa aku pergi kesana dan menemui Vivian? Aku ingin minta maaf dan memperbaiki semuanya-"


"Vivian dan Abangnya sudah pindah ke kota lain, Rumi!" Sela Ethan yang langsung membuat Rumi melotot horor ke arah Ethan.


"Pindah kemana? Bukankah katamu anaknya Vivian masih kritis dan dirawat di rumah sakit?" Tanya Rumi penuh emosi.


"Itu dua pekan yang lalu! Begitu anaknya Vivian pulih, mereka pindah mendadak karena rumah yang sebelumnya ditempati keluarga itu memanglah hanya rumah dinas dan bukan rumah mereka!" Jelas Ethan pada Rumi.


"Tapi Marcell pasti tahu Vian pindah kemana?" Rumi semakin emosi. Sedangkan Ethan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepertinya dokter muda yang merupakan ipar Rumi itu benar-benar tak tahu.


"Marcell tidak tahu,karena Vivian juga tak meninggalkan pesan apapun," ujar Ethan bersungguh-sungguh.


"Nomor Vian!" Cetus Rumi tiba-tiba.


"Nomor yang kemarin mengirimkan video itu pastilah nomor Vian, Ethan!"


"Mana ponselmu?" Rumi meminta dengan galak.


"Nomornya sudah tidak aktif, Rumi! Aku sudah berulang kali menghubunginya," jelas Ethan seraya memberikan ponselnya pada Rumi.


Rumi berulang kali menghubungi nomor asing yang kemarin mengirimkan video itu. Namun hanya ada operator yang menjawab dan mengatakan kalau nomor sedang berada di luar jangkauan.

__ADS_1


"Rumi!" Tegur Ethan pada Rumi yang nampak frustasi.


"Aku sedang berusaha menghubunginya!" Sergah Rumi yang begitu frustasi.


"Kemana aku harus mencari Vivian dan menemukannya, Ethan?"


"Aku harus mencari kemana?" Tanya Rumi putus asa dan Ethan hanya mampu menatap iba pada sahabat sekaligus abang iparnya tersebut.


****


"Terima kasih sekali lagi atas bantuannya, Pak Indra!" Ucap Abang Sandy sekali lagi pada pria yang pernah menjadi atasannya tersebut.


Pertemuan tak sengaja Abang Sandy dan Pak Indra di rumah sakit, membawa Abang Sandy beserta keluarga kecilnya serta Vivian kembali lagi ke kota ini dan ke rumah lama mereka.


Rumah yang pernah menjadi saksi bisu hubungan backstreet antara Vivian dan Rumi, hingga lahirlah Archie.


Baru dua pekan yang lalu, Vivian kabur dari kota ini karena masalah di keluarga Attala dan kabar duka yang mendadak menghampiri keluarga Vivian, dan kini Vivian sudah kembali lagi ke kota ini bersama Archie.


Semoga Vivian dan Archie tak perlu bertemu Rumi setelah ini. Vivian tak akan kemana-mana dan akan lebih banyak diam di rumah saja. Kalau perlu Archie akan home schooling saja agar bocah itu tak banyak berinteraksi dengan dunia luar.


Vivian egois?


Vivian hanya tidak mau Rumi tahu tentang Archie.


"Aku langsung pamit, ya, Sandy!" Pamit Pak Indra akhirnya setelah sedikit berbasa-basi pada Abang Sandy. Sejak tadi Pak Indra yang sebenarnya masih seusia dengan Abang Sandy itu juga sedikit curi-curi pandang pada Vivian.


"Iya, Pak Indra! Terima kasih sekali lagi," ucap Bang Sandy seraya mengantar Pak Indra ke teras rumah.


"Mom!" Archie menghampiri Vivian dan sedikit merengek.


"Ada apa, Sayang? Archie mengantuk?" Tebak Vivian menerka-nerka.


"Kamar Archie dimana?" Tanya Archie yang masih bergelayut pada Vivian.


"Di kamar lama Mom!" Jawab Vivian seraya mengulas senyum.


"Ayo!" Vivian menggandeng tangan Archie dan membawa bocah enam tahun itu ke kamarnya yang dulu.


Vivian baru membuka pintu saat kemudian kelebat bayangan Rumi yang sedang mencumbu dirinya langsung bercokol di kepala Vivian.


Ya Tuhan!

__ADS_1


Vivian menejamkan mata dan menarik nafas panjang berulang-ulang demi mengusir bayangan Rumi beserta cumbuannya malam itu.


"Vi, kamu percaya padaku, kan?"


Bullsh*t!


Vivian selalu percaya pada Rumi, tapi Rumi yang tak pernah percaya pada Vivian dan pria itu selalu saja membuat hati Vivian kecewa.


Mungkin memang sudah saatnya Vivian membuang jauh rasa cinta yang selalu ia pupuk untuk Rumi. Vivian harus bisa melupakan Rumi dan fokus pada Archie saja.


Tapi bagaimana Vivian bisa move on dari Rumi, jika menatap wajah Archie saja Vivian akan langsung ingat pada pria galak menyebalkan itu?


"Mom! Kenapa Mom menangis?" Tanya Archie penuh selidik yang langsung menyentak lamunan Vivian.


"Mom tidak menangis, Archie!" Kilah Vivian cepat seraya mengusap airmatanya.


"Mom hanya sedang menangis bahagia karena akhirnya Mom bisa pulang lagi ke rumah ini bersama Archie," tutur Vivian panjang lebar seraya mengulas senyum.


"Kamar Mom bagus! Archie akan tidur bersama Mom mulai malam ini?" Tanya Archie lagi.


"Sementara begitu, sampai nanti Archie punya kamar sendiri."


"Oke?" Vivian memberikan pengertian pada sang putra.


"Oke, Mom!" Jawab Archie seraya tersenyum manis ke arah Vivian.


Senyum manis yang justru membuat hati Vivian teriris karena mengingatkan Vivian pada senyuman Rumi.


Ck!


.


.


.


Tolong nanti reader budiman bantuin Rumi getok kepala pria brengsek yang udah bikin Vivian menjadi single Mom 😆😆


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2