
Membuka pintu hotel, Paijo mendapati wajah Dominic penuh jenaka. Pria itu meringis lebar dengan tatapan yang menyorotinya penuh kegelian.
“Nggak usah mikir macem-macem.” tukas Paijo sembari menutup pintu kala sahabatnya masuk ke kamar membawa koper dan tas ransel kerjanya.
Michelle yang baru menyantap sandwich dengan daging asap di dalamnya melambaikan tangan.
“Akhirnya... Aku berasa di curangi sahabatmu, mas.” Mengadu domba, Michelle melaporkan tindakan Paijo yang melihatnya berendam di bath tub sepanjang ia membersihkan diri.
Dominic menonyor keningnya setelah menurunkan koper dan tas ke ranjang. “Kalian berdua ini sama-sama sontoloyo, jadi nggak usah saling menyalahkan.”
Michelle menaruh jari telunjuknya di bibir. “Ngerti mas, aku ngerti.” Michelle menepuk kursi di sampingnya untuk mengalihkan isu baru.
“Sarapan dulu sini, aku pesan banyak biar Paijo nggak bingung makan western apa lokal.”
“Papa dan pak Kus tunggu di bawah buat sarapan bareng kalian ini malah isi perut dulu.” Dominic mendesis. “Pakai baju dulu sana, nggak sopan sarapan kok pakai handuk.”
“Yang penting Paijo seneng. Iya, Jo?”
“Edan.” gumam Paijo sembari membuka tasnya. Ia mengeluarkan baju dinas dan pakaian wajibnya seraya menyuruh dua orang di belakangnya tutup mata.
Sambil mengunyah sandwich yang penuh dengan mayones dan saus tomat Michelle menyipitkan mata, menjadi pencuri ulung yang membuatnya ingin mengigit area belakang Paijo yang eksotisnya bukan main.
Michelle menggigit sandwichnya lalu menendang kaki Dominic yang memilih membelakangi Paijo dengan sikap tak peduli.
__ADS_1
“Yang tersembunyi keren banget mas.” bisiknya hingga membuat Dominic tersedak kopi.
Paijo menoleh sambil memasang ikat pinggang, dan lagi-lagi dia menjureng curiga dengan aksi sang kakak yang menonyor kening istrinya berulang kali.
“Kenapa, Dom?”
Sedang memiting leher adiknya yang terkekeh geli sambil menepuk-nepuk lengan kakaknya yang kekar, Dominic menghela napas. “Bokonggmu apik.” katanya seraya terkekeh.
“Biyangane...” Paijo memajukan wajahnya sampai hidungnya membaui aroma napas Michelle sebelum menjentikkan jarinya di hidung mancung wanita yang mematung seketika. “Aku doakan kamu bintitan baru tahu rasa!”
“Ampun, Icel cuma iseng.”
“Iseng... Iseng... Iseng...” Paijo mendesis mangkel seraya mengaduk bubur ayamnya. “Kamu pakai baju, terus beres-beres. Nanti waktu aku kerja, kamu sama Dominic cari kontrakan yang lumayan jauh dari kampung. Bisa?”
“Nggak buru-buru balik ke Malang kamu mas?” tanya Michelle setelah tangan kakaknya terlepas dari lehernya dan perlahan wajahnya menjadi kecut. Tinggal berdua dengan Paijo, jauh dari pekerjaan, orang tua, hidup sederhana? Dalam batinnya, oh my God...
“Tas kremesku mas, laptop, gunting, buku gambar, pulpen, terus desain-desain di meja kerja di bungkus sekalian. Tapi jangan sampai ketahuan mama! Hubunganku belum jelas.”
“Gampang, dek.” Dominic menunjuk Paijo, “Si Jonny udah siap kerja, kamu itu nggak siap-siap?”
“Iya, tapi kalian merem.”
Merem? Apa itu merem? Kedua pria bersahabat itu pindah ke dekat jendela sambil membawa kopi masing-masing. Mereka tersenyum memandangi langit Jogja yang cerah seolah apa yang tidak di sampaikan sudah tersampaikan tanpa suara.
__ADS_1
“Request sama Rastanty bro, baju-baju Michelle yang banyak bahannya. Edan aku kalau tiap hari lihat dia tidur pakai cwt dan bh toktil.” protes Paijo dengan suara pelan.
Dominic terbahak tanpa suara, dia mengelus-elus punggung Paijo dengan ekspresi kasian sekaligus rasain, adikku itu, dilawan, siapa suruh di Malang kemarin curi-curi pandang dan nemenin dia nonton film sambil ngobrol ngalor-ngidul. Sekarang, tanggung sendiri risikonya di uber-uber perawan tua. Bule lagi. Jangan harap duniamu sesederhana nunggu Puspita selesai tugas di luar pulau Jawa yang jarang sinyalnya.
Dominic meringis. “Modis dia, kamu suruh pakai daster ya ndak mau.”
Paijo menghela napas, benar juga, bule kok pakai daster setelah saban hari pakai lingerie atau baju tidur satin yang mengkilap.
“Pikir belakangan ajalah, yang penting pakai baju.”
Selesai berdandan, Michelle menyemprotkan wangi-wangian di seluruh tubuhnya seraya mendekap Paijo dari belakang.
Laki-laki itu terkejut, tapi tak mampu berkata-kata sewaktu Michelle berkata. ”Biar kamu semangat dan ingat aku karena ini parfum kesukaanku.”
Awokwokwokk... Dominic meninggalkan pasangan itu lebih dulu untuk memberi privasi ke restoran hotel.
Di kamar, Michelle memutar tubuhnya hingga menghadap wajah Paijo yang mengangkat dagunya.
“Aku yakin kamu ini sebenarnya mau tapi kamu kasian sama Puspita. So, Paijo... aku pikir pernikahan kita di buat santai aja. Aku di duniaku, kamu di duniamu. Aku juga gak minta macam-macam sama kamu, jadi nafkahi aku sesuai kemampuanmu aja ya karena apapun itu aku terima.”
Paijo menghela napas seraya menundukkan kepala, ia menaungi wajah Michelle yang terlihat natural berseri-seri. Mata hazelnya terlihat bening dan menyenangkan. Senyumnya terlihat tulus dan semakin seksi ketika bulu matanya berkedip-kedip.
“Terima kasih sudah ngerti, tapi aku usahakan yang terbaik untukmu.”
__ADS_1
Michelle mengangguk dan memeluk Paijo semakin erat.
...----------------...