Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)

Saat Bertemu Kamu (Romantic Scandal)
Cap KUA


__ADS_3

Berada di panggung pengantin yang di desain sedemikian rupa sehingga terlihat mewah dan nyaman... Pengantin yang akan melangsungkan janji setia hidup bersama selama-lamanya jika tidak ada prahara perselingkuhan itu duduk dengan tenang di hadapan saksi dan penghulu.


Paijo menarik napas, Prambudi, Dominic dan Reno saksinya, dari keluarganya nyempil Lek Mulyadi dan Kusumonegoro.


Di kelilingi pria-pria tampan, Michelle tersenyum anggun. Kecantikannya yang baru di saksikan rombongan keluarga Paijo membuatnya berdecak-decak kagum.


Untung banget Paijo, wes ayu tenan koyo bidadari, sugih meneh.


Pujian-pujian yang mengatasnamakan kekaguman lainnya itu layaknya buah hasil dari kerja keras Paijo yang mengabdikan diri di desa dan dendam atas ditolaknya cintanya kepada bunga desa.


“Sudah siap mas Paijo?” tanya penghulu.


Menghela napas. Paijo yang sudah pernah melangsungkan ijab kabul sekali, masih terngiang-ngiang hingga sekarang.


Paijo mengangguk. “Saya sangat siap!”


Michelle tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya mendengar tekad Paijo.


”Habis kamu, Jon.”


Tanpa Michelle ketahui, bahwa Paijo juga siap melakukan perlawanan.

__ADS_1


Tunggu sebentar lagi, Icel. Tak turuti kemauanmu sampai megap-megap.


Paijo mengulurkan tangannya, dengan percaya diri dia meraih tangan Prambudi yang akan menikahkan anaknya sendiri dengan laki-laki pujaannya.


Prambudi menatap serius ke penghulu, setelah beberapa percakapan serius terkait akad terjadi di antara keduanya, ia menggenggam tangan mantunya lebih erat sembari mengangguk samar.


“Paijo Halim Pradana bin Kusumonegoro Adimarsudi.”


“Ya, dengan saya sendiri.”


“Siap?”


Prambudi tersenyum ke arah Michelle sebelum mengucapkan serangakaian kalimat yang membawa kedua pengantin pada ritual tanda tangan dan stempel resmi di buku KUA.


Upacara akad mereka terbilang sakral tapi santai seperti paras keduanya yang sudah lihai menghadapi kecemasan dan ketegangan yang terjadi.


Michelle meraih tangan Paijo dan mencium punggung tangannya. Perasaan wanita itu sudah lega bukan main. Akhirnya bestie...


“I love you, cookies, my sweetie coco, my beautiful scandal... and my husband ever...”


Paijo membalasnya dengan sikap malu-malu, kendati begitu kemesraan yang terjadi di kursi akad itu tak ingin dia sia-siakan terlebih di saksikan semua orang yang ada di sana. Keintiman acara pernikahannya harus abadi dalam ingatan siapa pun.

__ADS_1


Paijo menyingkirkan selendang putih pengantin yang menutupi kening Michelle seraya menatapnya intens, “Marry you is my destiny, Michelle.” ucapnya sebelum mencium keningnya dengan lembut dan membawanya pada pelukan hangat.


Semua orang lantas menatap takjub keduanya dengan mengeluhkan kemesraan mereka sambil melihat pasangan masing-masing dan wangi bunga segar yang mekar menghiasi pernikahan itu kalah dengan keintiman yang di sajikan oleh pengantin yang lihai dalam membagi kemesraan yang elegan. Sementara bagi yang sudah mengenal tingkah polah keduanya hanya bisa tersenyum geli.


“Bakal ada pertandingan bola nanti malam, Pak. PSIM Jogja vs Arema Indonesia. Nobar yuk, gayeng ini pasti.” ucap Reno dengan nada usil.


Dominic mengomporinya dengan menaruh uang lima puluh ribu di meja. “PSIM Jogja mase..."


“Bapak tetap Aremania. Harga mati!” Prambudi menaruh lemper ayam di atas uang. Sementara di sampingnya, Kusumonegoro berpikir keras sampai seluruh pria di meja akad itu menatapnya sambil menerka-nerka.


“Bapak nggak berani taruhan, wong semuanya sama-sama jago dan profesional. Satu sama wes.” Ia mengeluarkan rokok kretek dan menaruhnya di meja.


Paijo dan Michelle tersenyum bahagia, tak peduli mereka dijadikan bahan taruhan dan ledekan. Keduanya sudah cukup senang dan lega, perihal-perihal yang sangat mereka takutkan berkurang hari ini dengan resminya hubungan keduanya ke jenjang yang lebih megah dan serius.


Mereka saling menggenggam tangan di bawah meja lalu melirik tajam dengan ekor mata.


“Habis resepsi... Jangan lupa.” bisik Paijo sembari membantu wanitanya berdiri untuk melangsungkan foto bersama di stand yang di siapkan.


Michelle menjentikkan jarinya. “Aku sudah tahu arahnya! Belah aku, Jon.”


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2