
Dua ekor kuda putih bergerak menapaki jalan perumahan dengan gagah perwira di dampingi sang pawang untuk menjemput sang pengantin pria dan besan keluarga Prambudi Dwayne.
Paijo dan Kusumonegoro saling pandang saat sang pawang kuda mempersilakan tamu kehormatannya untuk menaiki kuda putih itu.
“Iki nggak ono ning skedul lho, Jon!” bisik Kusumonegoro.
Paijo yang memakai setelan formal kemeja batik dan celana kain hitam press body serta sepatu hitam mengkilap meringis aneh.
“Aku ya kaget, Pak. Gimana ini?”
“Wes... wes... wes... kalian berdua naik, biar di arak keliling perumahan, biar terkenal.”
“Juohh....” ucap Paijo dan Kusumonegoro bersamaan.
“Aku wes bersyukur dulu nggak di arak bapak keliling desa dulu, sekarang...” Paijo mendesis seraya naik ke pelana kuda.
“Ayo, Pak. Sekali seumur hidup!”
Kusumonegoro melepas blangkonya seraya menjadikannya penutup wajahnya yang malu alih-alih tebar pesona pada janda-janda yang bekerja di perumahan itu.
“Sekali seumur hidup, sekaligus trauma seumur hidup.” batin Kusumonegoro sembari naik ke atas pelana.
Di atas kuda putih itu Paijo terlihat gagah sekaligus merona saat rombongannya yang notabene dari desa bersorak cie... Paijo, cie... numpak jaran... sebab tak pernah mereka melihat pagelaran pesta pernikahan semeriah itu seakan-akan pernikahannya seperti pernikahan anggota kerajaan dalam versi minimalis venue and budget.
Sejak gerbang perumahan elite yang di hiasi janur kuning melengkung, karpet merah di pasang di atas aspal sampai menuju gerbang tarub dan bleketepe di dekat tenda putih yang terpasang di depan rumah Prambudi Dwayne.
Paijo mengangguk santun dengan senyum terkulum ketika saudara Prambudi Dwayne dari lokal ataupun internasional yang menonton berjejeran di samping karpet merah memanggil namanya.
Duh biyung... pingin mutus urat malu.
Paijo turun dari pelana kuda diikuti Kusumonegoro yang perlu menarik napas berulang kali demi menguasai dirinya agar terlihat bijaksana daripada mangkel di pesta pernikahan anaknya.
Berdiri dengan wajah jenaka, Paijo menghela napas saat Dominic menyambut kedatangan rombongannya dengan membungkukkan badan sambil menaruh tangan kanannya di perut.
__ADS_1
“Selamat datang, bapak, ibu, adik, mas, mbak dan saudara-saudaraku setanah air Indonesia. Silakan masuk dan menikmati hidangan pembuka selagi pengantin pria bersiap-siap melangsungkan akad.” ucap Dominic sebagai pagar bagus penerima tamu. Pria yang menggunakan beskap hitam dan kain jarik itu mendampingi Paijo saat rombongan yang membawa seserahan satu persatu menaruhnya di meja.
“Kamu mau bikin rumah ini jadi swalayan, Jon?” Dominic menggeleng, segala macam kebutuhan pokok ada, dunia persabunan lengkap, kentang, bawang merah-putih, tepung-tepungan, cabai-cabaian, ayam sepasang dan buah-buahan dan sayur mayur yang di beli langsung pagi-pagi buta tadi di pasar Giwangan ada dalam jumlah besar.
“Anggap aja warunge lek Mulyadi pindah.”
Dominic meringis seraya merangkulnya. “Berhubung lagi acara pembuka, kamu langsung ganti baju akad. Adikku lho nggak tahan...” ucapnya dengan nada.
Paijo bisa merasakan kegenitan yang akan terjadi setelah akad nanti. Dan ia cukup pintar dalam menyiasatinya. Sudah ia minum jamu stamina sedari kemarin agar sanggup meladeni permainan istrinya.
“Ruang make up ada di kamar tamu lantai bawah. Kamu ke sana, aku harus nyusul pak Kus.” ucap Dominic setelah mengantar Paijo ke dalam rumah lewat pintu samping.
Paijo menyaksikan dalam rumah itu di penuhi bunga-bunga segar bernuansa pastel. Langkahnya yang ragu menyusuri rumah itu di iringi lagu Ed Sheeran - shape of you.
Rastanty yang ayu dengan kebaya hijau sage meringis seraya mengendap-endap mengagetkannya.
“Mau maling adikku, Jon?"
“Asuog... Ras!”
Rastanty memasang wajah cengengesan sambil menghentakkan dagunya. “Yuk...” ia memandunya ke kamar tamu yang masih di penuhi bule-bule wanita yang sedang make up.
“Akad sejam lagi, kamu kalau perlu mandi dulu Jon. Biar seger.” Rastanty mengingatkan saat Paijo menyaksikan wanita-wanita muda dari Michigan dan Singapore yang menatapnya dengan seksama.
“Kamar lain ada, Ras?”
“Ada, sebelah.”
“Oke... aku mandi bentar.” Paijo meringis. “Minta tolong satu tukang rias ke sebelah yoo. Nggak mampu aku dandan di sini.”
“Takut di keroyok rame-rame, Jon?”
“Ho'oh, sak getih, sak kelakuan. Ngeri.” Paijo bergidik.
__ADS_1
Rastanty terkekeh. “Icel masih di kurung di kamarku, Jon. Kamu yang serius yo, dia udah heboh banget dari kemarin, sekalian ini...” Ia mengambil sesuatu dari tas selempang mininya. “Cincin kawinnya.”
Paijo menerimanya dengan senyum bahagia. “Matur suwun lho, lumayan ini memangkas biaya kawinku.”
“Santai, Jon. Tapi sekarang aku jadi Mbakmu lho, bukan cewek yang tertindas karena cinta.”
Paijo tertawa sembari menyimpan kotak cincin itu ke dalam tasnya.
“Aku masuk ke dalam dulu yoo, kasian adikmu udah nggak tahan...” ucapnya dengan nada.
“Siap.” Rastanty mengangguk-angguk dengan wajah cengengesan sementara Paijo mulai membuka pintu dan bersembunyi di baliknya. Ia melakukan persiapan akad nikah yang tak sampai satu jam di temani ayahnya.
Segeralah ketika semua persiapan manten anyar sudah siap dan acara pembukaan yang di penuhi gelak tawa atas warna-warni perbedaan yang ada, Paijo di minta menunggu di dekat anak tangga.
Dari lantai atas, tanpa alas kaki Michelle menuruni satu persatu anak tangga dengan gaun akad nikah yang memiliki ekor panjang tanpa kesulitan. Belahan kain jarik instan yang di garap langsung oleh rumah produksinya nampak membuatnya tetap seksi namun elegan.
Paijo terpukau, alih-alih memuji penampilan istrinya yang sedang cantik-cantik. Paijo malah tertawa melihat Michelle kedegling di anak tangga paling bawah.
“Gayamu, Sel... Sel... Nggak ada tuan putri terlalu lincah nurunin anak tangga.” ejeknya, tetapi Michelle yang mengelus kakinya langsung mengulurkan tangannya.
“Pinang aku kakang prabu Paijo. Aku sudah menunggumu ribuan hari di istana ini.”
Paijo meraih tangan Michelle dan menganggukkan kepala.
Mari kita selesaikan urusan ini secepatnya tanpa mengurangi kesakralan yang ada, sebab aku ingin hidup tenang dan segera bayar cicilan.
Keduanya berdiri berjejeran seraya memasang ekspresi serius. Pengantin baru dengan skin tone yang berbeda itu terlihat serasi dan keduanya memang sepakat tanpa menggunakan alas kaki.
“Akad kedua kalinya dengan rasa yang berbeda. Cie...” seloroh Dominic sembari menaruh selendang putih pengantin di kepala Michelle. Adiknya itu tersipu sembari melirik Paijo dengan ekspresi genit.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1